
Senyuman itu membuat hati Jenni menghangat, perasaan yang semula dingin karena pengkhianatan Rey dibuat hangat kembali oleh Davin.
Davin pun turun dari atas sofa, menghampiri Jenni dan menepuk bahunya pelan.
"Aku bersamamu!" Ulangnya lagi sambil tersenyum.
Jenni mengangguk, kemudian membantu kembali Davin duduk diatas sofa.
"Terima kasih, sudah berada bersamaku dalam masa-masa sulit ini." Ucap Jenni penuh rasa syukur dan terharu.
Davin terkekeh, memperlihatkan wajah yang semakin menawan. Lebih menawan dibandingkan Rey yang kini telah Jenni taburkan kebencian dalam namanya.
"Jangan bersikap lemah begini, itulah yang membuatmu mudah tertipu. Terutama oleh Rey. Bersikaplah tegas dan jangan mudah percaya pada orang lain." Davin memberi nasehat, membuat Jenni semakin memiliki semangat yang tinggi dan percaya diri.
"Termasuk padaku," Davin kembali terkekeh dan langsung mendapat pukulan ringan di lengannya.
Hening, berlangsung setelah kekehan Davin yang mendapat pukulan ringan dari Jenni.
Hingga Jenni lupa jika dirinya harus pulang ke kediaman Rey. Jenni tidak memperdulikan itu, baginya malam ini ia harus mulai mengatur kembali rencana.
"Misi rahasia," ucap Jenni yang membuat Davin menoleh padanya seketika.
"Sepertinya kita harus membuat misi rahasia berdua, tidak melibatkan anggota tim lainnya. Terutama membahayakan mereka yang tidak terlibat masalah dengan Rey." Jelas Jenni.
Davin hanya mengangguk, namun pikirannya sudah memikirkan jalan yang akan dibuat Jenni.
"Apa kau memikirkan apa yang aku pikirkan?" Tiba-tiba sebuah pertanyaan terucap begitu saja dari bibir Davin.
Jenni menggeleng cepat.
"Berkas kekuasaan orang tuamu, carilah itu. Dan berkas yang akan menjadi bukti pemindahan kekuasaan. Untuk itu, salah satu dari kita juga harus bisa menemui orang tuamu secara diam-diam." Usul Davin sambil menunjukan sebuah foto yang menunjukan warna map berkas kekuasaan itu.
Jenni mengamatinya baik-baik, lalu ia mengangguk.
"Aku yang akan mengambilnya,"
Davin kemudian menghela napas panjang, meraih tangan Jenni dan menggenggamnya.
"Kau bisa membedakan tekstur sebuah benda atau serat?" Jenni mengerutkan dahinya.
"Ada dua map disana, mata-mata tim kita pernah hampir mendapatkannya sebelum dia ditembak mati oleh Rey. Perbedaannya map yang asli sedikit timbul dan yang palsu sangat lembut." Davin terus menjelaskan mengenai berkas itu, hingga akhirnya Jenni mengerti dan akan mengambilnya secepatnya.
__ADS_1
Setelah pembicaraan itu selesai, Jenni langsung bergegas pulang ke kediaman Rey.
Sepanjang perjalanan Jenni merasa ada seseorang yang mengikutinya. Namun ia tak merasa cemas, ketika sebuah pesan muncul di kotak masuk pesannya.
Aku menyuruh seseorang menjagamu dari jauh, jangan menyerangnya kecuali dia mencurigakan dan akan melukaimu.
Jenni tersenyum membaca pesan itu.
Ya, terima kasih banyak untuk kepedulianmu, kakak ipar yang baik.
Tidak ada balasan lagi, hingga Jenni sampai di depan kediaman Rey yang tidak terlihat seperti biasanya. Tidak ada penjaga yang berjaga di depan gerbang tersebut. Hanya ada di dalam.
Sebelum masuk gerbang, Jenni melirik orang uang sejak tadi mengikutinya. Tampak orang itu berdiri di seberang jalan. Orang itu membungkuk memberi hormat pada Jenni.
Jenni tersenyum dan membalasnya dengan isyarat ucapan terima kasih. Kemudian Jenni memastikan orang itu pergi terlebih dahulu.
Di dalam rumah besar tersebut, keadaan tampak sepi. Seolah memberi celah bagi Jenni untuk melakukan misi rahasianya bersama Davin.
Ia mengecek kembali ponselnya, menelepon Rey. Panggilan tidak tersambung, sang pemilik ponsel sudah pasti Jenni duga sedang bermalam panas bersama istri tercintanya.
Yeaah, saatnya beraksi Jennifer!
Jenni melangkahkan kakinya menuju ruangan yang tak pernah ia kunjungi. Ruang pribadi Rey.
Sebelum mencari, Jenni memeriksa setiap ruangan dalam ruangan itu terlebih dahulu. Memastikan bahwa ruangan itu benar-benar kosong saat ini.
Kini, jemari tangannya sudah memindai setiap berkas dengan map berwarna biru dan tekstur timbul yang menjadi tujuannya masuk ruang itu.
Sepuluh menit berlalu sangat cepat, tangan Jenni gemetar saat memeriksa puluhan berkas bersampul map biru tersebut.
Hingga hanya tersisa dua map lagi, Jenni merasa bingung karena kedua map itu memiliki tekstur yang sama. Saat membukanya, Jenni lebih kebingungan lagi isi dari berkas itu sama. Mengenai kekuasaan.
Tap
Tap
Tap
Jenni terkesiap mendengar suara langkah kaki. Ia langsung mengambil isi kedua berkas itu dan memasukannya kedalam pakaiannya.
Tok tok tok
__ADS_1
Tangannya tambah gemetar saat pintu diketuk.
"Siapa yang berani masuk ke dalam ruanganku?!" Suara yang tidak asing bagi Jenni itu membuat Jenni semakin ketakutan.
"Jangan lupa, hapus semua pesan dan nomor, juga catatan panggilan ponselmu! Jangan sampai kau lalai, bisa saja suatu saat dia akan memeriksa ponselmu!"
Kata-kata itu terngiang-ngiang di telinga Jenni. Yang langsung membuat Jenni melakukan penghapusan darurat dalam kotak masuk pesan dan catatan panggilannya.
Tok tok tok
Ketukan pintu semakin keras.
"Keluar!"
Jenni masih berusaha menghapus semua catatan ponselnya.
Brak
Pintu terbuka dengan kasar karena di dobrak oleh Rey, wajah Rey nampak sangat marah.
Namun wajah marah itu menghilang seketika saat melihat pemandangan yang sangat membuatnya terpukau dan terenyuh.
"Dia disini? Berapa lama dia di sini sampai seperti itu?"
...****************...
Puluhan panggilan tak dijawab oleh Jenni, membuat hati Davin gelisah seketika.
"Bod*h, bagaimana bisa kau merencanakan hal seperti itu? Itu, kan berbahaya!" Rutuknya pada Jenni.
Napasnya tak teratur, sebab rasa khawatirnya pada Jenni yang kian meningkat.
Hingga seseorang masuk, melaporkan sesuatu pada Davin dan membuat Davin bisa menghela napas lega.
"Ini, tuan!" Menyerahkan sesuatu pada Davin. Seperti sebuah kertas yang digulung.
Mata Davin membelalak saat melihatnya, ia mengepalkan tangannya dengan sangat keras.
"Bagaimana bisa secepat ini dia tahu?!"
Brak
__ADS_1
Bersambung...