
Jenni mengangguk, lalu kini giliran memikirkan tempat persembunyian berkas penting itu. Namun ada yang ganjal dengan berkasnya, ketika Davin membukanya dan membacanya.
"Jenni, kita harus segera menyembunyikannya. Sebelum-"
"Apa? Apa ada yang salah?"
Tanpa menjawab, Davin membuka lembaran kedua dimana tercantum namanya juga disana.
"Lihat ini!" Sambil memperlihatkan lembaran kedua berkas itu.
Mata Jenni membelalak seketika.
"Dia menggunakan namaku dalam berkas palsu untuk membuatnya tetap dalam posisi aman." Davin melirik Jenni tak percaya, kemudian segera mengambil alih lagi berkasnya.
Tangan Jenni bergetar hebat, mengetahui rencana Rey bisa sesempurna itu tanpa diketahui siapapun.
"Ayo, Jenni. Kita harus bertindak saat ini juga!"
...****************...
Sebuah penyamaran berhasil dilakukan oleh Jenni dan Davin, kini keduanya sudah berada di tengah-tengah hutan untuk menyembunyikan berkas yang akan menyelamatkan mereka dari kejahatan Rey.
Davin terus menggali lubang di bawah sebuah pohon yang daunnya berwarna merah. Sementara Jenni berdiam diri dengan memegang berkas itu.
"Ayo, Jenni. Masukan berkas itu ke dalam kotak dan kita akan menguburnya." Perintah Davin yang langsung diangguki Jenni.
Jenni menggulung kertas itu, kemudian memasukannya ke dalam kotak dan menutupnya. Saat akan memasukannya, Davin mencekal tangannya.
"Jangan dulu,"
Jenni menatap Davin dengan tatapan waspada karena merasa ada yang aneh dengan Davin.
Cekalan tangan terlepas, Davin sudah merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah pena dan juga kertas. Yang lebih mengejutkan, Davin memberikan kertas dan pena itu pada Jenni.
"Aku akan membuat surat pernyataan disini, kau yang menulis. Pernyataan ini yang akan menjamin jika salah satu dari kita berkhianat, maka surat itu akan dibakar."
Tanpa berpikir panjang lagi, Jenni menyetujui hal itu dan langsung menulis surat pernyataan dan perjanjian tersebut.
"Satu lagi," cegah Davin lagi saat Jenni akan memasukan kertasnya ke dalam kotak.
Senyum terbit di bibir Davin, membuat Jenni mengernyitkan dahinya.
"Apa lagi, Davin? Kita saat ini berada si tengah hutan!" Protes Jenni yang membuat Davin terkekeh.
Tanpa menjelaskan, ia merebut kertas di tangan Jenni dan menuliskan sesuatu di kertas itu.
Setelah selesai, ia memberikan kembali kertasnya pada Jenni.
Plak
Jenni memukul lengan Davin membuat Davin meringis sambil mengelus lengan yang dipukul Jenni.
"Kau tidak waras, di tengah hutan menulis harapan lalu menguburnya tepat di bawah pohon berdaun merah ini!" Cibir Jenni namun malah membuat Davin semakin melebarkan senyumnya.
"Itulah yang kau tidak tahu," ucapnya sambil menatap daun rindang pohon itu.
__ADS_1
"Ini adalah pohon harapan, setiap tahun aku menulis harapan dan menguburnya disini. Meski belum ada satupun harapanku yang tercapai. Setidaknya, aku tidak memendamnya sendiri." Suasana berubah menjadi sendu.
Jenni melirik Davin dan menatapnya dengan perasaan sedih.
"Termasuk harapan kembalinya Rey sebagai adikku, bukan seorang ketua geng mafia jahat dan haus kekuasaan."
Di akhir ucapan, Jenni merasa hatinya benar-benar tersentuh. Mendengar ketulusan seorang kakak seperti Davin yang menginginkan adiknya kembali.
"Berikan padaku lagi," Jenni merebut kertas itu kemudian menuliskan sesuatu.
Setidaknya, berikan Rey kesadaran meski itu di akhir untuk menghilangkan kesedihan hati seorang kakak yang memiliki hati selembut bulu itu.
Jenni menggulung kertas itu, kemudian memasukannya ke dalam kotak. Tanpa penasaran dengan apa yang di tulis Jenni, Davin langsung menguburkannya dan memberi tanda sebuah pohon kecil di atasnya.
Hari mulai gelap saat Davin selesai menguburkan kotak itu.
"Jenni, jika suatu saat kau berada dalam bahaya, datanglah ke tempat ini dan hubungi aku. Kita akan bertemu di tempat ini, setidaknya kita mati bersama dalam perjuangan ini tanpa musuh tahu." Davin meraih tangan Jenni dan menggenggamnya erat.
Jenni mengangguk, membalas genggaman itu.
Tanpa di duga Davin memeluk Jenni. Jenni tidak munafik, ia membalas pelukan itu. Baginya Davin saat ini satu-satunya orang yang selalu menjaga dan melindunginya.
