Istri Simpanan Sang Mafia Kejam

Istri Simpanan Sang Mafia Kejam
ISSMK-39 Rencana Davin


__ADS_3

Meski tubuhnya telah terluka parah, Davin tetap diam seribu bahasa mengenai berkas itu. Hal itu menimbulkan emosi Rey yang semakin tinggi. Hingga Rey menghentikan penyiksaan terhadap Davin.


"Hentikan!" Teriaknya.


Siksaan itu berhenti, dua orang yang sejak tadi ketakutan akan Davin kini menghampiri Davin.


"Bagaimana Jenni?" Tanya Adrian pada Davin, sambil menghapus sebagian darah di tubuh Davin.


Davin masih belum menjawab, tubuhnya terasa lemah hingga akhirnya ia jatuh tak sadarkan diri di depan orang tua Jenni.


Semalaman Davin tak berhenti meracau, tubuhnya mulai menggigil di sebabkan luka cambuk yang diberikan Rey.


"Jenni," gumamnya lirih.


...****************...


"Rencana akan tetap dilakukan, meskipun Davin tidak bersama kita."


Tuan Deva menatap Jenni tajam, seolah ketidakberadaan Davin tidak berpengaruh baginya. Tapi, bagi Jenni itu sangat berpengaruh karena Davinlah yang telah membangun semangatnya kembali untuk membuat Rey sadar seluruh kesalahannya.


"Maksud anda? Aku harus berdiri sendiri begitu?"


"Kau tidak sendiri, Jenni! Ada banyak yang akan membantumu disana!"


Perdebatan dalam tim agen rahasia tersebut dimulai, dimana Jenni tetap bersikeras ingin menyelamatkan dan menemukan Davin terlebih dahulu.


Perdebatan akhirnya berakhir pada keputusan Tuan Deva yang tetap pada rencana utama, daripada mencari keberadaan Davin.


"Jika tidak hari itu, maka semua akan sia-sia!" Tegasnya dengan menatap Jenni tajam.


Jenni menunduk, meski berat baginya menjalankan rencana tanpa Davin. Iapun bergegas pulang ke rumahnya.


Sepanjang perjalanan Jenni masih memikirkan apa yang Rey lakukan pada Davin sebenarnya, hingga sebuah ide muncul dalam pikirannya.


"Kenapa aku tidak memikirkan ini dari kemarin?" Gumamnya sambil memukul setir pelan.


Kini, Jenni telah berada di dalam kediaman Rey. Semula, ia ingin pulang ke rumah kecilnya, akan tetapi karena keinginan menemukan Davin yang kuat membuatnya pulang ke rumah Rey.


"Kau pulang lebih awal hari ini, ada apa?" Seorang pria berbadan kekar dan tegap tersebut sudah menyambut Jenni dengan pertanyaan sambil duduk di sofa yang di letakan di ujung ruangan.


Jenni tidak takut, iapun menghampiri Rey dan duduk di depannya.


"Apa salah jika aku pulang lebih awal?"


Jenni terdiam sejenak, ia sangat terkejut untuk keberaniannya kali ini.


Rey tidak menjawab, ia lebih memilih mengeluarkan sebatang rokok dan membakarnya lalu meletakannya diantara bibir atas dan bawahnya.


"Tidak salah," jawab Rey santai sambil terus menyesap rokoknya. "Tapi yang salah aku tidak tahu kemana kau pergi setiap malamnya. Bahkan dari pagi kau bisa pulang pagi lagi."


Jenni mulai merasa geram, ia tidak akan berpura-pura lagi.

__ADS_1


"Davin ada padamu?"


Rey langsung menegakkan duduknya, mematikan rokok yang masih panjang tersebut kemudian membuangnya ke dalam asbak berbentuk oval di atas meja.


"Aku meminta jawaban!" Jenni menekankan kata-katanya.


"Bagaimana bisa kau mengetahuinya?"


Jenni tidak memperdulikan pertanyaan Rey. Ia memilih bertindak cepat dengan berdiri dan melangkahkan kakinya ke tempat pribadi Rey.


Tempat yang sebenarnya menjadi ruang penyiksaan untuk siapapun yang berani berkhianat padanya.


Jenni telah sampai di depan pintu. Ia merasa kesal melihat pintunya terkunci dengan kunci yang hanya bisa dibuka menggunakan sidik jari.


Tepat sekali, Rey berada di belakangnya.


"Berikan tanganmu, atau aku akan merusaknya!"


Rey memberikan tangannya, membuat pintu terbuka setelah sidik jarinya ia berikan pada pintu itu.


Di dalam menunjukan Davin yang sudah tampak lemah dengan tangan yang diikat ke atas dan kaki yang terborgol.


Jenni sudah akan menangis dan berhambur memeluk Davin, namun ia mengurungkannya dan berpura-pura tersenyum sinis.


