Istri Simpanan Sang Mafia Kejam

Istri Simpanan Sang Mafia Kejam
ISSMK-31 Menabur Kebencian


__ADS_3

Davin melajukan mobilnya ketika ia sudah memastikan Jenni masuk ke dalam rumah dengan selamat.


Kini ia sepanjang perjalanan memutar video ponselnya yang berasal dari rekaman kamera yang ditempelkan Jenni di pakaian Rey.


Senyumnya mengembang ketika melihat adegan-adegan panas antara adiknya dengan adik iparnya. Seketika, ia teringat Jenni yang bernasib sial karena nekat menyerahkan tubuhnya demi membalaskan dendam.


"Kedepannya itu tidak akan terjadi lagi, Jen! Aku berjanji." Gumam Davin sambil tersenyum tulus.


Hatinya merasa sangat tersentuh, melihat tegarnya Jenni dalam menghadapi Rey yang tak diduga bermuka dua.


Janjinya ia sematkan di hatinya, melindungi Jenni dengan sepenuh hatinya serta hingga titik darah penghabisan.


Maaf, aku tidak akan membawamu pada cahaya lagi, Rey! Kau sudah terlalu melewati batas untuk berkuasa kau mempermainkan ketulusan seseorang.


Mungkin kali ini aku akan sedikit egois, tapi semua karena kau yang memulainya lebih dahulu!


Sepanjang perjalanan Davin terus memikirkan rencana untuk kedepannya, dimana rencana yang ia inginkan adalah rencana yang bisa membebaskan Jenni juga dari belenggu Rey.


Hingga ia berhenti di depan sebuah hotel, Davin masih terus memikirkan rencana itu.


Ia sengaja tidak kembali ke markas tim agen rahasia karena merasa tubuhnya memerlukan istirahat setelah beberapa malam istirahatnya terganggu.


Lebih tepatnya, sejak saat Jenni datang meminta bantuan timnya untuk membongkar seluruh kejahatan Rey.


Hingga rahasia besar terbongkar. Dimana orang tua Jenni telah puluhan tahun menjadi tawanan Rey dan Lucas.


Davin memutar-mutarkan sebuah pulpen di tangannya, dahinya mengerut memikirkan sesuatu. Matanya membelalak ketika merasa ada yang datang dan menepuk bahunya.


"Jangan memikirkan itu, bukankah kepalamu sakit karena butuh pelepasan?"


Suara khas seorang wanita dengan nada serak dan menahan sesuatu. Ia kini sudah berada di hadapan Davin dengan penampilan yang sangat membuat Davin muak.


"Pergilah! Aku tidak butuh wanita sepertimu dan rekan-rekanmu lagi!" Ia membentak wanita itu dan mengusirnya.


Namun wanita itu malah semakin bertekad, ia meraih leher Davin dan membawanya ke atas ranjang kamar hotel.


"Apa yang kau lakukan?!"


"Bukankah ini yang kau inginkan dari dulu?!" Wanita itu menjawab dengan tangan yang tidak diam, mencoba melepaskan satu-persatu kain yang menempel di tubub Davin.


Namun Davin memberontak, ia mendorong wanita itu dengan kasar dan kencang hingga terjatuh ke lantai.


"Sintia!" Bentaknya sambil mengeluarkan pistol dan mengarahkannya pada Sintia.


"Dulu aku menginginkannya karena kau berjanji untuk setia, tapi kau secara tidak sadar telah menjadi wanita yang murahan saat kau berkata akan mengorbankan dirimu pada Rey, tapi kenyataannya kau malah menikmati malam-malam bersama Jeremy, apa kau sadar itu?!"


Kata-kata itu bagaikan jarum yang menusuk jantung Sintia, dengan kemarahan Sintia mengambil pisau yang terletak di atas piring berisi buah, lalu menyerang Davin.


"Baik, rasakan ini!"


Dor


Davin menembak-nembakan pistolnya, namun Sintia berhasil menghindar. Iti membuatnya kewalahan.

__ADS_1


"Kekuasaan yang ada padamu, aku yang memberikannya! Kau tidak tahu diri, Davin!"


Keduanya masih terus berusaha mengakhiri satu sama lain, hingga pintu terbuka menampilkan Jenni dengan wajah terkejut.


Tepat saat itu, Davin kehabisan peluru dalam pistolnya. Membuatnya tidak bisa menyerang dan hanya bisa menghindari serangan Sintia.


Jenni tidak tinggal diam, ia mencoba membantu Davin. Akan tetapi tidak berhasil ketika dua anak buah Sintia menahannya.


"Tahan dia!" Perintah Sintia.


"Tahan dia, sampai aku berhasil menghabisi pria tidak tahu diri ini!" Perintahnya lagi.


Davin tidak menyerah, ia masih berusaha mengambil kesempatan untuk mengakhiri pertikaiannya dengan Sintia.


Jenni khawatir melihat Davin yang terlihat kewalahan. Dengan kecerdikannya, Jenni menggigit tangan dua orang itu, lalu mengambil pistol dari dalam saku jaketnya dan menembak keduanya.


