ISTRIKU MBAK-MBAK

ISTRIKU MBAK-MBAK
IMM 20


__ADS_3

Waktu pulang akhirnya tiba. Kini Dafa, Reza, dan Kenan sudah menuju ke tempat yang tadi pagi mereka sepakati dengan Dafa yang nebeng di belakang Kenan.


"Lo beneran sudah nikah sama Mbak-mbak yang kemaren Daf?" Kenan membuka suaranya saat mereka sudah duduk beberapa saat di sana. Tempat tongkrongan favorit mereka.


Data mengangguk. "Iya, gue sudah nikah sama dia sesuai dengan apa yang kemaren kalian denger."


"Ko bisa? Bukannya lo hanya suka sama Lala? Terus kenapa bisa lo khianati hubungan kalian?" Kini Reza yang itu bertanya pada Dafa.


"Gue dipaksa sama Mbak Mala untuk menikahinya. Gue sudah nolak tapi kalian tahu sendiri gue sayang banget sama motor gue. Kalau gua nggak mau nikah sama dia motor gue akan di hancurin bahkan dia bisa berbuat lebih dari yang gue bayangin." ungkap Dafa jujur.


"Astaga, sama cewek kek gitu lo takut Daf? Ckckckc nggak nyangka gue lo takut sama dia. Emang apa sih hebatnya dia sampai lo nggak berkutik sedikitpun?"


"Gue bukan takut sama dia, Ken. Gue hanya nggak rela motor gue di hancurin di depan mata gue sendiri. Apa lagi motor itu hasil dari uang yang gue tabung sendiri. Meski orang-tua gue mampu buat beliin gue motor bukan berarti gue rela gitu saja barang yang gue sayangi di hancurin tempat di depan mata gue sendiri."


"Ya kan lo bisa kabur ketiak harus pernikahan kalian? Emang sampai segitunya nok putus asa Daf?"


Dafa mengangguk. "Iya, gua nggak punya cara lain untuk tidak menikah dengan Mbak Mala, bahkan asal kalian tahu di depan orang-tua gue saja Mbak Mala sangat berani. Omongannya seakan tidak bisa di bantah, apa yang dia mau harus dituruti. Bahkan saat itu, gue juga di ancam jika saja gue nggak hadir di hari pertemuan keluarga juga pernikahan kami," jawab Dafa kembali menerawang saat-saat 7 bulan yang lalu.


Kenan dan Reza hanya mengangguk kepalanya. Mengerti dengan penjelasan sahabat mereka. "Terus sekarang bagaimana hubungan lo sama Lala? Putus? Atau masih lanjut?"


"Gue sudah putusin hubungan gue sama Lala," jawabnya membuat kedua sahabatnya melotot ke arah Dafa. Tak menyangka jika sahabat mereka akan melakukan itu pada gadis yang di cintanya.


"Astaga!!! Jahan banget lo jadi laki-laki Daf, lo nggak mikirin perasaan Lala apa? Kok tega mutusin dia sih kek gitu? Apa emang rasa cinta lo itu sudah habis untuk dia?" kelakar Reza menatap Dafa sengit. Sungguh di yang sebagai laki-laki terluka karena perbuatan sahabatnya.

__ADS_1


"Awalnya gue juga mau nerusin hubungan gue sama Lala, bahkan sampai gue sama dia nikah. Pernikahan gue sama Mbak Mala hanya pernikahan kontrak yang di buat Mbak Mala untuk satu tahun. Tapi di awal pernikahan gue sudah ngomong sama dia kalau gue nggak bakal cerain dia, tapi ya itu, dia egois mau menang sendiri. Yasudah gue tandatangani surat perjanjian itu. Tapi kalian lihat kan kemaren dia datang ke kampus dan langsung nyium gue gitu saja? Itu untuk pertama kalinya dia nyium gue di depan umum dan ngakuin pernikahan kami. Pernikahan tertutup yang dihadiri keluarga dan tetangga terdekat. Meski gue pernah nyium dia sekali waktu itu, tapi yang gue dapat malah tendangan maau dari dia." cerita Dafa membuat kedua sahabatnya itu hanya menganggukkan kepala.


"Kalian ingat 'kan waktu itu gue nggak masuk kuliah beberapa hari? Itu karena di tendang sama Mbak Mala, gue nyuri ciuman pertama dia, dan dia nggak terima dengan tindakan yang gue lakuin. Alhamdulillah tubuh gue sakit karena ulah dia,"


"Astaga sadis banget istri lo, Daf," Reza bergidik membayangkan bagaimana Dafa serumah dengan wanita seperti Mala. Dari cerita saja sudah menyeramkan apalagi kalau merasakan secara nyata.


