Istri Simpanan Sang Mafia Kejam

Istri Simpanan Sang Mafia Kejam
ISSMK-38 Menghilang


__ADS_3

Sepi, jadi pengen tamatin ceritanya 🤣


Di sebuah ruangan, kini Jenni telah di hadapkan dengan beberapa orang pria yang tengah duduk di kursi dengan meja besar yang melingkar.


Tatapan para pria itu tajam, sikap dingin mereka membuat siapapun yang berhadapan pasti akan segan meski untuk menyapa.


Tapi tidak dengan Jenni, ia menatap satu-persatu pimpinan dari sekutu itu dengan berani dan menyelidik. Satu-persatu juga Jenni sapa dengan senyuman.


"Dia istriku, maksudku istri keduaku." Rey memperkenalkan Jenni.


Pimpinan para sekutunya tampak tercengang, tak menyangka bahwa sekutu besar mereka ternyata haus akan wanita.


"Kedua? Jadi ada berapa?" Pertanyaan itu membuat Rey agak terpancing emosi, karena diiringi nada mengejek.


"Hei, tenang, tuan besar dari para Mafia! Kau sangat keren, bisa memiliki lebih dari satu wanita berstatus istri." Pimpinan sekutu dari geng mafia selatan menyanjung Rey, membuat Rey yang semula emosi kini bagaikan terbang tinggi ke langit yang biru.


"Apa kalian membawa istri kalian juga?"


Semua mengangguk, kemudian para istri dari pimpinan-pimpinan sekutu itu masuk. Penampilan mereka membuat Jenni tercengang, lantaran sama-sama berpenampilan sederhana.


Tak Jenni sangka juga, salah satu dari istri para pimpinan itu tersenyum padanya. Jenni sendiri membalas senyum itu, karena ia mengenalnya.


"Jennifer," sapanya sambil berjalan mendekati Jenni.


"Aisha," Jennifer berdiri, kemudian juga berjalan menuju Aisha.


Salah satu dari pimpinan sekutu itu bertepuk tangan, kemudian terkekeh dan berdiri menghampiri dua wanita yang saling berpelukan itu.


"Hebat, istri dari pemimpin besar dan pemimpin kecil saling mengenal ternyata."


Berjam-jam, pertemuan antar sekutu itu berlangsung. Sementara di luar, Jenni dengan Aisha tampak berbicara dengan sangat serius.


"Masalahnya, Jenni. Rey dan suamiku adalah sekutu paling terdekat, aku tidak bisa menjamin dia akan membantumu dan bekerja sama denganmu." Jenni menatap Aisha dengan tatapan memohon.


"Waktunya tidak banyak lagi, Aisha. Jika Rey dan Tuan Deva adalah sekutu terdekat, maka katakan padanya aku adalah putri dari Adrian Reshamiya, pimpinan mafia yang sebenarnya, katakan juga bahwa mereka masih hidup dan saat ini ada dalam tawanan Reytan." Jenni menggenggam tangan Aisha, kemudian berlutut di hadapannya.


Aisha nampak terkejut dengan kenyataan itu.


"Jadi kematian tuan Adrian?"


"Mereka menyabotase kematian ayah, hanya untuk mendapatkan kekuasaan besarnya. Karena sampai saat ini kekuasaan masih pada nama ayahku." Jelas Jenni lagi.


Tuan Deva yang sebenarnya sudah mendengar segalanya kini mendekati Aisha dan Jenni, kemudian duduk tepat di sebelah Aisha.


"Tim agen rahasia?" Tanyanya pada Jenni yang sedang berjongkok.


"Kau anggota tim Davin Hocane? Bangunlah, pergilah ke markas! Kita akan bicara di sana setelah acara membusukan ini selesai."


Tanpa menunggu jawaban, Tuan Deva langsung masuk kembali ke ruang perkumpulan. Sementara Aisha tersenyum pada Jenni, kemudian memberi anggukan isyarat agar Jenni segera pergi.


"Kau masih diam saja, pergilah!"


...**********...


"Ini, lokasi pertemuan itu disini." Deva menjelaskan, dengan sangat detail.


Sementara Jenni masih bingung melihat keakraban antara Deva dan Davin. Keduanya seperti terlihat telah lama saling mengenal, bahkan Davin seperti sangat menghormati Deva.


"Kalian harus membuat titik perkumpulan, dimana senjata cadangan ada disana. Anak buahku akan bergerak saat Jennifer memberikan instruksi pada mereka."

__ADS_1


Pembahasan rencana akhirnya berakhir, Davin sedang dalam perjalanan mengantar Jenni pulang, namun tiba-tiba Davin menghentikan mobilnya.


"Ada apa?"


Tak ada jawaban, hanya tatapan kosong Davin. Namun tak lama, Davin melepaskan sabuk pengamannya dan turun dari mobil.


"Davin!" Panggil Jenni namun Davin tetap turun.


Dor


Sebuah tembakan mengejutkan Jenni.


"Turun, Jen!" Teriak Davin sambil menarik tangan Jenni berlari.


Jenni melirik ke belakang, tampak dari bagasi mobil yang di kendarai Davin turun seseorang. Davin sendiri, dengan sengaja menembak ban mobil membuatnya bocor demi menghindari mereka mengejar Davin dengan mobil.


Kejar mengejar terjadi, entah darimana datangnya para pria itu, yang membuat Davin dan Jenni hampir terkepung. Namun keduanya tak gentar dengan terus berlari.


