Istri Simpanan Sang Mafia Kejam

Istri Simpanan Sang Mafia Kejam
ISSMK-37 Davin yang Mudah Rapuh


__ADS_3

"Ayah," ucap Jenni saat melihat sesosok tubuh yang berdiri di ambang pintu dengan rambut yang sudah hampir memutih semua.


Adrian menghampiri Jenni dan menepuk kepalanya pelan.


"Aku titipkan Jenni padamu, Davin. Semoga kita bisa bertemu lagi, dan aku bisa menyerahkan putriku padamu nanti." Tanpa berlama-lama, karena waktu Adrian menemui Jenni terbatas ia langsung pergi.


Tak peduli Jenni memanggil-manggilnya sambil menangis.


Tangis Jenni mereda setelah beberapa saat kepergian sang ayah kembali ke tempat ia dijadikan tawanan.


Ada satu hal yang Jenni ingat dari kata-kata ayahnya. Ketika ia bilang akan menyerahkan Jenni pada Davin.


Apa yang ayah maksud menyerahkanku pada Davin?


Saat sedang fokus memikirkan itu, Davin menepuk bahu Jenni pelan.


"Jangan pikirkan apapun, istirahatlah. Karena waktu kita tidak banyak, Rey mempercepat pertemuannya hanya akan berlangsung dalam 3 minggu lagi dari waktu pertama." Ucap Davin membuat pikiran Jenni bertambah.


Setelah itu, Davin meraih ponsel Jenni dan mengetikan sesuatu pada pesan untuk Rey.


"Aku pamit, Rey akan datang. Jangan membuatnya curiga jika sebenarnya aku yang membawamu kemari. Di matanya, aku hilang ingatan dan tinggal di luar negeri."


Satu fakta lagi, kini Jenni ketahui.


Jadi selama ini Davin...


"Aku di serang olehnya, lalu diselamatkan lagi olehnya. Saat aku sadar, aku berpura-pura hilang ingatan. Rey mengirimku ke kota Sisilia, tapi karena tekad dan dirimu aku kembali ke kota ini untuk melindungimu dengan bergabung dengan tim agen rahasia." Jelas Davin seolah mengerti kebingungan Jenni.


Jenni masih tercengang, fakta dalam diri Davin membuatnya sangat kagum.


"Tapi, kenapa kau ingin melindungiku? Padahal aku bukan siapa-siapa dalam hidupmu."


Davin terdiam, jawaban dari pertanyaan Jenni membuatnya rapuh seketika.


"Karena aku... Peduli padamu," Kini Jenni yang terdiam, seolah jawaban Davin membuatnya menjadi bisu.


Davin terkekeh, kemudian menepuk bahu Jenni pelan dan mencubit pipinya.


"Sudahlah, jangan memikirkan apapun lagi! Aku pergi, jaga dirimu baik-baik jangan sampai Rey curiga!" Tak menunggu Jenni menjawab Davin segera bergegas pergi.


Saat akan membuka pintu, ia terkejut mendengar suara langkah kaki dari luar. Davin mengintip di balik celah pintu. Matanya membelalak melihat kedatangan Rey.


Secepat itu dia datang, aku harus segera pergi!


Mata Davin menerawang kesana kemari, begitu juga Jenni yang sudah mendengar suara Rey berbicara dengan seseorang di luar sana.


Melihat sebuah jendela terbuka, Davin langsung berlari dan melompat keluar dari jendela itu.

__ADS_1


Jenni yang khawatir langsung turun dari ranjang rumah sakit, mengecek keadaan Davin.


Terlihat Davin sudah berdiri di atas tanah dengan lutut dan sikutnya yang terluka. Namun senyuman masih terlukis di bibirnya serta jempol tangannya yang di acungkan pada Jenni, memberi isyarat bahwa ia baik-baik saja.


Davin berlari ke dalam mobil secepat mungkin, di dalam mobil ia mengambil kotak obat untuk mengobati lukanya.


Luka ini biasa saja. Tapi perasaanku rapuh, Jen!


...*********...


"Sedang apa kau disana, Jen!" Sahut Rey yang baru masuk ke dalam ruangan Jenni.


Jenni membalikan tubuhnya, melihat Rey yang di tangannya terdapat darah yang mengering.


Satu lagi, kau menumpahkan darah keluargaku tanpa seizinku!


Pandangan Jenni terus tertuju pada darah yang mengering itu. Rey mengikuti kemana arah pandang Jenni, setelah mengetahui Jenni melihat tangannya ia langsung merasa gugup.


"Pelakunya sudah tidak bisa apa-apa lagi. Jangan khawatir." Ucap Rey dengan senyum canggung.


