Istri Simpanan Sang Mafia Kejam

Istri Simpanan Sang Mafia Kejam
ISSMK-44 (Akhir Yang Bahagia)


__ADS_3

"Are you crazy?" Davin mengelap bibirnya yang basah akibat perbuatan Jenni.


Jenni lagi-lagi mendekati Davin, berusaha melakukan cium*n ketiga pada Davin. Namun Davin segera menghindar, menyadari keduanya masih ada di bandara.


"Ayo pulang!" Ucap Davin sambil menarik tangan Jenni menuju parkiran bandara, tentunya diiringi rasa malu karena semua orang memperhatikannya.


Sementara Jenni, hanya bisa terkikik sendiri sambil mengikuti kemanapun Davin pergi menariknya.


Keduanya sudah sampai kembali di kediaman Davin dengan tim agen rahasia yang sudah berkumpul disana dengan tatapan datar.


"Ini surat pemindahan kekuasaannya, telah di tanda tangani oleh tuan Adrian dan menyerahkannya pada Davin."


Tuan Deva memberikan sebuah map berwarna coklat dengan tekstur timbul pada Davin. Davin meraihnya dan membukanya, lalu tak lama ia meletakannya kembali di meja.


Tuan Deva menatap bingung pada Davin.


Kebingungan itu segera menghilang, saat Davin menyerahkan pakaian tim agen rahasia bersama Jenni dan juga senjata serta tanda pengenal mereka.


"Tuan Deva, kami ingin mengembalikan ini padamu," ucap Jenni sambil meletakannya di meja.


"Kami hanya ingin hidup tanpa dunia yang dipenuhi kegelapan. Kekuasaan para mafia kami serahkan padamu." Sambung Davin.


Tak ada yang bergeming, hanya menatap penuh kesedihan pada kedua anggota terbaik tim agen rahasia tersebut.


"Aku kagum pada kalian, semoga niat kalian tercapai." Tuan Deva menepuk bahu Jenni dan Davin.


Keduanya membungkuk memberi hormat, lalu tersenyum pada tuan Deva sambil menautkan tangan mereka menjadi satu.


"Jangan lupa datang ke pernikahan kami!" Ucap Jenni yang membuat Davin melirik dengan tatapan terkejut padanya.


"Menikah?"


Jenni mengangguk bersemangat.


Sementara Davin hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sebab, ia tak pernah berpikir bahwa Jenni akan secepat itu menjadi miliknya.


"Baiklah, semoga kalian berbahagia."


...****************...


Di ruang keluarga, Jenni, Davin, Adrian, dan Hilya telah berkumpul membicarakan pernikahan antara Jenni dan Davin.


"Setelah menikah aku akan mengajak Jenni pindah, untuk menghindari dunia hitam lagi." Davin berusaha menyampaikan keinginannya.


Adrian dan Hilya tampak senang, tidak merasa keberatan.


"Baiklah, jika itu keinginanmu, jika Jenni juga setuju, kami bisa apa?"


"Ya, selain itu agar aku dan Davin bisa lancar setiap malam untuk proses memberi kalian cucu."


Pelototan tajam langsung Davin berikan pada Jenni, sementara Adrian dan Hilya tergelak mendengar kata-kata konyol putrinya.


"Kau ini, apa yang kau pikirkan sampai bisa berkata begitu?" Protes Davin dengan suara pelan.


"Lagipula, memang iya, bukan?"


Lagi-lagi Davin merasa kesal, sekesal saat mendampingi Jenni untuk balas dendam.


"Aku tidak menyangka, bahwa pemikiranmu seperti ini jika tidak ada dendam di hatimu lagi." Ucap Rey sambil memperlihatkan wajah tak percayanya.


Sementara Jenni hanya bisa menyengir kuda.


Dia tidak tahu aku seperti apa, sangat bagus! Ini kesempatanku untuk melakukan ulah-ulah yang telah lama aku tinggalkan!


Jenni tersenyum-senyum sendiri dengan isi pemikirannya, membuat Davin bergidik ngeri.


"Kenapa?" Tanya Jenni melihat reaksi Davin yang ketakutan.


"Kau kenapa seperti ketakutan melihatku begini? Tidak seperti saat menghadapi musuh, kau tidak pernah terlihat takut!"


"Karena kau lebih terlihat mengerikan di banding mafia yang kejam!"


...****************...


Hari yang cerah, secerah perasaan Jenni dan Davin dengan menggunakan pakaian pernikahan modern, keduanya bersanding di pelaminan membuat siapapun yang melihatnya akan iri.


