ISTRIKU MBAK-MBAK

ISTRIKU MBAK-MBAK
IMM 17


__ADS_3

"Seriusan lo rela mutusin pacar lo demi gue?" Nirmala menatap tak percaya kepada suaminya.


"Hmm, iya. Gue akan lakukan itu asalkan rumah tangga kita baik-baik saja Mbak," Jujur Dafa. Lagian yang terpenting itu rumah tangganya dari pada hubungannya dengan Lala yang hanya sebatas pacaran.


Nirmala hanya menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Dafa, suaminya. Mobil yang dikendarai Nirmala akhirnya sampai di pekarangan rumahnya yang bak istana. Langsung saja Nirmala memasukkan mobilnya ke garasi karena, setelah ini dia tidak akan pergi ke kantor.


"Non Mala tadi sekretaris Non Sisi ngantar berkas ke rumah katanya di suruh sama Non Mala dan sudah Bibi letakkan di ruang kerja Non Mala," ucap Bibi Keke saat melihat majikannya tengah menaiki tangga bersama suaminya.


"Ahh iya Bi, terima kasih," ucap Nirmala dan melanjutkan langkahnya.


Dafa memasuki kamar yang biasa dia pakai diikuti Nirmala dari belakang. "Lo ngapain masuk ke sini Mbak?" Dafa menatap bingung istrinya yang ikut masuk ke dalam kamarnya.


"Gue mau lo ikut tidur di kamar gue dan nanti Bibi akan mindahin semua barang-barang lo ke kamar gue," ucap Nirmala membuat Dafa melongo.


"Lo seriusan gue ikut tidur di kamar lo, Mbak? Li nggak lagi ngeprank gue kan?" Dafa menatap Nirmala penuh selidik. Tapi jika itu beneran ya Dafa pastu akan sahabt bahagia.


"Sejak kapan gue pernah bohong sama lo? Gue seriusan lo harus tidur di kamar gue mulai malam ini. Kita akan menjadikan pernikahan sungguhan bukan lagi pernikahan kontrak yang hanya satu tahun. Nanti surat perjanjian itu akan gue sobek," jelas Nirmala.


"Wahhhh, gue bahagia banget Mbak," Dafa langsung saja menerjang tubuh istrinya. Memeluk erat tubuh yang lebih kecil dari tubuhnya itu. Tak lupa Dafa mendaratkan beberapa ciuman pada wajah sang istri saking bahagian.


"Iss lo jorok banget sih?!" Nirmala menoyor kepala Dafa agar menjauh dari dirinya. "lihat wajah gue sampai basah kek gini gara-gara air liur lo yang baunya nauzubillah," Nirmala kesal dengan kelakuan suaminya yang tampak kekanak-kanakannya.


"Yaelah Mbak, sekarang lo bilang bau tapi tadi di kampus malah lo nikmatin." Dafa ikut kesalahan dengan istrinya itu.


Nirmala bersemu mendengar ucapan suaminya. Memang benar apa yang dikatakan Dafa, Nirmala memang sangat menikmati benda kenyal milik suaminya itu, terasa manis. Apalagi itu hal pertama yang pernah dilakukan Nirmala. Maksudnya hanya bibir Dafa yang pernah berciuman dengan bibirnya.


"Terserah gue mau ngomong apa, ngapain lo yang sewot?" Nirmala mendengus kepada suaminya.

__ADS_1


"Suka-suka lo lah Mbak mau ngomong apa," Dafa meningalkan Nirmala setelah mengambil handuk, lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Sepuluh menit berlalu Dafa keluar hanya dengan menggunakan handuk sepinggang. Tak melihat keberadaan istrinya di dalam kamarnya. Dafa menganggap mungkin saja Nirmala sudah keluar dari kamarnya lantaran tidak melihat keberadaan Nirmala di seluruh sudut kamar itu.


Dafa memoles wajahnya seperti biasa yang dia lakukan. Selesai dengan wajahnya langusng saja Dafa membuka lemari untuk mengambil pakaian ganti.


Membuka handuk yang melekat pada tubuhnya yang tak menyisakan sehelai kain pun di tubuh polos itu. Dengan santainya Dafa melangkah menuju ranjang dimana baju yang baru saja dia lempar.




Sedangkan Nirmala kini tengah berdiri di balkon kamar Dafa. Menatap pemandangan yang tampak sangat cerah karena cuaca hari ini panas dan sangat terik.


