Istri Simpanan Sang Mafia Kejam

Istri Simpanan Sang Mafia Kejam
ISSMK 12


__ADS_3

"Aku tidak pernah memiliki tanda apapun, kenapa kau bertanya begitu?" Jenni membelalakan matanya, kata-kata yang diucapkan Rey mulai terngiang-ngiang di telinganya, begitu juga dengan kata-kata pamannya.


Apa artinya Rey bukan orang yang sudah


membunuh orang tuaku?


Dia juga bukan orang yang telah menembakku?


Beberapa saat Jenni terdiam, hingga kesadarannya terkumpul kembali. Dengan segera ia memakai pakaiannya, kemudian berlari keluar tak menghiraukan teriakan Rey yang terus memanggilnya.


"Tetaplah disini! Aku membuat kesalahan besar!" Ucap Jenni sebelum mengunci pintunya dari luar.


Membuat Rey kebingungan namun menangkap sebuah gelagat aneh dari ucapan Jenni.


Apa yang di maksud kesalahan besar?


Mulai memikirkan Jenni dan ucapannya, hingga Jenni kembali Rey masih belum mengerti dan menemukan apa yang Jenni sembunyikan.


"Bereskan pakaianmu sekarang!" Jenni membranes sebuah koper, kemudian membereskan pakaiannya dan pakaian Rey.


Ia memasukan semua pakaiannya ke dalam koper. Tanpa menjelaskan apapun lagi, Jenni menarik tangan Rey keluar dari kamar rahasia itu.


Sepanjang perjalanan Jenni diliputi rasa kecemasan. Bukan tanpa alasan, melainkan Jenni takut pamannya mengetahui bahwa ia membawa pergi Rey.


Sejauh mungkin Jenni akan menyembunyikan Rey, jika bisa Jenni ingin sekali menghilang tanpa kabar. Namun sebuah ikatan membuatnya harus tetap ada disana terlebih dahulu.


Kini, Jenni sudah sampai di bandara.


"Aku minta, pergilah lebih dulu. Setelah semua selesai aku akan menyusul!" Ucap Jenni sambil melihat kesana-kemari.


Tak terlihat satu orang pun yang mencurigakan, Rey sendiri masih enggan bergerak untuk masuk ke dalam pesawat.


"Sebenarnya, apa yang membuatmu mengirimku mendadak seperti ini?" Mulai menyelidiki dari tatapan mata Jenni.


"Katakan, Jenni!"


"Aku..." Menunduk, merasa tidak sanggup menjelaskan segalanya.


Dor...


Suara tembakan mengejutkan Jenni dan Rey, keduanya langsung melirik ke arah tembakan tersebut.


"Kau ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi?" Menunjuk Rey, lalu melirik Jenni dengan tatapan mata mematikan dan ingin membunuh.


Rey ikut melirik Jenni, tentunya dengan tatapan mata kebingungan.


"Dia ini... Ah, sepertinya aku harus memberi waktu dulu pada simpanamu untuk menjelaskannya sendiri. Katakan, Jennifer! Sepuluh menit mulai dari sekarang!" Menunjuk Jennifer dengan pistolnya, kemudian tangan lain mengambil pistol juga dari dalam saku dan mengarahkannya pada Rey.


"Tenang saja, setelah kebenarannya terungkap salah satu dari kalian akan memutuskan hidup atau tiada." Dengan nada santai, namun mengandung sebuah penekanan untuk Jenni.

__ADS_1


"Aku akan jelaskan, namun tidak disini." Jenni memohon dengan raut wajahnya.


Orang itu memberi isyarat pada beberapa anak buahnya, yang langsung dituruti dengan membawa Jenni dan Rey menuju mobil.


Tak disangka, Jenni dan Rey kembali ke kamar rahasia. Tak Jenni sangka juga, ternyata pamannya tega melakukan hal ini pada Jenni.


"Setelah semua jasa-jasaku, kau ingin melepaskannya Jennifer? Kau bilang kau hanya ingin balas dendam tapi, kenapa sekarang malah ingin membebaskannya?" Di dalam keheningan, Jenni menatap pamannya dengan tatapan memohon.


Sedangkan Rey menatap Jenni penuh tanda tanya.


"Dia bukan-"


"Kau mencintainya, jadi melupakan tujuanmu?" Potong pamannya cepat, tak memberikan Jenni kesempatan untuk menjelaskan.


"Jelas kau mencintainya! Jadi, cinta membuatmu lupa akan tujuanmu?"


"Sebenarnya ada apa ini?!" Teriak Rey, membuat pamannya Jenni beralih padanya.


