
"Katakan, Rey!" Jenni mengguncangkan tubuh Rey.
Rey memalingkan wajahnya menghadap arah dinding rumah kecil itu tak berani menatap mata Jenni yang sudah menunggu Rey menjawab siapa yang telah membunuh orang tuanya.
"Rey!" Jenni sudah habis kesabaran, ia ingin segera mendengar itu saat ini juga.
Namun Rey tetap tidak bergeming, ia memejamkan matanya perlahan-lahan mulutnya membuka.
"Jeremy..." Jenni langsung terduduk lesu diatas lantai, matanya tak kuasa menahan tangis.
Namun di sela tangis Jennifer masih sedikit ragu.
"Darimana kau tahu?" Rey melirik Jenni, kemudian memberikan sebuah catatan yang ia keluarkan dari dalam saku jaketnya.
"Bacalah!"
Jenni langsung mengambil catatan itu dan membacanya.
Hampir saja Jenni pingsan, ketika sedang membaca catatan itu jika Rey tidak segera meraihnya.
"Hentikan, jangan membacanya!" Sambil memapah Jenni untuk duduk di kursi yang berada tak jauh darinya.
Jenni meraba dadanya yang terasa tiba-tiba sakit, ia merasa sakit saat mengingat penembak dirinya dan pembunuh kedua orang tuanya adalah orang yang bertopeng kebaikan padanya.
"Aku harus membalasnya." Lirih Jenni sambil meraih tangan Rey dan menggenggamnya.
Rey berlutut di hadapan Jenni, kemudian menatap kedua mata Jenni.
"Mereka tidak melakukannya sendiri, mereka ingin kekuasaan ayahmu." Mengeratkan genggamannya, sementara yang digenggam merasa bingung.
Sebelum Jenni sempat bertanya, Rey membuka suara lagi menjelaskan maksud dari kekuasaan ayah Jenni.
"Ayahmu, Tuan Michael pemimpin mafia terbesar. Pamanmu dan sekutunya menginginkan kekuasaannya."
Rey menjelaskan dengan nada suara bergetar, terutama ketika ia menjelaskan apa dan bagaimana ayahnya Jenni berkuasa dalam dunia mafia.
"Bagaimana bisa kau..-"
"Tuan Michael yang membawaku dari jalanan, dia yang menyelamatkanku. Meira dan ayahnya mengambil aku saat ayahmu tiada, saat pamanmu dan Jeremy berkuasa sendiri. Meira dan ayahnya menggunakanku sebagai alat untuk mengambil kembali kekuasaan ayahmu itu agar menjadi milik mereka."
Jenni kembali dikejutkan dengan fakta-fakta tersebut, membuatnya kembali memiliki semangat untuk membalaskan seluruh dendamnya pada pembunuh-pembunuh tersebut.
Rey sendiri, merasa tidak setuju atas keputusan Jenni yang akan ikut turun tangan untuk membalas dendam. Sebab, kehamilan Jenni menjadi kendalanya.
__ADS_1
"Jika ada yang akan turun itu aku, kau tidak bisa membahayakan dirimu sendiri dan bayi kita. Terutama dalam menghadapi Sintia dan keluarganya, yang tidak mengetahui semua ini.
Aku masih harus bersandiwara, aku butuh kekuasaan mereka untuk
melancarkan rencana yang sudah aku susun sejak sadarkan diri." Tegas Rey sambil menatap Jenni yang masih memohon untuk ikut dalam rencana.
Jenni akhirnya menyerah, memilih ikut jalan rencana Rey meskipun dalam dirinya sangat ingin ikut andil dalam rencana.
"Tapi, sampai kapan aku akan menjadi simpananmu?"
Wajah Rey memucat mendengar pertanyaan Jenni. Kini ia berfikir keras untuk menjawab pertanyaan Jenni.
Beberapa menit hening, membuat Jenni berhasil membasahi wajahnya dengan air mata.
"Aku mencintaimu, jangan jadikan aku simpanan lagi. Jadikan aku satu-satunya dihatimu!" Pinta Jenni sambil menggenggam lagi tangan Rey.
"Jenni, saat tiba masa itu, kau akan menjadi nyonya Jennifer Hocane. Bersabarlah!" Rey memeluk Jenni, kemudian mengecup keningnya mesra.
Jenni merasa sangat bahagia dengan suasana saat ini, meskipun esok atau lusa suasana akan kembali lagi menjadi seperti saat ia dijadikan simpanan Rey dibalik pernikahannya bersama Meira.
