ISTRIKU MBAK-MBAK

ISTRIKU MBAK-MBAK
IMM 37


__ADS_3

"Dafa," Nirmala langsung bergegas menuju suaminya. Meraih tangan kekar itu untuk diciumnya seperti biasa. Dafa tak menjauhkan tangannya kala sang istri mengecupnya.


"Siapa?" tanya Dafa tanpa mengalihkan pandangannya pada laki-laki yang kini tengah mematung di samping meja kerja Nirmala.


"Dia..., emm dia rekan kerja gue," jawab Nirmala grogi.


"Jawab jujur siapa dia? Gue nggak suka lo bohongi gue, Mbak?!" tekan Dafa yang kini beralih menatap mata istrinya dengan tajam.


"Gue nggak bohong Dafa, beneran dia hanya rekan kerja gue. Lo bisa tanya sama Sina kalau tidak percaya."


"Benar hanya rekan kerja? Terus kenapa dia megang tangan lo, Mbak? Tidak mungkin kalau rekan kerja berani megang tangan lo, bukan?"


"Emm, ok-ok gue jujur. Dia memang rekan kerja gue dan juga mantan kekasih gue." jawab Nirmala jujur. "Tapi masalah dia megang tangan gue, sudah dari awal gue mau nepis tangan dia tapi keburu lo masuk dan ngelihat itu semua. Sumpah gue nggak bohong sama lo Daf,"


"Kenapa lo megang tangan istri gue?" kini Dafa beralih menatap Hadi yang masih mematung. Mencerna apa yang kini terjadi didepan matanya. "apa lo nggak lihat di jari manis istri gue tersemat cincin pernikahan?" Urat-urat leher Data terlihat jelas karena, amarah yang memuncak. Dirinya tidak suka jika miliknya di sentuh laki-laki lain apalagi ini seorang mantan.


"Lo punya mulut untuk ngomong kan? Bukan untuk menjadi patung seperti ini?!" bentak Dafa dengan memukul meja istrinya untuk menyadarkan laki-laki itu dari pikirannya yang ntah bercabang kemana.


"Mala ini nggak benar kan? Kamu hanya ngeprank aku man Mala? Nggak mungkin kamu nikah sama laki-laki urakan seperti dia?" Bukannya menjawab ucapan Data, Hadi malah menatap Nirmala menuntut sebauh jawaban tidak dari mulut itu.


Dafa yang tak dihiraukan Hadi langsung marah besar dengan tangan terkepal kuat serta urat-urat di lehernya terlihat jelas.


Bugh...! Bugh...! Bugh...!


Tiga kali pukulan mendarat manja di pipi Hadi membuat laki-laki itu tersungkur ke lantai. Dengan segera Dafa duduk di atas dada bidang Hadi. Menyorot tajam wajah laki-laki yang berada di bawanya.

__ADS_1


"Dafa jangan, jangan lagi main tangan. Gue nggak mau lo nanti juga terkuka," ucap Nirmala yang tak di hiraukan Dafa.


"Lo mau tahu bagaimana laki-laki urakan itu bukan?" Dafa merah kerah baju Hadi dengan erat membuat leher Hadi tercekik lantaran kerah bajunya nyang terlalu erat di pegang Dafa.


Bugh...! Bugh...!


Kembali dua pukulan mendarat imut di pipi Hadi membuat sudut bibir laki-laki itu mengeluarkan darah. Setelahnya barulah Dafa berdiri dari dada Hadi ketikan melihat wajah Hadi yang sudah babak belur.


"Pergi lo dari ruangan istri gue!!" bentak Dafa saat Hadi yang sudah berdiri. Menatap tidak suka laki-laki yang susah menjadi matan kekasih istrinya. Laki-laki yang telah berani menyentuh tangan istrinya. Tangan lembut yang hanya dirinya saja yang boleh memegang tidak untuk laki-laki lain apalagi itu Hadi si mantan kakasih sang istri.


"Lo nggak pantas jadi pendamping hidup Nirmala. Lo hanya laki-laki urakan yang tidak cocok bersanding dengan wanita sebaik Nirmala. Ingat!!! Saya akan merebut kembali apa yang pernah menjadi milik saya!!" Tekannya saat Hadi berdiri di pintu ruangan Nirmala. Menatap Dafa dengan tatap tidak suka, benci dan amarah yang mengebu.


