Istri Simpanan Sang Mafia Kejam

Istri Simpanan Sang Mafia Kejam
ISSMK 22


__ADS_3

"Sebaiknya tidak usah membahas hal itu, lakukan saja rencana kita." Ia menepis tangan yang sudah merangkulnya dengan lembut dan pelan.


Terlihat raut wajah kecewa dari pria tua yang di panggil ayah tersebut.


"Ibumu, kakakmu, paman dan juga sepupumu aku melakukan hal yang sama pada mereka demi dirimu. Kau harus menepati janjimu!" Menegaskan dan menunjukan foto sebuah buku kecil berwarna merah dan hijau.


Sintia mengambil ponsel itu tangannya bergetar. Dalam hatinya mulai banyak tumbuh rasa penyesalan.


Ia mengingat-ingat kembali perjanjian tempo hari yang ia ucapkan dan ikrarkan dari mulutnya sendiri bersama Davin, ayah tirinya.


Sejak dulu, Sintia telah jatuh hati pada ayah tirinya tersebut. Sintia bahkan rela menghabisi ibu kandungnya sendiri demi Davin, sang mafia muda nan tampan tersebut.


Bukan salah Sintia mencintai Davin akan tetapi cinta mereka tak dapat bersatu saat ibunya memberi tahu Sintia bahwa ia akan menikah lagi.


Tak Sintia duga, bahwa yang akan dinikahi ibunya adalah Davin. Hingga di hari pernikahan setelah ibunya dan Davin resmi menikah Sintia begitu marah mengetahui Davin yang dinikahi ibunya.


Sintia menyimpan dendam pada ibunya dalam hatinya, hingga suatu saat Davin diam-diam menemuinya dan mengatakan bahwa ia terpaksa menikahi ibunya Sintia.


Akhirnya, keduanya menjalankan rencana untuk diam-diam melenyapkan siapa saja yang mendukung ibunya bersama Davin.


Rey sendiri, adalah adik dari Davin yang tidak setuju dengan tindakan dua insan tersebut.


Berkali-kali Rey mencoba melarang hingga pada akhirnya ia memilih terusir dan ditemukan oleh keluarga Meira.


"Kau tidak bisa melanggar, atau... Aku akan memaksakan kehendakku!" Davin meraih rambut Sintia membelainya mesra dan lembut.


Belaian itu perlahan turun ke bagian leher, tak lupa Davin juga mendekatkan wajahnya ke leher Sintia.


Ia berhenti pada saat melihat sesuatu di leher Sintia.


"Apa ini?" Menunjuk tanda merah lalu menarik Sintia menuju cermin untuk memperlihatkan tanda tersebut.


Mata Sintia membelalak, ia lupa akan tanda itu karena terlalu menikmati setiap permainan Jeremy.


"Ini, Rey yang melakukannya." Bohongnya dengan nada suara gugup.


Davin tersenyum, amarahnya turun dan mulai berperilaku mesra lagi pada Sintia.


Sintia menenangkan dirinya, saat Davin menariknya ke atas ranjang dan menidurkannya. Sintia cukup ketakutan. Ia takut Davin akan melakukannya sekarang padanya juga, sebab ia sudah tak sanggup akibat rasa sakit yang masih terasa di areanya.


Benar saja, Davin sudah mulai melakukan gerakan-gerakan yang sama dengan yang Jeremy lakukan padanya.


Sintia memegang tangan Davin, bermaksud menolak namun kekuatannya kalah besar.


"Daviiin, ssshhh... "

__ADS_1


Jeritan mulai terdengar, seiring gerakan Davin dan Sintia. Davin sedikit bingung mendengar jeritan Sintia yang tampak tidak menikmati.


Namun karena gairah yang memuncak ia meneruskannya.


...**********...


Rey membuka sedikit pintu, ketika melewati kamar milik ayah mertuanya yang mengeluarkan suara yang tentu ia tahu suara apa itu.


Matanya membulat, ketika melihat apa yang sedang terjadi di dalam.


