
Usia pernikahan Dafa dan Nirmala kini sudah menginjak pada tahun ke 4. Tahun lalu Dafa sudah lulus dari Universitasnya dan kini dia bekerja di kantor sang istri. Selama 4 tahun ini mereka belum juga di karuniai seorang anak dalam rumah tangga mereka. Bukan mereka tidak usaha, hanya saja Allah belum menitipkan mereka amanah untuk memiliki seorang anak tapi, Allah masih memberikan mereka waktu untuk berdua terlebih dahulu.
Dafa sudah siap dengan kemeja putih serta dasi senada yang bertengger indah di lehernya. Sedangkan Nirmala juga sudah tampak rapi dengan baju senada dengan yang di pakai Dafa.
"Sudah siap Sayang?" Dafa meraih pinggang istrinya lembut.
Semenjak tahun ke dua mereka menikah Nirmala dan Dafa merubah panggilan mereka dengan sebutan Sayang dan Mas. Biar jika mereka keluar rumah tidak di anggap seperti adik kakak.
"Sudah Mas," jawab Nirmala memeluk erat pinggang suaminya.
Mereka keluar dari kamar menuju dapur untuk sarapan pagi sebelum berangkat ke kantor. Tak mungkin rasanya mereka akan membawa perut kosong ke kantor lantaran hanya karena malas.
"Sayang kita pulang lagi yuk?" ajak Dafa saat mereka sudah sampai di basement kantor.
Dafa meletakkan kepalanya pada ceruk leher sang istri. Menyelami harumnya tubuh istrinya yang seakan tak mau lepas. Rasanya terasa sangat nyaman jika di bawa tidur.
"Lah kok gitu Mas? Kita sudah sampai di kantor loh? Masa mau pulang lagi?" Nirmala heran dengan tingkah suaminya yang tak biasanya. Apalagi pagi-pagi sudah manja seperti ini.
"Rasanya nggak mau pisah dari kamu Sayang, nyaman banget kek gini. Pulang yuk Sayang," kembali Dafa mengajak Nirmala.
"Nggak ada, kita sudah sampai loh di kantor. Yuk ah keluar Mas," Nirmala menjauhkan kepala suaminya dari ceruk lehernya. Rasanya sedikit geli apalagi rambut Dafa yang mengelitik leher jenjangnya.
"Sebentar lagi Sayang, Mas nggak mau jauh-jauh dari kamu. Pengennya kek gini terus," Kini tangan Dafa melingkar memeluk perut istrinya dengan erat.
"Kamu kenapa sih Mas? Kok tumben-tumbenan manja kek gini?" Bingung Nirmala dengan tingkah suaminya yang tak biasa.
"Nggak tahu Sayang, Mas banget saja kek gini," ungkapnya jujur.
Nirmala membiarkan apa yang ingin di lakukan suaminya untuk beberapa menit ke depan, sebelum waktu masuk kantor.
"Sudah kan Mas? Ini sudah mau masuk waktu kerja," peringat Nirmala saat merasakan hembusan pada leher jenjangnya.
Dafa mengangkat kepalanya dari leher Dafa. Menatap sendiri wajah sang istri seakan dirinya tak rela untuk berpisah dari wanitanya. Dafa juga bingung dengan dirinya, kenapa malah manja gini pagi-pagi. Tak biasanya dirinya seperti ini kepada sang istri.
__ADS_1
"Tak bisakah kita pulang Sayang? Tak bisakah kita habisnya waktu berdua saja hari ini tanpa melakukan pekerjaan kantor?" pinta Dafa dengan sendu.
Nirmala menggeleng. "Tidak Mas, yuk turun." Nirmala mendaratkan ciuman pada bibir suaminya sebelum benar-benar turun dari mobil.
Dengan berat hati Dafa mengikuti istrinya turun dari mobil. Langkah Dafa gontai mengikuti langkah istri. Beberapa karyawan menyapa Dafa dan Nirmala dengan hormat seperti biasanya.
Banyak karyawan wanita yang menatap Dafa penuh kagum seperti biasanya, membuat Nirmala tidak suka. Kadang ingin sekali Nirmala menutup mata jelalatan karyawan wanita yang menatap suaminya begitu kagum. Bahkan tak jarang ada yang terang-terang menatap Dafa dan mendekati suaminya itu.
Muak? Satu kata yang sering hinggap di kepada Nurmala. Namun, setiap kali pula Dafa memperingati istrinya jika hanya dirinyalah yang ada di hati Dafa, bukan wanita lain.
