ISTRI YANG TAK DICINTAI

ISTRI YANG TAK DICINTAI
eps 22


__ADS_3

"Sampaikan terima kasihku kepada bos kalian!!!" ucap Nesi kepada asisten Kenzi.


Merekapun mengiyakan dan meninggalkan Nesi bersama dengan ART nya.


"Ibu.... memang pak Ferdi kemana? kenapa tidak menjemput ibu?" Tanya Lina.


"Kamu sudah tau kan hubunganku dengan suamiku tidak baik" Jawab Nesi.


"Bukankah kemarin sudah membaik. Bahkan pak Ferdi terus menanyakan ibu ketika ibu pergi, ya..... walaupun beliau tidak pulang setiap hari" ucap Lina sembari memapah Nesi ke kamarnya.


"Mungkin aku dan Ferdi harus berpisah lin...." Ada nada sedih yang tersembunyi di sela kata-kata Nesi.


"Kalau itu yang terbaik buat ibu, lakukan saja!!!" Lina nampak tidak kaget dengan ucapan Nesi.


Sesampainya di kamar, Lina merebahkan tubuh Nesi dan menyelimutinya.


"Apa sebaiknya kamu tidur disini lin, sampai aku benar-benar pulih...." Pinta Nesi.


Sebenarnya Nesi bukan khawatir tentang dirinya yang kesepian atau kesusahan untuk melakukan sesuatu. Nesi takut jika Ferdi akan melakukan hal yang membahayakan Nesi, Terlebih sekarang Nesi sedang tidak bisa melawan.


"Baiklah bu.... Lina ke dapur dulu ya bu, menyiapkan makanan dan minuman untuk ibu" ucap Lina. Nesi mengangguk mengiyakan.


......................


Malam itu Ferdi pulang lebih awal dari biasanya.


Ferdi langsung pergi ke kamar Nesi selepas ia membersihkan diri.


"Bagaimana keadaanmu...??" Ferdi bertanya dengan nada datar.


"Baik mas..... sudah mendingan" Jawab Nesi tanpa menoleh sedikitpun ke arah Ferdi.


"Dengan siapa tadi pulang??"


"Lina menjemputku dan memesan taxi " Nesi menjawab asal. Ia tidak ingin membuat masalah.


"Baguslah...."


Nesi mendongakkan mukanya. Ia sangat terkejut mendapati muka Ferdi penuh dengan luka.


"Kenapa kamu??? kenapa banyak luka?" Nesi berkata dengan mengontrol kecemasannya.


"Tidak ada....." Kemudian Ferdi pergi dari kamar Nesi.


"Hhuuuhhh lelaki angkuh" Keluh Nesi.


......................


Siang itu bu Anna yang baru sampai jakarta, berinisiatif untuk membeli makanan untuk Nesi.


bu Anna dan pak Yongki mampir ke sebuah resto di pinggiran jalan.


Bu Anna memesan beberapa makanan dan juga cemilan. Setelah itu mereka duduk di kursi dekat kasir.

__ADS_1


Bu Anna nampak melihat seseorang yang sangat ia kenal. Dia terus memperhatikan lelaki itu.


Lelaki itu duduk cukup jauh dari posisi bu Anna.


Lelaki itu memakai setelah rapi, sedang makan siang dan di temani oleh seorang wanita berpakaian minim dan memakai lipstik yang cukup merah.


"Ferdi....." ucap bu Anna.


Pak Yongki yang sedang sibuk memperhatikan interior restoran itu nampak tidak mendengar ucapan bu Anna.


Bu anna kian lekat memperhatikan Ferdi dan kekasihnya. Memastikan jika dia tidak salah melihat orang.


Mereka bergenggaman tangan. Saling menyuapi satu sama lain, nampak sangat epik untuk sepasang kekasih yang saling mencintai.


Seketika emosi bu Anna langsung naik ke ubun-ubun.


Dengan langkah yang super lebar, bu Anna menghampiri mereka.


"FERDI......!!!" Bentak bu Anna keras.


Ferdi yang terkejut langsung memperhatikan wanita yang membentaknya barusan.


Ia fikir sedang bermimpi, lama dia harus meyakinkan dirinya bahwa ini nyata.


"ma ma mama..... mama di jakarta...." Ferdi nampak bingung, kacau dan gelisah.


Sontak dirinya langsung memeluk bu Anna.... tanpa di duga, bu Anna begitu saja menepis pelukan Ferdi.


