
"Ehhh, ngapain lo?!" bentak Nirmala saat gadis itu memasuki rumah. Nirmala melihat suami kontraknya itu hampir berciuman dengan kekasihnya.
"Sudah pulang lo, Mbak?" Dafa menarik tubuhnya dari hadapan kekasihnya. Sungguh dia tersentak dengan kedatangan istrinya.
"Jangan berbuat mesum di rumah gue!"
"Astaga Mbak, lagian siapa juga yang mau berbuat mesum di sini." elak Dafa. Bahkan wajah kekasihnya sudah tampak memerah karena kepergok hendak berciuman.
"Lo pikir gue buta sampai nggak ngelihat adegan apa yang mau lo lakuin?!" Nirmala menatap tajam ke arah Dafa. Sungguh dia tak suka ada seseorang yang melakukan perbuatan itu di rumahnya.
"Yaelah Mbak, lagian gue juga ciuman doang bukan malah melakukan yang mantap-mantap," Dafa menjawab dengan santai. Bahkan laki-laki itu tak terpengaruh dengan ucapan Nirmala.
"Gue nggak suka!!" bentak Nirmala membuat Dafa mengernyitkan keningnya. Bingung dengan ucapan Nirmala.
"Maksud lo apaan Mbak?"
"Ahh gue salah ngomong, intinya lo nggak boleh berbuat hal menjijikkan itu di rumah gue!!" Nirmala tersadar dengan ucapannya. Ntah kenapa kata-kata itu meluncur indah di mulutnya.
"Beneran nggak ada maksud lain dari ucapan lo, Mbak? Ahh ya, gue sampai lupa lo nggak ada hak untuk ikut campur urusan pribadi gue." Dafa menatap sengit istrinya itu. "Yuk Sayang kita pergi." Dafa menarik lembut tangan Lala. Dia akan membawa Lala keluar dari rumah itu, Dafa tidak mau jika sesuatu yanh tak diinginkan terjadi lantaran ucapan Nirmala yang sering kasar.
Nirmala menatap suami serta gadis kecil itu dengan tatapan tidak suka. Jangan tanyakan apakah Nirmala sudah jatuh cinta pada Dafa, jawabannya jelas belum bukan berarti tidak.
"Aaaaaaaa, awas lo, Dafa!!Gue akan buat perhitungan sama lo." Nirmala melempar tasnya dengan keras ke atas sofa.
Dia sangat kesal melihat suaminya hampir saja berciuman dengan gadis tengil itu. Jika saja dia tidak tiba tepat waktu mungkin bibir itu sudah bertautan dengan mesranya. Membayangkan itu membuat Nirmala kesal dan muak secara bersamaan.
"Yang, wanita tadi itu sepupu kamu?" Saat ini Dafa dan Lala tengah duduk di taman kota.
"Iya kenapa?" Sesekali Dafa menyelipkan anak rambut kekasihnya di balik telinganya.
"Tapi kok serem gitu ya Yang kalau dia marah? Ahhh ya dia seperti seorang wanita yang tengah cemburu saja. Apa kamu lihat tadi raut wajahnya yang merah Yang?" Lala menatap wajah kekasihnya itu. Wajah tampan yang membuat Lala malas untuk berpaling darinya.
"Hahaha dia memang kek gitu Yang, Bahkan aku tiap hari bertengkar sama dia," ungkap Dafa jujur. "tapi dia baik kok orangnya Yang, tadi itu dia tidak cemburu tapi dia marah karena kita mau berciuman di rumahnya. Maklum dia itu jomblo akut, hahhah," Dafa memegang perutnya yang terasa sakit karena tertawa.
__ADS_1
Tunggu!! Benarkan istrinya itu cemburu kepadanya? Benarkan apa yang dikatakan Lala sang kekasih? Senyum manis tercetak jelas di bibir Dafa. Sungguh jika itu memang suatu kenyataan Dafa rela melakukan apa saja demi Nirmala, istrinya.
"Kamu kenapa malah senyum-senyum nggak jelas gitu sih Yang?" Lala mengernyitkan dahinya dengan tingkah Dafa yang tampak aneh. Tertawa laku tersenyum tak jelas.
"Ahh tidak apa-apa Sayang, aku hanya sedang membayangkan suatu hal yang lucu saja," kilah Dafa. Tak mungkin dia akan mengatakan yang sejujurnya kepada Lala.
Memang sekarang Dafa seperti menjadikan Lala sebagai pelampiasan. Untuk memutuskan gadis itu Dafa belum memiliki alasan yang pasti. Jika Nirmala menerima pernikahan mereka, bisa saja Dafa akan mengatakan yang sejujurnya kepada kekasihnya. Tapi apa? Apa yang bisa dilakukan Dafa jika istrinya sendiri menginginkan pernikahan kontrak.
"Bener Yang? Kamu nggak bohong bukan?" Selidik Lala menatap intens kekasihnya.
"Iya Yang, aku nggak bohong kok," Dafa menguyar rambut Lala dengan gemas, sampai rambut itu sedikit berantakan karena ulahnya.
