
Jenni meletakan telunjuknya di bibir Davin, memberinya isyarat untuk diam.
"Kau ingin menyelamatkanku." Sahut Jenni lemah.
Davin mengangguk, kemudian terkejut saat Jenni tak sadarkan diri. Ia tak tinggal diam, segera membawa Jenni ke rumah sakit terdekat untuk dirawat dan diobati.
Di sisi lain, Rey mencengkeram kerah kemeja seorang pria yang tampak tak terima.
"Kau melukainya! Bagaimana jika dia sampai tiada?!"
"Rey, aku dari tadi menunggu disini, aku sudah mengirim pesan padamu dan meneleponmu berkali-kali, jadi aku-"
"Kau sengaja melakukan itu?!" Menunjuk lantai ke dua hotel, dimana kaca sebuah kamar hancur dan pecah.
"Jeremy!" Teriaknya sambil menodongkan pistol ke kepala Jeremy.
"Reytan, dengar, aku tidak melakukannya!"
Dor
Darah mengucur, tubuh pria yang memiliki ikatan persaudaraan dengan Jennifer itu jatuh ke tanah. Napasnya sudah tersengal-sengal, dadanya naik turun. Sampai akhirnya tubuh itu tak bergerak lagi.
Rey menatap tubuh Jeremy yang sudah tak bergerak lagi dengan tatapan ragu, seolah sasarannya tidak tepat.
Berbeda dengan seorang wanita yang mengawasinya dari jauh. Salah satu anggota tim agen rahasia yang membantu Davin menyerang kamar Jenni dan Rey di hotel itu.
Sasaran yang tepat, pasti pak Davin dan Jenni senang karena setidaknya salah satu dari musuh mereka sudah tiada tanpa Pak Davin dan Jenni harus menumpahkan darahnya langsung.
Ia tersenyum, kemudian memotret jasad Jeremy setelah Rey pergi meninggalkannya begitu saja.
Tak lama, seseorang datang setelah wanita itu telah selesai memotretnya. Ia tampak memasukan jasad Jeremy ke dalam tas besar dan memasukannya ke dalam mobil.
...****************...
Di rumah sakit, Jenni sudah ditangani oleh dokter dan kini masih terbaring tak sadarkan diri. Davin dengan setia menemaninya di sampingnya.
Tak lupa, tangan Jenni selalu tergenggam manis di tangan Davin.
"Jalan ini terlalu rumit, tapi aku berjanji akan selalu melindungimu, Jen." Gumamnya lirih.
Di angkatnya tangan Jenni, kemudian di kecupnya lembut. Davin mengerutkan dahinya, ketika tiba-tiba tangannya merasakan dinginnya tangan Jenni.
"Mengapa tanganmu sedingin ini, Jen?" Tanyanya pelan. Meski tak ada jawaban, karena si pemilik tangan itu masih tak sadarkan diri karena obat yang dokter berikan.
Tok tok tok
Pintu terdengar di ketuk dari luar, Davin buru-buru bangun dan mengintip dari sebuah lubang sebelum memeriksanya.
Ia membukanya saat melihat yang datang adalah anggota timnya.
__ADS_1
"Pak Davin, aku ingin menyampaikan sesuatu yang sangat penting." Wanita yang tadi memotret jasad Jeremy langsung masuk dan menutup pintu ruangan.
Davin tidak berbicara sedikitpun, ia menunggu apa yang ingin disampaikan wanita itu.
"Cepat, Farah." Ucapnya datar.
Farah menunjukan ponselnya, membuat Davin tercengang dengan semua itu.
"Dia menghabisi Jeremy?" Farah mengangguk.
"Dia mengira Jeremy di balik penyerangan di kamar hotel nomor 34 itu, Pak."
...****************...
"Jenni!" Teriak Rey sambil menjelajah ruang hotel yang ditempatinya, mencari-cari Jennifer.
Namun sosok wanita bertubuh tinggi itu tak bisa ia temukan. Berbagai macam pikiran sudah terbayang olehnya.
Akan tetapi, ia berubah tersenyum saat mendapati jejak kaki di bercak darah. Jejak sepatu, lebih tepatnya.
"Kau ingin bermain permainan rumit, ya?" Rey menatap jejak sepatu itu.
Meski tak mengenalnya, akan tetapi Rey akan cepat mengenalinya dan membawanya pada hukuman untuk bermain-main dengannya.
Di tengah-tengah penyelidikannya sendiri, bahunya di tepuk oleh seseorang. Rey tidak menoleh sedikitpun, masih menatap jejak sepatu itu dengan tatapan penuh selidik.
"Rey, sudahlah!" Suara seorang wanita yang tidak asing, Meira.