"Mama kecewa sama kamu...." Kemudian bu Anna nampak menghampiri makannanya yang sudah siap dan segera pergi.


Ferdi yang masih sangat bingung, hanya bisa diam dan menatap kepergian mama dan papanya.


"Gil*..... apa yang harus aku lakukan......???" Keluh Ferdi sambil menjambak-njambak rambutnya.


"Aku kira tadi itu orang gila yang ngaku-ngaku ibu kamu..... ternyata benar ibu kamu??" Vika malah meledek Ferdi yang sedang kalap waktu itu.


Sontak saja Ferdi langsung melayangkan tamparan di pipi Vika.


"Wow.... kamu perempuan gila ya.... itu mama ku tau..." Ferdi benar-benar penuh emosi.


"Beraninya kamu menamparku Fer..... tega kamu..... kamu jahat. di perutku ada anakmu. Ingat itu!!!" Vika nampak tak kalah emosi. Dia memegangi pipinya yang memerah.


Dengan langkah yang tergesa Vika segera berlari meninggalkan Ferdi.


Ferdi segera mendudukan pantatnya kasar. Dan menjambak rambutnya lagi.


AAARRRGGGHHHH


Ferdi berkali-kali memukul meja dan akhirnya seorang satpam menghampirinya dan menyuruhnya untuk pergi.


......................


TING TONG.....

__ADS_1


Bel rumah berbunyi. Lina segera menghambur keluar untuk membukakan pintu untuk bu Anna.


Bu Anna segera masuk ke dalam dan menemui Nesi di kamarnya. Pak Yongki mengekor istrinya.


"Sayang...... mama datang sayang....." Sapa bu Anna. Nampak Nesi sangat sumringah ketika mendengar suara bu Anna.


"Mamah....." Nesi lansung memekik bahagia melihat bu Anna sudah berdiri di ambang pintu kamar.


Dengan segera Nesi merentangkan tangannya dan bu Anna segera berlari menyambutnya.


Ada haru disana. Nesi berlinang air mata, begitu juga bu Anna.


Entah apa yang ada di fikiran mereka masing-masing. Mereka menangis tanpa komando.


Pak Yongki yang melihat pemandangan itu ikut merasa sedih. Karna dia tau betapa besar pengorbanan Nesi untuk bertahan menjadi menantunya.


Lama mereka larut dalam kesedihan. Nesi begitu menikmati pelukan bu Anna. Air mata yang terus mengalir ia biarkan saja.


Entah sudah berapa lama Nesi menahan air mata itu, dan Nesi sangat lega bisa menumpahkannya.


"Kamu sudah tau Ferdi....." Bu Anna nampak bertanya dengan pertanyaan yang tidak selesai.


Nesi mengangguk seolah mengerti maksud pertanyaan bu Anna.


"Apa kamu masih akan bertahan sayang....???" Bu Anna bertanya dengan penuh iba.


"Entahlah ma.... sakit hati ini sudah terlalu lama, sampai Nesi merasa sudah terbiasa dengan ini...." Jawab Nesi.


"Ceraikan Ferdi jika itu membuatmu bahagia sayang..... mama ikhlas" ucap bu Anna dengan air mata yang masih mengalir.


Tangis Nesi yang semula mereda segera memuncak kembali.


"Aku akan sangat kehilangan sosok ibu seperti mama jika aku melepaskan mas Ferdi" Ucap Nesi di sela isakkannya.


"Mama akan terus ada di samping kamu sayang..... jangan pernah anggap mama sebagai orang lain ketika kamu sudah lepas dari Ferdi" Bu Anna berkata dengan sedikit geram mengingat kelakuan anaknya.


"Tapi bagaimana dengan nama baik mama???" Nesi masih peduli dengan kehormatan keluarga Yongki.


"Nama baik mama sudah jelek sayang..... karna Ferdi. Bukan karena kamu. Mama nggak mau kamu harus menerima imbas dari kesalahan Ferdi dan Mama...."


Bu Anna nampak sangat mendukung perceraian Nesi dengan Ferdi. meski dalam hati ada penolakan. Namun bu Anna nampak sudah mempertimbangkannya dengan matang.


"Akan Nesi fikirkan mah....." Jawab Nesi ringan.


......................


Adiz.Ck


Sorry reader..... Lagi ada kesibukan jadi baru up. Nanti kalo ada waktu saya akan sering up.


Terimakasih sudah sabar menunggu. love you all...


😘😘

__ADS_1


__ADS_2