
Flashback
"Rey, aku harus bicara denganmu!" Seru Jenni saat menemukan Rey tengah berdiri menghadap ke arah timur diatas atap rumahnya.
Mendengar suara Jenni, ia langsung berbalik dan memasang senyuman kikuk saat melihat Jenni sudah tersenyum manis padanya.
"Ayo, kita bicara di kamar."
Tanpa menunggu persetujuan dari Rey, ia langsung menariknya turun menuju kamar.
"Sebenarnya ada ambisi apa hingga kau bergabung dengan kumpulan seperti itu?"
Hening, tak ada satupun yang berbicara lagi setelah pertanyaan itu terlontar dari mulut Jenni begitu saja.
Jenni merasa bingung, ia mendapati Rey tengah menatapnya dengan serius.
"Mereka yang mengganggu kita sudah tiada, terutama Davin." Jenni meraih lengan Rey, menggenggamnya meyakinkan bahwa ia bisa menjaga rahasianya.
Rey terkekeh, ia melirik ke ujung ruangan. Matanya tiba-tiba menatap sesuatu yang sepertinya terpasang disana.
"Sebentar..." Ucap Rey sambil meraih ponselnya yang sejak tadi ia letakan diatas meja dekat ranjang tidurnya.
Jenni mengangguk.
Rey tampak menelepon seseorang, hingga beberapa saat kembali duduk dihadapan Jenni lagi.
"Tidak ada ambisi, ini kebetulan. Orang tuaku meninggal sejak aku masih kecil, aku terlunta-lunta di jalanan. Sampai Meira dan Lucas masuk dalam kehidupanku, lalu membawaku ke dalam lembah hitam yang dinamakan mafia ini."
Rey menggaruk kepalanya yang tidak gatal beberapa kali. Membuat pergerakan tersebut memicu kecurigaan Jenni.
Kebohongan, ada sesuatu di dalam hatimu yang kau sembunyikan.
Jenni terus menatap Rey dan mengunci netranya agar terus menatapnya.
Rey tidak menunjukan kegugupan, namun dalam gerakan tangannya Jenni bisa mengetahui jika Rey sedang berbohong.
"Baiklah, sebaiknya kita tidur saja." Ajak Jenni dengan perasaan kecewa dalam hatinya.
Kemudian Rey merebahkan dirinya diatas ranjang disamping Jenni, ia menghela napas lega sembari berbaring menghadap ke samping.
Entah kau, atau siapapun. Tapi kau tidak akan mendapatkan apapun dengan menaruh kamera itu di kamar ini, Jen!
Flashback off
Davin menghela napas panjang.
"Sudah pasti dia tahu bahwa ada kamera di dalam kamarnya." Duganya dengan nada yakin.
Jenni menatap Davin sambil tersenyum samar.
"Lalu bagaimana? Apa yang harus kita lakukan kedepannya?"
__ADS_1
Semua anggota tim agen rahasia menatap Jenni bingung.
Sementara Davin yang telah lama membentuk tim itu dan menjadi seorang ketuanya bersikap tenang.
"Bersikaplah seperti biasa, jangan menunjukan jika kau memang yang menaruh kamera itu." Tegasnya yang langsung diangguki Jenni.
"Pulanglah, dalam satu minggu jangan pergi kesini. Yang lainnya, bisa melakukan rencana B yang telah kita sepakati bersama jika Jenni tidak berhasil dengan rencananya kemarin!"
...****************...
Kepulangan Jenni membuat Rey semakin curiga, terutama Jenni selalu tiba-tiba pergi tanpa izin dan sering kembali pada malam hari.
"Selama ini kau sering pergi kemana?" Tanyanya dengan raut wajah curiga dan kesal.
Jenni hanya tersenyum membuat Rey gemas, hal itu menimbulkan lupanya Rey pada pertanyaannya.
"Aku hanya ingin mencari udara segar, aku bosan menjadi mafia."
Setelah berkata demikian, Jenni bergegas menuju ke kamar. Ia merebahkan dirinya diatas ranjang.