"Aku mau pulang Yang, tadi aku bilangnya sama Mama cuma satu jam-an,"
"Baiklah aku akan antar kamu pulang Yang,"
Motor yang dikendarai Dafa akhirnya sampai di rumah Lala. Membantu gadis pendek itu turun dari motornya yang lumayan tinggi.
"Aku pulang dulu Yang, kamu jangan nakal ya? Nanti aku chat di WA,"
Dafa meninggalkan kediaman Lala menuju rumah Nirmala. Dia tak ingin singgah kemanapun, tujuannya kini hanya satu rumah. Rumah di mana kini ada istrinya. Istri kontrak lebih tepatnya.
"Astaga lo ngapain Mbak?" Dafa terkejut saat melihat kondisi Nirmala yang tampak kacau. Bahkan lipstik yang ada di bibirnya sudah berlepotan seperti badut.
"Ngapain lo pulang? Sudah puas main sama pacar lo?!" sentak Nirmala menatap tajam Dafa.
"Lo kenapa sih Mbak? Aneh banget tingkah lo sekarang. Sumpah!!" Dafa mendelik tak suka kepada istrinya. "Ngapain juga lo kek orang gila gini? Sumpah lo aneh banget Mbak," Dafa memilih duduk di sebrang Nirmala. Menatap istrinya itu tanpa kedip. Jujur saja Dafa ingin tertawa melihat tingkah istrinya yang seperti anak-anak. Tak biasanya gadis itu tidak memperhatikan menampilannya.
"Diam lo!!" bentak Nirmala sengit.
"Lo kenapa Mbak? Cemburu?" Dafa menaikkan sebelah alisnya. Menanti jawaban apa yang akan di ucapkan istrinya.
"Cemburu? Jangan mimpi lo kalau gue cemburu lihat lo sama pacar lo. Yang ada gue malah jijik!!" Nirmala sungguh tak terima dengan ucapan Dafa yang terdengar menjengkelkan di telinganya.
__ADS_1
"Kalau nggak cemburu kenapa lo berantakan kek gini? Lihat tuh wajah lo dikaca sudah kek badut." ledek Dafa yang sesuai dengan kenyataan.
"Jangan asal ngomong lo ya, enak banget mulut lo ngatain gue kek badut!!"
"Noh lihat," Dafa membuka kamera HPnya. Memperlihatkan bagaimana bentuk wajah Nirmala yang sudah hancur karena make-upnya.
"Astaga!! Wajah gue!!" Nirmala tampak histeris melihat wajahnya yang berubah kek ondel-ondel.
"Gue yakin lo cemburu Mbak, jadi nggak usah deh lo ngelak lagi. Jujur saja sama gue napa?" Dafa beralih mendekat ke arah Nirmala. Menatap intens wajah istrinya.
"Minggir lo!!" Nirmala mendorong tubuh suaminya. Lekas berdiri dan lari menuju kamarnya untuk membersihkan wajahnya yang tak beraturan.
"Astaga, kenapa lo bisa kek gini sih Mala?" Monolog Nirmala pada dirinya. Sungguh wanita itu tidak sadar akan dirinya yang sudah berubah jelek. Bahkan dia saat ini tengah malu dan merutuki dirinya sendiri.
Sedangkan di ruang tamu, Dafa memegang perutnya yang terasa sakit karena terlalu lama tertawa. Tingkah Nirmala sangat lucu di mata Dafa, membuat laki-laki itu sungguh tak bisa menyembunyikan tawanya barang sekali.
"Sumpah lo lucu banget Mbak. Pengen gue cium bibir berlepotan lo itu," ujar Dafa yang masih mengingat wajah istrinya. "tapi gimana ya rasanya bibir istri gue? Apakah lebih manis dari bibir Lala?" lanjut Dafa membayangkan jika bibir itu di mainkannya dengan bibirnya. Ahhh, kembali lagi Dafa kembali ke pada kenyataannya yang tak akan pernah terjadi.
****
Pagi ini Nirmala tengah memeriksa berbagai laporan yang sudah tersusun rapi di atas meja kerjanya. Melihat satu-persatu laporan itu dengan teliti agar dirinya tidak salah.
("Si masuk ke ruangan saya sekarang!!") Nirmala langsung mematikan teleponnya tanpa menunggu jawaban dari sebrang sana.
"Masuk!!"
"Maaf Bu ada apa sehingga Ibu memanggil saya?" tanya Sisi lembut. Yakinlah jika hatinya saat ini tengah merutuki bosnya itu. Tak tahukah jika dirinya tengah di sibukkan dengan pekerjaan yang menumpuk karena ulah bosnya itu.
"Cari pengawal untuk memata-matai suami saya di kampusnya. Intinya apa pun yang dikerjakan laporin ke saya!!"
"Baiklah Bu, masih ada yang lain Bu?" tanya Sisi yang tahu jika bosnya itu sudah menikah. Yang lainnya tidak ada yang tahu, karena memang pernikahan Nirmala cukup tertutup.
"Tidak, silahkan keluar!!" usir Nirmala yang masih seperti biasanya. Membuat sekretarisnya itu semakin dongkol dengan sifat dingin bosnya itu. Huhhh, andai bisa, Sisi ingin melihat Nirmala yang seperti dulu. Penuh dengan kelembutan.
__ADS_1
TBC