
"Kau serius? Kau tahu siapa itu Reytan?!" Pria itu menatap Jenni dengan tatapan yang tidak dapat diartikan.
Mungkin tatapan yang bisa dilihat adalah keterkejutan dengan siapa yang ingin Jenni mata-matai.
"Reytan Hocane itu adalah seorang-"
"Mafia yang sangat kejam dan memiliki banyak pasukan di berbagai negara, bukan? Aku istrinya, Jennifer Reshamiya."
Lagi-lagi, ia menatap Jennifer dengan ekspresi terkejut. Jenni hanya menatap miris pada pria itu.
"Jadi kau Jennifer yang beberapa minggu lalu menjadi perbincangan di kalangan mafia karena menjadi istri simpanan Reytan?"
Jenni mengangguk samar, sementara pria itu mengeluarkan pistol berjaga-jaga takut Jenni membawa pasukan Rey untuk menghabisi mereka.
"Menjauh!" Jenni memundurkan langkahnya sedikit.
Ia cukup bingung, melihat agen rahasia itu menjauh dan waspada dengan dirinya.
"Aku...-"
"Kau pasti ingin menghancurkan kami!" Tuduhnya membuat Jenni lebih bingung lagi.
Jenni maju satu langkah, kemudian memohon pada pria itu.
"Percayalah padaku, aku ingin mengungkap sesuatu yang mencurigakan jika dalam waktu 3 bulan itu tidak terungkap maka kalian boleh menghabisi aku, aku berjanji!"
Pria itu menurunkan senjatanya, kemudian mendekati Jenni.
"Kau tahu cara menembak? Untuk berjaga-jaga jika suatu hari saat kau berurusan dengan anak buahnya atau dicurigai kau bisa melakukan tindakan darurat untuk melindungi dirimu. Tapi kami tidak pernah melakukan pertumpahan darah jika tidak mendesak!"
Pria itu akhirnya menjelaskan segala peraturan dalam tim agen rahasianya, iapun membawa Jenni masuk ke dalam markasnya secara hati-hati.
"Ini semua yang kau perlukan dalam menjadi seorang agen rahasia, jangan sampai barang ini kau letakan sembarangan! Apalagi sampai Reytan mengetahuinya. Katakan, apa misi yang kau akan lakukan?"
"Jadi...-"
...****************...
"Kemana Jenni sebenarnya? Apa dia tidak bilang akan pergi kemana? Sangat berbahaya, di saat seperti ini dia keluar rumah tanpa penjagaan!" Rey berteriak kesal pada penjaga yabg bertugas menjaga Jenni.
Namun tak berselang lama, datanglah Jenni dengan tas yang terlihat besar karena berisikan barang-barang yang di berikan tim agen rahasianya.
Napasnya terengah-engah, tangannya gemetar, serta ia sangat gugup untuk berbicara dengan Rey saat ini.
Apa yang ia lihat tadi membuatnya sangat tidak percaya dengan fakta besar itu.
__ADS_1
Apakah aku sedang bermimpi?
Tapi dia masih hidup, bagaimana bisa? Di depanku dia menghembuskan napas terakhirnya.
"Jenni, kau pulang juga akhirnya, darimana saja?!"
Tak menjawab karena gugup, akhirnya Jenni memutuskan untuk masuk ke dalam kamar. Membuat Rey bingung dengan sikapnya.
Ia tak memanggil ataupun bertanya lagi, tapi bertindak dengan mengikuti Jenni yang masuk ke kamarnya.
Dilihatnya Jenni sudah merebahkan tubuhnya diatas ranjang, dengan mata tertutup namun Rey tahu bahwa Jenni belum tidur.
"Ada apa?" Ia bertanya sambil meraih tangan Jenni dan menggenggamnya.
Namun, Jenni menepis tangan itu. Membuat Rey sedikit terpancing emosi.
Braak
Meja di samping tempat tidur digebrak sedikit keras. Jenni masih tidak bergeming, seolah keterkejutannya sudah sirna dengan pemandangan yang ia lihat tadi di markas besar agen rahasia.