"Ayo kita pulang, sebelum semakin gelap."
...****************...
"Bagaimana bisa kalian tidak tahu Jennifer kemana?!"
Brak
Meja di gebrak dengan sangat keras, kemudian semua barang yang berada di atas meja sudah terlempar kemana-mana.
Sebuah vas yang terbuat dari alumunium mengenai lantai, membuat sekitar sepuluh orang pria berbadan kekar menjauh.
"Kalian benar-benar tidak becus!"
Dor
Salah satu dari kesepuluhan orang itu ambruk diatas lantai dengan kepala bersimbah darah.
Amukan Rey semakin menjadi-jadi, terutama saat mendengar Jenni diketahui pergi dengan seorang pria yang tidak dikenali.
"Kalian!" Menunjuk sisa anak buahnya dengan tatapan buas.
"Jika kalian tidak ingin bernasib sama dengannya, cari tahu siapa laki-laki itu dan bawa dia kemari!"
Tanpa menjawab, para anak buahnya segera pergi untuk mencari informasi mengenai pria yang pergi bersama Jenni.
Para anak buah berhenti di depan pintu, menunduk membuat amarah Rey kembali terpancing.
"Kenapa kalian berhenti? Bosan hidup?!"
Tanpa ada jawaban, seorang wanita masuk dengan pakaian yang kotor, membuat Rey semakin marah.
"Akhirnya, kau pulang! Kau sudah puas bermain dengan mereka?"
__ADS_1
Jenni tak menghiraukan pertanyaan itu, ia keluar dari ruangan Rey dan masuk ke kamar mandi. Tidak lupa menyembunyikan benda pipih yang telah diberikan Davin padanya.
Ia menyembunyikannya di dalam tumpukan pakaian miliknya dan mengunci lemarinya.
Tak berselang lama, Rey sudah berdiri di belakang Jenni dengan tangan terlipat di dada.
"Bagus sekali, kau ternyata punya bakat berkhianat juga." Gerakan Jenni terhenti, senyuman sinis sudah terlukis sempurna di bibirnya.
Bakat berkhianat? Aku belajar darimu, Reytan!
Ia membalikan tubuhnya dengan sempurna, membuat matanya langsung bersitatap dengan mata Rey yang tampak teduh namun di dalam tatapannya banyak rencana jahat pada orang yang ia tatap.
"Berkhianat?" Ulang Jenni dengan suara yang hampir seperti bisikan.
"Kita lihat, siapa yang akhirnya akan mengakhiri dan berakhir sebagai pengkhianat, aku atau mereka."
Rey mengerutkan dahi, tidak mengerti "mereka" siapa yang dimaksud Jenni.
"Mereka?"
Jenni mengangguk, kemudian tersenyum dan melewati Rey menuju kamar mandi.
Rey bergegas masuk ke ruangannya lagi, kemudian membuka berkas-berkas miliknya. Tangannya terhenti di map berwarna biru.
Sedikit ragu, saat ia membuka map itu secara perlahan. Hingga saat sudah terbuka sempurna, Rey menenangkan dirinya.
Map itu masih ada isinya, Rey. Jangan khawatir! Ucap Jenni dalam hatinya sambil berdiri di luar ruangan Rey.
Rey membaca berkas itu perlahan-lahan, matanya terus memindai setiap tulisan yang tertera.
"Si*l*n! Jadi, aku harus mendapatkannya dulu?!"
Rey melempar vas bunga yang terbuat dari keramik hingga hancur berserakan di lantai.
Jenni yang masih berada di luar tersenyum puas.
Tangannya mengetikan pesan di layar ponsel.
Rencana awal sudah berhasil, rencana selanjutnya akan aku lakukan besok pagi.
Pesan terkirim, ponsel Jenni masukan ke dalam saku pakaiannya dan bergegas menjauh dari ruangan Rey dengan meraih pistol yang tersembunyi dalam guci hiasan rumah.
...****************...
Davin tersenyum bangga saat membaca pesan dari Jenni, lalu ia masuk ke dalam markas tim agen rahasia.
Di dalamnya tampam sudah berkumpul anggotanya.
"Misi kita hari ini orang tua Jenni, apa kalian sanggup menyamar sebagai anak buah Rey dan menjadi seolah-olah penjaga yang menjaga orang tuanya Jennifer. Selain itu, setiap gerak-gerik harus dilaporkan padaku. Apa kalian siap?"
Tidak ada yang menjawab, semua tampak ragu dan diam.
"Davin, kau tahu sendiri Reytan itu seperti apa!"
"Kalian tidak perlu melakukan itu!"
__ADS_1
Bersambung...
Menjelang malam, jangan lupa dukungannya untuk novel terfavorit kalian dengan memberikan vote ya!!! Jika novel ini yang menjadi favorit diantara novel lainnya jangan lupa dukungannya!!!