
Pagi itu Nesi ketika Nesi bangun dari tidurnya ia sedikit terkejut karna ada sekuntum mawar merah yang tergeletak di atas meja samping ranjang. Juga ada segelas susu yang masih hangat.
Nesi tersenyum.
Ia mengambil bunga mawar itu dan menciumnya. Harum semerbak bunga segar langsung masuk ke dalam hidng dan memberikan efek bahagia.
Kembali Nesi tersenyum.
Ia beralih mengambil segelas susu yang tergeletak disana. Lalu meminumnya, Takeshi memang sudah terbiasa hidup sehat, ia sering melarang Nesi minum kopi di pagi hari. Dan sering menyiapkan susu untuk Nesi, tapi biasanya Takeshi meletakkan susu di meja makan. Ini aneh dari biasanya.
Nesi meminum susu itu sampai habis. Dan saat hendak meletakkan gelasnya kembali, ia melihat secarik kertas di samping tempatnya meletakkan gelas tersebut.
Nesi terheran dan dengan segera mengambil kertas tersebut.
Nesi-chan.....
Hari ini aku berangkat ke kantor dulu untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan. Aku akan pulang sekitar jam 09.00. Aku akan menjemputmu untuk mempersiapkan pernikahan kita.
Jadi bersiap-siaplah setelah kau bangun.
Love you Nesi-chan.
❤❤❤❤❤
Takeshi
Nesi tersenyum membaca pesan dari Takeshi, ia tak menyangka jika Takeshi sangat bersemangat untuk merencanakan pernikahan mereka.
"Okaa-chan.......'' panggil chio yang masih mengantuk. Nesi langsung mengalihkan pandangannya ke arah Chio, dan di lihatnya Chio masih memejamkan matanya.
''Come on sayang,,,,,,, bangun!!!!" ucap Nesi sembari menggoyang-goyangkan tubuh Chio. Chiopun menggeliat dengan malas.
Lalu Nesi kembali ke ranjangnya dan mendekat ke arah Chio, ia mengelus rambut Chio yang hitam dan kemudian memberinya beberapa kecupan manis di kening dan pipinya.
__ADS_1
Perlahan Chiopun bangun dan memeluk Nesi dengan manja. Nesipun segera beranjak dari ranjangnya dengan Chio yang ia bopong.
"Mimpi apa Chio semalam? apa mimpi indah??? hmmbbbb" Nesi mencoba mengajak Chio untuk bercerita, Namun karna Chio masih sedikit mengantuk, jadi ia diam saja.
Nesi pun tak memepermasalahkan hal itu. Dengan cekatan Nesi melepas baju Chio dan memandikannya. Setelah beres dengan Chio, Nesipun membersihkan dirinya sendiri setelah hampir semua bajunya ikutan basah karna memandikan Chio tadi.
Saat Nesi keluar dari kamar mandi, ia melihat Chio sedang mendirikan rambutnya dengan sisir dan juga gel rambut. Nesi tersenyum melihat tingkah Chio.
"Sedang apa Chio sayang.....?" Tanya Nesi sembari mengeringkan rambutnya dengan hairdryer.
"Ichio sedang dandan seperti papah......" jawab Chio simple.
DEEGGG
Dada Nesi bagai mendapat pukulan keras, iapun menghentikan aktifitasnya dan meletakkan hairdryer itu. Kemudian Nesi menghampiri Chio.
Ia meraih pundak Chio dan menatapnya, Nesi memfokuskan pandangannya ke arah rambut Chio yang di buat jambul, persis seperti penampilan Ferdi.
Mata Nesi mulai berkaca-kaca. Sedangkan Chio yang masih polos hanya terdiam sembari melanjutkan aktifitasnya.
"Dari nenek, Ichio jadi bingung, Kenapa ada Obaa dan ada Nenek juga? katanya sama? Telus Okaa-chan ada satu, tapi ada Otou sama ada papah. Katanya mereka sama-sama orang tua Ichio" Chio menjelaskan meski masih cadel.
Nesi tertegun mendengar penjelasan Chio, ia bingung harus menjelaskan dari mana. Ia masih terlalu kecil untuk mengerti tentang permasalahan hidupnya.
Chio memandang Nesi dengan tatapan penuh pertanyaan, tapi Nesi hanya tersenyum sembari bangkit dari jongkoknya.
"Nanti jika Chio sudah besar, Chio akan faham sendiri" ucap Nesi akhirnya. Kemudian Nesi melanjutkan aktifitasnya dengan perasaan yang sedikit kacau karna ucapan Chio.
Sembari memakai pakaiannya Nesi berkali-kali mengusap air matanya. Ada rasa bersalah di hati Nesi ketika harus mengambil keputusan besar itu. Ya memang Chio sudah terbiasa menganggap Takeshi sebagai ayahnya. Bahkan kasih sayang yang Takeshi berikan untuk Chio mungkin melebihi kasih sayang yang bisa Ferdi berikan. Namun ikatan batin antara ayah kandung dan ayah angkat sangatlah berbeda. Nesi hanya bisa berharap suatu saat nanti Chio akan mengerti tentang keputusan yang Nesi ambil.
......................
Sementara itu di bandara.
__ADS_1
Ferdi dan mama Anna nampak sangat gelisah saat menjelang keberangkatan.
Bagaimana tidak, pesawat akan lepas landas sekitar setegah jam lagi, tapi sedari tadi mereka memperhatikan sekeliling, tak terlihat apa yang sedang mereka tunggu.
"Bagaimana ini Fer...... kenapa Nesi dan juga Chio belum sampai disini juga?" mama Anna nampak sangat khawatir jika ia tidak bisa melihat cucunya sebelum ia kembali ke jakarta.
Ferdipun hanya diam dan sembari memperhatikan sekeliling, kalau-kalau Nesi tak tau dimana mereka berada. Sedangkan pak Yongki terlihat lebih santai dari keduanya.
Berkali-kali mama Anna duduk dan kembali berdiri lagi, begitu seterusnya. Berkali-kali mama Anna berdecak menahan kesabarannya.
"Masa mama nggak bisa lihat cucu mama sebelum mama balik jakarta? Kita kan nggak tentu bisa bolak balik kesini karna kesibukan juga" Mama Anna sudah mulai menggerutu.
"Sabarlah mah...... Mereka pasti datang, Ferdi sebenarnya pengen Chio hidup sama Ferdi di jakarta" ucap Ferdi berharap.
"Kalaupun Ferdi mengurus semuanya pasti Ferdi akan menang di pengadilan, iya kan mah?" ucap Ferdi meski tak yakin.
Mama Anna hanya menggelengkan kepalanya tanda tak setuju dengan pendapat Ferdi.
"Jangan melakukan kesalahan dua kali Fer....... Kamu sudah terlalu banyak menyakiti Nesi. Apa kamu masih tega melakukan itu lagi? Bukankah selama ini mereka hidup bahagia meski tanpamu, jadi biarkanlah, cukup kita yang menderita karna tak bisa bersama Chio. Anggap saja jika ini hukuman untuk kita karna selama ini sudah jahat kepada Nesi" mama Anna berkata sembari menatap kosong ke depan.
Ferdi merasa apa yang di katakan mamanya ada benarnya juga. Toh iapun sudah memiliki istri sekarang, belum tentu Sely mau menerima Chio di kehidupannya, mengingat watak Sely yang cenderung keras.
"Papah......."
Adiz.Ck
Author lagi sibuk banget......
Gomen nasai......!!!!
__ADS_1
😔😔😔