
"Ayo cepat, Jenni!" Rey terus menarik tangan Jenni, menjauhi rumah itu dan keluar dari jalan kecil dengan penampilan yang hampir membuatnya tidak bisa dikenali.
Jenni merasa kelelahan, bahkan tubuhnya terasa sangat sakit karena sejak pagi tidak berhenti beraktivitas.
Bruk
Kaki Jenni tersandung batu, hingga membuatnya jatuh dan meringis kesakitan.
"Jen!" Seru Rey melihat Jenni yang sangat kesakitan dan tidak bisa bangun lagi.
"Pergilah, jangan khawatirkan aku! Selamatkan dirimu!"
Rey tidak menghiraukan perintah Jenni, ia melirik ke belakang Jenni sudah terlihat beberapa orang anak buah Sintia muncul dan akan menghampiri keduanya.
Dengan menahan rasa sakit di tangannya, Rey meraih tubuh Jenni dan menggendongnya kemudian membawanya berlari.
Pelarian tersebut tidak mudah, terutama saat dimana Rey merasa kekuatannya semakin melemah dan hampir saja saat ia sudah berada di tempat yang tidak ia ketahui Rey akan menjatuhka Jenni.
"Rey!" Jenni langsung mengalungkan lengannya erat, takut terjatuh.
"Lebih baik turunkan aku dan istirahatlah!" Ucap Jenni sambil menatap kedua manik mata Rey yang terlihat lelah.
Rey menggelengkan kepalanya, ia tak bisa beristirahat dalam waktu dan keadaan yang seperti ini. Meski mereka sudah pergi jauh, namun tak bisa dipungkiri para pengejar itu akan menyusul dan menemukan mereka juga jika saat ini keduanya beristirahat.
"Mereka pasti akan mengejar kita, sejauh apapun kita berlari dan pergi!" Kata Rey dengan suara yakin.
Jenni menghela napas kasar, ia tak habis pikir kenapa jalan hidupnya menjadi serumit ini dan membuat Rey selalu terkena getahnya dalam balas dendam Jenni.
Meski dengan rasa sakit yang semakin bertambah di tangannya, Rey tetap menggendong Jenni dan membawanya pergi untuk mencari tempat yang bisa mereka gunakan untuk bersembunyi.
Tak terasa, sudah hampir satu jam Rey dan Jenni berlari, hingga akhirnya Rey tiba di sebuah pondok di dekat sebuah lautan besar.
"Kita dimana, Rey?" Jenni melihat sekeliling tempat itu, sepertinya meskipun itu lautan besar akan tetapi terlihat sepi.
Rey tampak bingung, karena ia sendiripun tidak tahu sedang berada dimana.
Ia mengeluarkan ponsel dari dalam saku, berusaha menelepon anak buahnya untuk meminta bantuan.
"Arrrggghh...!!!" Teriaknya membuat Jenni terkejut.
"Ada apa?"
"Tidak ada jaringan disini!" Ucapnya sambil memasukan kembali ponselnya. Kemudian Jenni mengeluarkan ponsel miliknya, ia tersenyum mendapati ponselnya memiliki jaringan.
"Cobalah!"
Rey langsung mencoba, teleponnya berhasil tersambung. Hingga beberapa saat kemudian, ia berteriak kesal.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Ponselnya mati."
"Tapi aku sudah mengirimkan lokasinya pada mereka, tunggulah mereka akan segera datang!"
...****************...
Darah mengucur di mana-mana, membuat pesisir pantai itu menjadi warna merah. Mayat manusia bahkan tergeletak dimana-mana, membuat pulau itu seperti tempat pembuangan orang mati.
Kini hanya ada 3 orang yang masih bernapas dan terlihat baik-baik saja dengan tatapan buas.
"Lihat saja, kau akan mati dalam keadaan yang akan membuatmu tidak dapat dikenali lagi!" Salah satunya berseru dengan nada suara yang yakin.
Yang lainnya tersenyum merendahkan, serta hanya diam saja menatap area penuh darah tersebut.
"Hentikan!" Saat dua orang pria sudah akan saling menyerang dengan pistolnya, seorang wanita memberi perintah.
"Lebih baik gunakan cara lain, lihatlah!" Menunjuk mayat-mayat yang tergeletak bersimbah darah. "Sampai kapan kita akan membuat balas dendam dengan menumpahkan darah orang-orang yang tidak terlibat!"
