Istri Simpanan Sang Mafia Kejam

Istri Simpanan Sang Mafia Kejam
ISSMK 21


__ADS_3

Malam begitu mencekam, napas Jenni seolah berhenti ketika mengetahui bahwa ia kehilangan calon bayinya.


Penyebab dari kehilangan itu telah berhasil Rey tebas hingga tiada. Kini Jenni mulai bangkit, melanjutkan balas dendam yang belum berhasil ia lakukan.


"Aku harus pulang, Sintia mungkin akan memberi petunjuk untuk jalan pembalasanmu." Rey menarik kopernya keluar dari rumah.


Tak berhenti hingga disana, Jenni ikut masuk ke dalam mobil Rey. Membuat Rey sangat terkejut.


"Aku akan ikut, aku akan membalaskan dendam ini dengan tanganku sendiri." Jenni mengepalkan tangannya menunjukannya pada Rey.


Rey menatap Jenni penuh kekhawatiran.


Namun Jenni memang keras kepala, ia tak akan bisa dihentikan dalam melakukan hal itu.


Kehilangan membuat keberaniannya naik lima kali lipat dari sebelumnya. Rasa takut tak lagi ia simpan.


Keduanya sampai di kediaman milik Sintia. Rey melupakan bahwa Sintia mengajaknya bertemu di markas besar.


Masuknya Rey ke dalam rumah membawa Jenni membuat seisi rumah terkejut dan saling pandang tak mengerti. Terutama ayah dari Sintia yang sudah menatap Jenni dengan tatapan ingin membunuh.


Jenni sendiri tak kalah dengan tatapan ayah Sintia. Matanya menatap penuh kebencian.


"Dia ayah Sintia." Rey memperkenalkan Jenni.


Jenni menunduk sebentar memberi hormat. Berpura-pura ramah.


Dalam bayangannya, ingin sekali ia langsung mengeluarkan senjata dan menghabisi pria di hadapannya saat ini juga.


"Ini yang membuat Sintia sampai-"


"Sebaiknya bicarakan hal ini berdua saja!" Rey menyela ucapan mertuanga yang sudah ia ketahui arah pertanyaan itu kemana.


Tanpa menjawab dan berkata apapun lagi ayahnya Sintia menatap Jenni dengan tatapan lain tidak seperti saat Jenni masuk.


"Tunjukan dia kamarnya!" Memberi perintah pada pelayan.


"Aku yang akan menunjukannya!" Lagi-lagi Rey memancing kemarahan, ia langsung menarik tangan Jenni masuk ke salah satu kamar.


Di dalam kamar Rey membisikan sesuatu pada Jenni yang langsung dijawab anggukan.


Rey dan Jenni keluar dari dalam kamar. Kembali menemui ayahnya Sintia yang masih berdiri di tempat yang sama dan kembali memperhatikan Jenni.


"Nicholas, kita perlu berbicara!" Dengan nada penuh penekanan dan menunjuk ruangan dengan ujung matanya.


"Kita sedang bicara saat ini, ayah mertua!" Rey tersenyum merendahkan. Tangan pria tua itu kembali mengepal.


Masih dengan tangan mengepal ia bergegas memasuki ruangan yang ditunjuk dengan ujung matanya.


Rey melirik Jenni, ia melihat Jenni megangguk.


"Masuklah, jangan keluar sampai aku memanggilmu!"


Lalu Rey mengikuti ayah mertuanya yang masuk ke sebuah ruangan gelap. Isinya tidak lain adalah ruang senjata.

__ADS_1


"Dia alasan kau menolak cinta dari Sintia?" Pertanyaan itu muncul ketika Rey berdiri tepat di belakang ayah Sintia.


Hening, tak ada jawaban dari Rey.


Hingga helaan napas berat terdengar dari pria tua itu yang rambutnya hampir memutih karena faktor usia.


"Hmm..." Berdeham, membuat helaan napas berat itu berhenti.


"Aku menunggu jawabanmu, menantu!"


Hening lagi, hingga sedetik kemudian pria tua itu membelalakan matanya dan membalikan tubuhnya.


Tawa keras Rey penyebabnya.


"Kau bercanda, ayah mertua?" Rey masih terkekeh, lalu mengerutkan dahinya.


Pria tua itu mengepalkan tangannya dan beberapa detik kemudian tangannya sudah memegang kerah leher kemeja milik Rey. Tak lupa tangan lainnya meletakan pistol di depan kening Rey.


Rey tak merasa takut sedikitpun. Suasana seperti ini ia sudah terbiasa.


"Mana mungkin aku berani berkhianat pada dewa dan dewi yang telah membuatku masih bernapas sampai saat ini?!" Lagi-lagi Rey tertawa.