Sesekali Davin menembaki mereka dengan pistolnya.


"Sepertinya kita harus berpencar, Jen!" Ucap Davin yakin.


"Jika kita terus bersama, kau akan dalam keadaan bahaya!" Usulnya lagi yang membuat Jenni terpaksa setuju.


Dor


Lagi-lagi tembakan terdengar, Jenni dan Davin berhasil menghindari peluru mereka.


...****************...


"Jadi, dia sudah ingat semuanya?"


Rey menggebrak meja, kemudian melempar vas bunga yang ada disana.


"Dia mencari sekutu untuk melawan kita, bahkan dia-"


"Jangan teruskan! Tangkap dia! Jika bisa, habisi dia!" Perintah Rey sambil mengepalkan tangannya.


Semua akan sia-sia, jika sampai Davin mengingat segalanya dia pasti akan mencoba menghentikan semua ini!


Satu jam menanti, seluruh penantian Rey tidak sia-sia. Meski apa yang ia perintahkan agak meleset, akan tetapi berbuah juga.


"Kau bisa lakukan sesuatu untukku?"


Seseorang yang kini sudah berada dalam genggamannya mengangguk, kini ia telah menjadi alat baru bagi Rey.


"Ambil ponselnya, bawakan padaku." Perintahnya sambil mendekatkan sebuah pisau yang sangat tajam ke dekat leher Farah.


"Jika kau menurut, maka hidupmu akan terjamin sampai kapanpun."


Dengan terpaksa, Farah mengangguk dan bergegas pergi.


...****************...


Di markas tim agen rahasia, semua sudah dalam keadaan menegangkan saat mengetahui salah satu dari mereka telah tertangkap.


Namun Deva yang sebenarnya pendiri tim agen rahasia masih bersikap tenang, karena sampai saat ini ia sudah mengetahui permainan dari sekutu mafianya tersebut.


"Davin yang akan melangkah kesana, untuk membebaskan Farah." Deva menunjuk Davin.

__ADS_1


Jenni melirik Davin, ingin protes dengan keputusan pimpinan agen rahasia tersebut.


Davin menggelengkan kepalanya.


"Ya, aku akan pergi malam ini juga."


,


...****************...


Di bawah langit malam, dua orang tampak duduk saling berhadapan dengan wajah yang berekspresi datar.


Jenni dan Davin, dua pemilik misi besar itu duduk di bawah langit malam saling diam.


"Apa ini tidak terlalu berbahaya? Kau pergi sendiri menghadapi Rey?!" Jenni memulai pembicaraan.


Davin menatap ke bawah, lalu mengeluarkan sebuah pistol berwarna perak dan memberikannya pada Jenni.


"Aku akan pergi, meski bahaya itu sekalipun membuatku tidak bisa kembali. Tapi, hanya ini yang bisa aku berikan padamu sebagai kenangan."


Pistol itu kini berpindah pada tangan Jenni.


"Apa maksudnya?"


Davin tidak menjawab, ia malah tersenyum kemudian bergegas pergi. Membuat Jenni ikut berdiri dan bergegas mengikuti langkahnya.


Sampai di depan mobil, Davin mengulurkan tangannya pada Jenni. Jenni melihat tangan Davin, kemudian menyambut uluran tangan itu.


"Berjanjilah, rencana kita akan tetap berlangsung meski aku tidak kembali. Jangan lupakan pohon harapan, bisa saja pohon itu membuat harapan kita terkabul." Davin melepas tangan Jenni, kemudian memasuki mobil dan melajukannya menuju kediaman Reytan.


Jenni menatap kepergian Davin dengan tatapan nanar, seolah sesuatu yang buruk akan terjadi padanya.


...****************...


3 Hari berlalu


"Tuan Deva, apa tidak sebaiknya salah satu dari kita mencari keberadaan Davin?"


Seperti 3 hari yang di lalui, sejak saat itu Jenni terus mengkhawatirkan keadaan Davin yang sudah 3 hari juga tidak kembali.


"Meski sudah lama, dia akan kembali." Jawaban seperti itu sudah 3 hari juga keluar dari mulut tuan Deva.


"Pertemuan mereka hanya kurang dari sepuluh hari lagi dari waktu yang di tentukan, pulanglah! Jalankan rencana yang telah Davin buat jika kau benar-benar menghargai usahanya!"


Perintah itu membuat Jenni tak berani berkata lagi, iapun bergegas pergi. Bukan untuk pulang, melainkan memasuki kawasan hutan.


Kini Jenni sudah berdiri di bawah pohon harapan. Ia menulis dalam selembar kertas kemudian menguburnya di tempat yang sama, dimana berkas kekuasaan miliknya berada.


Apapun itu, tolong buat Davin baik-baik saja dimanapun dia berada.


Di kediaman Reytan, ia tengah membabi buta memukuli Davin dengan cambuk. Davin sendiri seolah telah mati rasa, tak berteriak sedikitpun karena merasa kesakitan.


"Dimana berkas itu? Kau yang mengambilnya, bukan?!"


**Bersambung...


Mohon maaf, ya dalam beberapa hari ke depan cuma bisa up 1x karena mulai sibuk lagi. Tapi insya Allah di panjangin isi babnya.


Salam, author Irma/Siran.

__ADS_1


😊😊😊**


__ADS_2