
Sudah 6 bulan lamanya Dafa menjalani rumah tangga dengan Nirmala. Rumah tangga yang bahkan terkesan tidak seperti rumah tangga yang dijalani banyak orang. Jika setiap insan akan tidur satu ranjang dan satu kamar, maka berbeda dengan rumah tangga Dafa yang pisah kamar meski dalam satu rumah.
"Yang, besok aku ulang tahun loh," Lala mengkode kekasihnya.
"Iya Yang, aku pasti ingat dengan hari bahagia kamu. Aku nggak akan mungkin lupa dengan itu," Dafa mengusap lembut pipi kekasihnya. "Kamu mau hadiah apa untuk besok?" tanya Dafa dengan lembut kepada kekasihnya itu.
"Hanya ingin hubungan kita langgeng sampai pernikahan Yang, aku tak minta hal yang lainnya selain itu." Dengan senyum manis Lala menatap kekasihnya itu. Jangan lupa juga tangannya yang mengelus rahang Dafa yang sekarang di tumbuhi bulu-bulu halus.
Dafa terdiam mendengar ucapan kekasihnya. Jika tahun lalu dia akan menjawab dengan kata aamiin namun, sekarang Dafa tidak dapat mengatakan hal itu. Dia sudah memiliki istri meski hanya istri kontrak. Tapi bisakah pernikahan itu berjalan hingga akhir hayatnya? Mengingat itu raut wajah Dafa berubah murung. Tidak akan lama lagi pernikahannya dengan Nirmala akan berakhir.
"Kenapa wajah kamu murung gitu Yang? Apa kamu tidak senang jika hubungan kita berkahir bahagia?"
"Ahh tidak, tidak kok Sayang. Aku pasti mau hubungan kita langeng kok," Data terpaksa menampilkan senyum manisnya. Yakinlah hatinya saat ini tak karuan. Bayangan akan berkahir pernikahannya dengan Nirmala membuat Dafa kelingan semangat.
"Syukurlah Yang, tadi aku pikir kamu tidak senang hubungan kita akan langgeng," Lala memeluk lengan kekar Dafa. Menyenderkan kepalanya pada lengan kekasihnya dengan senyum mengembang di bibirnya.
****
Hari ini bertepatan dengan hari ulang tahun Lala. Gadis itu sangat senang karena di bawa Dafa untuk jalan-jalan ke laut. Lala sangat mencintai pemandangan laut maka dari itu Dafa membawanya kesana.
Sepasang anak manusia itu duduk sambil meluruskan kakinya di atas pasir putih itu. Menatap ombak yang tak terlalu kencang. Hembusan angin menerpa wajah kedua insan itu.
Sedangkan tak jauh dari mereka seseorang mengamati mereka. Melihat apa saja yang dilakukan kedua insan itu tanpa ada yang terlupakan.
("Ya Bos?)
("Apa yang dilakukan suami saya sekarang") tanya Nirmala di sebrang sana. Ya, laki-laki itu mata-mata yang dikirim Nirmala untuk mengawasi Dafa.
("Suami Nona tengah duduk santai bersama kekasihnya Nona. Tunggu biar saya foto terlebih dahulu apa yang sekarang tengah mereka lakukan, agar Nona percaya,) Laki-laki itu memotret apa yang dilakukan Dafa dan kekasihnya. Mengirim foto tersebut kepada Nirmala yang kini tengah berada di kantornya.
("Awasi dia terus, jangan sampai ada yang tertinggal. Jangan lupakan kirim kepada saya apa saja yang mereka lakukan!!") pinta Nirmala. Lalu mematikan telepon itu sepihak.
__ADS_1
Sedangkan saat ini Dafa tengah menikmati pagutan bibir mereka. Membiarkan orang-orang yang berada di sama menanggapi sesuai pikiran masing-masing. Yang jelas kedua insan itu sampai lupa jika saat ini mereka bukanlah berada pada tempat yang sepi melainkan tempat ramai.
"Yang," Dengan nafas terengah-engah Lala menyebut nama Dafa. Sungguh nafasnya seakan-akan mau habis jika saja Lala tidak memutus tautan bibir itu.
"Kenapa?" Dafa menatap sayu kekasihnya. Laki-laki itu masih ingin menikmati bibir Lala. Hanya gadis itu yang bisa membuat Dafa mengetahui rasa manis dari benda kenyal itu.
Istri? Percuma saja punya istri tapi tak pernah merasakan bibirnya. Jangan itu memegang tangan istrinya saja Dafa tak pernah. Belum sampai tangan itu mendarat ditangan putih sang istri, Nirmala malah langsung menepis tangannya dengan kasar. Tak lupa pelototan matanya nyang marah.
"Banyak yang ngeliatin kita dari tadi Yang, aku malu," Rona merah menghiasi pipi cantik Lala.
