
Pagi itu Nesi menyiapkan sarapan seperti biasa, namun ia tidak berangkat lebih dulu, ia memilih menunggu dan menemaninya sarapan.
Tak lama berselang, Ferdi pun keluar dari kamarnya, berpakaian rapih dan menenteng sebuah koper hitam.
Merekapun sarapan bersama pagi itu, diam-diam Ferdi mencuri pandang pada Nesi. Tapi Nesi tidak menyadarinya.
Kamu sangat cantik pagi ini Nes, tapi hatiku belum terketuk untuk mencintaimu.
Batin Ferdi.
"Mas,,,, besok pagi aku akan pergi ke Jepang, ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan disana"
Ferdi sedikit tersentak dengan ucapan Nesi. Ferdi menjadi bimbang pagi itu, tapi dia juga bingung harus berbuat apa.
"Oh begitu, apakah akan lama di jepang?"
"Tidak tau mas, menunggu pekerjaanku selesai, mungkin akan sedikit memakan waktu" Nesi berkata dengan sedikit gugup.
Sebenarnya pekerjaan Nesi akan di mulai sekitar 1 mingguan lagi, tapi mendengar ucapan Ferdi semalam membuat Nesi sedikit tertekan. Jadi Nesi memilih untuk menenangkan diri sebentar sebelum memulai pekerjaannya.
"Baiklah, hati-hati di jalan" Ferdi berkata singkat lalu meninggalkan Nesi yang masih terduduk.
Nesi menyudahi sarapannya dan segera pergi ke kantor.
......................
"Kamu beneran mau ke jepang besok Nes?" Tanya seorang teman akrab Nesi di kantor.
Nesi hanya mengangguk, temannya masih sedikit ragu dengan jawaban Nesi. Tapi saat Nesi menyiapkan beberapa dokumen dan membawanya ke tempat atasan membuat teman Nesi yakin.
Nesi pulang saat hari masih sedikit siang, dia hendak packing barang-barang. Namun saat Nesi melewati sebuah taman kota, Nesi melihat Ferdi tengah duduk di taman itu bersama seorang wanita yang berpakaian cukup minim. Lama Nesi memperhatikan mereka berdua, untuk memastikan kalau matanya tak salah.
Dan akhirnya Nesi benar-benar yakin kalau itu benar-benar suaminya.
Ferdi tengah duduk dengan menunduk, sedangkan kedua tangannya memegangi kepala. Wanita di samping Ferdi tampak diam tanpa ekspresi. Wanita yang pernah menghampiri Nesi sore itu.
__ADS_1
Nesi tersenyum kecut dan memilih melanjutkan perjalanannya.
Sesampainya di rumah, Nesi segera mengepak beberapa baju dan juga pakaian hangat. Nesi sudah mencari info tentang musim di jepang, dan sekarang sudah hampir musim dingin.
Setelah semua barang beres Nesi segera menelfon ibu Anna.
"Hallo Nes.... ada apa?"
"Mah..... apa papa sudah sehat?"
"Sudah mendingan Nes, Kamu gimana?"
"Nesi sehat mah, mama gimana? sehat juga kan?"
"Sehat Nes, gimana dengan suami kamu?"
"Baik mah...." Nesi menjawab dengan sedikit datar.
"Hubungan kalian?"
"Ba... baik mah?" entah sampai kapan Nesi akan berbohong tentang hubungannya dengan Ferdi.
"Oh iya mah,, besok Nesi ada kerjaan, dan harus pergi ke jepang"
Nesi berkata dengan sedikit gugup.
"Oh gitu, bagus banget, berarti kerjamu beneran bagus dong bisa di utus sampai ke jepang gitu"
"Makasih ma.... berkat do'a mama"
"Tapi suami kamu nggak masalah kan?" Bu Anna mencoba memastikan.
"Nggak mah, lagian akhir-akhir ini juga mas Ferdi lagi banyak kerjaan di kantor"
"Oh ya sudah, kamu hati-hati di jalan yah!! Jangan lupa telfon mama kalo sudah sampai di jepang...." bu Anna tampak terkekeh.
__ADS_1
"Baik mah"
Panggilanpun berakhir.
Nesi memang sekarang lebih dekat dengan mertuanya, ketimbang dengan orang tua kandungnya.
Itu berawal ketika 1 tahun lalu Nesi mencoba berkata kepada orang tuanya, untuk mengakhiri pernikahan Nesi dengan Ferdi. Namun orang tua Nesi tampak tidak setuju dengan keputusan Nesi. Karna menurut orang tua Nesi, hubungan mereka tampak baik-baik saja.
Memang selama ini, Nesi dan Ferdi selalu bersandiwara ketika bertemu dengan orang tua mereka.
Kemudian malah orang tua Nesi yang berfikir tidak-tidak tentang anaknya itu. Berkali-kali Nesi menjelaskan, tapi mereka tidak mau mendengar sedikitpun penjelasan Nesi.
Dan akhirnya hubungan mereka merenggang. sampai sekarang. Nesi hanya bisa tau kabar ibu dan ayah lewat telfon dari adik perempuannya.
Malam kian larut, Nesi yang sedikit lelah, merebahkan dirinya di tepi kasur. Dan iapun terlelap.
Ferdi pulang ketika sudah jam 2 dini hari. Ia menengok Nesi ke kamarnya.
Nampaklah Nesi yang terlelap, ia mengenakan baju tidur pendek. Sehingga menampakan pahanya yang putih bersih. Ferdi tampak sedikit tergoda dengan apa yang nampak di hadapannya. Tapi Ferdi berusaha meredam itu. Ferdipun memasuki kamar nesi. Dan menyelimuti tubuh Nesi.
Ferdi tampak memperhatikan kemolekan Nesi. Ferdi baru tersadar, jika Nesi ternyata lebih cantik ketika sedang tidur. Rambutnya hitam pekat, menutupi sebagian wajahnya yang terlelap.
Ferdi duduk di samping Nesi, ia begitu lekat memperhatikan setiap inci dari wajah Nesi.
Bodoh sekali aku Nes, selama ini aku tidak menyadari ada bidadari cantik yang hidup di sampingku, tapi aku mengabaikannya.
Ferdi tersenyum penuh sesal. Ia menyibakkan rambut yang menutupi muka Nesi. Dan tampak jelaslah bibir Nesi yang nampak sangat manis.
Tanpa disadari Ferdi meraih bibir itu dengan bibirnya. Ferdi merasa ada yang mengeras di antara selangkangannya. Sontak Ferdi menghentikan aktifitasnya.
Detak jantungnya sangat cepat, nafasnya memburu ferdipun mati-matian meredam gairahnya.
Ferdi merasa dirinya kotor dan tak pantas untuk Nesi. Ferdi teringat sikapnya kepada Nesi selama 5 tahun ini. Tanpa disadari Ferdi tertidur di samping Nesi malam itu.
~,~
__ADS_1
Adiz.Ck