
Setelah kepergian Rinia langsung saja Dafa serta Nirmala menuju kamar mereka. Kebetulan hari juga sudah malam.
"Dafa, apa itu lo masih sakit?" tunjuk Nirmala pada suaminya yang sudah membaringkan tubuhnya.
"Ya masihkah Mbak, tendangan lo tendangan maut yang bikin nyawa gue hampir melayang," Sindir Dafa membuat wajah Nirmala murung.
"Maafin gue,"
"Sudahlah Mbak, gue juga sudah maafin lo. Kenapa lo nanya gitu?" tanya Dafa mengusap lembut rambut istrinya yang menyender di dada bidangnya.
"Apa besok Lo sudah bisa pakai celana?" tanya Nirmala menatap wajah suaminya.
"Maksud lo, Mbak?" Dafa tidak mengerti dengan ucapan istrinya. padahal baru saja dia mengatakan jika miliknya masih sakit lalu, sekarang kenapa malah nanyain dirinya jika besok bisa pakai celana. Padahal dari penjelasannya sudah pasti belum.
"Emmm itu, besok kan lo masuk kuliah, terus bagaimana caranya jika nggak lo pakai celana?"
"Gue izin dulu sampai sembuh Mbak. Nggak mungkin juga gue pakai sarung ke kampus. Ntar apa lagi pandangan orang ngeliat gue kek habis sunat gini," jawab Dafa. "Sudahlah, yuk tidur." ajak Dafa yang langsung memeluk erat tubuh istrinya.
Nirmala memejamkan matanya mengikuti sang suami yang sudah mulai memasuki alam mimpinya.
******
Dafa masih bergelung dengan nyenyak yang diatas ranjang. Panas pagi tidak mengusik sedikitpun tidur Dafa.
"Eerrggggg!!" Sekian menit berlalu barulah Dafa membuka matanya. menyesuaikan cahaya yang ada di dalam kamar.
"Astaga!!! Kok Lo nggak bangunin gue sih Mbak!!" Mata Dafa membelalak saat melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 9 pagi.
Gegas Dafa turun dari ranjang dengan hati-hati. Dirinya masih belum bisa bergerak leluasa. Meskipun miliknya sudah tidak terlalu bengkak lagi, namun rasanya masih agak ngilu kalau bergesekan dengan pahanya.
"Bi masak apa?" Dafa menghampiri dapur karena perutnya yang sudah sangat kelaparan.
"Tumis kangkung sama ikan goreng Den," jawab Bibi Keke.
"Mbak Mala sudah lama berangkat ke kantor Bi?" tanya Dafa saat sudah duduk di meja makan.
"Sudah Den, kira-kira jam setengah 7 tadi,"
Dafa menganggukkan kepalanya, menyendok nasi ke atas piring serta mengambil sedikit tumis kangkung serta satu potong ikan goreng.
Drettt..., Drett...,
Dafa menekan icon hijau pada benda pipih yang dia letakkan diatas meja makan.
("Ya Mabk?") Di sana terpampang jelas wajah cantik istrinya yang tengah duduk di kursi kebesarannya.
("Lo lagi apa?")
__ADS_1
("Gue mau sarapan Mbak. Kenapa lo nggak bangunin gau tadi pagi?") tanya Dafa yang menikmati kecantikan wajah istrinya.
("Lo tidurnya nyenyak banget jadi, gue nggak tega bangunin Lo,") Jujur Nirmala di sebrang sana.
("Hmm ya sudah. Lo nggak kerja Mbak? Lagian ini bukannya waktu Lo lagi ngerjain pekerjaan ya?")
("Gue kerja kok, cuman gue mau mastiin lo sudah bangun atau belum saja.")
("Mastiin gue bangun atau lo lagi kangen sama gue? Apalagi kita sekarang lagi LDR di siang hari sampai sore?") Dafa menaik-turunkan alisnya menggoda sang istri .
("Lo kalau ngomong kok jujur banget sih!! Ups, gue kelepasan. Nggak mungkin lah gue rindu sama lo, orang tadi pagi juga ketemu tuh,") jawab Nirmala yang jelas Dafa lihat salah tingkah.
("Lo jelas banget gengsinya Mbak. Susah banget ya buat lo jujur sama gue, padahal gue itu suami lo, Mbak,") Dafa masih tetap memperhatikan setiap gerak mimik wajah istrinya yang berubah-ubah.
("Baiklah gue jujur sama lo, gue memang rindu sama lo. Lo bisa nggak ke kantor setelah makan? Pikiran gue cuman ada lo. Gue pengen lo nemanin gue di kantor hari ini,")
("Gimana gue mau ke kantor lo, Mbak? Sedangkan gue masih pakai sarung?") tanya Dafa gusar. Jika saja dirinya sudah bisa pakai celana dengan semangat 90 dia akan meluncur ke kantor istrinya.