Sebelumnya Nirmala kesal dengan suaminya yang tidak menunggu jawaban dari dirinya. Dengan langkah kesal Nirmala memilih ke balkon kamar itu sembari menunggu suaminya yang tengah mandi.


Nirmala mematung menyaksikan suaminya tanpa berkata sedikitpun. Mata Nirmala hanya terfokus pada tubuh suaminya yang sangat menggiurkan. Ingin rasanya Nirmala berlari menuju suaminya dan memeluk tubuh itu dengan erat. Ingin menyentuh tubuh kekar suaminya itu dengan jari-jari lentiknya.


"Astaga Mbak!! Sejak kapan lo berada di sana?" Dafa sungguh terkejut saat melihat istrinya yang mematung di pintu balkon. Bahkan istrinya itu tidak bergeming sedikitpun dengan mulut terbuka menatap dirinya.


"Mbak!!?" Dafa mendekati istrinya yang tak bergeming sedikitpun.


"Ah i-iya ada apa Dafa?" ucap Nirmala tergagap.


"Sejak kapan lo berdiri di sini?" Dafa memicingkan matanya menatap sang istri yang tampak bersemu.


"Se-sejak, emmm sejak--"

__ADS_1


"Sejak kapan Mbak? Kenapa sih lo ngomongnya gagap gitu sih?" Dafa memotong ucapan istrinya.


"Emm sej-sejak lo berjalan menuju ran-ranjang," Nirmala menutup rapat matanya saat mengatakan kata ranjang. Sungguh dirinya sngat malu mengatakan itu. Bahkan wajahnya bak tomat yang terasa panas.


"A-apa? Ke-kenapa lo nggak kembali lagi ke balkon Mbak?" Dafa malu, amat sangat malu saat mendengar ucapan istrinya. Apalagi pikirannya terbayang lagi saat berjalan dengan santainya menuju ranjang tanpa sehelai benang pun.


"Gu-gue nggak bisa!" ucap Nirmala membuat Dafa menatap dirinya intens.


"Kenapa? Apa lo nikmatin keindahan pahatan Tuhan pada tubuh gue? Atau ada hal lain yang lo lihat?" Mata Dafa semakin memicing menatap Nirmala. Menunggu jawaban apa yang akan keluar dari mulut istrinya itu.


"Ngapain sih lo bahasa-bahasa begituan? Lagian juga nggak membuat lo rugi bukan? Lagian gue juga nggak sengaja melihat kok," Sowot Nirmala berjalan menuju ranjang Dafa.


"Apa lo bilang Mbak? Nggak sengaja? Yang benar saja nggak sengaja? Kalaupun memang nggak sengaja lo nggak akan mungkin berdiri disana sampai gue selesai makai baju kali Mbak. Sama saja lo ketagihan melihat tubuh indah gue 'kan?" Dafa itu berjalan menurut istrinya yang kini sudah duduk di ranjangnya.


"Lo kalau ngomong jangan asal nuduh ya?! Gue bilang nggak sengaja ya nggak sengaja!!" bentak Nirmala tak suka dengan tuduhan nyata suaminya.


"Alah, jujur saja napa sih Mbak? Susah banget buat lo mengatakan iya sama gue. Lagian gue ini suami lo, mau lo lihat sampai mata lo keluar juga sah-sah saja kali. Ngapain juga lo harus mengelak begitu? Ego jangan di gedein Mbak, ntar lo juga yang nyesel." Dafa berdiri tepat di depan istrinya yang tengah duduk di bibir ranjang.


"Enak banget lo ngomong gitu sama gue ya? Gue sudah jujur kalau gue itu nggak sengaja lihat! Kenapa lo keras kepala banget jadi orang, ha? Sama saja lo fitnah gue tau!!" Lagi-lagi Nirmala tidak suka mendengar ucapan suaminya yang seakan memojokkan dirinya.


"Fitnah? Dari mana gue fitnah lo Mbak? Gue ngomong juga sesuai kenyataan kali Mbak. Lo berdiri di sana sampai gue selesai makai baju, bukan? Jika pun lo nggak sengaja sudah pasti lo akan kembali ke balkon bukan malah nyaksiin tayangan langsung yang gue lakukan."


"Intinya gue nggak sengaja ngeliatin lo!! Sudah deh lo nggak perlu mem---"


Ucapan Nirmala terpotong saat Dafa mendorong keras tubuh istrinya hingga terlentang diatas ranjang miliknya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2