Istri Simpanan Sang Mafia Kejam

Istri Simpanan Sang Mafia Kejam
ISSMK 20


__ADS_3

"Apa kabar Meira, aku kira kau tidak akam berani muncul lagi." Rey mendekati tubuh Meira yang masih menunjukan tanda-tanda kehidupan.


Sementara Meira masih bisa tertawa sinis, meski kedua kalinya Meira membuat nyawanya berada di ujung tanduk, tak membuatnya takut akan kematian.


"Aku baik-baik saja, sekarangpun kau baik-baik saja. Tapi-" Suara Meira tercekat, seiring dengan napasnya yang perlahan melemah.


Rey tertawa sinis, ia meraih tubuh Meira dan menggendongnya menuju lift dan menghentikannya di lantai paling atas gedung rumah sakit.


"Tapi apa?" Dengan masih menggendong tubuh Meira yang perlahan mulai semakin melemah seiring dengan darah yang terus keluar dari luka tembakannya.


"Hanya ada dua pilihan, hidup untuk membantuku atau..." Menunjukan pada Meira tingginya gedung rumah sakit tersebut.


Meira tersenyum, meski dengan keadaan yang sudah tak berdaya ia bertekad tidak akan meminta ampun pada pengkhianat.


Dengan sisa kekuatannya Meira menggigit tangan Rey hingga ia terjatuh sendiri.


Rey membelalakan matanya, kemudian segera menuju lift dan turun untuk melihat jasad Meira.


Tampak jasad Meira sudah di kerumuni banyak orang. Rey menerobos kerumunan itu, meraih jasad Meira dan menggendongnya ke dalam rumah sakit.


Kau licik sekali,


aku ingin membantumu tapi kau mendahului takdirmu sendiri.


Menatap Meira dengan tatapan iba namun puas. Setelah itu Rey membawanya ke kamar mayat.


Setelah selesai dengan urusan Meira,ia langsung bergegas kembali menuju kamar Jenni. Tampak Jenni masih belum sadarkan diri diatas ranjangnya.


Rey melepaskan seluruh alat yang menempel pada tangan Jenni dan menggendongnya keluar rumah sakit dengan mengendap-endap.


"Maafkan aku, tapi kita harus pergi dari sini!" Berbisik sambil memasukan Jenni ke dalam mobil.


...**********...


Perlahan mata Jenni terbuka, pemandangan yang ia tangkap pertama kali adalah bayangan seorang pria yang sedang duduk di samping ranjangnya.


Senyuman terlukis di bibirnya kala melihat pria itu.


"Sudah bangun? Merasa lebih baik?" Pria itu membantu Jenni melepaskan alat pernapasan yang dipakainya.

__ADS_1


"Rey, aku kenapa?" Rey menggeleng, ia tak sanggup menjawab pertanyaan itu. Selain itu, Rey tak ingin bersedih lagi mengingat calon anaknya yang harus tiada.


Padahal selama ini Rey begitu menantikan buah hati dari pernikahannya.


Baru saja Jenni akan memberinya seorang buah hati membuat Rey sangat bahagia. Akan tetapi kedatangan Meira yang sebelumnya Rey duga sudah tiada membuat harapan itu sirna.


Serta membuat dendam dalam hati Rey semakin tinggi.


"Tidak ada apa-apa. Lupakan saja, kita harus berbahagia setelah semua selesai."


Ia meraih tangan Jenni dan mengecupnya mesra. Hingga nada suara ponsel mengalihkan perhatiannya.


Sintia : Pulanglah, aku ada hal penting yang harus kita bicarakan. Aku menunggumu di markas besar.


Pesan itu membuat Rey berat dalam mengambil keputusan. Di satu sisi Jenni yang baru siuman dan di sisi lain ia harus pulang demi kelancaran rencananya.


"Aku harus pulang besok."


...**********...


Pintu lift telah terbuka, tepat di hadapan ruang kamar nomor 30. Dua orang dengan penampilan yang sudah sedikit tak beraturan keluar dari lift itu.


"Jadikan aku wanita seutuhnya," suara serak milik Sintia karena menahan panas di tubuhnya.


Tangannya sudah mengalung pada leher Jeremy yang sedang sibuk membangkitkan gairah dari seorang Sintia.


Jeremy menghentikan aktivitasnya mendengar permintaan Sintia.


Pintu kamar yang masih terbuka ia tutup dan kunci rapat-rapat. Setelah itu Jeremy menuntun Sintia menuju ujung ruangan.


"Apa kau tidak akan menyesalinya?" Setelah itu memberikan kecupan di leher jenjang milik Sintia.


Sintia meraba lehernya yang halus dan mulus tersebut. Kemudian membuka matanya dan menutupnya lagi. Merasakan bagian-bagian tubuhnya yang tadi Jeremy sentuh.


Seindah itu sentuhan seorang pria?


"Sintia?" Jeremy terus memanggilnya yang masih terbuai oleh sentuhan tangannya.


Diam telah Jeremy anggap sebagai isyarat untuk melanjutkan hal tersebut.

__ADS_1


Ia melingkarkan tangannya di pinggang Sintia. Kembali menelusuri setiap inci keindahan yang dimiliki Sintia.


Suami seperti apa yang menyia-nyiakan wanita semulus ini?


Sintia telah sangat terbuai, hingga ia memilih merasakan setiap sentuhan Jeremy.


Jeremy sendiri ikut terbawa suasana, hingga ia merasa sudah harus melakukan apa yang Sintia inginkan selama ini.


"Sadarlah!" Menepuk-nepuk pipi Sintia pelan.


"Apalagi?" Sintia bertanya dengan nada marah.


Jeremy menatapnya tak percaya. Ketidakpercayaannya bertambah saat tangan Sintia meraih pakaian Jeremy dan melepaskan satu persatu kancing kemejanya.


Tangan itu turun ke bawah, mata Sintia menatap mata Jeremy.


"Permintaanku memberatkanmu?" Jeremy menggeleng.


"Baiklah!"


Jeremy melanjutkan lagi aktivitasnya, kini tak selembut tadi. Ia memulai dengan sedikit kasar. Meski begitu membuat Sintia melayang merasakan detik demi detik saat ia akan menjadi wanita seutuhnya.


"Ugh..." Bibirnya melontarkan hal itu seiring permainan Jeremy.


Sintia tak sadar tubuhnya sudah tak ditutup sehelai kainpun.


Jeremy merasa sudah terlalu lama bermain-main, kini ia sudah siap menjadikan Sintia wanita seutuhnya.


Ia mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Sintia dan memulainya secara perlahan.


Punggungnya tak lepas dari kuku Sintia yang menancap menahan rasa perih. Namun tak Jeremy hiraukan. Ia terus melanjutkan permainannya.


...**********...


**Bersambung...


Up sedikit, tapi beruntung masih bisa up juga.


Sebenarnya author lelah menulis disini, karena seperti di anak tirikan. Pernah terbesit di hati author mau pindah platform sebelah yang sama kaya disini gak pake koin.

__ADS_1


Apakah kalo author pindah kalian bakal ikut pindah juga**?


__ADS_2