Istri Simpanan Sang Mafia Kejam

Istri Simpanan Sang Mafia Kejam
ISSMK 9


__ADS_3

"Kenapa kau marah padaku?!" Rey memundurkan langkahnya, melihat tangan Jenni sudah mengepal di depan wajahnya.


Jenni menurunkan tangannya kemudian pergi dari hadapan Rey begitu saja. Ia tak habis pikir bagaimana bisa mereka sekejam itu padanya.


"Mereka itu mafia, Jenni! Kau juga akan menjadi Mafia." Jenni berhenti melangkah, melirik Rey yang ada di sebelahnya.


"Lalu?" Dengan nada acuh yang membuat Rey menjadi gemas padanya.


Rey mendekati Jenni. Kemudian meraih tubuhnya dan memeluknya serta menciumi leher Jenni.


"Kau juga harus bisa membawa seperti yang aku bawa." Jenni meringis, jangankan bagian-bagian ia melihat darahpun sudah membuatnya pusing dan mual.


Mungkin karena tekad, Jenni bisa tahan di kelilingi darah dan senjata yang sangat berbahaya.


"Jangan dibayangkan, jika kau tidak ingin melihatnya tidak perlu dilihat!" Rey memperingati, namun Jenni tetaplah manusia yang tidak mungkin menyakiti orang yang tidak punya salah.


Apa yang Rey katakan, mengenai kepala musuhnya sejauh ini Jenni hanya bermusuhan dengan Rey, Meira, dan keluarganya saja.


Ayolah Jenni, kau itu balas dendam bukan ingin menjadi mafia!


"Aku tidak mau!" Ketus Jenni sambil melepaskan pelukan Rey dan melangkah memasuki kamar. Rey mengikutinya, sampai di kamar Jenni melakukan kebiasaannya selama di rumahnya sendiri.


Ia menghidupkan televisi, kemudian memutar saluran televisi yang hanya menyiarkan berita.


Berita malam ini sedikit mengguncang Rey, dimana beritanya menyiarkan tentang sekelompok mafia kejam yang sedang di cari-cari.


Rey melirik Jenni yang masih terlihat santai di atas ranjang, seolah tak peduli apapun. Rey tambah terguncang saat logo geng mafianya ikut menjadi daftar yang dicari saat ini.


Apa yang terjadi? Bagaimana bisa ini diketahui oleh orang lain?


Apakah wanita ini yang...


"Jennifer! Apa kau yang melakukan ini?" Mengambil pistol yang berada di laci, lalu menodongkannya pada Jenni yang masih bersikap santai.


Jenni hanya melirik sekilas, kemudian menggeleng masih dengan berlaga santai.


"Jennifer, bisa-bisanya kau seperti ini, kita sedang dalam bahaya! Geng mafia kita sudah dalam pencarian polisi!" Rey membentak, membuat Jenni turun dari ranjang dan berdiri tegak.


"Geng mafiamu sendiri, bukan kita!" Bantah Jenni yang membuat Rey menahan amarahnya seketika.


"Aku tidak terlibat apapun, aku disini istrimu bukan anak buahmu!" Jenni menegaskan.


Rey mengacak rambutnya kesal, kini ia harus memikirkan hal yang akan membuat kelompoknya aman.


"Sekarang pikirkan sesuatu!" Perintah Rey sambil berjalan kesana-kemari tampak gelisah.


"Dalam dua puluh empat jam jika kita tidak segera pergi kita akan tertangkap!" Berbicara dengan nada suara begetar.

__ADS_1


Jenni memandang Rey dengan senyuman sinis, kemudian membelai pipinya dengan lembut.


"Sudah aku bilang, kau yang akan tertangkap bukan aku! Aku tidak terlibat sedikitpun!"


Rey membelalakan matanya, kemudian meraih dagu Jenni dan mencengkeramnya dengan sangat keras. Membuat Jenni meringis kesakitan.


"Pasti kau yang memberitahukan semua ini, bukan?" Jenni melepaskan cengkeraman itu, membuat Rey semakin geram ketika Jenni tidak menjawab apa yang ditanyakan Rey.


Jenni melangkah dengan santai ke arah lemari, kemudian mengeluarkan beberapa pakaian Rey dan memasukannya ke dalam koper.


"Ayo kita pergi!" Menarik tangan Rey, membawaya keluar.


Namun terlambat, kediaman Rey nyatanya sudah di kepung oleh polisi.


"Itu dia Reytan, dia ingin meloloskan diri!" Rey segera berlari, ketika polisi melihatnya. Namun ia berhenti ketika melirik ke belakangnya Jenni tidak ada di sana.


