
20 Tahun Kemudian...
Dari tahun ke tahun semua telah berubah, begitu juga dengan keluarga Jenni dan Davin yang mulai dipenuhi ketegangan dikala sikap putra satu-satunya mereka, Kenan. Menjadi dingin dan tak tersentuh.
Semua dimulai dari waktu Kenan berumur 13 tahun saat ada temannya yang hampir saja menjadi korban pelecehan. Saat itu, dengan berani Kenan melawan para pria itu dengan hanya menggunakan sebatang kayu.
Sejak saat itu pula, Jenni dan Davin kembali lagi berusaha menyembunyikan Kenan agar tak terendus oleh sekelompok mafia yang selalu mencari pemuda liar untuk dijadikan anggotanya.
...****************...
"Kenan, kau mau kemana?" Jenni langsung bertanya, ketika Kenan akan menginjakan kakinya ke luar rumah dengan penampilan serba hitam.
Tidak lupa, dengan masker yang selalu dipakai Kenan saat akan keluar rumah.
Kenan menghentikan langkahnya, kemudian berjalan mundur mendekati ibunya yang berdiri tidak jauh di belakangnya.
"Aku ingin mencari udara yang hangat di kota," jawabnya datar sambil melanjutkan langkahnya menuju keluar.
"Selalu begitu!" Gumam Jenni ketus.
Jenni ikut keluar untuk mencegah Kenan pergi ke kota, akan tetapi terlambat ketika melihat Kenan sudah mengendarai sepeda motor trailnya dengan melaju kencang membelah jalanan perbukitan yang sangat sulit untuk di lalui.
__ADS_1
"Sejak kapan kita akan membuat Kenan terpenjara dengan tinggal di tempat seperti ini?"
Sebuah suara tiba-tiba mengejutkan Jenni, suara Davin.
"Entahlah, aku khawatir dia akan terjerumus ke dalam lembah hitam yang pernah aku masuki." Nada suara Jenni tampak sekali mengandung nada kekhawatiran.
"Kau bisa melihatnya sendiri, bukan? Dimana dalam dunia itu kekuasaan membuat siapa saja terobsesi dan akan melakukan apapun demi kekuasaan itu!" Sambung Jenni sambil menggandeng tangan Davin masuk ke dalam rumah.
Rumah yang didesain seolah terbuat dari kayu itu nampak indah, meski sudah puluhan tahun lamanya sejak Jenni masih belum lahir. Rumah yang menjadi saksi bisu usaha melenyapkan keluarga Jenni.
"Tapi, jika kita terus diam dan bersembunyi disini apakah itu tidak akan membuat pertanyaan besar dan rasa keingintahuan di dalam diri Kenan?" Pertanyaan itu tiba-tiba saja meluncur dari mulut Davin.
"Dia juga butuh kebebasan, jika dia terjerumus maka tugas kita menyadarkannya sebagai orang tuanya!" Tegas Davin yang membuat Jenni bimbang.
Hingga malam tiba, dimana Kenan sudah pulang dari kota. Jenni masih memikirkan kata-kata Davin yang memang benar adanya.
"Kenan," panggil Jenni saat Kenan akan melangkah masuk ke kamarnya.
Langkah Kenan terhenti, kemudian berbalik menghampiri Jenni.
"Kau ingin tinggal di kota?"
__ADS_1
Mata Kenan membelalak sempurna, ia terlihat bingung namun bahagia. Akhirnya Kenan mengangguk.
"Jika kita pindah ke sana, maukah kau berjanji satu hal padaku?" Kenan mengangguk lagi.
"Kau akan mendengarkan apapun yang ibu dan ayah katakan!" Satu anggukan lagi, beserta iringan senyum yang sudah tidak pernah Jenni lihat lagi belasan tahun lamanya dari Kenan.
"Terima kasih, Bu!" Jenni mengangguk.
"Kemasi barang-barangmu, besok kita akan berangkat sangat pagi! Jangan sampai ada yang tertinggal!"
Tanpa menjawab atau memberi anggukan lagi, Kenan segera bergegas masuk ke dalam kamarnya dengan senyuman yang sangat bahagia. Jenni menghela napas panjang, kemudian tersenyum sendiri.
Semoga apa yang aku lalui tidak akan Kenan lalui.
Jenni berdiri dari duduknya, kemudian berbalik. Disaat berbalik ia terkejut melihat Davin berdiri tidak jauh darinya sambil tersenyum dan mengangguk.
Tak lupa, ia mengacungkan jempol pada Jenni.
"Tenanglah, tidak akan terjadi hal-hal yang tidak akan pernah kita inginkan! Kenan pasti akan selalu menjaga pergaulannya dan dunianya!"
Cuma sedikit, mau ngetik dari semalam eh authornya malah sakit kepala duluan gara-gara minum kopi. Niat begadang malah tepar duluan 🤣
__ADS_1