
Bruk
Sebuah tubuh jatuh tepat di samping Davin yang keadaannya semakin melemah. Sementara Rey membelalakan matanya melihat orang yang langsung terkapar tak bernyawa itu.
"Farah!" Jenni berteriak histeris.
Farah tersenyum, kemudian membuka matanya dan meraih tangan Jenni.
Rey tidak bergeming. Ia berdiri mematung di tempat.
"Aku sudah mengkhianati kalian, hanya ini yang b-bisa a-aku l-lakukan u-untuk m-me-menebus ke-kesalahan..." Napas Farah berhenti, Jenni mengepalkan tangannya.
Memejamkan matanya dan mencoba meredam emosinya. Namun, kini emosi Jenni sudah tak tertahankan lagi seiring dengan telah banyaknya Rey membuat pertumpahan darah.
"Reytan!!!" Tangannya sudah ia angkat, dengan sebuah pistol di tangannya.
"Kau sudah sangat keterlaluan! Pertumpahan darah yang kau sebabkan, itu membuat banyak orang kehilangan!"
Kini Rey kembali bergerak, bersiap menghindar dan melawan serangan dari Jenni.
"Sudah aku peringatkan sejak tadi. Berikan kekuasaan itu padaku! Maka semua ini tidak akan terjadi, Jennifer!"
Jenni mengepalkan tangannya pada pistol. Ia melirik Davin sekilas, kemudian Farah dan kini menatap Rey tajam.
"Kakakmu sendiri, apa kau tidak berpikir sebelum melakukan ini padanya?"
Dor
Tembakan pertama, namun tidak mengenai Rey. Rey yang kehabisan peluru segera berlari untuk menghindari serangan Jenni yang membabi buta.
Semua telah Jenni lakukan sesuai keinginannya, bukan karena ia ingin membalas dendam akan tetapi tujuannya hanya ingin membuat Rey sadar.
Namun, Rey yang keras kepala dan tidak memiliki hati nurani lagi membuat Jenni terpaksa kini harus melakukan satu-satunya cara dengan mengakhiri hidup Rey.
"Mengakhiri atau di akhiri, itu adalah pilihanku saat ini!" Gumam Jenni sambil terus berlari dan menyerang Rey.
Hutan telah dikepung oleh pasukan dari Tuan Deva, membuat Rey sangat bingung dan kesusahan.
"Dimana kalian?!" Ia berbicara dengan nada ketakutan dengan seseorang di ponselnya.
"Apa?! Senjata di gudang habis?!"
Kini, wajah Rey telah berubah menjadi ketakutan. Senjata telah habis di gudangnya, bahkan stock pelurupun habis.
__ADS_1
Pasrah, ia hanya bisa berlari berkeliling hutan menghindari serangan Jenni dan mencegah anak buah tuan Deva menangkapnya.
Di tengah pelariannya, Rey terkejut melihat seseorang yang dengan jelas tadi ia habisi kini berdiri sambil memegangi perutnya yang dipenuhi darah.
"Rey, akhiri semua ini, aku mohon!" Pria itu berkata penuh harap.
"Dia sangat mencintaimu, tidakkah kau melihatnya? Disini, aku menawarkan kesempatan kedua padamu, aku mohon akhiri dunia gelap ini!" Pintanya dengan wajah yang jelas menunjukan bahwa ia sedang menahan rasa sakitnya.
Rey terdiam, dengan napas yang terengah-engah karena kelelahan dan haus.
"Tidak! Tidak ada yang bisa membuatku diam, kecuali jika kekuasaan itu sudah menjadi milikku!"
Davin memejamkan matanya, melangkah mendekati Rey.
"Kenapa kau sekeras kepala ini? Apa kau tidak ingat apa yang telah membuat orang tua kita tiada? Kau!" Teriak Davin mengundang perhatian Jenni yang sedari tadi masih berusaha mencari Rey.
Kini dari kejauhan Jenni bisa melihat Davin bicara dengan Rey, ia hanya diam memperhatikan setiap pergerakan.
"Tidakkah kau lihat sedikit saja dengan hatimu? Kau menghabisi orang tua kita, orang tua yang telah melahirkan dan membesarkan kita! Setega itu kau pada mereka, hanya demi kekuasaan! Setelah itu, bahkan tidak ada rasa penyesalan sedikitpun dihatimu! Kau ini sebenarnya kenapa, Rey?!" Davin berlutut di atas tanah, dengan tangis sesenggukan.
Rey mulai terdiam, mencerna setiap kata-kata yang keluar dari mulut Davin.
Hatinya mengatakan benar, bahkan mulai terbuka. Akan tetapi, lagi-lagi ego yang besar datang dan menghalangi cahaya dalam hati Rey. Membuatnya kembali diisi dengan kegelapan.