Davin memegang tangan Jenni dengan sangat erat, begitu juga Jenni yang membalas pegangan itu dengan sangat erat.


"Aku terima," ucap Davin yang langsung mendapat tepuk tangan dari semuanya.


"Kalian telah resmi menikah!"

__ADS_1


Davin dan Jenni berdiri saling berhadapan, tak lupa senyum bahagia terukir di bibir keduanya.


Jenni dengan cepat meraih dagu Davin, kemudian menyerangnya secara cepat, membuat Davin membelalakan matanya.


"Hei, pergilah sekarang!" Teriak Hilya melihat Jenni menyerang Davin.


"Kalian membuat penglihatanku ternoda karena semua yang aku lihat hari ini!"


Hilya menarik dua buah koper, dibantu oleh Adrian dan melemparkannya pada Davin dan Jenni.


Jenni melepaskan pagutan bibirnya, kemudian dengan senang hati mengambil kopernya dan koper Davin.


Keduanya masuk ke dalam mobil, dengan Davin yang menyetir mobilnya. Setelah agak menjauh dari kediaman Jenni, Davin menghela napas lega.


"Sudah jauh, kan?" Tanya Jenni sambil mendekati Davin yang sedang menyetir dengan fokus.


Davin mengangguk, berusaha tidak melirik Jenni yang sebenarnya sedang menunjukan senyuman mengerikan pada Davin.


Jenni kembali memulai ulahnya, ia kini meraba-raba bagian sensitif milik Davin, membuat Davin menegang dan merasa ada sesuatu yang berdesir di dalam darahnya, bahkan, sebuah gejolak yang tiba-tiba saja mendidih.


"Jennifer!" Davin menggigit bibirnya.


Jenni menyengir kuda, tangannya tidak diam. Meraba-raba kemana-mana.


Davin melirik kesana-kemari, melihat sebuah bangunan tinggi dengan banyak kamar. Dengan satu putaran setir saja, mobilnya sudah terparkir di area parkiran bangunan yang disebut hotel tersebut.


"Good job, baby!" Jenni berseru riang.


Setelah memesan kamar hotel, Jenni dan Davin segera bergegas menuju kamar mereka.


Keduanya telah sampai di dalam kamar, Jenni tidak menyia-nyiakan kesempatannya lagi, ia langsung memberikan Davin cium*n yang sangat liar.


Davin tidak hanya diam, ia membalasnya dengan penuh kelembutan.


Hasrat keduanya semakin menggebu-gebu, hingga kini keduanya telah saling melepaskan kain yang menjadi penutup tubuh mereka.


Dengan pelan, Davin mulai menusukan pedang antiknya pada tubuh Jenni penuh kelembutan, hingga suara asing milik Jenni keluar begitu saja tanpa sepengetahuan pemilik suara.


Keduanya terlena dengan indahnya moment tersebut. Jenni sangat menikmati kelembutan Davin, membuatnya merasa sempurna sebagai wanita dibandingkan saat Rey melakukan dengan kasar padanya.


Di akhir permainan yang cukup lama, Jenni merasa sesuatu yang hangat memenuhi intinya, hingga Davin sudah ambruk diatasnya dengan posisi masih menyatu.


Jenni tersenyum, kemudian mendekatkan bibirnya ke telinganya Rey.


"Aku juga mencintaimu, apakah kau mau menambahnya lagi?" Pertanyaan konyol, membuat Davin langsung membelalakan matanya.


"Kau?!" Sambil menunjuk Jenni.


Jenni tergelak, Davin langsung melepaskan sesuatu yang masih menyatu tersebut dan merebahkan dirinya di samping Jenni.


"Davin," ucap Jenni sambil memeluk Davin.


"Ya?"


"Apa statusku telah berubah di mata dunia setelah menjadi istrimu ini?"


Davin memiringkan tubuhnya, menghadap Jenni dengan tatapan yang tidak dapat Jenni artikan.


"Memangnya statusmu apa di mata dunia sebelum menikah denganku?"


Jenni membelai pipi Davin, menunjukan tatapan sendu.


"Istri simpanan sang mafia, Reytan Hocane. Mereka mengenalku begitu, tapi apa setelah ini statusku berubah?"


Hati Davin teriris, bukan karena cemburu. Akan tetapi karena merasa sedih mengingat Rey yang dengan tega mengenalkan Jenni sebagai simpanan.


"Bagaimana jika aku terus dikenal sebagai simpanan?"


Davin meraih tangan Jenni, menghentikan belaiannya dan menggenggamnya membuat tangan Jenni hangat.


"Aku yang akan merubahnya, Jennifer Hocane, istri dari Davin Hocane."