"Jenni?! Kau dimana! Ayo cepat pergi!" Teriaknya. Tak kunjung menemukan Jenni, ia berlari saja menuju mobil sendiri.


Sementara di ruang perkumpulan bawah tanah, Jenni tertawa puas. Ia mengira Rey sudah ditangkap polisi.


Ketika anak buah Rey sudah berkumpul, Jenni berlaga seolah-olah ia sangat sedih karena Rey sudah ditangkap.


"Bagaimana ini?"


Semua tampak bingung. Hanya Jenni yang sebenarnya hanya bersandiwara kebingungan.


"Jennifer!"


...****************...


Rey harus menerima kenyataan pahit, ia sudah tertangkap oleh polisi. Dalam hatinya berharap Jenni akan datang dan membebaskannya.


Ia percaya, bahwa Jenni mencintainya dan tidak akan membiarkannya berada di balik jeruji besi dalam waktu lama.


"Jangan berharap, yang melaporkanmu orang besar!" Bagian penjaga mengingatkan Rey.


"Lucas Sweericha, mertuamu saja memasukanmu ke dalam jeruji besi, maka jangan berharap bebas. Kecuali bebas dalam arti lain!" Yang di maksud oleh penjaga itu adalah kematian.


Bisa Rey ingat, memang benar jika mertuanya itu sudah memasukan seseorang ke dalam jeruji besi maka tidak akan ada yang bisa bebas kecuali orang itu mati baru ia akan di bebaskan.


"Bagaimana bisa dia melaporkanku? Sedangkan dia tidak memiliki masalah denganku." Bertanya sambil mengingat apakah dirinya punya salah atau tidak, pada mertuanya itu.


Sementara penjaga melihatnya sambil tersenyum penuh arti.


"Tanyakan itu sekarang pada Lucas, dia ada disini untuk bicara juga denganmu!"


Rey menatap penjaga itu dengan tatapan terkejut, tapi tetap mengikuti arahan yang diberikan.

__ADS_1


Tampak Lucas sudah duduk sambil tersenyum pada Rey.


"Bagaimana? Itu adalah balasan karena telah mengkhianati putriku bersama wanita yang kau pungut dari jalanan itu!" Dengan nada sinis.


"Apa maksudmu, ayah mertua? Aku tidak ada apapun dengan Silva."


"Jangan berpura-pura, namanya Jennifer bukan Silva! Dia anak dari orang yang dulu kita habisi!" Rey membelalakan matanya, ia merasa tak percaya dengan apa yang mertuanya katakan.


"Kau tidak percaya? Lihat ini!" Memberikan secarik kertas berisi data-data Jenni.


Jenni yang mengintip di balik dinding merasa sangat terkejut, iapun berlari dengan segera untuk melarikan diri sebelum Rey akan dibebaskan dan mencarinya.


Selama perjalanan Jenni tak berhenti memaki dirinya sendiri. Ia menyesal tak mendengarkan apa yang dikatakan oleh pamannya.


"*Jenni, sebaiknya jangan menggunakan nama aslimu padanya. Dia sangat berbahaya, kau harus menyembunyikan identitasmu." Paman mengelus bahu Jenni.


"Paman, aku tidak bisa! Tidak ada waktu lagi, aku harus pergi sekarang!"


Jenni bergegas pergi, ia tak menghiraukan peringatan pamannya*.


Kini, Jenni harus mulai berpikir lagi apa yang harus ia lakukan kedepannya agar tidak perlu pulang tanpa memberikan kabar bahwa ia telah berhasil.


"Apa yang harus aku lakukan?"


Tiba-tiba sebuah ide terlintas di dalam benaknya, Jenni mengarahkan kembali mobilnya ke arah penjara.


Ayo Jenni, jadilah aktris yang baik di depannya!


Jenni memarkirkan mobilnya tepat di sebelah mobil milik mertua Rey. Ia berjalan percaya diri memasuki ruangan dimana Rey terlihat masih berbicara dengan mertuanya.


"Tuan Rey, aku datang untuk membebaskanmu."


Ayah mertua Rey melirik Jenni.


Plak


Tiba-tiba sebuah tamparan mendarat di wajahnya, membuat Jenni terpancing emosinya.


"Maaf tuan, apa yang anda lakukan? Apa salahku sampai anda menghukumku begini?!" Jenni melirik Rey, memperlihatkan wajah terintimidasinya.


"Ayah, dia bukan-"


"Cukup!"


Bersambung...


Telat up, tadi udah ngetik sampai 5 ratus kata eh malah kehapus jadilah aku ngamuk-ngamuk dulu dan baru ngetik lagi 😂😂😂

__ADS_1


__ADS_2