"Ada apa denganmu? Aku bertanya secara baik dan pelan?!" Masih menahan suara yang sebelumnya akan ia lontarkan dengan bentuk teriakan.
Jenni menegakkan tubuhnya dalam duduknya, lalu mencondongkannya sehingga wajahnya dan wajah Rey saling berdekatan.
Oh, ya ampun! Kau merusak rencanamu sendiri, Jen!
Rey berdiri, lalu melangkahkan kakinya menuju pintu keluar kamar.
Dalam hatinya sedikit curiga saat melihat mata Jenni yang tampak menyembunyikan sesuatu hal besar.
Periksa, kemana tadi Jenni pergi!
Pesan itu ia kirimkan pada salah satu anak buahnya yang bertugas mengikuti Jenni dan mengawasinya kemanapun Jenni pergi.
Cukup lama, tak ada balasan hingga akhirnya ponselnya berdering dan sebuah telepon yang ia dapatkan.
"Jennifer tadi pergi ke bar, dari sana ia pergi bersama seorang pria dan wanita yang Jenni sebut dengan panggilan kakak dan kakak ipar." Laporan dari si penelepon yang tentu saja sebenarnya dua orang itu bukan kakak dan kakak ipar Jenni.
"Cari kebenaran tentang kakak dan kakak iparnya. Informasinya harus benar, jangan sampai keliru!"
Telepon ia tutup, di balik pintu Jenni mendengarkan dengan tingkat kewaspadaan tinggi. Ia harua bertindak sebelum Rey yang lebih dulu menemukan kebenarannya.
Ia kini menelepon dua orang yang akan Rey selidiki, dengan tergesa-gesa namun jelas.
"Jangan lupa beritahu kapten mengenai rencana Reytan!"
__ADS_1
Telepon berhasil, tanpa mengundang kecurigaan Rey sedikitpun. Tak lupa Jenni mengubah nama kontak di teleponnya.
Sesuai dengan rencana, kini ia memasang kamera yang hampir tidak bisa dilihat di tempat tersembunyi namun dapat merekam dengan jelas kegiatan dan siapa saja yang memasuki kamar itu.
Semoga berhasil, hanya tinggal aatu langkah lagi secara hati-hati aku akan dapat mengetahui kebenarannya.
Satu tugas lagi, Jenni harus mencari Rey dan membawanya kembali ke kamar untuk misinya yang harus tahu apa sebenarnya dan dimana saja Rey menyimpan seluruh rahasia ke mafiaannya.
...****************...
"Ini, rekaman semalam. Saat aku menanyainya."
"Ruchi, bawakan laptop!" Perintah seorang pria berparas tampan namun memiliki mata elang.
Yang membuat siapa saja yang menatap mata itu akan terpesona meski terkesan kejam.
"Kak Davin, apa sebenarnya motif Rey. Apakah kita bisa benar-benar membongkarnya?"
Pria yang dipanggil Davin mengangguk.
"Dia adikku, tidak mungkin dia melakukan semua tanpa motif. Apalagi mendekatimu dan membuatmu semakin kesulitan dan dia mempermainkanmu begitu."
Jenni menghela napas panjang, kemudian duduk di sebelah Davin untuk menyaksikan rekaman yang ia rekam sendiri.
Saat laptop dibuka dan rekaman diputar, Jenni menghela napas kecewa melihat layar yang berubah menghitam tanpa suara ataupun video apapun.
"Arrrggghhh...!" Erang Davin sambil mengepalkan tangannya.
"Bagaimana bisa jadi begini?" Gumam Jenni kecewa.
Davin melirik Jenni sekilas, kemudian mengelus punggungnya.
"Berpura-puralah tidak tahu apapun! Jangan sampai dia tahu kau yang memasang kamera ini."
Ekspetasi yang Jenni bayangkan kini hangus, saat kamera tidak menunjukan bukti apapun.
"Tapi Jenni, apa kau mendengarnya? Kau pasti bicara dengannya, kan semalam?" Jenni mengangguk.
"Kenapa tidak kau katakan saja?! Jelaskan pada kami!"
"Rey...-"
......Bersambung..........
nanti malam up lagi 😉😉😉
__ADS_1