"Caranya?"


"Kau tidak perlu tahu caranya, kau hanya perlu tahu aku sangat mencintaimu dan kau hanya perlu mendengar bahwa Jennifer adalah istri dari Davin Hocane."


Hati Jenni seperti terhanyut oleh kata-kata Davin, membuat air mata terharunya jatuh.


"Ada lagi? Yang ingin kau capai?"


Jenni mengangguk.

__ADS_1


"Menjadi ibu dari anak-anakmu, menjadi istri seutuhnya bagimu."


Davin tersenyum, kemudian membawa Jenni ke dalam pelukannya.


"Ayo, kita buat anak-anak kita!" Ajak Davin membuat Jenni mengerucutkan bibirnya.


"Kau bilang tadi-"


"Itu tadi! Dan aku hanya berpura-pura saja! Sudahlah, aku lelah, lagipula terlalu besar, membuat pinggangku sakit!"


Tak ada yang menghiraukan, keduanya tidak munafik dengan melakukan lagi penyatuan diiringi cinta yang sangat besar.


...****************...


Dua bulan kemudian


Sejak tadi malam, Jenni tidak berhenti memuntahkan isi perutnya yang padahal belum masuk makanan apapun, membuat Davin yang akan pergi untuk bekerja merasa cemas.


"Aku baik-baik saja, pergilah!" Ucap Jenni sambil merebahkan dirinya di atas ranjang.


Davin duduk di samping ranjang, memutuskan untuk tidak pergi ke kantor.


"Aku tidak akan pergi!" Putusnya sambil mengambil ponsel dan menelepon dokter untuk datang ke rumahnya.


Tidak lama, dokter datang dan langsung memeriksa Jenni. Perasaan Davin tegang, ia takut terjadi sesuatu hal yang parah pada Jenni.


Sementara Jenni khawatir dirinya sakit parah.


Dokter terus memeriksa perut Jenni, hingga akhirnya menyunggingkan seulas senyum sambil menulis resep obat.


"Jadi, bagaimana dengan istriku? Apa dia baik-baik saja?"


Hening, dokter masih belum menjawab sementara Jenni dan Davin terlihat tegang menunggu jawaban.


"Tak ada yang serius, istrimu sedang hamil!"


"Apa?! Hamil?!" Seru keduanya bersama-sama.


Dokter mengangguk.


Jenni menjerit bahagia, Davin segera memeluk Jenni. Keduanya seperti anak kecil yang baru mendapat mainan baru.


Dokter memandang keduanya dengan tatapan merasa aneh, hingga Davin merasa kikuk sendiri dengan ulahnya.


Setelah mengantar dokter pergi, Davin kembali ke kamarnya menemui Jenni dan merebahkan diri di samping Jenni.


"Akhirnya, hidup kita tenang setelah tidak berurusan dengan dunia senjata. Aku harap, seterusnya kita akan seperti ini."


Belum selesai Davin berkata-kata, tiba-tiba ponselnya berdering. Dilihatnya, layar menunjukan nama tuan Deva.


Hal itu membuat Davin dan Jenni kebingungan namun segera mengangkatnya, meski ragu.


"Hallo? Aku butuh bantuan kalian, kasus baru yang kami terima sangat rumit, kalian harus datang! Harus bergabung kembali dengan tim agen rahasia kita!"


Davin dan Jenni saling melirik, kemudian memasang wajah tak percaya.


"Apa?!" Teriak keduanya bersamaan.


...----------------...


...**T-A-M-A-T...


Alhamdulillah, tamat dengan part yang lumayan panjang dan ada hot-hot popnya, Tapi jangan unfav dulu, ya!!! Besok akan ada chapter tambahan sampai jumlah bab novel ini mencapai 50 bab loh!!!


Author ucapkan terima kasih buat yang sudah setia baca novel ini dari awal sampai akhir dan terus memberikan dukungan, jangan kemana-mana dulu, ya!!! Karena dalam beberapa minggu akan ada novel terbaru dari author.


yang baru baca novel ini, jangan lupa like, coment dan dukung ya!!! Jangan lupa buat yang baru mengenal author dengan novel ini, baca juga novel-novel lain author.


Ini daftarnya, enggak panjang-panjang kok partnya dibawah 200 part.


-Bos Galak Idamanku (Sid dan Kiran)


-Ikatan Cinta Masa Kecil (Deva dan Aisha)


-Kisah Cinta Siran sang Musisi (Keyra dan Siran)


Sekian, terima gaji 🤣


Thanks All!!!


Salam dari author Irma/Siran**

__ADS_1


__ADS_2