(Tidak masalah, lo datang saja ke kantor. Ntar biar gue deh yang jemput lo ke bawah.")
("Lo jangan aneh-aneh deh Mbak, masa iya gue pergi ke kantor kek habis sunat gini. Nanti apa lagi kata karyawan lo tentang gue,") tolak Dafa halus. Nanti sampai di kantor istrinya, malah dirinya yang akan jadi bahan gunjingan Makmak pasar.
(Nggak perlu lo pikirin apa tanggapan orang tentang lo. Ntar biar gue yang urus mereka. Intinya gue mau lo datang ke kantor sehabis makan. Gue tunggu!") Dafa menatap benda pipih itu yang sudah kembali ke layar utama karena, istrinya sudah lebih dulu mematikan sambungan vidio call mereka.
"Astaga Mbak, kok Lo nggak mikirin harga diri gue sih?" ucapnya gusar.
Dafa tak lagi melanjutkan makan paginya. Laki-laki itu gegas menuju kamar untuk bersiap-siap pergi kekantor istrinya. Jujur saja Dafa sangat malas untuk pergi kesana, tapi juga tidak tega melihat istrinya yang tidak mengerjakan tugasnya. Apalagi istrinya seorang petinggi di perusahaan. Ratusan karyawan yang bergantung hidup di perusahaannya.
"Den, itu Non Mala," ucap Koko memberitahu majikannya.
"Tolong panggil Mbak Mala kesini ya Pak. Biar dia langsung jemput saya ke sini," pinta Dafa kepada Pak Koko.
"Baik Den," Pak Koko langsung keluar dari dalam mobil. Mengikuti apa yang di perintahkan majikannya.
Dafa melihat Nirmala tengah berjalan menuju mobil diikuti Pak Koko di belakangnya.
__ADS_1
"Mbak, gue nggak usah masuk ya?" pinta Dafa saat Nirmala sudah membuka pintu mobil.
"Nggak bisa! Lo harus nemenin gue kerja hari ini. Lagian besok mana tahu lo sudah bisa ke kampus dan waktu gue sama lo di kantor nggak ada lagi." Nirmala meraih tangan suaminya. Bermaksud untuk membantu suaminya turun dari dalam mobil.
"Gue malu Mbak. Lo lihat sendiri gue masih pakai sarung, ntar gue dilihatin sama karyawan lo lagi," Alasan Dafa agar istrinya itu luluh dengan apa yang dia katakan.
"Lo nggak usah pedulikan mereka, lagian ada gue sama lo, mereka tidak akan berani macem-macem." Dengan berat hati Dafa turun dari dalam mobil.
Nirmala mengandeng suaminya memasuki kantornya. Banyak karyawan menatap Nirmala penuh tanya. Pasalnya selama ini Nirmala tidak pernah membawa laki-laki lain menginjakkan kakinya selain kekantor itu selain Hadi Wijaya mantan kekasih Nirmala 2 tahun lalu. Meski beberapa hari lalu juga mereka melihat Dafa di kantor itu, mereka hanya mengira Dafa rekan kerja Nirmala yang tumbang di dalam ruangan pemimpin mereka.
"Itu siapa bos ya?"
"Apa pemuda itu pacar baru Bos? Tapi lihatlah dia seperti habis di sunat,"
"Masa bos mau sih sama laki-laki berkain sarung seperti itu? Memang sih gantengan yang itu dari yang dulu, tapi gayanya lihatlah?"
"Nggak malu apa si bos bawa laki-laki seperti itu kekantor?"
Masih banyak lagi komentar yang keluar dari mulut karyawan Nirmala. Bahkan banyak pula yang memuji ketampanan suaminya itu. Hatinya memanas kala mendengar puji-pujian yang sangat berlebihan untuk suaminya. Memang Nirmala tak memungkiri ucapan karyawannya yang nayata benar.
"KAKIAN MAU BEKERJA ATAU MAU BERGOSIP!!!! KALAU SUDAH TIDAK SANGGUP LAGI BEKERJA DISINI SILAHKAN ANTARAKAN SURAT PENGUNDURAN DIRI KALIAN!!!" teriak Nirmala membuat semua karyawannya langsung diam dengan takut. Ucapan Nirmala bagaikan bom yang akan meledak dalam 1 detik.
Mata Nirmala kembali melihat seluruh karyawannya dengan tajam. "JANGAN PERNAH MEMUJI ATAUPUN MENGANGUMI SUAMI SAYA!!! INGAT UNTUK KEDEPANNYA WAJAH LAKI-LAKI YANG ADA DI SEBELAH SAYA ITU SUAMI SAYA!!" Setelah mengatakan itu Nirmala langsung membawa suaminya menuju lift khusus presdir.
__ADS_1
TBC