Meski lemah, Davin tampak membuka matanya dan khawatir saat melihat Jenni berada di depannya.


Seolah mengerti, Jenni langsung memberi isyarat pada Davin guna menghilangkan kekhawatiran Davin.


Rey menatap Jenni kebingungan.


"Dia adalah tawananku!" Teriak Jenni sambil memukul rahang Rey.


"Hentikan!" Rey menahan tangan Jenni saat akan kembali memukul rahangnya.


"Aku harus bicara dengannya, aku harap kau keluar!"


Seakan Rey telah berubah, dulu ia tak akan membiarkan siapapun masuk apalagi mengusirnya dari ruangan pribadinya. Akan tetapi, semenjak Jenni hadir dalam hidupnya membuat banyak keraguan dalam hati Rey.


Reypun keluar dari ruangan itu, membiarkan Jenni bicara secara pribadi dengan Davin.


Di luar ruangan, tak diduga Meira sudah berada disana dengan penampilan menggoda. Membuat Rey melupakan akan bayangan Jenni.


"Tepat sekali!" Serunya sambil melingkarkan tangannya di pinggang Meira.


"Kau selalu datang disaat aku sedang ingin melampiaskan masalahku!"


Keduanya sudah masuk ke dalam kamar, guna melampiaskan Rey pada masalahnya dengan cara melakukan hal itu bersama Meira.


Sementara di dalam ruangan pribadi, Jenni langsung melepaskan ikatan tangan Davin dan kini telah mengobati seluruh luka-lukanya.


"Kita harus pergi dan keluar. Sebelum Rey menyiksamu lebih dari seperti ini." Ucap Jenni dengan nada khawatir.

__ADS_1


Davin menggeleng, kemudian menghentikan gerakan tangan Jenni yang sedang mengobati lukanya.


"Tidak perlu khawatir, pergilah!" Tutur Davin dengan lembut sambil membingkai wajah Jenni dengan kedua tangannya.


"Tetap lakukan rencananya, aku akan baik-baik saja dan akan datang saat hari perkumpulan itu dan penyerahan kekuasaan pada Davin. Semua pengawal Davin sudah diganti oleh tuan Deva dengan tim agen rahasia, ayah dan ibumu juga ada disini dan akan muncul saat hari itu." Jelas Davin dengan meyakinkan Jenni.


Jenni mengangguk, kekuatannya seolah bangkit kembali setelah mengerti semua ini rencana dari tuan Deva.


"Kau hanya tinggal memainkan sedikit sandiwara, jangan lupa bawa surat kekuasaan itu saat hari perkumpulan. Pastikan peluru-peluru palsu di gudang senjata milik Rey sudah dibuat."


Jenni mengangguk lagi dengan bersemangat.


"Sekarang pergilah, sebelum Rey kembali dan mengetahui segalanya."


...****************...


Jenni mengerjap-ngerjapkan pandangannya, ia meraba dadanya yang terasa sesak saat melihat pemandangan memuakan di dalam kamarnya.


Bukan cemburu ataupun merasa sakit, justru pemandangan itu membuat keberaniannya naik berkali-kali lipat.


Iapun bergegas keluar dari kamar sama seperti tadi saat masuk kamar dengan tanpa suara yang dapat membuat sepasang manusia yang sedang melakukan penyatuan itu terkejut atau menghentikan aktivitasnya.


"Menjijikan!" Makinya sambil bergegas menjauh dari kamar.


Tujuannya keluar dari rumah, setelah memastikan keamanan untuk Davin dan juga orang tuanya.


Kembali ke markas, ya itulah tujuan Jenni saat ini.


Di markas, ia disambut hangat oleh istri dari pemimpin tim agen rahasia.


"Apa sekarang kekhawatiranmu sudah hilang?" Tanya tuan Deva sambil tersenyum mengejek.


Jenni mengangguk sambil tersenyum, kemudian menjelaskan apa yang dikatakan Davin tadi padanya.


"Jika begitu, lakukan apa yang saat ini menurutmu tepat. Kami akan membantumu dalam hal ini."


Rencana kembali dirundingkan, namun ada satu hal yang dari tadi tampak mengganggu Jenni.


Pandangan Farah terhadapnya membuat Jenni menjadi risih, tatapan Farah seperti orang yang tidak menyukai Jenni.


Setelah rundingaj selesai, Jenni kini menghampiri Farah.


"Kau puas? Karena pak Davin membelamu, kini aku menjadi dalam masalah!" Farah menunjuk Jenni dengan telunjuknya, sementara Jenni kebingungan dengan kata-kata Farah.


"Apa maksudmu?"


Farah menjelaskan segalanya, membuat Jenni tercengan dan tak percaya bahwa Farah telah menjadi mata-mata Rey.


"Itu artinya, kita harus mengubah sedikit rencana!"


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2