
Jenni memalingkan wajahnya, ia sudah pasrah bila akhir hidupnya akan segera tiba.
Tanpa diduga Rey memberikan kertas itu kembali pada Jenni dan menempatkannya di tangannya.
"Lagipula, kertas kosong untuk apa kau bawa sampai gugup seperti itu?!" Dengan nada penasaran.
Namun Jenni membelalakan matanya dan melihat kertas itu. Memang benar-benar kosong, hatinya semakin tak karuan. Ia tidak ketahuan Rey, tapi bingung mengenai kemana kertas data-data Rey dan Meira.
"Kertas kosong untuk apa?" Mengulangi pertanyaan berbeda namun dengan inti yang sama.
Jenni menggeleng, ia memilih membatalkan kepergiannya dan mencari kertas yang tadi di bawanya.
"Kenapa sekarang kau malah duduk? Bukannya tadi akan pergi?" Jenni menggeleng.
"Tidak jadi, aku seperti tahanan saja yang diikuti saat akan keluar." Dengan nada ketus.
Rey tersenyum geli melihat ekspresi Jenni yang sepertinya marah padanya. "Kau terlihat lucu saat sedang marah."
Jenni memaki Rey dalam hati.
"Dan kau terlihat..."
Terlihat lucu jika suatu saat mati di tanganku!
Jenni tidak meneruskan kata-katanya, sebaliknya ia bergegas masuk ke dalam kamar pribadi dalam lapang itu yang lokasinya sebenarnya berada di bawah tanah.
Rey mengikuti Jenni, namun berhenti saat melihat Meira sudah berdiri di depan ruang istirahat.
"Rey, aku pikir kau kemana!" Memeluk Rey, kemudian menciumi lehernya.
Rey merasa jijik dengan Meira, sehingga ia lebih memilih tidak membalas pelukan itu.
"Ada apa?" Bertanya dengan nada curiga, membuat Rey lagi-lagi malas untuk meladeninya.
"Kau yang ada apa kesini? Tidak biasanya." Dengan nada menyindir. Meira malah tergelak, seperti melihat Rey sedang membuat lelucon lucu.
Rey tidak tertawa sedikitpun, ia kini bingung jika Jenni tiba-tiba keluar dari ruang bawah tanah Rey takut Meira akan menyakitinya.
Tapi Rey bersyukur, ketika ia bingung salah satu anak buahnya mengerti dan bergegas melaksanakan perintah yang ia mengerti dari raut wajah Rey.
Namun, tanpa ia duga Jenni sudah berjalan menuju ruangan Rey untuk meminta izin pergi.
__ADS_1
"Nona Jenni, tunggu!"
Jenni berhenti melangkah.
"Anda akan pergi bukan?" Dijawab dengan anggukan kepala. "Sebaiknya kita pergi sekarang, di dalam ada nona Meira."
Jenni yang mengerti bahwa Rey sedang berusaha menyembunyikannya justru malah bertekad untuk menemui Meira.
Teriakan tak ia hiraukan, Jenni terus berjalan menuju ruangan yang sudah memperlihatkan Rey dan Meira sedang bermesraan diatas sofa.
Cih, menjijikan!
Seharusnya aku tidak membuat
tangannya menyentuhku!
Jenni memalingkan wajahnya, berusaha menetralisir rasa dalam hatinya yang tiba-tiba merasa kesal melihat kemesraan antara Rey dan Meira.
Tok tok tok...
Jenni mengetuk pintu dengan keras, membuat Meira menunjukan raut wajah kekesalannya saat melihat sosok Jenni.
"Kau masih disini?" Tak dijawab ia beralih pada Rey.
"Aku butuh dia," jawab Rey acuh.
Raut wajah Meira semakin terlihat kesal, membuat Jenni semakin percaya diri untuk membuat Meira tambah hancur.
"Tuan Rey, aku pergi dulu. Jangan lupa nanti malam di tempat seperti biasa!" Mengedipkan sebelah matanya, Rey terkekeh kemudian langsung mengangguk mengizinkan.
Tak lupa memberi isyarat pada anak buahnya untuk menjaga Jenni dari jauh agar Jenni tak merasa risih.
Meira mengerutkan dahinya, melihat perhatian Rey pada Jenni yang nampak berbeda.
"Rey, kau memberinya penjagaan dari jauh, kenapa? Aku saja jika pergi tidak pernah dijaga secara ketat tapi Silva..."
"Cukup, aku harus melakukan ini karena ada sesuatu dalam dirinya yang membuat dia harus selalu diawasi!" Bohong Rey sebelum pertanyaan Meira merambat ke arah lebih jauh lagi.
Namun Meira bukanlah Meira seorang anak mafia besar, sepulang dari lokasi latihan Rey ia langsung menemui kedua orang tuanya yang kawasannya tidak jauh dari rumahnya.
"Dia memberikan penjagaan pada gadis lain?" Ayahnya Meira mengepalkan tangannya.
__ADS_1
"Ayah, bukan hanya itu. Tapi dia juga... Sering bersama wanita itu. Bahkan Rey berubah setelah membawa wanita itu!" Mengadukan apa saja yang terjadi setelah keberadaan Jenni dalam hidupnya dan Rey.
Ayahnya Meira memanggil beberapa orang, lalu meminta ponsel Meira yang memiliki foto Jenni.
"Bawa kepalanya ke hadapanku!"
...****************...
Jenni masih dalam perjalanan pulang, setelah memberikan data-data Rey dan Meira beserta keluarganya.
Ia terkejut saat sebuah mobil berwarna hitam tiba-tiba berhenti di depan mobilnya.
"Turun!" Sambil mengetuk-ngetuk kaca mobil.
Nyali Jenni menciut, ia bahkan menyesal karena lupa membawa senjata. Akibatnya, Jenni akhirnya memilih turun dan mengikuti orang yang menyuruhnya turun.
Dor...
Tembakan terdengar, membuat Jenni memalingkan wajahnya ke arah penembak.
Tapi, yang lebih mengejutkan pria di hadapannya tiba-tiba terjatuh dan tak sadarkan diri.
Mengetahui siapa yang telah menembaknya, Jenni langsung naik kembali ke dalam mobil dan melajukannya secepat mungkin.
Di dalam apartemen yang dikatakan Rey dalam telepon, Jenni merasa kesal lantaran sudah disambut dengan pemandangan yang membuat tubuhnya menggigil seketika.
"Jauhkan ini dariku!" Teriak Jenni sambil menutup matanya dan menutup hidungnya dengan tangan.
"Kenapa?" Rey berdiri, meraih rambut panjang Jenni.
"Apa ini? Kenapa kau membawa kepal* orang itu kesini?"
Ya, sebuah kelapa (maaf dibalik ya biar gak kena sensor) tergeletak diatas meja. Itu adalah milik orang yang tadi berusaha mencelakakan Jenni di jalan.
"Kau tahu siapa yang menyuruhnya di jalan tadi?" Jenni menggeleng cepat.
Rey memberikan ponselnya yang sudah memutar video, membuat Jenni mengepalkan tangannya.
"Hei!"
Bersambung...
__ADS_1
Maaf ya tidak sebanyak biasanya 😁😁😁