
"Bagaimana rasanya menjadi wanita seutuhnya, mungkin akulah satu-satunya istri yang belum pernah merasakannya." Sintia berucap dengan mata yang sudah berembun.
Menangis, mungkin ia sudah lupa caranya menangis saking seringnya mengemis hal itu pada Nicholas alias Rey.
Jeremy berbinar mendengar hal itu, pikirannya sudah melayang pada bayangan malam panjang dan istimewa bersama Sintia.
...****************...
"Sebaiknya kau pulang saja, jika tidak rencanamu bisa gagal." Ucap Jenni sambil meraih tangan Rey dan menggenggamnya.
Rey beralih duduk di dekat Jenni, kemudian meraih kedua bahu Jenni.
"Kau tidak suka aku berada disini?"
"Bukan begitu!" Jenni menangkis prasangka Rey, kemudian menggenggam tangannya lagi.
"Sintia akan curiga jika kau pergi di tengah-tengah rencananya!"
Rey terdiam sebentar, kemudian mengangguk dan meraih kopernya kembali. Tak lupa, ia meraih tangan Jenni dan menariknya keluar rumah.
Jenni sendiri mengernyitkan dahinya kebingungan.
Meski bingung, tapi Jenni tetap mengikuti kemana Rey pergi membawanya. Hingga akhirnya Rey dan Jenni sampai di bandara terdekat.
"Perketat penjagaan, sehelai rambutnya saja jatuh maka nyawa kalian yang akan membayarnya!" Ucap Rey pada dua orang yang senantiasa ikut juga kemanapun dia pergi.
Jenni melepas kepergian Rey dengan perasaan gelisah, ia merasa seperti ada sesuatu hal besar yang akan terjadi.
Ah, semoga Rey baik-baik saja sampai kapanpun!
Jenni telah melangkahkan kakinya untuk keluar dari bandara dengan pengawalan dari dua orang anak buah kepercayaan Rey.
Hingga sampai di rumah milik Rey lagi, Jenni langsung memasuki kamar dan berencana merebahkan tubuhnya untuk beristirahat.
"Tolong!" Jenni berteriak sekeras mungkin, ketika seseorang tiba-tiba berada dalam kamarnya.
Orang itu membuka penutup wajahnya, membuat Jenni sangat terkejut dan takut.
Orang itu tersenyum menyeringai, sambil menodongkan sebuah pistol pada Jenni. Lebih tepatnya pada kepala Jenni.
"Jangan katakan apa-apa padanya, kau harus bersikap tetap seperti biasa seolah-olah hari ini aku tidak datang untuk melakukan ini padamu!" Wanita itu mendorong tubuh Jenni hingga terbentur keras ke atas lantai, membuat Jenni meringis kesakitan.
Meski Jenni sudah terlihat kesakitan, wanita itu kembali menodongkan senjata pada Jenni.
"Paham?!" Teriaknya yang langsung diangguki Jenni lemah.
Setelah wanita itu pergi, Jenni merasa celana yang ia kenakan basah. Jenni meraba bagian yang basah, ia berteriak saat melihat tangannya berlumuran warna merah.
...****************...
"Jenni, bangunlah! Aku mohon bangun!" Rey memegang tangan Jenni yang tidak sadarkan diri dengan raut wajah sedih.
Sudah hampir 3 hari, ia dalam posisi seperti itu. Menemani Jenni yang tak sadarkan diri.
__ADS_1
Kesal, Rey keluar dari ruangan Jenni. Tepat saat itu ia berpapasan dengan dua anak buah yang diamanati Rey untuk menjaga Jenni.
"Ikut denganku!" Perintahnya dengan tatapan ingin membunuh.
Di ruangan gelap, Rey berdiri membelakangi dua anak buahnya tersebut dengan tangan yang dilipat di dada.
"Berapa tahun kalian bekerja padaku?"
Pertanyaan tersebut membuat keduanya menunduk, membisu, belum berani menjawab apapun.
"Ti-... tiga tahun." Salah satunya menjawab, meski dengan nada suara ketakutan dan raut wajah yang sudah pasrah.
Rey tetap dalam posisinya, membelakangi keduanya. Namun kini tangannya telah berpindah posisi dengan posisi berada di samping kaki dan mengepal.
"Bagaimana ada orang yang bisa masuk menyelinap ke kamar Jenni dan membuatnya dalam keadaan seperti sekarang?" Nada suaranya masih terdengar datar, meski kedua anak buah Rey tahu bahwa dalam nada tersebut terkesan menekan dan mengancam nyawa mereka.
Keduanya bahkan tahu, umur mereka hanya tinggal beberapa jam saja untuk berada di dunia.