Jenni hanya mengangguk. Kemudian kembali duduk di atas ranjang.


Hening. Suasana menjadi sangat hening, meski kedua orang itu saling menatap, namun tak sepatah katapun terucap untuk memulai kembali percakapan.


Sampai Rey akhirnya angkat suara, dengan wajah yang dibuat cemas.


Jenni menoleh, melirik Rey yang duduk tidak jauh di atas sofa ruangan rawatnya.


Dalam hati Jenni membanding-bandingkan Rey dan Davin, kemudian saat mengingat Davin, sebuah rencana muncul yang berkaitan dengan tujuan besarnya.


"3 minggu lagi pertemuan antar para mafia?"


Pertanyaan itu membuat Rey menoleh dengan ekspresi terkejut, namun Rey langsung menghilangkan ekspresi itu.


"Ya, bagaimana bisa kau tahu?"


"Aku juga seorang mafia, kenapa kau tidak mengundangku? Bisa kau perkenalkan aku pada sekutu kita itu?"


Agar aku bisa melancarkan segala aksi untuk memberimu kejutan besar!


Rey hanya mengangguk, tak mampu menjawab.


Bagaimana bisa dia mengetahui pertemuan itu?


Tangannya sudah mengeluarkan ponsel, mengetikan pesan pada anak buahnya untuk menyelidiki Jenni.


Cari tahu, dengan siapa saja Jenni berinteraksi selama ini. Dan bagaimana informasi tentang pertemuan itu bisa bocor padanya.

__ADS_1


"Siapa yang membawamu kemari, Jen?"


Jenni menunjuk salah satu anak buah Rey, yang sebenarnya adalah anggota tim agen rahasia.


"Jadi, apa kau bisa memperkenalkanku pada sekutu-sekutu mafia kita?" Rey mengangguk lagi.


...*******...


"Dia sudah menyetujui itu kemarin, kita hanya perlu membawa bukti dan berkumpul di lokasi yang telah di tentukan." Jelas Jenni pada Davin.


3 hari pasca serangan yang tidak Davin sengaja untuk menjauhkan Jenni dari malam panas bersama Rey, kini Jenni telah pulih kembali meski belum pulih sepenuhnya.


Davin kembali berpikir, rencana seperti apa yang menurutnya tepat untuk membawa Rey kembali.


"Aku tidak akan berusaha lagi, jika dia tidak sadar. Mungkin, aku akan memilih jalan lain untuk menghancurkan kebencian-kebencian dan mengakhiri pertumpahan darah dengan menumpahkan darah adikku sendiri."


"Tapi, jika tidak berhasil dan aku yang harus mati." Kata-kata Davin terjeda, saat sebuah tangan memegang tangannya.


Jenni menggelengkan kepalanya.


"Tidak ada yang akan tiada diantara kalian, kecuali sudah takdir. Setelah semua berjalan lancar, ingatlah untuk saling bertemu di bawah pohon harapan."


Davin meraih tangan Jenni, kemudian menggenggamnya.


"Davin, kenapa tanganmu sedingin ini?"


Jenni menggenggam tangan Davin, kemudian menggenggamnya dengan kedua tangannya. Davin menggeleng sambil tersenyum.


"Tanganmu yang dingin, Jenni. Bukan tanganku." Sambil menempatkan tangan Jenni di atas kepala Jenni sendiri.


Jenni menyadari itu, kemudian meraih tangan Davin kembali.


"Tanganmu hangat sekali," gumam Jenni lirih.


"Sudahlah, kita kembali pada jalan rencana."


Davin kembali menjelaskan panjang lebar rencananya, kini di hadapan anggota tim agen rahasia.


"Pertama, periksa kembali gudang senjata. Pastikan semua peluru dalam senjata itu kosong dan habiskan semua peluru di gudang. Kedua, bawa Bu Hilya dan Pak Adrian ke lapangan tempat pertemuan para mafia itu. Jenni akan menjadi umpan, dia akan berdiri di samping Rey. Sementara aku akan muncul untuk membawa berkas pemindahan kekuasaan yang palsu dan telah dipindahkan dengan namaku." Semua telah memiliki tugas masing-masing, kini giliran mereka melaksanakan tugas tersebut.


Sebelum pergi Jenni kembali berbicara secara pribadi dengan Davin.


"Besok aku akan membujuk para sekutu itu untuk mengatakan keburukan Rey di depan media saat pertemuan. Aku harap, kau memilih media yang tepat yang bisa merusak namanya secara internasional."


Bersambung...


Agak ngaco alurnya di bab kali ini, maaf ya soalnya authornya lagi kurang sehat di bagian hatinya 😄

__ADS_1


__ADS_2