"Wow, kak Davin kau menikmati istri dari adikmu sendiri." Gumamnya sambil menutup kembali pintu.


Sebelum menutup pintu ia tak lupa mengambil sebuah bukti dengan ponselnya. Agar saat Sintia menemukan Jenni dan mengetahui tentangnya ia bisa membalas Sintia dengan bukti itu.


Di dalam ruangan tersembunyi, Jenni begitu mahir dalam berlatih pistol. Membuat Rey yang baru masuk terkagum-kagum.


"Hentikan! Jangan disini lagi, ayo ikut denganku!" Menarik tangan Jenni dan membawanya keluar dari rumah.


Tak butuh waktu lama, keduanya sudah sampai di dalam ruangan gelap namun luas.


"Kita dimana, Rey?" Jenni memandang sekelilingnya, tak ada yang bisa ia lihat karena gelap.


Rey masih berjalan dengan memegang tangan Jenni.


"Lihat saja, nanti kau akan semakin bersemangat dalam tembak menembak!" Sambil menghentikan langkahnya dan seketika lampu sudah menerangi ruangan itu.


Jenni tercengang melihat pemandangan itu.


Mereka memberi hormat pada Rey, salah satunya maju ke depan dengan membawa dua orang yang kepalanya tertutup kantung hitam.


Jenni menatap kedua orang itu penasaran.


"Bawa dia kemari!" Dua orang itu langsung di seret ke hadapan Rey.


Rey membuka kantung itu secara perlahan, memperlihatkan wajah pria yang berhasil menjadi sanderaannya hari ini.


"Putuskan takdir detik ini juga!" Rey menunjuk sebuah mangkuk berisi cairan hijau yang dibawa anak buahnya kemudian menunjukan pistolnya juga.


Jenni menghampiri Rey.


"Jangan mendekat, sampai aku memberi perintah!" Tegasnya yang membuat langkah Jenni terhenti.


Rey kembali fokus pada pria yang tangannya terikat dan masih menunduk itu.


"Putuskan!" Bentak Rey.

__ADS_1


"Kematian perlahan secara menyakitkan, atau cepat tapi kau akan secepatnya tidak merasakan apapun!" Sambil menarik kerah pakaiannya hingga tubuh pria yang sedang berlutut itu langsung terangkat hingga berdiri.


Pria itu masih diam seribu bahasa tak bergeming dan tak bersuara.


"Apa kesalahannya?" Menunjuk salah satu anak buahnya dengan pistolnya.


"Dia berkhianat dengan menjual senjata kita pada geng mafia Devil."


Kini Rey memberi isyarat pada Jenni untuk mendekat. Jenni mendekat, kemudian meraih pistol yang Rey ulurkan padanya.


"Jika dalam waktu sepuluh menit tidak ada jawaban, tunjukan seberapa besar kau membenci pengkhianatan padanya!"


Rey membuka ponselnya menghitung waktu dengan stopwach.


Sudah 5 menit, pria itu masih diam membisu tak berkata apapun.


"5 menit!" Rey memperingatkan.


"Perdekat!" Memberi perintah pada Jenni.


Rey bangun dari duduknya, mendekati pria itu dan berlutut di hadapannya juga mensejajarkan tubuhnya.


"Putuskan!"


"Aku tidak akan mati, kau yang akan mati!" Akhirnya pria itu bersuara dengan ancaman.


Rey tertawa sinis, Jenni masih dalam posisi yang sama. Dilihatnya ponsel milik Rey waktu telah menunjukan hanya tinggal 1 menit tersisa.


"Hitung mundur, hanya 1 menit kurang lagi!" Menunjukan layar ponselnya.


"Jennifer!" Memberi isyarat untuk bersiap menembak.


"Baik, Sepuluh..." Jenni menghitung mundur waktu yang tersisa.


Hitungannya sudah berada di angka tiga, membuat Jennifer mengarahkan pistol itu pada pria itu.


"Tiga... Dua..."


"Sat-"


Dor...


"Arrrgggghhhhh!"


"Rey!"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2