Pamannya Jenni melangkah mendekati Rey, meletakan pistol di dagu Rey dengan tatapan mata tajam.


"Pembunuh!"


"Tidak! Bukan Rey yang-"


"Cukup! Dialah yang telah menembakmu dulu! Jennifer, ingat itu!"


"Jadi kau ingin menghabisiku juga?" Bertanya dengan nada suara kecewa.


Jenni menggeleng cepat. Ia menatap Rey dengan tatapan memohon agar Rey mendengarkan penjelasannya.


Namun sayang, ketika Rey akan mengangguk sebuah hal yang diluar nalar membuat Jenni berada dalam penyesalam selama-lamanya.


Dor...


Sebuah tembakan mengenai Rey, membuat Rey ambruk seketika diatas kursi yang digunakan untuk mengikatnya.


Namun Rey masih dalam keadaan sadar, ketika ikatan dilepaskan. Dengan Jenni yang langsung menangkap tubuh Rey sambil menangis.


"Aku tidak me-me-nyangka ini, da-darimu Jenni!"


"Rey, dengar dulu! Semua tidak seperti itu. Awalnya aku berpikir kau adalah pelakunya, tapi ternyata aku salah."


"Bukan kau yang selama ini aku cari, aku mohon maafkan aku! Bertahanlah, aku-... A...-aku mencintaimu!"


"Jenni...!"


...****************...


Deburan ombak laut menyapu pasir di daratan, membuat jumlahnya entah semakin bertambah atau berkurang.

__ADS_1


Seorang wanita sedang duduk di pinggir pantai dengan wajah sendu. Matanya menatap lurus ke arah air laut yang nampak tidak bisa tenang barang sedetikpun.


Di tangannya tergenggam sebuah foto seorang pria yang bersanding dengannya sambil memeluknya.


Di tangan lainnya terdapat sebuah pistol berwarna hitam.


"Sudahlah, dia sudah mati! Lagipula kenapa memikirkannya terus? Bukankah dia itu musuh kita?" Sahut seseorang yang berjalan di pinggir pantai sambil menendang-nendang pasir hingga berterbangan.


Wanita itu meliriknya, lalu menatapnya dengan tatapan tajam.


"Kalian salah melakukan ini, aku tidak percaya Rey sudah tiada! Bagiku dia masih hidup dan akan kembali!" Meninggikan nada suaranya, membuat pria itu tertawa sinis.


"Masih hidup? Kau lupa ya?!" Menarik tangan wanita itu dan membawanya menaiki perahu yang sudah tersedia.


Wanita itu kebingungan dengan apa yang dilakukan pria itu.


"Lihatlah!" Menunjuk ke arah tengah laut.


"Kau ingat baik-baik, dulu aku sendiri yang membuangnya disana. Tidak akan ada yang selamat! Terutama dengan luka separah itu!"


Wanita itu melirik tengah lautan dengan mata yang sudah berair. Sebuah adegan terlintas dalam benaknya, adegan yang membuatnya kini berada dalam sebuah hidup yang dipenuhi kesedihan dan penyesalan.


Flashback...


Jenni memeriksa detak jantung Rey, matanya berbinar senang mengetahui Rey masih hidup. Jenni bermaksud akan langsung membawa Rey menuju rumah sakit untuk menyelamatkannya.


Di luar, pamannya Jenni dan anaknya berpura-pura baik dan mengantar Jenni menuju rumah sakit.


Sepanjang perjalanan Jenni merasa janggal, lantaran paman dan juga sepupunya diam saja tak bicara.


Hingga mobil melaju menuju arah yang salah.


"Paman, sepertinya kita salah jalan!"Protes Jenni dengan nada suara panik.


"Tidak ada yang salah, aku akan membuatnya tidak merasa sakit lagi!" Sambil tersenyum sinis dan menghentikan mobilnya di dekat pantai.


Jenni mengeratkan pelukannya pada tubuh Rey. Namun sepupunya menarik paksa tubuh Rey hingga terlepas.


"Rey! Apa yang akan kalian lakukan?" Jenni meronta-ronta, namun ditahan oleh Pamannya.


Tubuh Rey dibawa oleh sepupunya keatas perahu, lalu perahu itu dibawa berlayar ke tengah lautan.


Dengan kejamnya, sepupunya membuang Rey ke tengah lautan sambil tertawa penuh kemenangan.


Flashback off...


Bersambung...


Maafkan author yang buat cerita gak jelas, jika tidak bagus dan berbelit-belit un-fav saja tapi jangan tinggalkan komentar ya!!!

__ADS_1


__ADS_2