
Tubuhnya jatuh terbentur ke atas lantai, bukan hanya satu tubuh. Akan tetapi dua tubuh dengan darah di masing-masing pakaian.
Rey menatap keduanya dengan tatapan bingung.
Namun, pandangannya teralihkan pada suara benturan sepatu dengan lantai yang saling beradu.
Matanya memicing tajam melihat orang yang masuk itu dengan tangan yang menyandera seorang wanita dan tangan lainnya menggenggam pistol.
Kebingungan semakin melandanya menyadari yang tertembak bukan hanya pengkhianat akan tetapi istrinya juga ikut tertembak.
"Jenni!" Meraih Jenni dan mendekapnya menyadari bahwa Jenni semakin melemah.
Jenni meraih pipi Rey, membelainya dengan senyuman.
"D-dia,..."
Rey mengangguk, meyakinkan Jenni untuk bicara.
"Ya, katakan!"
Tak mampu lagi bicara, Jenni menyusupkan sesuatu ke dalam saku kemeja hitam yang dipakai oleh Rey tanpa sepengetahuan Rey sendiri hingga ia tak sadarkan diri lagi.
Musuh yang masih berdiri tertawa puas melihat keadaan Rey yang sangat mengkhawatirkan Jenni.
"Selemah itu kau jika menyangkut wanita,
bahkan dia bisa membuatmu lemah di depan musuhmu sendiri!" Pria itu mendekati Rey.
Menaruh pistol di dekat kepala Rey.
"Mengenai anak buahku, seharusnya kau menghabisinya lebih awal." Dengan nada sinis dan mengejek.
"Karena dia sangat setia padaku, lebih memilih mati ketimbang berkhianat." Sambungnya sambil mengubah posisi pistolnya.
Rey mengepalkan tangannya, tak berkutik karena senjata yang tadi digunakan Jenni terlempar entah kemana.
"Aku lupa, sekarang kau menggunakan hati!" Meletakannya tepat, di bagian ulu hati.
Sebelum hitungan menembak, ia tertawa jahat lebih dulu. Rey sendiri tidak merasa takut, matanya sudah berkelana mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk melawan.
Di samping kursi, ia melihat pistolnya. Diam-diam Rey meraihnya dan menyembunyikannya.
Penjahat itu berbalik, senyum sinis tak luput dari bibirnya.
"Kau penjahat, tapi aku lebih jahat. Kau licik maka seperti itulah....
__ADS_1
Tiga, dua,..." Menghela napas sebentar kemudian mengeluarkannya.
"Satu!" Potong Rey.
Dor...
Tembakan keduanya saling mengenai, namun tak separah yang di dapatkan oleh musuhnya Rey yang tembakanny mengenai dada. Rey sendiri hanya mengenai tangannya.
"S-si*l*n!" Orang itu berucap dengan naps yang sudah lemah.
Rey berjongkok, membangunkan Jenni.
Jenni dengan senyumannya bangun dan membuka jaket yang ia kenakan.
"Bagaimana? Masih mau mengaku lebih jahat?" Tanya Jenni sambil meraih pistolnya dan melakuka sebuah hal yang membuat Rey bangga.
Dor...
"Ajalmu sudah menjemput, sampaikan salamku pada Jeremy." Jenny menutup mulutnya dengan tangannya.
"Ups!"
"Kita sampaikan saja sendiri di pertemuan nanti!" Sahut Rey sambil merangkul Jenni.
Keduanya bersorak ria, namun Rey meringis saat mengangkat tangannya karena ia yang terluka akibat tembakan tadi.
Dibukanya kemeja hitam Rey, menampilkan banyak bekas luka pada bagian-bagian tubuhnya terutama tangan.
Ada empat bekas luka besar disana, membuat Jenni tercengang.
"Jangan menatapnya dengan terkejut!" Rey meletakan jari telunjuknya di kening Jenni, kemudian memundurkan kepalanya perlahan.