"Tuan, kami sudah memeriksa tidak ada siapa-"
"Lalu kau pikir orang yang mencelakai Jenniferku itu masuk dengan menembus dinding! Kalian tidak berguna!" Rey berteriak, hingga menggema di dalam ruangan gelap tersebut.
Ia membalikan tubunya, menatap keduanya dengan tatapan buas dan kejam.
"Kalian yang di luar, bawa apa yang sudah seharusnya kalian bawa saat seperti ini!" Berteriak dengan sangat keras.
Hingga datanglah hampir sepuluh orang pria berbadan lebih kekar dari dua orang itu dengan membawa berbagai senjata apa saja yang bisa digunakan untuk menghukum.
"Siksa mereka, hingga Jenniferku bangun!" Sambil memberi kode untuk melakukan itu sekarang.
Sebelum masuk ke ruangan Jennifer, Rey menangkap sesuatu yang mencurigakan. Dimana ia melihat seorang perawat masuk dengan cara mencurigakan ke ruangan Jennifer.
"Kau mengambil suamiku, bahkan ingin memberikan keturunan padanya.
Ini yang akan kau terima."
Dor...
...****************...
"Entah kapan aku bisa menikmati saat dimana aku menjadi wanita seutuhnya." Sintia meracau terus menerus, bukan karena mabuk melainkan karena sudah tak bisa menahan apa yang ia pendam selama ini.
Jeremy yang memang seorang pria cassanova mulai mengambil siasat, ia mengelus bahu Sintia.
Elusan di bahu itu kini berubah ke bagian punggung dan berubah menjadi rangkulan.
"Sepertinya... Aku tidak akan pernah merasakan hal itu." Ucap Sintia lagi dengan wajah murung.
Jeremy menghentikan elusan di punggung Sintia, kini jari telunjuknya sudah berada di samping telinga Sintia memainkan rambutnya.
"Kau sangat ingin merasakan saat menjadi wanita seutuhnya?"
Sintia langsung menjawab dengan anggukan. Tanpa ia duga, Jeremy mendekatkan bibirnya ke leher Sintia.
__ADS_1
"Cobalah satu malam denganku!" Bisikan diiringi hembusan napas di dekat leher membuat jantung Sintia berdegup kencang.
Sintia memejamkan matanya, mengepalkan tangannya.
Tidak, jangan tergoda!
Kau harus ingat Nicholas, dia menunggu saat-saat ini!
Di tengah perdebatan antara nafsu dan kesetiaan, ponsel Sintia berdering pendek, yang menandakan notifikasi pesan masuk.
Ia membukanya, dari nomor tak dikenal. Wajahnya mulai menjadi merah karena marah tangannya mengepal melihat isi pesan yang sebenarnya sebuah foto.
Foto yang membuat tekad Sintia menjadi bulat, nafsunya menjadi bertambah dan awal dari pengkhianatan sudah mucul di hatinya.
Sintia memasukan ponselnya ke dalam tas nya, kembali melirik Jeremy yang masih setia menanti dengan senyum yang memikat.
"Penting?" Menunjuk tas, bermaksud menanyakan pesan penting atau bukan.
Sintia menggeleng.
Ia kemudian memesan sebotol minuman dan menghidangkannya ke dalam gelas.
"Minumlah!" Perintahnya pada Jeremy.
Dengan senang hati Jeremy mengambilnya dan meneguknya hingga tak tersisa.
Sintia membuat Jeremy menghabiskan minuman itu hingga tak tersisa, kini Jeremy sudah mulai setengah tidak sadar.
Sintia sendiri masih sadar sepenuhnya. Dalam hatinya ingin melakukan sesuatu di luar rencana yang akan mewujudkan rasa ingin tahunya yang tak pernah dipenuhi Nicholas.
"Jeremy, kau baik-baik saja kan?"
Jeremy menggeleng.
"Aku tidak baik-baik saja, karena aku belum bisa membantumu mewujudkan keinginanmu." Jawaban yang membuat hati Sintia perlahan luluh dengan kata-kata Jeremy.
Bahkan Nicholas selalu dingin padaku.
Coba pikirkan, kapan lagi
aku akan mendapatkannya?
Kapan lagi aku bisa membuat diriku seutuhnya sebagai wanita?
Tanpa berpikir panjang Sintia memapah Jeremy. Ia memesan sebuah kamar vip dalam club itu.
Dalam lift, Sintia tak sengaja melihat sepasang pria dan wanita sedang saling mencium, membuat keinginannya memuncak terlebih ketika posisi pasangan tersebut sudah saling menyatu.
Hingga Sintia memasukan Jeremy ke dalam lift dan kosong.
"Jeremy..."
Bersambung...
__ADS_1
Wow bau-bau pengkhianatan 😂🙏🏻🤣