
Takeshi sampai di tempat ibunya ketika hari sudah mulai petang. Lama ia menunggu di dalam mobil untuk mengumpulkan tekad.
Ini pertama kalinya Takeshi kembali ke rumah itu setelah sekian lama tidak pernah kesana.
Dengan sedikit ragu Takeshi mulai melangkahkan kakinya memasuki rumah itu.
Rumah itu masih tetap sama seperti sekitar 10 tahun lalu saat ia memutuskan untuk pergi dari sana.
Takeshi mulai membuka pintu dan melangkahkan kakinya ke ruang tengah. Matanya tertuju pada sofa di depan tv yang masih sama seperti dulu. Takeshi mengingat ketika dulu ia duduk disana sembari di suapi sop dan berbagai macam makanan oleh ibunya.
Dan ia juga mengingat ketika Takeshi dan papanya dulu sangat bahagia untuk menghabiskan waktu bersama di sofa yang sama.
Tiba-tiba air mata Takeshi meleleh mengingat kebahagiannya dulu. Takeshi melangkah ke sofa itu dan mendudukan dirinya disana, ada perasaan rindu yang bergelayut di hati Takeshi.
Takeshi sedikit menyayangkan karna ia tak kembali lebih awal. Seharusnya ia menyadari lebih cepat jika ibunya telah benar-benar menyesali apa yang ia perbuat di masa lalu.
Takeshi pernah berkata jika ia tak akan kembali ke rumah itu, kecuali jika dia ada kepentingan yang menyangkut keluarga. Dan hal itu benar-benar Takeshi pegang sampai saat ini.
Dan hari ini dia kembali, mengingat masalalu yang manis dan berbumbu pahit sekaligus.
Lama Takeshi termenung di sofa tengah, sampai ia tak menyadari jika Nesi tengah memperhatikannya dari balik tembok dapur.
"Mungkin ia mengingat kehidupannya di masa lalu......" ucap ibu Takeshi yang tiba-tiba sudah berdiri menjejeri Nesi.
Nesi menolehkan pandangannya ke arah ibu Takeshi tanpa mengucap sepatah katapun, padahal dalam hatinya menuntut seribu pertanyaan kepada ibu Takeshi.
"Kamu pasti berfikir jika hubungan kita baik-baik saja kan?" ucap ibu Takeshi. Nesi mengangguk mengiyakan.
Bagaimana tidak baik, Takeshi selalu menghormati ibunya, bahkan ibu Takeshi sering datang berkunjung dan mereka terlihat baik-baik saja.
__ADS_1
"Tak seperti kelihatannya Nesi-chan,,,,, Takeshi selalu bersikap profesional dalam segala urusan. Begitu juga denganku. Dia selalu baik dan memperhatikanku, tapi Obaa sangat faham jika hatinya belum benar-benar terbuka untuk memaafkan Obaa" Panjang lebar ibu takeshi menjelaskan semuanya.
"Ini semua salah Obaa yang tidak mau percaya dengan kemampuan yang Takeshi miliki, Dulu Obaa selalu bersikeras agar Takeshi mau meneruskan usaha yang Otou-san (Bapak *Takeshi) pegang, namun berkali- kali ia menolak. Takeshi bersikeras untuk menjalankan usahanya sendiri. Sampai akhirnya Otou-san meninggal. Dan Obaa selalu menyalahkan Takeshi karena hal itu....... Obaa sangat bersalah Nesi-chan" air mata ibu Takeshi mulai mengalir di pipinya. Dengan pilu Nesi memeluk pundak Ibu Takeshi dan menyandarkan kepalanya di pundak Nesi.
Ibu Takeshi yang menangispun memeluk erat pinggang Nesi. Merasa lega telah meluapkan kesedihannya.
"Obaa sudah membujuk Takeshi untuk pulang, namun ia selalu menolaknya. Tapi hari ini dia benar-benar pulang" ibu Takeshi nampak sangat senang dan mempererat pelukannya kepada Nesi.
Nesi hanya bisa membalas pelukan ibu Takeshi. Kemudian setelah sedikit lega ibu Takeshi melangkah mendekati Takeshi yang masih terdiam di sofa sembari menggenggamkan kedua tangannya.
"Takeshi-kun......!!! Okaa sangat senang jika kamu pulang kesini....." ucap Ibu takeshi sembari duduk di samping takeshi.
Takeshi yang merasa sangat rindu dengan pangkuan ibunya segera mendekat kepada ibunya dan membaringkan tubuhnya, menjadikan paha ibunya sebagai bantal.
Ibu Takeshi mengelus rambut Takeshi dengan bahagia. Ibu Takeshi masih sedikit tak percaya jika Takeshi bisa pulang ke rumah itu setelah seribu kali ia membujuknya.
Keduanya terdiam meski kemelut di hati kian bergejolak, ibu Takeshi terus mengelus rambut Takeshi dengan lembut dan menatap kosong ke depan.
Tetes demi tetes air mata ibu Takeshi mengalir dan berjatuhan membasahi rambut Takeshi, Takeshi yang menyadari jika ibunya tengah menangis pun kian merasakan sesak di ulu dadanya.
Takeshi mencengkeram ujung baju ibunya dan tumpahlah air mata yag sudah sekuat tenaga ia sembunyikan.
Keduanya sama-sama saling menangis. Air mata mereka sudahlah cukup untuk menjelaskan semuanya.
Nesi yang masih berdiam di pintu dapur ikut merasakan pilu yang mereka rasakan.
......................
"Kenapa kita tidur disini Okaa-chan?" Tanya Chio yang baru saja bangun dari tidurnya.
__ADS_1
"Nggak papa sayang...... Kasihan Obaa-san karna tak ada teman, jadi kita semua tidur disini menemani Obaa-san" ucap Nesi sembari membopong tubuh kecil Chio yang masih sedikit mengantuk.
Setelah membersihkan Chio, Nesipun membopong Chio ke ruang makan.
Disana sudah ada Takeshi dan Ibunya yang sedang duduk menunggu Nesi dan Chio.
"Ohayou Gozaimasu....." (ucapan selamat pagi dalam bahasa jepang) ucap Nesi sembari membungkukkan badannya.
Takeshi dan ibunya pun langsung membalas sapaan Nesi, dan kemudian Nesi bergabung dengan mereka, menikmai sarapan pagi ini.
"Hari ini aku akan libur kerja, aku ingin menikmati hari ini bersama kalian" ucap Takeshi sembari memakan sarapannya.
"Horreeee...... Chio mau jalan-jalan sama Otou-san......" Chio sangat senang mendengar kabar tersebut. Matanya langsung berbinar-binar.
Begitupun dengan Nesi dan Ibu Takeshi yang langsung tersenyum dengan ucapan Takeshi.
Merekapun mellanjutkan kegiatan sarapan pagi itu dengan perasaan berbunga-bunga.
"Nesi-chan... Aku ada hadiah untukmu" ucap Takeshi ketika Nesi hendak membereskan meja makan.
Nesi tertegun dengan ucapan Takeshi dan memandangnya dengan tatapan penuh tanya.
"Hadiah untuk apa???" Nesi sedikit berfikir, apa ia melewatkan sesuatu.
"Nanti saja ku beritahu..." ucap Takeshi sembari melangkah pergi.
Adiz.Ck
__ADS_1