
Jenni menatap kedua orang yang tengah duduk sambil melahap makanan yang sudah tersaji di atas meja makan, tatapannya tidak biasa, namun memikili sebuah kekaguman.
"Wow, bagaimana bisa ayah dan anak memiliki kesamaan yang sangat sama?!" Serunya membuat dua orang tersebut langsung menyimpan sendok yang di pegangnya.
"Wajar!" Seru keduanya sambil menatap Jenni.
Jenni yang juga sedang melahap makanan langsung tersedak, seketika Davin dan Kenan, putra satu-satunya Jenni dan Davin langsung menyodorkan segelas air minum dan menepuk-nepuk punggung Jenni.
"Jangan bicara saat sedang makan!" Peringat Davin sambil mengelus punggung Jenni.
Jenni meneguk segelas air itu, hingga saat sudah habis ia langsung menyengir kuda.
"Sudah siang, ayah tolong antarkan aku ke sekolah." Ucap Kenan dengan tatapan yang masih menatap Jenni.
Davin mengangguk, kemudian meraih tas kerjanya dan merangkul Kenan menuju keluar rumah.
Sudah sepuluh tahun, Jenni dan Davin memiliki Kenan dan sudah sepuluh tahun juga Davin dan Jenni menyembunyikan identitas mereka sebagai tim agen rahasia pada Kenan.
Keduanya mencoba terus menyembunyikan fakta tersebut, tak ingin putranya ikut masuk ke dalam dunia hitam serta posisi yang dapat kapan saja membahayakan nyawa Kenan.
Maka sejak saat itu, Davin dan Jenni menyembunyikannya dengan dalih akan pergi bekerja. Padahal sebenarnya bekerja untuk memata-matai para mafia yang tidak bekerja dama dengan tuan Deva.
Hingga pada suatu hari, tanpa disadari keduanya sesuatu yang aneh membuat Jenni dan Davin mulai sadar, bahwa Kenan berbeda.
Semakin hari, perbedaan itu semakin nyata, dimana Kenan menjadi pendiam dan selalu pulang terlambat setiap kali pulang sekolah.
Seperti hari ini, sudah dua jam dari jadwal pulang sekolah, Kenan baru pulang. Hal itu membuat Jenni curiga dan berniat menginterogasi putranya itu dengan pertanyaan-pertanyaannya.
"Darimana saja? Bukankah jadwal pulang sekolah 2 jam yang lalu?"
Kenan hanya menyengir kuda. Tak menjawab pertanyaan Jenni. Namun Jenni yang sudah curiga dan penasaran menghadang Kenan, saat Kenan akan masuk ke dalam kamarnya.
"Ibu bertanya padamu!" Tegas Jenni yang membuat Kenan menunduk.
Dari arah kamar, keluar Davin yang baru saja selesai mandi.
"Ada apa? Kenapa kau memarahinya begitu? Dia kan baru pulang sekolah!" Tegur Davin sambil mengibaskan rambutnya ke belakang dengan tangannya.
Jenni tidak menjawab Davin, ia masih menatap tajam Kenan.
Di mata Kenan sangat terlihat ada rahasia besar yang di sembunyikan oleh Kenan. Maka dari itu, Jenni berusaha keras membuat Kenan bercerita padanya.
"Aku ada belajar kelompok bersama teman-teman, Bu." Jawab Kenan setenang mungkin.
Jenni tak percaya begitu saja, berbeda dengan Davin yang terlihat percaya pada putranya.
__ADS_1
"Ibu tidak percaya!"
"Sudahlah, Jen! Dia berkata jujur!" Tegur Davin lagi.
Jenni terpaks berpura-pura percaya, namun dalam hatinya ia akan menyelidiki lebih lanjut tentang Kenan.
...****************...
Esoknya, Jenni diam-diam masuk ke sekolah Kenan. Saat jam istirahat Kenan, Jenni menyamar sebagai pelayan kantin dan melihat Kenan yang duduk berkumpul bersama temannya.
"Kau sangat hebat, Ken! Terima kasih, untuk kemarin saat kau menyelamatkanku! Jangan lupa, kita berkumpul di markas seperti biasa!" Seru seorang anak wanita berparas cantik namun memiliki mata yang tajam.
Markas? Apa maksudnya markas? Apakah setiap pulang terlambat dia berkumpul di markas?
Jenni menyudahi intaiannya, saat bel masuk kelas berbunyi. Dengan segera ia bergegas pulang dan menelepon Davin.
"Kita harus bicara tentang Kenan!" Ucapnya tegas sambil mematikan teleponnya.
Sesampainya di rumah, tampak Davin sudah menunggu sambil duduk di atas kursi.
"Apa yang ingin kau katakan?"
Jenni segera menceritakan segalanya, kali ini Davin mulai seperti Jenni, menaruh curiga pada Kenan yang membahas tentang markas bersama teman-temannya.
"Kita harus menyelidikinya lebih lanjut, sebelum Kenan masuk ke dalam dunia hitam."