Dafa menarik kepada Lala untuk bersandar pada dada bidangnya. Mengusap lembut rambut kekasihnya. "Biarkan saja Sayang, lagian banyak juga yang ngelakuin hal yang sama kok." hibur Dafa yang memang tak berbohong. Mata laki-laki itu menangkap beberapa orang yang tengah asik menautkan bibirnya dengan pasangan masing-masing.
"Tetap saja aku malu Yang,"
"Ya sudah kalau kamu malu kita pergi saja dari sini, mau kan?"
Lala menganggukkan kepalanya. Rasanya dia sudah sangat malu dengan apa yang baru saja dia lakukan dengan Dafa. Semburat merah di pipinya bahkan belum juga hilang. Yang ada semakin manas, bak kepiting yang baru saja matang.
"Makasih Yang, makasih kamu sudah menuhin keinginan aku di hari bahagia aku," ujar Lala saat mereka telah selesai makan.
"Sama-sama Sayang, aku tidak akan mungkin membiarkan kamu cemberut di hari bahagia kamu, Yang," jawab Dafa menampilkan senyum manisnya.
"Setelah ini antar aku pulang ya Yang, aku sudah lelah," pinta Lala.
"Baiklah Sayang, aku juga sama lelahnya kek kamu, Yang. Lagian sekarang sudah mau masuk sore,"
Dafa mengantar Lala ke rumahnya dengan Lala itu yang memeluk pinggang Dafa dengan posesif. Bahkan tak sekalipun tangan Lala lepas dari pinggang kekasihnya.
"Terima kasih Yang. Terima kasih sudah buat aku bahagia di hari bahagia aku." ungkap Lala dengan bahagia. Tak lupa gadis itu menampilkan senyum manisnya.
"Sama-sama Sayang, aku juga bahagia sudah membuat kamu bahagia di hari spesial kamu, Yang," Dafa mengusap lembut pipi mulus kekasihnya. "Ya sudah, aku pulang dulu Yang, soalnya gerah mau mandi," pamit Dafa melepaskan usapan pada pipi kekasihnya.
__ADS_1
"Iya Yang, hati-hati di jalan."
Lala menatap punggung kekasihnya sampai hilang di penglihatan gadis itu. Setelahnya barulah Lala masuk ke dalam rumahnya.
****
"Dari mana lo?" Dafa terkejut mendengar suara Nirmala yang membuat Dafa terperanjat karena terkejut.
"Astaga Mbak!! Lo bikin gue jantungan."
"Gue nanya lo habis dari mana?" ulang Nirmala menatap Dafa tajam.
"Ngapain lo nanya-nanya gue, Mbak?" Dafa mendelik menatap Nirmala. Heran dengan tingkah gadis itu akhir-akhir ini.
"Gue nggak suruh lo nanya balik sama gue ya?!"
"Yaelah Mbak, lo kenapa sih? Heran gue sama sifat lo akhir-akhir ini." Dafa melangkah mendekati Nirmala. Duduk di samping gadis itu meski berjarak tiga jengkal.
"Ngapain lo duduk di sini!! Pindah!!" Nirmala menggerakkan tangannya bermaksud mengusir Dafa. Namun gerakan tangan itu tak membuahkan hasil.
"Biasa aja kali Mbak, lagian gue itu suami lo. Ngapain sih lo harus nyuruh-nyuruh gue pindah segala." Dafa protes dengan apa yang pinta Nirmala kepadanya.
Akhirnya Nirmala membiarkan Dafa duduk sesuka hatinya di sana. "Habis dari mana lo tadi?" Untuk yang ketiga kalinya Nirmala mengulang pertanyaan yang sama.
"Lo kesambet dari mana sih Mbak? Nggak biasanya lo ikut campur urusan gue?" Dafa sungguh bingung dengan gadis di sampingnya itu.
"Gue nanya habis dari mana lo?!" Kini suara Nirmala terdengar membentak membuat Dafa cukup terlonjak mendengar suara gadis itu.
"Astaga!! Gue makin heran dengan sifat lo akhir-akhir ini Mbak? Sumpah lo berubah jadi cerewet tau nggak?" Dafa menatap Nirmala dengan menaikkan satu alisnya. Menunggu jawaban apa yang akan di berikan Nirmala untuknya.
Nirmala terdiam mendengar ucapan Dafa. Gadis itu baru sadar jika akhir-akhir ini dia terlalu cerewet bahkan suka ikut campur dengan apa yang dilakukan Dafa. Ingin tahu apapun yang terjadi pada suami kontraknya itu. Ada apa dengan dirinya, ahhh rasanya Nirmala malas sekali memikir apa yang terjadi pada dirinya kini.
__ADS_1
TBC