
"Maafkan aku yang terlambat menyadarinya." Jennifer.
Sebuah pesan ia kirimkan pada ponsel milik Rey yang ada di tangannya. Jennifer kini hanya bisa melalui hari-hari penuh penyesalannya karena ia begitu ceroboh dan gegabah dalam tindakan balas dendamnya.
"Daripada berdiam diri, lebih baik lakukan sesuatu yang bisa menghilangkan kesedihanmu!" Jeremy, sepupunya Jennifer menghampiri Jenni dengan senyuman yang mampu memikat hati wanita mana saja.
Senyuman itu sengaja ia tunjukan pada Jenni, bukan tanpa alasan melainka karena Jeremy menyukai Jennifer sudah sejak lama.
"Lebih baik kau menjauh dariku, berhentilah menggangguku!" Sinis Jenni tanpa memandang Jeremy yang sejak tadi berusaha memikat Jenni.
"Bukankah kita sangat cocok? Memiliki nama dengan awalan huruf yang sama, Jenni aku rasa sudah saatnya aku mengungkapkan sesuatu padamu." Kening Jenni mulai berkerut.
Ia menatap mata Jeremy, terlihat ada sebuah ambisi di matanya.
Sepertinya ada yang tidak beres!
Jeremy meraih tangan Jenni, kemudian ia berlutut ala ksatria di hadapan Jenni.
"Aku mencintaimu, maukah kau menikah denganku?" Jenni merasa terkejut dengan lamaran tiba-tiba itu, membuatnya tidak bisa berpikir harus menjawab apa.
"Apa maksudmu?!" Jenni merasa diejek dengan lamaran itu.
Jeremy berdiri. Namun masih belum melepaskan tangan Jenni.
"Anggaplah sebagai balas budi, jika kau mau menikah denganku." Kata itu berhasil memporak-porandakan hati Jenni.
Jenni terus menatap Jeremy dengan tatapan tidak percaya. Kini, ia benar-benar dihadapkan pada sebuah masalah.
"Aku tidak bisa...-"
"Wah, hebat! Kalian pasti akan menikah!" Derry, ayahnya Jeremy yang selama ini menjadi paman Jenni menyahut dari arah barat pantai tempat favorit Jenni mengenang Rey.
Ia kembali melirik tengah lautan, tiba-tiba sebuah tekad muncul dalam benaknya dan datanglah sebuah suara bersere dalam tatapannya ke laut itu.
"Hai, Jenni! Lakukanlah permintaan mereka! Itu caramu membalas kepergian cintamu! Lihatlah wajah dua pembunuh itu! Jangan ingat lagi dendam lainmu, cintamu tiada karena mereka. Ingatlah kata-kata ini dalam hatimu!" Ucap suara hatinya yang berseru tanpa diminta.
__ADS_1
Jenni melepaskan tangannya dari tangan Jeremy, kemudian menghela napas pelan sebelum menjawab pertanyaannya.
"Bisakah aku menjawabnya setelah memikirkannya?"
Jeremy dan Derry tersenyum, kemudian mengangguk bersamaan.
Derry mendekati Jenny, menepuk kepala Jenni pelan dan mengatakan sesuatu dengan suara pelan.
"Jangan terlalu lama berpikir!"
"Sudahlah ayah, biarkan dia berpikir selama yang dia mau. Lagipula masih banyak waktu yang tersedia!" Diangguki Derri. Tanpa pamit dua pria itu pergi meninggalkan Jenni.
Jenni juga bergegas pergi entah kemana, membawa mobilnya membelah jalanan dengan jarak yang hingga sangat jauh. Ah, ke bagian pantai yang lain.
Berakhirlah tujuan Jenni di pantai lain itu, ia duduk di tepi pantai. Menikmati suasana yang tenang karena pantai itu jarang di kunjungi wisatawan akibat arus ombaknya yang akan tinggi saat cuaca panas.
Ia merebahkan dirinya diatas pasir, memandang langit cerah. Membiarkan kakinya terkena air laut yang terbawa ombak.
"Kenapa hidupku begini? Aku salah balas dendam, sampai aku menyia-nyiakan cinta tulus Rey?" Gumamnya sambil mendudukan kembali tubuhnya dan menghapus air mata yang sudah membasahi pipinya.
"Tapi siapa yang dulu menembaku? Anak laki-laki yang juga di panggil Rey itu, kemana dia? Kenapa ada Rey lain saat aku sudah dalam tujuanku?" Beragumen sendiri.
Tidak menyadari sejak tadi ada sepasang mata dan telinga yang memperhatikan dan mendengarkan ia beradu argumen sendiri.
"Cinta selalu terlambat datang jika egomu terlalu tinggi, hapuslah air matamu. Mulai sekarang ikuti kata hatimu!
Jangan mengikuti kata orang lain!" Sambil memberikan sebuah sapu tangan putih.
Jenni melirik orang yang tiba-tiba sudah berada di sampingnya itu, orang itu seorang pria.
Jenni tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, karena penampilan pria itu kini memakai topi dan kacamata serba hitam.
"Kau?"
"Terimalah!" Meraih tangan Jenni dan meletakan sapu tangan itu.
__ADS_1
Tanpa berkata-kata lagi pria itu melangkah menjauh dengan sebuah senyuman bahagia yang tidak dapat diartikan bahagia karena apa.
Jenni memandangi punggung pria itu dengan pandangan bingung. Kemudian melihat sapu tangan yang diberikan pria itu.
Saat akan menggunakan untuk menghapus air matanya, Jenni merasa ada sesuatu yang ia kenal.
"Ini...-"
"Hei, tunggu!" Berlari mengejar pria itu, namun kehilangan jejak.
"Ya Tuhan, kenapa aku merasa bahwa dia..."
Melihat kembali sapu tangan dan mencium wangi menyengat yang Jenni sering cium dari tubuh seseorang.
Ya, Jenni kenal betul dengan wangi menyengat itu.
Ia kembali berlari, mengejar pria tadi. Hingga sampai di area pasar pantai Jenni melihat punggung pria itu lagi.
"Tunggu!" Menepuk bahunya dan membalikan tubuhnya.
Mata Jenni membelalak saat melihat wajah pria itu. Hatinya kembali bersedih karena semua tak sesuai dengan apa yang ia harapkan.
"Maaf, salah orang!"
Jenni meninggalka area pantai, dengan sapu tangan yang ia genggam erat seolah sedang menggenggam tangan orang yang begitu ia rindukan.
Ia kini menuju ke dalam mobilnya, melajukannya dengan pela menuju area villa tempat ia mengenang Rey disana.
Sampai di villa ia menemukan sesuatu yang mengejutkan lagi, dimana ada sebuah pemandangan yang begitu menyakitkan hatinya.
"Kau sudah datang?"
Bersambung...
Soal up, kemarin malam aku sudah up tapi baru lolos tadi sore alhasil jadi masuk ke update hari ini deh. Maafkan ya, karena ini sistemnya eror bukan authornya yang pemalas 😁🙏🏻🙏🏻🙏🏻 authornya bakal up tiap hari kok, meski gak tetap berapa babnya. bisa aja hanya 1 bab karena ada kesibukan di dunia nyata juga. Tapi yang penting author up, daripada tidak sama sekali. iya nggak? 😁🙏🏻🙏🏻🙏🏻
__ADS_1