
Brak
Pintu mobil di banting dengan sangat keras oleh Jenni, tak peduli Rey yang semakin bingung dengan sikapnya.
Sebuah pesan muncul di ponsel Davin yang kini di pegang oleh Jenni.
Jangan membuatnya curiga, kita sudah satu langkah di depan!
Pesan itu berhasil membuat Jenni menenangkan sedikit amarahnya pada Rey, ia mencoba menenangkan dirinya juga.
Jangan khawatirkan apapun, ayah dan ibumu sudah aman. Kita hanya tinggal menunggu waktu yang tepat.
Lagi-lagi notifikasi pesan muncul. Dering yang berbeda membuat pandangan Rey tertuju terus pada Jenni.
Jenni yang menyadari pandangan Rey, langsung memasukan ponselnya ke dalam saku dan mengeluarkan ponsel lainnya.
Disaat yang tepat juga, ponsel Rey berbunyi. Bunyi khas tandap pesan masuk. Rey tersenyum, kemudian melirik Jenni di kursi penumpang sebelahnya.
"Aku ada disampingmu, kenapa kau mengirim pesan padaku?"
Jenni sedikit terkejut, kemudian menyadari bahwa itu bagian dari rencana Davin.
"S***e garden, kau mengajakku ke sana?" Jenni mengangguk pasrah, kemudian menghubungi Davin.
"Kami sudah siap disana, jangan khawatir! Persiapkan senjatamu saja!" Sahut Davin menjelaskan rencananya sebelum Jenni berucap sedikitpun.
Jenni mengatur napasnya yang tidak stabil, mengikuti setiap rencana yang dibuat Davin tanpa membuat Rey curiga sedikitpun.
Pesan kembali masuk ke ponsel baru Jenni.
Gudang senjata milik Rey, tanyakan lokasi itu padanya saat kau berada di sana nanti.
Tanpa membalas, Jenni mengangguk saja.
Perjalanan hampir memakan waktu satu jam. Akhirnya kini Jenni sampai di tempat yang telah di atur Davin.
Jenni melirik kesana kemari, mencari keberadaan Davin dan anak buahnya namun tak dapat menemukannya. Akhirnya Jenni memutuskan duduk di atas kursi yang telah disediakan.
Beberapa pelayan dan penghibur langsung menghampirinya dan Rey. Rey tersenyum pada pelayan yang bertugas menyanyi setiap melayani pelanggan.
Salah seorangnya memberikan setangkai bunga mawar pada Jenni sambil menunjuk bagian kuncup bunga mawarnya.
Jenni sadar, bahwa pelayan itu adalah anggota tim agen rahasia yang sedang menyamar.
Jenni pun mengangguk dan membuka gulungan kuncup bunga mawar di sela-sela Rey yang sibuk berbincang dengan pelayan.
Aku ada di kebun bunga, jika sempat temui aku! Ada yang harus kita bicarakan. Jangan lupa, keberadaan senjata milik Rey harus kita ketahui untuk persiapan.
"Rey," panggil Jenni memulai misi yang telah Davin berikan.
Rey menyudahi pesanan makanannya, kemudian melirik Jenni dan menatapnya penasaran.
"Senjata yang kau berikan aku sudah bosan, apa aku-"
__ADS_1
"Aku akan memberimu senjata yang baru." Potongnya tak membiarkan Jenni menyelesaikan ucapannya.
Jenni menggigit bibir bawahnya, wajahnya khawatir tak bisa mengetahui dimana keberadaan senjata-senjata milik Rey.
"Begini, aku ingin memilih."
Rey yang baru menunduk kini mendongakan lagi kepalanya. Menatap Jenni curiga.
"Banyak bukan, senjata yang dimiliki seorang mafia? Termasuk berbagai macam jenis senjatanya." Rey membuang tatapan curiganya.
"Jika begitu, aku akan membawanya ke rumah."
"Tidak! Mengertilah!" Protes Jenni cepat. "Aku ingin berkunjung langsung ke gudang senjatamu, aku harap kau mau memberitahu dimana letak gudang senjatamu! Agar saat aku ingin berkunjung tidak perlu lagi menunggumu."
Lagi-lagi, Rey menatap Jenni dengan curiga.
Meski ia curiga, bukan Rey namanya jika tidak mengikuti perintah wanita-wanitanya. Terutama perintah Jenni.
"Baiklah, hari ini juga aku akan mengantarmu. Tapi..." Senyum menyeringai terlukis di bibirnya.
"Malam ini milik kita berdua."
Deg
Ucapan itu membuat Jenni ragu untuk ikut, sementara Davin yang sejak tadi sebenarnya ada di saja dengan penampilan samaran sebagai badut di dalam kostumnya nampak khawatir dengan permintaan Rey pada Jenni.
Ini yang tidak aku inginkan, kenapa Jenni harus selalu mengorbankan dirinya?! Arrgggh, pikirkan cara untuk mencegah malam itu terjadi, Davin!