...****************...
Tiga hari berlalu, Rey sudah kembali berada di rumah Sintia. Kini ia tepat berhadapan dengan ayah dari Sintia.
Rey maju satu langkah ke depan, meraih pistol yang sudah tersedia dan menembakannya ke papan sasaran penembakan.
"Kita harus mencari titik kelemahan mereka, aku sudah memiliki titik kelemahan itu."
Dor...
Disisi lain ada suara tembakan lagi, kemudian terdengar suara benturan sepatu dengan lantai.
"Apa kelemahan mereka?" Suara seorang wanita terdengar, membuat Mr.J menoleh saat mengenali suara itu.
Rey meliriknya, kemudian tersenyum sinis saat wanita itu melempar pistolnya ke sembarang arah dan mendekati Rey.
"Kau bisa menjadi kelemahan mereka." Ucap Rey dengan nada datar.
"Nicholas!" Seru Mr.J sambil mengacungkan pistolnya pada Rey.
Namun Sintia meraih pistol itu dan menurunkannya kebawah sehingga saat pistol di tembakan langsung melubangi lantai yang terbuat dari papan tersebut.
"Kelemahannya seorang wanita cantik, aku dengar dia membunuh keponakannya yang bernama Jennifer karena menolak menikah dengan Jeremy putranya yang gila wanita." Rey menarik napas panjang, lalu mengeluarkannya.
__ADS_1
"Jadi, aku berharap Sintia bisa ikut dalam rencana ini." Menghela napas pelan, kemudian meraih tangan Sintia. "Kau tahu bukan apa yang harus kau lakukan? Setelah itu, aku berjanji akan menjadikanmu wanita seutuhnya!"
Sintia tersenyum lebar, hatinya menghangat mendengar hal itu. Hal yang ia nantikan dari Rey yang selama ini Sintia sukai namun tak dapat respon hangat dari Rey karena Rey berpura-pura hilang ingatan. Selain itu, Rey juga hanya menganggap Sintia sebagai penyelamat saja.
Maaf Sintia, tapi kau tidak akan mendapatkannya dariku.
Kau adalah salah satu dari
sekumpulan orang yang mencoba menghilangkan Jenniferku.
"Tidak!" Tolak Mr.J tegas. "Sintia tidak bisa mengikuti rencana-"
"Aku akan mengikutinya, ayah!" Pungkas Sintia cepat, karena tak ingin kehilangan apa yang akan ia dapatkan.
Sintia mendekati Mr.J kemudian memohon padanya.
"Ayah, apa kau ingin putrimu seperti ini selamanya?" Pertanyaan itu langsung mendapat helaan napas dari Mr.J, disusul anggukan.
"Baiklah, tapi kau akan selalu berada dalam pengawasan!" Tegas Mr.J yang langsung diangguki oleh Sintia.
Berbeda dengan Rey, yang langsung pucat ketika mendengar bahwa Sintia akan selalu diawasi.
"Sebaiknya aku harus berhati-hati, jika satu langkah saja salah maka dia tidak akan segan-segan menghabisiku!" Gumam Rey menarik perhatian Sintia dan Mr.J.
"Kau mengatakan sesuatu?" Mr.J menatap Rey penasaran.
"Tidak, Tuan. Aku akan menjaga Sintia disana, tidak perlu repot mengirimkan anak buahmu atau mereka akan curiga dan menyerang kita lebih dulu." Usul Rey.
Mr.J mengangguk setuju, kemudian menepuk bahu Rey pelan.
"Jaga permataku!" Sambil menunjuk Sintia.
Pembicaraan diakhiri dengan Rey yang langsung bergegas menjalankan rencana, dengan langkah pertama ia akan membawa Sintia masuk ke dalam rumah Jeremy dan pamannya Jenni.
Setelah itu, hanya tinggal menunggu waktu yang tepat bagi Rey untuk mengelabui Jeremy dengan Sintia agar bisa mengambil berkas kekuasaan para mafia.
Semua demi dirimu, Jenni!
Dengan senyuman yang terus tersungging di bibirnya Rey tak henti-hentinya memikirkan Jenny, ia sudah tak sabar menunggu waktu yang akan tiba saat suatu saat nanti ia ingin mengumumkan hubungannya dengan Jenni.
Setelah semua selesai, aku berjanji akan meninggalkan dunia hitam ini!
Bersambung...
__ADS_1
Lagi-lagi, aku hanya bisa up 1x 😭😭😭🙏🏻😁😁😁