
"Acara ini untuk siapa?" Jenni melihat sekeliling ruang Villa, tampak sudah di dekorasi dengan rapi.
Kemudian ia melirik pamannya dan Jeremy yang terlihat mengenakan pakaian rapi dibalut jas berwarna hitam.
Apa ini? Kenapa semuanya jadi begini?
Menyadari apa yang akan terjadi, Jenni segera berlari kembali keluar villa. Yang ia tuju saat ini tidak diketahui selain harus melarikan diri dari cengkeraman paman dan juga sepupunya itu.
"Jennifer tunggu!" Jeremy mengejar sambil meneriaki Jennifer.
"Kejar dia! Tangkap dia!" Pamannya Jennifer menyahut dari belakang. "Jangan sampai dia lolos!" Berteriak lagi, Jenni sendiri terus berlari sekuat tenaganya sadar akan masalah yang bisa menghancurkan dirinya jika tetap disana.
Jenni telah mencapai sebuah halte bus, dimana disana sedang ramai terdapat banyak orang menunggu bus juga.
Ia menjadikan keramaian itu sebagai sebuah kesempatan untuk menghilang dari kejaran anak buah pamannya dan Jeremy.
Di tengah keramaian itu, Jenni melihat seorang pria berpakaian serba hitam. Ia segera menghampirinya dan memeluknya.
"Lindungi aku! Tolong sembunyikan aku!" Dengan raut wajah ketakutan dan suara bergetar.
Pria itu langsung menyembunyikan Jenni di balik jubah berwarna hitamnya dan membawa Jenni menuju mobilnya.
"Lajukan mobilnya!" Perintahnya saat sudah berada di dalam mobil.
Entah kemana pria itu membawa Jenni pergi, akan tetapi selama di perjalanan Jenni bersumpah akan melakukan apa saja demi membalas kebaikannya.
Kini mobil berhenti di sebuah halaman luas rumah besar bertingkat tiga, membuat Jenni takjub memandangnya.
"Tuan, aku sangat berterima kasih padamu!" Ucap Jenni sambil bersujud di hadapan kakinya.
"Tentunya kebaikan itu tidaklah gratis dalam hidupku!" Jawab pria itu dengan suara khas yang Jenni kenali.
Hati Jenni terenyuh, jantungnya seakan berhenti berdetak padahal detaknya sangat kencang hingga Jenni tak menyadarinya.
"Rey?" Gumamnya sambil perlahan mendongakan wajahnya menatap sosok pria berpakaian serba hitam itu.
Namun sayang, Jenni harus menelan kekecewaan karena pria itu menutupi wajahnya dengan topeng hingga hanya memperlihatkan bibir dan sebagian hidungnya saja.
"Bagaimana? Apa kau bersedia?" Tanya pria itu tiba-tiba pada Jenni.
"Eh, apa?!" Jenni menunduk ketakutan karena ia tak sadar sejak tadi pria itu membicarakan perihal apa yang harus Jenni lakulan untuk membalas kebaikannya.
"Kau harus jadi simpananku sebagai balasan kebaikanku." Mengulangi ucapannya dengan nada jengkel.
__ADS_1
Sementara Jenni tampak berpikir, ia tak menyangka akan dihadapkan lagi pada situasi seperti ini.
"Simpanan?" Mengulangi kata itu, bahkan dalam hatinya mengulanginya berkali-kali. Hingga teringat pada sosok Reytan Hocane.
Pria yang telah ia lenyapkan lewat ketidaksengajaan.
"Tidak mau? Buang dia ke lautan dalam!" Tiba-tiba berteriak pada beberapa pria bertubuh kekar yang berdiri tidak jauh darinya.
"Tidak, Tuan! Aku bersedia!" Mengambil keputusan secepat mungkin, tanpa memikirkan lagi konsekuensinya.
"Masuklah!" Membuka pintu mobil, kemudian ia ikut masuk dan melajukan mobilnya sejauh mungkin tanpa Jenni ingin tahu kemana akan dibawa pria itu pergi.
Bagi Jenni, ia berada jauh dari Jeremy dan ayahnya itu sudah sangat menguntungkan.
Jenni melirik pria itu dengan berhati-hati, memperhatikan setiap tekstur tubuhnya dan bentuknya. Mulai dari kaki hingga pola wajah.
Ada yang janggal, Jenni seperti mengenal semua itu. Merasa seperti dekat dengan pria itu. Namun kenyataan bertolak belakang dengan apa yang ia harapkan.
Dia bukan Rey, hanya saja memiliki kesamaan!