Keduanya menatap ke arah yang ditunjuk wanita itu. Salah satunya menatap sendu,tidak dengan pria lainnya yang seolah memiliki kekuatan diatas kematian sadis mereka.
"Ini dunia mafia, untuk apa aku harus menang tanpa pertumpahan darah, memalukan!" Ia berdecak sebal, kemudian mengambil kesempatan dengan mengacungkan lagi pistolnya pada wanita itu.
"Jenni!" Dengan segera ia meraih tangan wanita itu, agar terhindar dari tembakan.
"Wow, sungguh luar biasa, adikku!" Davin bertepuk tangan, masih diiringi tawanya yang menggelegar di telinga Rey dan Jenni.
"Ambisimu kalah dengan wanita berwajah manis ini, ya!" Ia kemudian memasang wajah mengejek pada Rey.
Rey langsung terlihat memucat, Jenni hanya menatap Rey tak mengerti.
"Ambisi?" Kata itu berhasil Jenni ulang dikala melihat wajah Rey memucat.
"Ya, suamimu itu dia hanya ingin-"
"Cukup!" Teriak Rey dengan mendekati Davin. "Kali ini aju tidak akan membiarkan kau menghancurkan dan membuat apa yang telah jadi milikku hancur begitu saja!"
Rey meraih pistol di tangan Davin, dengan mudaj Davin melepaskan pistol itu yang membuat Rey bingung.
"Kau ingin membunuh kakakmu sendiri?"
Mata Jenni membulat sempurna, ia tak menyangka bahwa Rey benar-benar adik dari Davin.
"Jadi-"
"Tidak! Jangan dengarkan dia!" Pungkas Rey cepat.
__ADS_1
Jenni menggeleng tak percaya, dengan menahan sakit di kakinya ia memaksakan diri bangun dan melangkah.
"Apa ini sebenarnya?"
"Jennifer,-"
"Apapun itu jangan pernah percaya pada perkataannya, dia tidak pernah berkata benar!" Rey terus memotong kata-kata Davin.
Hal itu jelas membuat Jenni sedikit bingung dan rasa curiganya bertambah besar.
"Aku ingatkan padamu, jangan terlalu percaya padanya. Jennifer, saat semua berakhir, maksudku saat kau selesai membalaskan dendammu jangan pernah bahagia dulu. Jangan pernah menganggap semua selesai, karena ada sesuatu hal yang besar yang harus kau ketahui!" Davin berucap dengan nada meyakinkan, membuat Jenni semakin kebingungan harus percaya pada siapa saat ini.
"Maksudnya-?"
Dor..
Sebuah tembakan yang membuat Davin jatuh ke atas tanah pasir pantai membuat Jenni merasa sedih, di sisa-sisa napas terakhirnya Davin menyelipkan sesuatu tanpa Rey ketahui.
"Ayo, Jenni!" Rey menarik tangan Jenni, dalam hati Rey ia merasa sangat berdosa menghabisi kakak kandungnya sendiri.
Tidak ada jalan lain, maafkan aku!
Rey menghentikan langkahnya, melirik lagi Davin yang sudah tak bernyawa dengan bersimbah darah.
Kemudian ia menatap tangannya dengan tatapan miris.
Aku tidak percaya, tanganku sendiri yang menghabisi kakak kandungku!
"Rey, ada apa?" Jenni mengguncangkan tubuh Rey.
Rey menggeleng, kemudian menarik tangan Jenni secara kasar.
Tujuannya masih tidak ia ketahui, harus pergi kemana. Akan tetapi yang terbesit di dalam benaknya adalah Davin, kakaknya.
"Pergilah bersama mereka, aku harus mengurus sesuatu yang penting!" Rey menunjuk pasukan mafianya yang masih tersisa.
...****************...
"Kakak!" Dengan tangisnya, ia memeluk pria muda yang dipanggilnya kakak itu. Tak peduli darah yang masih segar ikut membasahi pakaiannya.
Dirabanya dadanya, mencoba merasakan detak jantungnya. Masih hangat dan masih hidup.
Dengan segera, ia pergi membawa tubuj yang tak berdaya itu masuk ke dalam mobil.
Bersambung...
Misteri di dalam misteri, ah authornya pusing nulisnya.
__ADS_1
Nanti malam diusahakan up lagi 😁