Sudah hampir satu minggu, Jenni bergabung dengan tim agen rahasia. Sudah dua hari dalam satu minggu tersebut Jenni merasa bosan berada di rumah.
Ia ingin segera beraktivitas kembali mencari tahu rahasia-rahasia yang Rey kubur dalam-dalam.
Juga mengenai balas dendam terhadap Jeremy dan ayahnya, Jenni masih menundanya karena mendengar kabar bahwa Sintia juga bersama mereka saat ini.
Tiba-tiba dalam waktu istirahatnya, Jenni menerima panggilan telepon dari Davin. Membuatnya harus waspada saat menerima telepon.
Ia menelepon kembali nomor Davin yang panggilannya berakhir ketika Jenni menastikan kamarnya aman terlebih dahulu.
"Hallo."
Mendengarkan si penelepon berbicara, wajah Jenni nampak sangat serius. Hingga akhirnya telepon berakhir dengan raut wajah Jenni yang nampak mulai cemas.
Ia membuka pintu kamarnya yang terkunci, kemudian menyusuri tangga turun ke lantai dasar.
Sesampainya diluar, lebih tepatnya di depan paviliun yang berada di ujung pembatas rumah membuat Jenni sangat tercengang.
"Rey, apa yang kau lakukan?!" Teriak Jenni saat melihat 3 orang sudah diikat tangan dan kakinya lalu ditantang untuk berlutut.
Dengan penampilan yang sangat kacau dipenuhi darah dan bekas luka di seluruh tubuhnya.
Jenni menatap nanar ketiga orang itu.
"Lepaskan mereka! Apa masalahmu dengan mereka?"
Rey berbalik, menatap Jenni dengan tatapan menyeramkan.
"Mereka mencoba memata-matai kita!"
Jenni melirik ketiga orang tersebut, kemudian mengangguk.
__ADS_1
Bertahanlah, aku akan melepaskan kalian!
Mereka tersenyum, kemudian menggeleng.
Maaf, Jen!
Lebih baik kami mati daripada bebas karena harus mengatakan siapa tuan kami!
Jenni menunduk, tangannya mengepal. Lalu kembali menatap Rey yang sedang menambah siksaan untuk ketiga orang tersebut.
Ketiganya adalah rekan Jenni dalam tim agen rahasia, entah apa yang membuat ketiganya sampai tertangkap, itu menbuat Jenni sangat bingung dan sedih.
Ketika tadi Davin meneleponnya da memberitahunya, Jenni semakin bersedih.
Aku telah menciptakan suasana ini, jika aku tidak bergabung keadaannya tidak akan seperti ini!
"Rey, lepaskan mereka! Kau pasti salah, mereka hanya orang-orang biasa!"
Dengan kasar, Rey membalikan tubuhnya. Menarik tangan Jenni dan mencengkeram pinggangnya.
"Mereka mengetahui rahasia besar-!"
Rey menutup mulutnya dengan tangannya, kemudian perlahan melepaskan cengkeramannya pada pinggang Jenni.
Jenni terkesiap, baru saja Rey telah mengatakan sesuatu yang tida pernah ia bayangkan.
Artinya, jika aku terus memancing emosinya apakah dia akan seperti barusan?
"Rahasia besar? Kau bermain rahasia denganku?!"
"Jenni, tidak ada. Aku hanya salah mengucapkan!"
Disaat yang tepat, ponsel Rey berbunyi. Di layar Jenni bisa melihat siapa yang menelepon.
Jenni meraih ponsel itu dengan sekali sambaran, kemudian mengangkat teleponnya.
Deg,
Dadanya berdetak kencang. Namun Jenni berusaha tidak memperlihatkan wajah terkejut.
"Salah sambung!"
tut,
Jenni mematikan telepon. Rey bernapas lega.
"Sebaiknya kau lepaskan mereka!" Menunjuk ketiga orang itu.
"Aku akan-"
Bersambung....
__ADS_1
jangan lupa dukungannya, like, coment, gifts, vote. Komen yuk biar novelnya enggak kayak kuburan!