"Apa yang kau lihat?!" Pria itu membentak Jenni mengetahui Jenni sejak tadi memandangnya seperti kagum.
"Dengarkan baik-baik, kau hanya akan menjadi budakku! Kau harus melayaniku dengan baik atau saat itu juga kepalamu akan terpisah dari lehermu!" Dengan nada mengancam, membuat Jenni lagi-lagi menyesali keputusannya.
Jenni menunduk, sepertinya itu satu-satunya hal yang tepat saat ia berhadapan dengan seorang pria seperti pria disampingnya.
Tiba-tiba mobil berhenti di depan halaman sebuah rumah berukuran kecil, Jenni mengenalnya dengan betul itu rumah siapa.
Ini... Rumahku?!!
Matanya tak berhenti melirik pria itu, hingga tangan pria itu meraih topeng yang dipakainya lalu membukanya membuat Jenni sangat terkejut dan terharu hingga tidak dapat mengendalikan dirinya sendiri.
"Apa yang kau lakukan? Berani sekali kau menyentuhku?!" Berteriak tepat di depan wajah Jenni kemudian mendorong Jenni hingga pelukannya terlepas.
Jenni menatapnya tak percaya, pria yang didepannya itu adalah miliknya.
"Rey, ini aku!"
"Siapa? Rey siapa?!" Dengan nada kasar.
Jenni menggeleng tak percaya, Rey tidak mengenalinya sama sekali.
"Turun! Ingat, namaku bukan Rey! Panggil aku Nicholas, ah iya Tuan Nicholas!" Menunjuk dirinya sendiri sambil tersenyum dengan senyuman mengerikan yang tidak pernah Jenni lihat.
__ADS_1
"Turun! Apa yang kau lihat?" Sambil merogoh saku jasnya mengeluarkan sebuah senjata. "Atau kau ingin aku lenyapkan disini?!" Menodongkannya pada Jenni.
Jenni dengan segera membuka pintu mobil dan turun. Meski di hatinya seperti sudah ada pisau yang menancap, tapi Jenni sangat bahagia bisa melihat wajah pria yang ia rindukan itu.
...****************...
Jenni dan Nicholas sudah berada di dalam rumah kecil milik Jenni.
"Ini rumahmu?" Bertanya dengan nada sinis.
Sebelum Jenni mengangguk, ia kembali membuka mulutnya.
"Sekarang jadi rumahku!" Mata Jenni membelalak, kemudian dengan segera bersujud di kakinya dan memohon.
"Tuan, ini hartaku satu-satunya! Aku mohon jangan lakukan ini!" Diiringi tangis yang terisak.
Namun Nicholas tak menggubrisnya, ia sibuk memainkan pistolnya dan sesekali mengeluarkan pelurunya.
"Permainan yang indah, memohonlah sesuka hatimu! Apa yang dimiliki budakku maka itu otomatis menjadi milikku! Sampai aku memerintah, jangan pernah berani beranjak dari tempat ini sedikitpun!" Perintah Nicholas dengan nada ancaman yang tak main-main.
Kemudian beranjak dan bergegas pergi. Tak lama ia masuk kembali ke dalam rumah. Melemparkan sejumlah gulungan yang terlihat seperti kertas pada wajah Jenni.
"Hiduplah, jangan mati atau kau akan menyusahkan!" Jenni meraih gulungan itu, ternyata adalah sejumlah uang.
Setelah Nicholas pergi jauh, Jenni menangis dengan sangat kencang.
Terlintas sebuah kata-kata lucu yang membuat Jenni tersenyum, ketika Nicholas memberikan sejumlah uang padanya.
"Permainan yang indah, memohonlah sesuka hatimu! Apa yang dimiliki budakku maka itu otomatis menjadi milikku! Sampai aku memerintah, jangan pernah berani beranjak dari tempat ini sedikitpun!"
"Hiduplah, jangan mati atau kau akan menyusahkan!"
Jenni tersenyum mengingat ucapan Nicholas itu, seperti melihat sebuah rasa yang tersisa di dalam ucapan itu.
"Aku yakin Nicholas itu Rey." Mengambil sebuah kesimpulan sendiri.
"Apa dia bilang tadi? Jangan beranjak? Lalu dia bilang lagi hiduplah! Bukankah dia seperti bermain-main dengan perintah?" Jenni bergumam sendiri, hingga akhirnya ia merasa lelah dan masuk ke dalam kamar kecilnya.
Di kamar Jenni tidak tertidur, ia kembali mengingat momen dimana Rey ia obati dengan penuh kasih sayang di atas ranjangnya.
Braak...
"Siapa itu?!"
__ADS_1
Bersambung...