Kini posisi Jenni sudah berada di dalam kamar, diantara Davin dan Sintia. Dengan posisi Sintia sudah menyerat Davin ke ujung ruangan.


Davin terlihat tenang, meski keadaannya dalam ujung bahaya sekalipun. Sintia tidak mengetahui bahwa Jenni di belakangnya.


Senyum sinis selalu terlukis di bibir Sintia.


Sebelum menyerang, ia melukai jarinya terlebih dahulu dengan pisau.


"Jangan hanya diam, aku tahu dibelakangku ada Jennifer!"


Deg,


Jenni terkejut Sintia mengetahui dirinya ada di belakangnya.


Dor


Jenni menghindar dan berhasil selamat. Tembakan yang Jenni lakukan tidak berhasil menembak Sintia, namun berhasil melukai sedikit tangannya.


"Bagus, Jen! Kau menabur kebencian bersamanya untuk Rey?!" Sintia tertawa sinis.


Jen dan Davin hanya saling melirik di tengah-tengah ketegangan dan kebingungan perkataan Sintia.


"Apa yang kau maksud dengan kebencian?"


Tawa sinis kembali menggelegar dari Sintia, ia menertawakan Jenni yang masih kebingungan dengan perkataannya.


"Davin berusaha menabur kebencian dalam hatimu untuk Rey!" Katanya sambil perlahan berjalan mendekati Jenni.


Jenni melirik Davin, ia hanya tersenyum padanya dengan senyuman tulus.


"Kau melihat segalanya sendiri, aku tidak akan memanipulasi dirimu, Jennifer!" Jenni mengangguk, kini ia telah percaya pada Davin.


Sintia masih berjalan selangkah demi selangkah, berusaha mendekkati Jenni. Namun Jenni tidak hanya diam, ia berjalan mundur menjauhi Sintia.


Bruk


Tubuhnya menabrak dinding. Jenni tidak tegang, di tangannya masih ada senjata untuk melindungi diri dan Davin.

__ADS_1


Ia mengangkat tangannya, meletakan senjatanya di kepala Sintia.


"Bergerak sedikit saja kau akan mati." Ucapnya datar.


Sintia tersenyum, kemudian mengunci Jenni dengan kedua tangannya.


"Apa yang bisa kau lakukan? Wanita lema-.."


Seketika, tubuh Sintia ambruk dengan darah yang sudah mengucur dari punggungnya yang terdapat pisau menancap tepat sekali.


Pelakunya bukan lain adalah Davin, ia langsung meraih Jenni yang masih termangu, lalu membawanya keluar.


"Ayo, pergi! Pasukan Rey pasti akan segera tiba disini!" Sambil berlari dengan tangan yang menarik tangan Jenni.


Jenni hanya mengikuti setiap langkah kemana Davin membawanya, semua bukan karena keinginan akan tetapi karena Davin kunci dari orang tuanya. Kunci yang akan menguak seluruh rahasia besar dari si penjahat Reytan Hocane


Di tengah pelarian itu, Davin merasa tubuhnya melemah, hingga ia berlutut diatas tanah dan membuat Jenni khawatir akan keadaannya.


Davin melirih Jenni yang terlihat khawatir, lalu melepaskan tangannya.


"Pergilah, sebelum mereka datang! Pastikan bahwa kau baik-baik saja dan berada di rumah itu!" Perintahnya.


Jenni tidak bergeming, ia malah meraih tangan Davin dan membantunya berdiri.


"Aku tidak akan meninggalkanmu!" Tegasnya.


"Jen! Tidak ada waktu lagi, pergilah!" Paksa Davin.


"Jika besok aku tidak ada di markas, artinya malam ini aku tiada di tangan Rey. Tapi,-"


"Kau tidak akan tiada, ikutlah! Aku akan membantumu!" Jenni membangunkan lagi tubuh Davin, kemudian membawanya menuju tempat yang menurut Jenni cukup aman untuk bersembunyi.


Davin hanya pasrah, yang seharusnya ia melindungi Jenni. Tapi, kini malah Jenni yang membantu dan melindunginya.


Ia melirik Jenni yang terlihat bersemangat, kemudian menghapus peluh di wajahnya yang mengalir.


Jenni berhenti berjalan di depan sebuah rumah kecil, rumah miliknya yang telah lama ia tinggalkan hanya demi sebuah pembalasan yang akhirnya berujung menumpahkan banyak darah.


"Masuklah, tinggalah dan istirahatlah disana! Aku akan pulang, besok aku akan ke markas!" Ucap Jenni sambil memberikan kunci pintunya pada Davin.


Davin mengangguk, sambil merebahkan tubuhnya di atas kursi dan meraba jantungnya.


Entah sejak kapan, Davin merasa tubuhnya begitu sering melemah dalam suasana yang tidak bagus.


Semoga esok aku masih bisa membuka mataku dan membantumu lagi, Jen!


Jenni bergegas keluar, namun belum sempat keluar sebuah tangan menarik tangannya.


"Butuh sesuatu?"


Davin menggeleng, kemudian menggenggam tangan Jenni.


"Jangan menyerah, aku ada bersamamu!"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2