"Jeremy di bawah, itu artinya.... Lucas!" Tawa sinis meledak, membuat Meira ikut tertawa sinis.
"Sudah?" Tanya Meira yang langsung diangguki oleh Rey.
"Kita ke kamarku! Disini menjijikan, bekas wanitamu itu!" Ketus Meira sambil menarik tangan Rey keluar dari ruang kamar nomor 34 itu kemudian memasuki ruangan di sebelahnya.
Setelah keduanya berada di dalam, Meira mulai mengawali malam panjang yang akan ia buat bersama Rey.
"Kau ini kenapa? Jangan marah! Bukankah sudah biasa jika aku bermain dengan wanita lain?" Bisik Rey saat melihat gelagat kemarahan Meira.
Meira menarik kerah kemeja Rey, mendekatkan wajahnya dengan wajah Rey.
"Kau seperti melindunginya, itu tidak boleh! Hanya aku yang akan kau lindungi dan kau cintai! Jangan bilang kau mulai memiliki perasaan pada wanita itu?!" Desak Meira dengan tangan yang sudah mengelus bagian-bagian inti Rey.
Rey meraih pinggang Meira, kemudian menariknya menuju ranjang.
Ia tak menjawab pertanyaan Meira, karena ia merasa tidak mengetahui jawabannya terutama mengenai perasaannya pada Jennifer.
Perasaan? Pada Jennifer? Semoga itu tidak ada!
"Hanya kau yang ada dalam hatiku." Ucap Rey dengan napas yang sudah tercekat akibat ulah Meira.
__ADS_1
Tidak sabar, Rey membuka paksa dres mini milik Meira.
"Apa tema hari ini?" Tanya Meira menahan gerakan Rey sekejap.
Rey menepis tangan yang menahannya, kemudian tersenyum sinis.
"Malam panas ala mafia, ala Reytan Hocane!" Jawabnya dengan memulai permainannya.
Desahan bersahutan, keduanya tidak menyadari ada kamera yang telah dipasang di ruang kamar Meira.
Di rumah sakit, Jenni telah sadarkan diri dan tengah menonton aksi Rey dan Meira dari laptop yang menunjukan rekaman kamera itu.
"Dia sangat haus kekuasaan dan wanita, tidak jadi bermalam denganmu, kini dengan istri utamanya." Ucap Davin dengan nada mengejek.
Jenni melirik Davin sambil menahan tawa.
Saat Davin meliriknya juga, Jenni langsung tertawa terbahak-bahak. Namun tawa itu tak berselang lama saat Jenni meringis kesakitan di bagian lehernya.
"Hmm," Davin berdeham untuk mengusir kecanggungan yang tiba-tiba menerpanya.
"Jadi, bagaimana ke depannya?"
"Oh ya, tadi Farah datang dia melaporkan bahwa Jeremy menjadi sasaran Rey tadi malam. Lalu Rey..." Davin kembali melirik Jenni, ia ragu mengatakan semua itu karena Davin tahu bahwa Jeremy memiliki ikatan persaudaraan dengan Jenni.
Jenny tampak menanti kelanjutan kata-kata Davin, meski sebenarnya ia sudah tahu bahwa arah terakhirnya adalah Rey pasti telah menghabisi Jeremy.
"Dia menghabisi Jeremy?" Jenni memastikan.
Davin mengangguk.
"Ke depannya rencana kita adalah mengatur sebuah pertemuan. Rey akan mengatur pertemuan juga dalam 3 bulan, pertemuan antara kelompok sekutu-sekutu mafianya. Sebelum itu terjadi, kita harus mengaturnya juga."
"Lalu apa yang akan kita lakukan?" Tanya Davin tak mengerti.
Jenni kembali diam, ia berpikir lebih jauh kali ini dalam rencana aksinya membalaskan dendam pada Rey dan membebaskan ibu dan ayahnya.
"Gudang senjata sudah dilucuti, peluru-peluru sudah habis dibawa oleh tim agen rahasia. Di gudang itu hanya ada senjata kosong, dan yang mengawasi gudang itu sudah menyamar menjadi anak buah Rey. Artinya..."
"Artinya kita harus menemui sekutu-sekutu Rey dan mengajaknya bekerja sama." Potong Jenni dengan nada yakin.
Davin menatap Jenni tak percaya, menurutnya langkah Jenni terlalu besar dan membahayakan dirinya sendiri.
"Jenni, kau yakin dengan langkahmu ini?"
"Ya."
"Dia tidak berusaha sendiri, aku akan membantunya..."
Bersambung....
__ADS_1
Akankah rencana Jenni berhasil? Kita lihat nanti ya!