Selama beberapa saat Davin berpikir, hingga akhirnya ia menemukan cara untuk menghindari malam antara Jenni dan Rey.
Jenni masih diam saat Rey mengutarakan keinginannya, sudah lama Jenni ingin selalu menghindari itu. Akan tetapi kini malah hal itu harus ia lakukan lagi.
"Ya." Jawab Jenni.
Tak berselang lama, pesanan makanan sudah datang. Rey melahap makanan itu dengan cepat. Berbeda dengan Jenni.
Ia merasa semua makanan yang masuk ke mulutnya seperti karet dan kerikil yang membuat tenggorokannya sakit dan enggan untuk mencerna semua makanan itu.
Setelah selesai, keduanya sudah berada di dalam mobil.
GPS sudah terpasang, aku akan melacak kalian dan akan kesana setelah kalian pulang.
Pesan kembali masuk dari Davin.
Ya, Davin.
Jenni hanya mampu membalas itu, di sisi lain hatinya merasa sakit dan menyesal masuk ke dalam kehidupan serumit ini.
Kenapa kau tidak hadir lebih dulu, Davin! Mungkin saat ini aku dan kau-... Ah, kenapa kau jadi berharap pada Davin, Jen!
"Kita berangkat sekarang?" Sebuah suara mengejutkan lamunan Jenni akan sosok Davin.
Jenni mengangguk, ia memasrahkan dirinya kali ini. Apapun yang terjadi, Jenni berharap itu berhasil membawanya pada cahaya. Meski harus mengorbankan lagi hal itu.
__ADS_1
...*********...
"Pilihlah, ada banyak untukmu!" Rey menunjuk lemari besar yang terpajang banyak senjata. Ponsel sudah merekam dengan jelas semuanya, lalu Jenni kirimkan pada Davin.
Di sisi lain, Davin sedang mengatur rencana untuk menyelamatkan Jenni dari malam bersama Rey nanti.
Di belakangnya sudah ada anggota tim yang siap menjalankan perintah Davin sebagai pimpinan.
"Lokasinya tidak jauh dari tempat kita berpijak saat ini, aku harap kalian kembali dalam keadaan selamat. Jika ada yang darurat, hubungi pusat tim untuk bantuan tambahan."
Para anggota mengangguk patuh.
"Bawa seluruh peluru, jangan sisakan satupun. Senjata tajam kalian bisa memanipulasi dengan mengubahnya dan menukarnya. Kemampuan kalian tidak kecil, jadi kalian pasti bisa! Sementara aku, aku akan melakukan hal besar yang menyangkut nyawa Jennifer. Jika aku tidak kembali sampai esok pagi maka kalian harus berjanji untuk melindungi Jenni dan membantunya dalam mencapai tujuannya." Panjang lebar Davin menjelaskan, kini ia sudah bersiap dengan senjata di dalam pakaiannya.
Sementara anggota tim agen rahasia sudah berangkat untuk menjalankan misi yang diberikan Davin.
Davin membuka ponselnya terlebih dahulu, meminta posisi Jenni. Setelah itu ia memberi pesan darurat pada anggota timnya.
Jika keadaan sangat darurat, buatlah sebuah ledakan!
...*********...
Jantung Jenni berdegup kencang. Rey sudah membuat Jenni terkunci diantara dirinya dan dinding kamar hotel.
Ingin sekali Jenni menjerit dan menangis, namun itu tak berguna untuk membuat posisinya aman. Tapi itu berguna untuk membuat hidupnya berakhir sia-sia, pikir Jenni.
"Malam ini, milik kita." Bisik Rey di telinga Jenni.
Hembusan napas Rey bisa Jenni rasakan di lehernya, sementara kepala Rwy semakin tertunduk. Bibirnya sudah hampir menempel di leher mulus miliknya.
"Jenni-"
Prang....
Kaca kamar hotel itu pecah berkeping-keping dan berserakan, beberapa kaca melukai leher Jenni, membuat darah mengucur seketika.
Dor
Dor
Dor
Beberapa kali suara tembakan terdengar, membuat Rey langsung mengambil pistol tak menghiraukan Jenni yang meringis kesakitan karena luka di lehernya.
"Tunggu disini, aku akan meminta seseorang mengobatimu dan aku akan mencari siapa yang melakukan ini!" Seru Rey sambil bergegas keluar.
Jenni mengangguk, kemudian menyentuh lehernya yang berdarah. Ia hampir saja jatuh karena tak kuat dengan lukanya.
Namun itu tak terjadi, saat sebuah tangan meraihnya dan mengangkat tubuhnya kemudian membawanya pergi.
"Maaf, maafkan aku!"
"Aku tidak berniat melukaimu, aku hanya ingin-"
__ADS_1
Bersambung...
Sudah ada api cemburu di hati Davin, pilih Davin dan Jenni apa Rey dan Jenni? Atau Davin dan Author 😂😁🤣🤣🤣🤣🤣 Canda, jangan lupa loh dukungannya!!!