Akhirnya terlihat Kenan keluar dari gerbang sekolah, memasuki sebuah mobil berwarna hitam metalik. Mobil melaju, Davin dan Jenni segera ikut melaju mengikuti mobil itu.
Cukup lama mobil itu melaju, hingga akhirnya berhenti di depan sebuah tempat mirip apartemen namun bukan apartemen melainkan tempat yang dulu Jenni dan Rey gunakan sebagai markas besar para mafia.
"Kita salah, pindah ke daerah ini lagi!" Lirih Jenni dengan penuh penyesalan.
Davin meraba dadanya, merasa sesak saat akan menghadapi kenyataan akan putranya.
"Kita harus membawanya, sebelum suatu hari nanti Kenan lebih terjerumus lagi pada dunia mafia."
Jenni mengangguk, lalu ia menyandarkan kepalanya pada kursi mobil. Menghela napas panjang dan mengeluarkannya kasar.
"Kita tunggu dia keluar, lalu kita akan membawanya pulang."
Cukup lama menunggu, hingga akhirnya Kenan keluar dari tempat itu. Jenni segera turun bersama Davin.
Kenan sangat terkejut melihat kedatangan Jenni dan Davin.
"Ayo, kita akan pulang. Kita harus membereskan barang-barang kita untuk pindah ke tempat baru."
__ADS_1
Kenan membelalakan matanya, ia tak percaya bahwa ayah dan ibunya memutuskan pindah secara mendadak.
Tanpa mendengarkan jawaban Kenan dan pertanyaan-pertanyaannya, Jenni dan Davin menarik paksa Kenan masuk ke dalam mobil.
Sampai di rumah, mereka segera membereskan barang-barang dan pakaian mereka. Kemudian bergegas memasukannya ke dalam bagasi mobil.
Hingga tengah malam, saat semua sudah di bereskan dan diamankan Davin dan Jenni pergi membawa Kenan ke sebuah tempat yang jauh dari perkotaan.
Posisi mereka berada di sebuah rumah kayu yang terlihat mewah dengan lokasi di tengah-tengah kebun teh yang nampak indah dan sejuk.
Kenan sendiri masih kebingungan dengan keputusan pindah mendadak orang tuanya tersebut.
"Kenan, kita harus bicara!"
Ketiganya berkumpul di ruang tamu, saling menatap dengan tatapan yang tidak dapat diartikan.
"Sejak kapan kau bergabung dengan anak dari para mafia?" Kenan membelalakan matanya, terkejut karena ibunya sudah mengetahui rahasianya.
"Berjanjilah pada kami, bahwa kau tidak akan berhubungan lagi dengan dunia hitam itu! Karena itu sangat berbahaya, kami juga-" Ucapan Jenni terhenti, ia menggigit bibirnya dengan sangat keras.
Davin melirik Jenni, menganggukinya dan memberinya isyarat untuk tidak menceritakan apapun.
"Apa, Bu? Bagaimana bisa ibu tahu-"
"Kau tidak perlu tahu! Lebih baik dengarkan ibu! Berjanjilah untuk tidak masuk ke dalam dunia hitam itu! Jika tidak.... Maka kau akan menyesal!" Ancam Jenni dengan suara tegas.
"Siapa yang berani mengenalkanmu pada hal-hal seperti itu? Dan bagaimana bisa, kau masuk ke dalam dunia mafia?"
Kenan menunduk, dalam wajahnya ada penyesalan. Kemudian ia mengangkat kepalanya, menatap Jenni dalam-dalam dan melirik Davin meminta bantuan.
"Kenan!" Tegur Davin.
"Ibu, sebenarnya...-"
**Ini bonus chapter ya!!! Nanti akan ada season 2 nya cerita tentang Kenan anaknya Jenni dan Davin.
Blurb/Sinopsis :
Kenan, seorang Mafia yang sangat misterius sosoknya. Semua orang mendengar namanya, namun tidak dengan sosoknya.
Hanya orang-orang tertentu yang bisa bertemu dengannya secara langsung. Setiap ia menginjak dunia luar selalu menyembunyikan identitasnya dan berpura-pura sebagai pria yang memiliki kekurangan besar.
Suatu hari ia di pertemukan dengan seorang gadis polos dan lugu yang hanya berpura-pura, padahal tujuannya untuk memata-mata dan mencari tahu siapa sebenarnya sosok Kenan Hocane.
Kenan jatuh hati padanya dalam penyamarannya, hingga sebuah pilihan dalam hidup membuatnya dilema.
__ADS_1
Bagaimana kisah mereka? Tunggu ya di season 2 Istri Simpanan Sang Mafia Kejam yang akan realese bulan November. Sambil menanti, akan ada novel baru author yang akan realese tanggal 15 Agustus. Judulnya : Terpaksa Menikah Lagi, sekuel dari novel Siran (Kisah Cinta sang Musisi).
Bonus chapternya masih ada yaa 5 bab lagi sampai bab 50**.