
Davin menatap danau dengan tatapan sendu, kemudian duduk di atas sebuah kursi panjang berwarna putih dengan tangan menggenggam sebuah kotak kecil.
Di belakangnya, tampak Jenni berdiri dengan tatapan yang sama persis dengan Davin.
"Aku paham, tapi jangan biarkan perutmu kosong begitu. Masih ada hal yang harus kau urus, terutama...-"
"Kekuasaan?" Potong Davin yang langsung mendapat anggukan dari Jenni.
"Aku tidak menginginkan hal itu, tuan Deva yang akan menjadi pemiliknya. Aku sudah memutuskan, untuk membangun kembali hidup seperti orang biasa saja."
Kata-katanya membuat Jenni tersenyum.
"Rey pasti sangat bangga memiliki kakak sepertimu."
Jenni menepuk bahu Davin, lalu duduk di samping Davin dan menyandar padanya. Membuat jantung Davin berdebar lebih kencang daripada biasanya.
Davin memejamkan matanya, mengingat-ingat saat-saat terakhir Rey dengan pesannya yang langsung mendapat penolakan dari Jenni.
"Jenni dan Kak Davin, a-aku bo-bodoh, mungkin ka-karena te-terlambat menyesal." *Napas Rey semakin melemah, hingga ia sulit mengucapkan apapun dan lebih memilih meraih tangan Jenni.
Kemudian beralih pada tangan Davin.
"Jenni, A-aku h-harap, ka-kau bahagia, de-dengan-nya*..."
"*Tidak! Bagaimana mungkin aku..." Davin melepaskan tangan Jenni, mengerti dengan apa yang Jenni akan katakan.
Penolakan, ia paham itu*.
*Tiba-tiba, napas Rey berhenti. Matanya tertutup sempurna. Davin memeriksa denyut nadi Rey dan napas Rey. Setelah itu, ia hanya terdiam tak bisa apa-apa.
"Bukan ini yang aku inginkan! Rey. kembalilah. Adikku!" Davin mengguncang-guncangkan tubuh Rey. Sementara Jenni sudah menangis histeris*.
"Kau tidak boleh pergi! Kau harus kembali, kita akan memainkan mainan bersama dan meminta maaf bersama pada makam ayah dan ibu! Tidak!!!"
*Davin terus mengguncang-guncangkan tubuh Rey. Hingga saat berhenti, ia melihat sebuah pistol dan berniat melenyapkan dirinya sendiri.
"Davin! Hentikan!" Jenni mengambil pistol itu, kemudian melemparnya dan memeluk Davin*.
Kenangan itu membuat Davin tidak bisa menghentikan air kesedihan yang mengalir dalam dirinya. Ia kini merasa sendiri dan kesepian dalam hidupnya.
Terutama setelah merasa bahwa cintanya pada Jenni hanya sia-sia, itu membuat kesedihannya bertambah dua kali lipat.
"Sepertinya besok aku akan pergi," ucap Davin tanpa melirik Jenni yang duduk di sampingnya.
Jenni menoleh dan menatap Davin kebingungan.
"Aku akan berangkat ke Aussie," ucap Davin lagi membuat Jenni berdiri seketika, kemudian memposisikan dirinya di depan Davin.
"Maksudnya kau akan pergi dan tidak kembali?" Davin mengangguk, kemudian bergegas masuk ke dalam rumah dan mengunci dirinya sendiri di dalam kamar. Tidak memperdulikan Jennu yang mengetuk pintu terus menerus sambil berteriak memanggil-manggil namanya.
__ADS_1
Maaf, aku tidak bisa jika harus begini. Mungkin dengan pergi aku tidak akan merasa sedih lagi.
Malam berlalu dengan waktu yang terasa sangat panjang bagi Davin, ia telah bangun tepat pukul 3 dinihari.
Dengan pakaian yang sudah rapi, Davin menyeret kopernya keluar dari kamar. Berjalan menuju garasi dan segera mengeluarkan mobilnya dan melajukannya menuju bandara.
Jenni yang sejak tadi sudah bangun, tidak hanya diam melihat Davin pergi.
Ia segera bersiap-siapa. Namun, saat Jenni akan pergi keluar, ia merasa tertarik untuk masuk ke dalamnya. Rasa ketertarikannya mampu membuat Jenni menemukan sebuah surat di atas meja rias milik Davin.
Jenni mengambilnya, kemudian membacanya. Air mata jatuh selagi Jenni membaca surat itu.
*Maaf, Jen. Aku pergi, tidak akan kembali lagi. Aku harap kau bahagia disana, juga segera menemukan cintamu kembali.