\*\*\*\*\*\*
Dafa bekerja dengan tenang tanpa ada yang membuatnya tidak mood. Rasa malas yang tadi dirasakan Dafa kini sudah hilang. Dafa fokus dengan pekerjaannya. Menyusun laporan-laporan yang akan diberikan kepada Nirmala nanti menjelang waktu istirahat.
"Punya kamu sudah siap Daf?" Rima rekan satu ruangan Dafa menghampiri dirinya.
Rima hanya menganggukkan kepalanya. Namun, mata gadis itu masih setia menatap pahatan wajah tampan Dafa yang susah untuk dirinya berpaling. Setahun belakangan ini Rima sudah mulai menjatuhkan hatinya kepada laki-laki yang jelas sudah berstatus seorang suami.
Rima tahu jika Dafa suami dari boss tempat dirinya bekerja. Tapi, siapa yang bisa melarang hati kepada siapa dirinya berlabuh. Itulah yang di rasakan Rima saat ini.
"Kenapa masih di sini Rima? Apa masih ada yang ingin kamu tanyakan?" tanya Dafa menatap Rima yang tak bergeming dari sampingnya. Pasalnya dirinya sedari awal sudah merasakan mual karena bau parfum yang di pakai Rima. Karena, tak mau membuat Rima merasa tersinggung karena ucapannya, makanya Dafa menahan gejolak di dalam perutnya.
"Ahh tidak, tidak ada lagi Dafa. Aku permisi," Gegas Rima beranjak dari samping Dafa dengan langkah terburu-buru menuju mejanya. Padahal tadi dirinya ingin berlama-lama di dekat Dafa dan memperhatikan terus wajah tampan Dafa yang tak membuat dirinya bosan.
Dafa menghela nafasnya dengan kasar. Rasanya nyaman jika Rima tidak berada di dekatnya. Ntah kenapa bau parfum Rima membuat Dafa mual tak seperti biasanya yang menurut Dafa biasa saja. Parfumnya cukup harum menurut Dafa, tapi beda dengan sekarang. Mungkin saja hidung Dafa saat ini tengah tidak baik-baik saja makanya, Dafa bisa merasa mual jika gadis itu ada di dekatnya.
\*\*\*\*
__ADS_1
"Sayang kamu harum banget," Dafa mengendus-endus bau tubuh istrinya yang membuat dirinya nyaman. Kebetulan kini sudah masuk waktu istirahat makan siang.
"Emang biasanya aku nggak harus banget ya Mas?" rajuk Nirmala memanyunkan bibirnya.
"Harum kok, tapi sekarang kamu memang harum banget Sayang, bikin Mas nggak mau pisah dari kamu." Dafa kini memilih untuk memeluk erat tubuh istrinya. "pulang yuk Sayang?" Lanjut Dafa yang sesekali mengendus leher jenjang istrinya.
"Kamu kenapa sih Mas? Nggak biasanya loh kamu bertingkah seperti ini?" Heran Nirmala.
"Sayang Mas pengen rujak," Adu Dafa yang tak menjawab ucapan istrinya.
"Iss, kamu jorok Mas," Nirmala menoyor kepala suaminya karena liur Dafa yang hendak tumpah.
"Mas pengen rujak Sayang," Segera Dafa menelan ludahnya dengan kasa agar tak lagi seperti anak kecil yang kebelet pengen permen.
"Tumbenan kamu mau makan rujak siang-siang gini Mas? Biasanya juga nggak pernah tuh kamu makan rusak?" Kembali Nirmala merasa heran dengan suaminya. Padahal biasanya suaminya itu pasti akan mengajak dirinya untuk makan siang bersama bukanlah menginginkan rujak saat perutnya belum di isi..
"Nggak tahu Sayang, tiba-tiba saja Mas keingat sama rujak di sebrang jalan dekat kantor." ungkap Dafa jujur.
"Masuk!!!" ucap Nirmala saat ada seseorang yang mengetuk pintu ruangannya dari luar.
"Permisi Bu, maaf saya menganggu waktu istirahatnya," Rima, wanita yang satu ruangan dengan Dafa memasuki ruangan Nirmala. "Maaf Bu, saya telat ngasih laporan saya karena, tadi saya habis dari kamar mandi,"
"Tidak apa-apa, tarok saja di atas meja saya," pinta Nirmala di angguki Rima.
Rima melewati sofa yang mana Dafa dan Nirmala duduk. Bau parfum Rima yang menyengat membuat Dafa langsung berlari ke dalam kamar mandi.
"Mas kamu kenapa?" tanya Nirmala terkejut melihat suaminya yang membekap mulutnya dengan kuat.
__ADS_1
TBC