
"Nesi-chan.... Terimakasih telah membuatku pulang ke rumah ini" ucap Takeshi ketika Nesi hendak memasuki kamar tamu.
Nesi menolehkan pandangannya ke arah Takeshi yang sedang berdiri di samping pintu kamar tamu.
Nesi menaikan alisnya seolah menuntut jawaban tanpa pertanyaan kepada Takeshi.
"Kenapa????" Tanya Nesi kemudian.
"Ya.... Aku hanya sekedar ingin mengucapkan terimakasih saja padamu" ucap Takeshi.
"Katanya mau kasih hadiah..... Mana?" Tagih Nesi dengan terkekeh.
"Aku akan memberikannya nanti di rumah" jawab Takeshi dengan tersenyum.
"Baiklah....."
"Ayo cepat siap-siap..... Kita akan jalan-jalan hari ini" ucap Takeshi sembari meninggalkan Nesi yang masih berdiri di depan pintu kamar.
Hari itu mereka menikmati kebersamaan mereka bersama. Semuanya nampak bahagia, tak terlewat seorangpun.
Takeshi selalu menggenggam erat tangan Nesi seakan tak mau melepaskannya. Nesi pun tidak menolaknya. Ia merasa sudah nyaman dan terbiasa dengan genggaman tangan Takeshi.
Benih-benih cinta memang sudah tumbuh di hati Nesi, ia merasa benar-benar bisa menikmati hidupnya ketika bersama dengan Takeshi.
"Takeshi-kun..... Obaa akan pulang lebih dulu, Obaa sudah tidak sebugar dulu bukan. Kalian lanjutkan saja jalan-jalan kalian, kasihan Chio sangat senang dengan hari ini" ucap ibu Takeshi, padahal itu baru setengah dari acara jalan-jalan yang mereka rencanakan.
"Yah..... Obaa-san.... Kenapa pulang?" rengek Chio dengan cadel.
Ibu Takeshi menjongkokkan badannya, mencoba mensejajarkan matanya dengan Chio yang sedang di tuntun oleh Takeshi.
"Jangan khawatir sayang,,,,,, Okaa-san dan Otou-san akan melanjutkan acara hari ini" ucapnya sembari tersenyum ke arah Chio.
"Baiklah,,,,,, Biar ku telfon Ryu untuk mengantar Obaa-san pulang" ucap Takeshi sembari mengambil ponselnya dan menelfon Ryu.
__ADS_1
Tak lama berselang, Ryu pun datang dan langsung menghampiri mereka.
"Ryu..... Kamu antar Obaa-san pulang, dia butuh istirahat" Pinta Takeshi.
Ryupun mengangguk dan kemudian mengekor ibu Takeshi sembari membawakan tasnya.
"Nesi-chan...... Ayo kita makan di atas" Takeshi menyadarkan Nesi yang masih menatap punggung ibunya Takeshi yang belum hilang dari pandangannya.
Nesi hanya tersenyum, kemudian berjalan mengikuti Takeshi yang sudah berjalan lebih dulu bersama Chio.
......................
Siang itu Ferdi dan kedua orang tuanya memutuskan untuk makan di restoran yang ada di lobi hotel bersama, karna pak Yongki merasa sudah baikan setelah seminggu lebih dirawat disana.
Merekapun sudah merencanakan kepulangan mereke esok pagi. Jadi hari ini memang mereka ingin menikmati keindahan jepang selagi masih disana.
Mereka tertawa bahagia saat menyantap hidangan ala jepang bersama.
Ferdi sudah sedikit berubah sekarang, ia yang dulu seperti bersikap masa bodoh dengan kedua orangtuanya, sekarang ia bisa bersikap lembut dan sangat peduli dengan mereka.
Ferdi seperti bersikap masa bodo dengan kehidupan Sely, bahkan mereka terlihat bahagia meski mereka jarang terlihat bersama.
"Oji-san......." Ferdi menoleh ke arah anak kecil yang sedang berdiri di sampingnya.
"Chio......" Ferdi nampak kaget dengan keberadaan Chio yang tiba-tiba ada di situ.
Bu Anna yang penasaranpun berdiri dari duduknya untuk melihat anak kecil itu.
Betapa kagetnya ia ketika melihat Chio yang tersenyum imut di samping Ferdi.
Matanya membelalak saking terkejutnya.
"Ferdi......" ucap bu Anna tergagap sembari menyongsong tubuh Chio yang mungil.
__ADS_1
"Siapa anak ini Fer.....???" Bu Anna mencoba memastikan.
Ferdi yang merasa bingung hanya mengangkat kedua bahunya.
"Jangan bohong Fer..... Anak ini sangat mirip denganmu ketika kamu masih kecil..... Mama masih mengingatnya dengan jelas" ucap bu Anna matanya mulai berkaca-kaca.
"Apa Ferdi melupakan sesuatu mah?" Tanya Ferdi penuh kebingungan.
Sedang bu Anna yang mulai kacau dengan fikirannya hanya mengangguk.
"Kamu melupakan banyak hal Fer...... Tapi mama akan mencoba berfikir positif tentang anak ini" Bu Anna mencoba menenangkan hatinya.
Pak Yongki yang merasa apa yang di katakan istrinya memang benar hanya diam dan tak berani berkomentar.
"Nak...... Dimana orang tuamu?" Tanya bu Anna dengan bahasa jepang.
Chio yang masih polos langsung menunjuk seorang lelaki yang sedang membelakangi mereka sembari berbincang dengan seseorang di telfon.
"Semoga saja dia hanya mirip" batin bu Anna menahan detak jantungnya yang berdegup tak beraturan.
Lalu kemudian ada seorang perempuan yang menghampiri lelaki itu sembari memasukan dompet ke tasnya, setelah selesai membayar di kasir.
Perempuan itu menanyakan sesuatu kepada lelaki itu dan lelaki itu langsung berbalik badan dan mencari sesuatu.
"Chio......" Panggilnya.
Chio yang mendengar namanya di panggilpun segera berlari ke arah perempuan itu yang terlihat sedikit panik.
"NESI........" Teriak bu Anna ketika perempuan itu berbalik dan menyongsong Chio yang berlari ke arahnya.
Seketika Nesi mengalihkan pandangannya ke arah bu Anna.
Adiz.Ck
__ADS_1