"Ya giru lah istri gue, Za. Gue bukan nggak cinta lagi sama Lala sehingga gue dengan rela mutusin dia tapi, gue hanya ingin mempertahankan pernikahan gue. Gue nggak mungkin akan poligami disaat istri gue sudah membuka jalan untuk rumah tangga kami. Dia bahkan sudah merobek surat perjanjian pernikahan kami agar pernikahan itu bisa layaknya seperti pernikahan pada umumnya. Sesuai dengan janji gue di awal pada diri gue sendiri. Gue bakal lepasin Lala jika saja pernikahan kontrak itu di batalkan. Dan seperti yang sekarang kalian dengar, gue mutusin Lala demi pernikahan gue," Dafa menatap bergantian kedua sahabatnya.


"Gue salut sama lo, Daf. Lo rela melepaskan cinta lo hanya karena istri paksa lo," Beberapa kali Kenan menepuk bahu Dafa memberi dukungan pada sahabatnya itu. Tidak ada yang salah dari apa yang Dafa lakukan. Semuanya benar, benar karena dia rela melepas pacarnya dari pada istri yang dah bagi dirinya.


"Terima kasih dukungan lo Ken,"


Kenan hanya menganggukkan kepalanya. "Emmm, apa lo sudah unboxing sama istri lo, Daf?" Kenan menatap serius ke arah Dafa. Dia sungguh ingin tahu apakah sahabatnya itu sudah tidak lagi perjaka.


"Sumpah istri lo cantik banget Daf, gue kemaren sampai pangling lihatnya. Jika saja dia beneran sepupu lo, gue bakalan rela jadi suaminya meski dia tindas setiap hari. Mana ada yang bakal nolak pahatan wajah bak bidadari seperti itu. Tapi dia punya adik ngak sih Daf?" tanya Reza antusias.


"Ada kok, Mbak Mala punya adik seusia kita, tapi gue belum pernah ketemu sama dia karena dia kuliahnya di luar negeri," jawab Dafa mengangguk.


"Kenalin dong sama gue, mana tahu gue bisa daftar jadi suami dia," Reza semakin antusias mendengar ucapan Dafa. Seakan ada kamu hijau yang akan dia dapatkan.


"Masalahnya dia nggak bakalan mau nikah sama lo, Za,"


"Kenapa?" Kini kening Reza mengerut bebeberapa lipat mendengar ucapan Dafa.

__ADS_1


"Ya mana mau dia masa terong makan terong, hahahahah," Dafa memegang perutnya karena ucapannya yang terdengar lucu.


"Wahahahaha, a*j*r lo, Daf, sumpah bakit perut gue gara-gara ucapan lo," Kenan juga ikut tertawa mendengar ucapan Dafa. Dia mengira jika adiknya Mala itu sudah memiliki calon suami ehhh tau-taunya malah sama kek mereka.


Sedangkan Reza hanya menatap sengit ke arah Dafa. Tak suka dengan candaan yang dibawa Dafa. Padahal tadi dia sudah sangat serius mendengar ucapan sahabatnya itu. Tapi akhrinya ya, sungguh sangat menyakitkan.


"Kasar banger sih lo, Za," Dafa memegang kepalanya yang terasa sakit karena ulah Reza yang mengeplaknya dengan cukup keras.


"Salahnya lo sendiri yang mainin gue," ujar Reza dengan kesal.


"Hahaha, maafin gue, Za. Gue nggak maksud kok bohongin lo," ucap Dafa minta maaf.


Sekitar satu setengah jam mereka berada di sana, akhirnya mereka memilih untuk pulang. Kenan mengantar Dafa ke rumah Nirmala sedangkan Reza menemui pacarnya karena sudah membuat janji.


"Lo seriusan ini rumah istri lo Daf?" Kenan menatap tak percaya kepada rumah bak istana yang berada di depannya. Rumahnya saja kalah dari rumah yang di huni Dafa saat ini.


"Iya, masuk dulu yuk?" ajak Dafa mendapat gelengan dari Kenan.


"Kalau gue jadi lo, gue juga pasti bakal ngelakuin hal yang sama Dafa. Sudah istri cantik sultan lagi. Bak jatuh dari kolam tapi dapatnya berlian bukan ikan, hahahah,"


"Lo ada-ada saja Ken, beneran lo nggak mau mampir dulu?" tanya Dafa sekali lagi.


"Nggak usah Daf, lain kali deh gue mampir sama Reza ke rumah istri sultan lo itu. Sekarang gue langsung balik," pamit Kenan di angguki Dafa.

__ADS_1


TBC


__ADS_2