Aku ingin mengatakan sesuatu padamu, mungkin aku hanya bisa mengatakannya dalam surat ini. Aku mencintaimu, akan tetap mencintaimu, meski kau tidak bisa jadi milikku.
Davine Hocane*
Jenni meremas surat itu sambil menangis. Kemudian ia segera berlari secepat mungkin, membawa mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan tinggi.
Hingga ia sampai di bandara tepat di waktu penerbangan menuju ke Aussie.
Jenni melihat kesana kemari sambil berlarian, mencari keberadaan seorang pria yang berhasil membuatnya jatuh sedalam-dalamnya lebih dari saat Rey membuatnya jatuh cinta.
Tak ia temukan sosok itu, hal itu membuatnya bersedih dan berlutut sambil menangis di depan pintu menuju lapangan bandara.
"Davin," Gumamnya lirih.
"Davin!!!"
"Kau bod*h, atau gila?! Jangan berteriak disini, itu memalukan sekali!"
...**************************...
Pov Davin
Aku berjalan menuju pintu lapangan bandara, tiba-tiba seseorang menangis tersedu-sedu tidak jauh dari tempatku berdiri.
Saat aku memutar kepala dan tubuhku, aku mendapati seorang wanita berusia kira-kira 17 tahun tengah menangis disana.
Hatiku tergerak, kemudian aku melangkah menghampirinya dan menepuk bahunya.
"Kau kenapa menangis?"
Gadis itu masih belum menjawab pertanyaanku, ia sibuk menghapus air matanya.
"Ada masalah? Katakan!" Perintahku dengan nada lembut.
"Aku harus pergi secepatnya ke Aussie, tapi aku kehabisan tiket. Disana kakakku akan di operasi dan ingin aku menemaninya tapi..." Gadis itu tak menyelesaikan ceritanya, ia menunduk dan kembali mengeluarkan air matanya.
__ADS_1
Hatiku tergerak, dengan cepat aku merogoh saku jasku dan memberikan selembar tiket padanya.
"Pergilah, kau lebih membutuhkan ini daripada aku." Ucapku sambil mengulurkan tanganku yang memegang tiket.
"Tapi..-"
"Pergilah, tidak apa-apa!"
Aku hanya bisa menghela napas, melihat gadis itu sangat terharu dan senang.
"Terima kasih, kak. Semoga pembatalan pergimu dibalas hal yang sangat istimewa oleh Tuhan." Aku mengangguk, kemudian gadis itu segera pergi dari hadapanku dan menaiki pesawat.
Aku melangkahkan kakiku kembali ke ruang pemeriksaan bandara, tepat saat itu aku melihat Jenni, wanita yang berhasil merebut hatiku sedang bertekuk lutut sambil menangis.
"Davin," dia mengucapkan namaku.
"Davin!!!" Jenni berteriak, kemudian menangis dengan sangat keras.
Tentu saja aku risih mendengar itu, bukankah itu sangat memalukan? Dengan cepat aku melangkah menghampirinya dan berdiri di belakangnya.
"Kau b*d*h, atau gila? Jangan berteriak disini itu memalukan!" Ketusku padanya.
Pov author
Jenni berhenti menangis, ia membelalakan matanya ketika mendengar suara Davin.
Itu suara... Aku pasti berhalusinasi!
Jenni melanjutkan tangisnya, membuat Davin geram.
"Ayo pulang! Jangan membuat malu!" Davin meraih tangan Jenni, membuat Jenni berdiri kemudian menyeretnya keluar bandara.
Belum sempat keluar, Jenni menghentikan langkah Davin dengan memeluknya sambil menangis terisak.
"Jangan menangis disini, mereka akan mengira aku berbuat jahat padamu!" Bisik Davin yang membuat Jenni semakin mengeratkan pelukannya.
"Aku tidak peduli!" Teriak Jenni lalu kembali menangis lagi.
Tiba-tiba hal tidak diduga Jenni lakukan padanya, membuat Davin membelalakan matanya.
Davin segera mendorong tubuh Jenni menjauh, melihat orang-orang yang sudah memperhatikannya dan Jenni dengan tatapan tidak biasa.
Setelah mengatur napasnya agar normal kembali, Davin langsung menarik Jenni keluar dari bandara.
Saat masuk ke dalam mobil, Jenni kembali melakukan hal tak terduga.
Bruk...
**Bersambung.
__ADS_1
Masih ada beberapa episode sebelum tamat, kira-kira apa yang Jenni lakuin sama Davin ya? 😂😂😂**