Bayangan masa lalu mulai muncul satu-persatu dalam ingatan Rey, diiringi munculnya juga gambaran dirinya setelah mendapat kekuasaan besar milik Adrian.
Dua orang pria yang di panggil ayah dan kakak itu kini menghampiri anak laki-laki yang berusia tepat 12 tahun, menggendongnya dan membawanya masuk ke dalam rumah*.
*Sang kakak dengan cepat mengambil perban dan antiseptik untuk mengobati luka adiknya.
Sang ayah hanya berdiri diam sambil memperhatikan kakak beradik yang saling mengasihi tersebut. Tak lupa senyuman terharu tersirat di wajahnya*.
"*Mereka sangat rukun, bukan?" Seorang wanita menghampirinya sambil memeluk lengannya.
"Ya, Sayang." Jawab pria itu sambil menarik istrinya menuju ke dekat kedua anaknya.
"Rey, apa kau merasakan kasih sayang kakakmu?" Sang adik menoleh. kemudian mengangguk sambil tersenyum.
"Kak Davin sangat menyayangiku, bu! Tidak ada kakak yang bisa menandinginya di dunia ini! Dia yang terbaik*!"
Senyuman terukir begitu saja di bibir Rey, diiringi cucuran air mata yang entah kapan turun begitu saja tanpa seizinnya.
"Tidak! Aku tidak menyesal!"
__ADS_1
Jenni memejamkan matanya, mulao merasa muak dengan keegoisan Rey yang telah sangat meninggi dengan tujuan kekuasaan.
"Reytan Hocane!" Teriak Jenni sambil mengacungkan pistolnya ke atas dan menembakannya sekali.
Tembakan itu ditujukan untuk mengumpulkan tim pasukan agen rahasia.
Benar saja, dalam waktu sekejap mereka telah berkumpul mengelilingi Rey, Jenni, dan Davin. Disusul dengan datangnya ayah dan ibu Jenni, kemudian tuan Deva yang diiringi pengawalnya yang telah menangkap Meira dan Lucas.
"Kepalsuan yang sangat besar, itu bukti yang sudah sangat cukup. Kami para Mafia terdahulu tidak akan membiarkan ini." Ucap Tuan Deva sambil menepuk bahu Jenni.
"Ambilah pilihanmu, mengakhiri atau diakhiri. Sebelum mengambil keputusan, kau harus ingat semua yang telah kau lalui selama dua puluh tahun, baik manis atau pahit." Jenni mengangguk, membayangkan hari-harinya selama dua puluh tahun.
Hidup tersiksa, dibawah tekanan paman lalu tidak mendapat kasih sayang ayah dan ibu, setelah itu diperalat dan dipertemukan pria anggota mafia kejam seperti Reytan. Itu cukup untuk mengakhiri, Jennifer!
Jenni menarik napas dalam-dalam, mulai menurunkan pistolnya. Kemudian mengangkatnya lagi dan mengarahkannya pada Rey.
"Davin, apa semua yang telah Rey lakukan masih harus kau ampuni? Aku akui, kau berhak memberinya kesemoatan kedua dan menawarkannya. Tapi, setelah kau tahu jawaban itu, apa masih pantas dia berdiri dengan pernapasan dan denyut nadi yang lancar di hadapan mereka?!" Tuan Deva kembali memprovokasi.
"Aku sendiri, memiliki dendam pribadi padanya!" Teriak tuan Deva.
Tuan Deva melemparkan pistol pada Davin yang langsung Davin terima.
Kini, sama seperti Jenni. Davin suda mengarahkan pistol pada Rey dengan tangan bergetar dan mata yang menghangat karena menahan tangis.
"Mengakhiri atau diakhiri! Itu pilihan kalian!" Teriak Tuan Deva.
Davin melirik Jenni, kemudian melangkah mendekatinya. Merangkul bahu Jenni. Bahu seorang wanita yang sangat tegar.
Jenni melirik Davin, memberikan anggukan.
"Mengakhiri," ucap keduanya bersamaan sambil menarik pistol perlahan.
Rey hanya berdiri, ia memberikan senyum yang sangat indah. Jenni dan Davin menurunkan kembali pistolnya.
"Mungkin, ini adalah penebusan dosa-dosaku." Gumam Rey lirih yang masih bisa di dengar oleh semua orang.
Jenni dan Davin kembali mengangkat pistolnya.
Dor
"Rey!!!"
Perlahan tubuh Rey ambruk ke tanah, Jenni dan Davin berlari secepatnya menangkap tubuh Rey.
__ADS_1
"Jenni, Kak Davin...."
Bersambung...