Senyuman tak lupa ia sunggingka di bibirnya.
"Tegakkan kepalamu, kita lawan bersama orang-orang yang membuat kita kesakitan dan kehilangan!" Tuturnya dengan nada tegas.
Jenni memulai mengobati tangan Rey, ketika ia akan memakai alkohol sebagai pendingin, Rey meraihnya dan meminumnya.
"Eh, apa yang kau lakukan, Rey?!" Jenni meraih botol alkohol itu.
"Percuma saja, kau memakaikannya pada lukaku. Rasa sakitnya masih akan terasa, tapi jika aku meminum apapun yang mengandung Alkohol, rasa sakit itu tidak akan terasa!" Jenni mengerutkan dahinya.
Ia tak mengerti dengan penuturan Rey.
"Jenni, apa yang kau rasakan saat meminum anggur?"
__ADS_1
"Pusing dan tidak mengingat apapun." Ucap Jenni dengan nada tak yakin.
"Bahkan kita tidak bisa sadar dengan apapun bukan?" Jenni mengangguk, Rey meraih tangannya, membuat aktivitas yang sedang dilakukannya terhenti.
"Apapun yang aku lakukan di masa ini, semoga di masa depan kita sudah berada dalam cahaya." Tuturnya sambil merangkul Jenni, kemudian membawanya pada pelukannya.
Jenni merasa terenyuh dan tersentuh hatinya. Sekejam apapun Rey, tetap saja masih bisa berharap dan ingin berada di kehidupan yang bebas.
"Kegelapan tidak akan bisa mengusir kegelapan, hanya cahaya yang bisa melakukannya. Dan cahaya yang databg untuk mengusir kegelapan dalam hidupku adalah dirimu, Jenni." Tutur Rey lagi dengan nada suara yang menghangatkan hatinya.
"Rey, kenapa setelah ini kau bertekad berhenti dalam dunia hitam ini? Dan bukankah, kau membenciku setelah kau tahu tujuanku waktu itu?"
Rey melepaskan pelukannya, kemudian membingkai wajah Jenni dengan tangannya.
"Aku sadar, dalam dunia hitamku ini aku memiliki dunia lain juga. Dimana ada istriku disana, bahkan suatu saat nanti ada anak-anakku juga. Aku sadar, bahwa dalam pekerjaanku yang seperti itu akan melibatkan anak dan istriku berada dalam bahaya." Jelasnya dengan tatapan yang lurus pada Jenni.
"Soal kebencian... Kebencian tidak akan bisa menghilangkan kebencian, hanya cinta yang bisa melakukannya.
Dan kau datang dengan cintamu yang membuatku sadar dari kebencianku waktu aku mengetahui tujuanmu."
Jenni kembali tersentuh dengan penuturan Rey. Ia tak menyangka bisa bersama dengan seseorang seperti Rey saat ini.
"Rey, aku sangat beruntung bisa bertemu denganmu." Ucap Jenni sambil masuk ke dalam dekapan Rey.
Saat menyentuh tangan Rey, Jenni baru ingat bahwa saat ini ia sedang mengobati lukanya.
"Maaf, aku tidak ingat!"
Keduanya tertawa bersamaan, seketika keadaan yang tadi membuat khawatir kini menghangat dengan canda dan tawa antara Jenni dan Rey.
"Selesai!" Seru Jenni sambil menunjukan tangan Rey yang sudah dibalut perban.
"Kemarilah, disini dingin!" Merentangkan tangannya, menyuruh Jenni memeluknya.
Jenni menurut, kemudian memeluk Rey, membuat tubuhnya menghangat.
"Setelah ini kita harus kemana? Bukankah selama kita ada disini tetap saja, akan sangat bahaya?"
Rey terdiam, berpikir lagi dan mencoba mencari tempat yang aman untuknya dan Jenni.
"Kita akan pergi ke-"
Braak
"Rumah terakhir kalian!"
__ADS_1
Bersambung....