Pria tua itu menutup matanya, mencoba meredam amarahnya.


"Lalu apa alasanmu atas penolakan pada putriku?"


"Itu...-"


Sintia mengerjap-ngerjapkan matanya ketika sinar matahari pagi menembus ruangan dan membuatnya silau.


Tubuhnya sulit untuk digerakan. Sintia berusaha untuk bangun, namun sebuah tangan ia rasakan melingkar di perutnya.


Sintia melepaskan itu dengan perlahan. Hingga setelah berhasil, kini ia meringis menahan sakit di bagian intinya.


Mengingat itu, ia tersenyum sendiri.


Aku telah seutuhnya menjadi wanita!


Bibirnya menyunggingkan senyum bangga. Ia melirik ranjang, ada bercak darah di tempat yang ia tiduri. Bahkan pelakunya masih ada disana.


Berbaring dengan mata terpejam. Pria itu kini berhasil menjadi pengisi hati Sintia.


Sintia larut dalam lamunan berisi bayangan percintaannya semalam. Hingga tanpa sadar bayangan itu jadi nyata ketika tubuhnya sudah berada di atas tempat tidur lagi dan aset pribadi Jeremy sudah masuk kembali ke dalam aset pribadi miliknya.


"Jer-..." Jari telunjuk Jeremy sudah berada di depan bibir Sintia.


"A...ku... Ha..rus... per...gi!" Sintia menggigit bibir bawahnya, ia merasa melayang namun juga menahan sakit yang semakin bertambah.


Hingga beberapa saat itu terjadi dan sesuatu yang hangat memenuhi aset miliknya.


Tak berhenti sampai disana. Jeremy membungkam Sintia dengan c****nnya. Pindah ke leher dan menggigitnya.


Lalu meninggalkan beberapa bekas jejak kepemilikan.

__ADS_1


Barulah setelah itu Sintia bisa keluar dan pulang ke rumah. Sampai di rumah pemandangan mengerikan membuatnya ragu melangkah.


"Wow, Sintia! Aku pikir kau menunggu di tempat lain!" Rey berdiri, melepaskan tangannya yang merangkul Jenni.


"Baru saja aku akan pergi bersamanya." Menunjuk Jenni dan menariknya hingga berhadapan dengan Sintia.


Rey memperhatikan penampilan Sintia, ia merasa Sintia agak berbeda. Hingga matanya menangkap sesuatu di leher Sintia.


Wow, dia melakukannya?


Sungguh tidak bisa di duga! Terima kasih pada pria yang sudah memberikan harapannya!


Raut wajah tidak senang terlihat jelas di mata Sintia.


"Ini adikku, Jennifer." Menepuk bahu Jenni dan diangguki Jenni.


Ayah mertuanya yang sejak tadi masih penasaran dengan Jenni langsung turun mendengar Rey memperkenalkan Jenni sebagai adiknya.


"Bagaimana rencana kita?" Sintia terdiam, ia meremas jarinya sendiri. Lalu menghilangkan kegugupannya.


Beruntung Sintia sempat menanyakan beberapa hal pada Jeremy sebelum hal itu terjadi.


Setelah mengatakannya, Jenni melirik Rey. Rey mengangguk.


"Aku harus pergi sebentar, ada urusan penting!" Rey berpamitan membawa Jenni.


Sintia menaiki tangga mendekati ayahnya yang berdiri di atas tangga.


Ayahnya Sintia menarik tangan Sintia dan membawanya memasuki kamarnya.


"Kau masih belum berhasil membujuknya?" Sintia memasang wajah marah, kemudian menggeleng.


Pria tua itu menghela napas kasar kemudian membuangnya kasar juga.


"Kau harus mengandung bayinya sesegera mungkin! Dia itu Reytan Hocane, bukan Nicholas! Jika dia sudah ingat kita bisa berada dalam bahaya!" Sambil membawa Sintia duduk diatas ranjang.


Tak mereka sadari sebuah kamera berada di ujung ruangan.


"Tenang saja, Athem. Tidak akan semudah itu dia mengingatnya!"


"Kalau begitu, percepat langkahmu atau semua akan hancur jika dia tiba-tiba mengingatnya!"


Sintia berdiri di depan pria tua itu, kemudian melipat lengannya di dada.


"Apa benar dia adiknya?"


Ayahnya mengerutkan dahi mendengar pertanyaan itu.


"Cemburu? Kau tidak boleh jatuh cinta padanya, ingat hanya aku yang berhak atas dirimu. Karena kau adalah...-"


Bersambung...


Adalah apa?

__ADS_1


__ADS_2