Istri Simpanan Sang Mafia Kejam

Istri Simpanan Sang Mafia Kejam
ISSMK 24


__ADS_3

"Kalian hanya akan pergi pada kematian!" Sintia berteriak sambil mengacungkan pistolnya pada Rey.


Rey dan Jenni terkejut, namun tidak lama. Rey mendorong Jenni untuk mundur dan berada di belakangnya.


Jenni tidak menurut, ia lebih memilih berdiri di sisi Rey.


"Jenni, dibelakangku!" Bentak Rey dengan wajah yang mencemaskan Jenni.


Sintia melangkah lebih dekat, berusaha melihat Jenni yang sudah berada di belakang Rey.


"Hallo, Jennifer?" Sapa Sintia dengan diiringi tawa sinis.


"Semua rencanaku," sambungnya sambil menepukan kedua telapak tangannya hingga datanglah segerombolan pria bertubuh kekar.


Rey yang selalu siap dalam keadaan sulit sekalipun tidak merasa ketakutan. Ia malah melepaskan kemejanya lagi dan menutupi wajah Jenni dengan kemejanya.


Tangannya beralih pada sakunya dan mengeluarkan korek api.


Sintia mulai kebingungan, namun rencana untuk menghabisi Rey dan Jenni masih akan ia lakukan dengan terus mengangkat pistol mengarahkannya pada kedua sasarannya.


"Habisi aku di luar!" Tantang Rey sambil menunjuk jalan keluar.


"Jika disini, bukan hanya kami. Tapi kau dan mereka juga akan mati!" Sambung Rey diiringi senyuman penuh kekejaman.


Matanya melirik kaki Sintia yang menginjak sebuah bubuk halus berwarna hitam yang sudah lama ia taburkan mengelilingi tempat itu.


Sintia kebingungan, tak mengerti maksud ucapan Rey. Hingga saat melirik ke dinding ia melihat sebuah bom tertempel di dekat kaca.


"Itu kosong, yang harus kalian perhatikan adalah hal kecil namun bisa jadi besar jika tembakanmu meleset atau aku menyalakan dan membuang korek api ini semauku!"


Jenni hanya terdiam, memperhatikan lantai sampai ia berhasil menemukan hal yang membuat Rey tidak takut pada Sintia.


Sintia sendiri masih tidak mengerti meski dalam kata-katanya Rey mencoba memberi tahu Sintia bahwa di lantai ada sesuatu.


"Jangan memperhatikan sisi kana, sisi kiri, ataupun ke atas. Semua tepat berada di bawah kalian!" Ucap Jenni.


Semua menatap lantai, lengah.


Jenni tak membuang kesempatan ia mengambil korek api di tangan Rey dan menarik tangan Rey keluar.


Saat berada di ambang pintu, Jenni berhenti. Kemudian ia membakar korek apinya dan menjatuhkannya ke lantai.


Hal itu tepat dengan saat Sintia menyadari ada sesuatu di lantai.


"Di bawah sepatu kalian!"


Duaaarrr


Ledakan kecil mulai terjadi, disusul percikan api yang mulai perlahan-lahan melahap rumah besar itu hingga akhirnya api kecil itu berubah menjadi kobaran api yang besar.


Jenni dan Rey menatap rumah besar itu dengan tatapan puas.

__ADS_1


"Satu, kita masih harus menghabisi empat lagi. Jeremy dan ayahnya, Ayahnya Sintia." Ucapnya membuat Jenni kebingungan.


"Satu lagi?" Sambil menatapnya penasaran.


"Kau akan tahu setelah menghabisi ketiganya."


Jawaban itu membuat rasa penasaran Jenni semakin memuncak, ia merasa ada yang sedang membuat Rey bimbang saat ini.


"Jangan memikirkannya sekarang, kita harus pergi sebelum pasukan mereka datang!" Rey menarik tangan Jenni, membawanya berlari sekuat tenaga karena satu-satunya cara hanya berlari karena keduanya tidak membawa kendaraan apapun.


Dor


Dor


Dor


Tembakan di belakang mereka saling bersahutan. Memperlihatkan ayah tirinya Sintia yang sudah berjarak beberapa meter dari posisi mereka.


Mereka mengejar Rey dan Jenny, ketika sudah mengetahui kebakaran dan ledakan itu ulah Jenni.


"Kalian tidak akan aku lepaskan!" Teriaknya.


Rey dan Jenni terus berlari, memasuki jalanan sempit dan kini sudah berada di ujung jalan.


Keduanya kebingungan saat tidak melihat jalan lain. Rey melirik Jenni, kemudian melirik kesana kemari mencari tempat untuk kabur dan mencari perlindungan.


Sampai akhirnya sebuah rumah yang terlihat di dalamnya ada penghuninya membuat sebuah rencana terlintas di pikiran Rey.


...****************...


Mereka kehilangan jejak Rey dan Jenni, namun bukanlah seorang mafia jika tidak tahu kemana harus melacak keduanya.


Hingga akhirnya ia memutuskan untuk memasuki jalan kecil itu dan kembali kebingungan sampai di ujung jalan yang sudah buntu.


Mereka pasti tidak akan jauh dari sini! Mereka tidak akan bisa lari, karena ini jalan buntu.


Pasti dua manusia itu ada disini!


Senyumnya menyeringai, sambil mengamati dengan teliti tempat-tempat yang mungkin menjadi tempat yang dipakai Rey dan Jenni bersembunyi.


Sementara di dalam rumah kecil nan kumuh, Rey menutup mulut Jenni dengan tangannya agar tidak mengeluarkan suara.


Rey mengintip dari lubang papan rumah itu, pemilik rumah ikut khawatir bukan karena Jenni dan Rey, tapi karena kini mereka terlibat pasti akan membuatnya berada dalam masalah juga.


"Kalian tenanglah, bersikaplah seolah tidak ada apa-apa!" Ucap Rey berbisik yang langsung diangguki mereka.


"Kembalilah ke posisi semula!" Perintah Jenni dengan berbisik juga.


Mereka sudah bersantai diatas kursi kayu, sementara Jenni dan Rey masih bersembunyi di dalam kamar.


Jenni menarik Rey untuk pergi ke ujung ruangan rumah yang terlihat gelap, ketika itu tangan Jenni tidak sengaja tergores benda tajam membuatnya berdarah.

__ADS_1


"Jenni!" Rey meraih tangan Jenni dan membalutnya dengan sapu tangan.


"Buka pintunya!"


tok tok tok


"Buka pintunya! Atau kami akan membuka paksa!"


Rey dan Jenni terkejut, kemudian bergegas untuk bersembunyi.


Pemilik rumah membuka pintunya, wajah mereka dibuat seolah santai dan tenang hingga membuat ayahnya Sintia tidak menemukan kecurigaan sedikitpun.


Meski tidak ada hal mencurigakan, ia tetap masuk dan mencari ke setiap ruangan.


"Tidak ada apa-apa disini." Gumamnya.


Saat akan keluar, ia menemukan sobekan kain di benda tajam yang berada di sekat ruangan gelap.


"Apa tadi ada dua orang, seorang pria dan wanita kesini?" Tanyanya pada pemilik rumah.


"I-iya, mereka hanya singgah sebentar lalu-"


"Aku akan menyelidikinya sendiri!" Potongnya sambil melangkah masuk.


Jenni tak kuasa menahan perih di tangannya, ia hampir saja menangis menyadari lukanya dalam.


Rey terus membekap Jenni, agar tak bersuara sedikitpun.


Sementara ayahnya Sintia menyeringai menemukan bayangan dua orang dalam cahaya remang-remang.


Ia terus melangkah mendekati bayangan itu, hingga saat mendekat, ia menyiapkan pistolnya untuk menembak Jenni dan Rey segera.


Tap


Tap


Tap


langkah kakinya semakin mendekat, hingga saat sudah berada di tempat yang di tuju.


"Kalian akan mati saat ini juga!"


"Apa?! Ini-"


**Bersambung...


Hey kalian, iya kalian yang baca!


Komen donk, jangan ghaib mulu. oh iya sekedar mengingatkan jangan lupa ini hari selasa dan kemarin hari senin.


Setiap akun diberi 1 kesempatan untuk mendukung cerita favoritnya dengan cara memberikan vote, jadi jangan lupa memberikan vote kalian pada cerita favorit kalian.

__ADS_1


(Lebih bahagia lagi jika kalian sudi dan ikhlas memberikan dukungan pada novel ini, gpp bukan vote juga setidaknya, like, coment, dan beri gifts(hadiah bunga, kopi, dsb pada Jenni dan Rey!)


Sebelum author memutuskan untuk mengikuti jejak author fames lainnya yang pindah ke lapak hijau, ungu, kuda poni ungu, kuning, pink, dan lapak-lapak lainnya yang berbayar**.


__ADS_2