"Lo--"


"Gue nggak mau tahu, pokoknya lo harus batalin kerja sama dengan perusaan dia." Dafa menatap istrinya dengan lembut. "Gue nggak mau lo kerja sama dengan perusahaan dia yang otomatis lo akan sering bertemu sama dia. Bukan gue nggak ngijinin lo kerja sama dengan perusahaan lain, hanya saja sama dia gue nggak ngizinin lo jalin kerja sama. gue cemburu Mbak, gue cemburu saat lo ngomong dia mantan pacar lo dan nasnya lagi gue ngeliat dia sudah megang tangan lo meski lo sudah mau menipisnya tetap saja gue cemburu Mbak," Jujur Dafa menatap lembut sang istri. Dia sungguh sudah jatuh dalam pesona Nirmala, sudah jatuh hati lada wanita yang berstatus istri paksanya itu.


"Baiklah, gue akan batalin kerja sama dengan perusahaan dia sesuai dengan apa yang lo katakan." Nirmala menampilkan senyum manis khas dirinya. Nirmala paham apa yang di maksud Dafa hanya untuk kebaikan rumah tangga mereka. Jangan nanti malah hancur gara-gara orang ketiga. Bukan Nirmala tidak profesional tapi, jika itu menyangkut rumah tangganya lebih baik Nirmala mengalah. Karena kerugian uang masih bisa di cari berbeda dengan rumah tangga yang sudah retak. Bisa kembali utuh belum tentu bisa kembali seperti semula. Kadang kala ada saatnya akan datang didalam pikiran apa yang pernah terjadi di dalam rumah tangga itu sendiri.


"Terima kasih Mbak, lo sudah mau ngikutin ucapan gue. Gue ngelakuin ini juga untuk kebaikan rumah tangga kita," jujur Dafa yang takut kehilangan istrinya.


"Sama-sama gue paham kok apa yang lo katakan meski nggak lo sebutin." jawab Nirmala.


"Emmm, Mbak main ulat-ulat kayu yuk?" ajak Dafa yang kini sudah menempelkan bibirnya tepat di leher istrinya tanpa persetujuan Nirmala.


"Erreggghhhhh!!" Nirmala mengeram saat rasa geli, sakit serta nikmat yang dia rasakan pada lehernya.

__ADS_1


"Ehhh, jangan lo tambah lagi cap cicak di leher gue! Gue nggak bawa fondusiesn," ucapan Nirmala tersadar dengan apa yang dilakukan suaminya pada leher putih itu.


"Heheh gue lupa Mbak, tapi kok lo aneh banget sih Mbak, karena ngomongnya cap gajah lalu sekarang malah cal cicak?" ujar Dafa mengernyitkan dahinya tak ngerti dengan ucapan Dafa.


"Suka-suka gue dong, lagian lo juga sama anehnya. Masa main ulat-ulat kayu," sindir Nirmala membuat Dafa hanya cengengesan.


Kini bibir tebal Dafa sudah bertengger indah di atas bibir Nirmala. Memberikam akses nikmat di antara kedua bibir itu. Saling membagi saliva di atas sofa dengan Nirmala yang duduk di atas pangkuan Dafa.


Tangan Dafa yang semula diam kini sudah bergerak sesuka hatinya. Menggapai apapun yang bisa dia gapai dengan tangan itu. Lenguhan Nirmala membuat Dafa semakin bertambah semangat.


"Errrr, Mbak," Suara Dafa tertahan saat tangan liar istrinya kini bermain didada bidangnya. Membentuk beberapa pola yang membuat Leno semakin bergerak dengan lincahnya meski masih menggunakan baju.


"Emmm," Nirmala memejamkan matanya saat Dafa mencium kedua netra yang tertutup indah itu dengan bibir tebalnya setelah memberikan sentuhan pada bibir kenyal miliknya.


"Mbak pintu sudah lo kunci belum? Gue nggak mau nanti jika kita main ulat-ulat kayu malah ada yang masuk. Belum juga masuk si elang sudah datang," ucap Dafa memberitahu istrinya.


"Si elang maksud lo apa?" tanya Nirmala tidak paham dengan ucapan suaminya.


"Ya orang yang masuk gangguin kita main ulat-ulat kayu lah Mbak, siapalagi coba?"


"Oh gitu, nah sudah selesai gue kunci. Yakin main di sini? Nggak dikamar?" tanah Nirmala ragu.


"Disini saja Mbak, mungkin benda tempat beda juga rasanya,"


TBC

__ADS_1


__ADS_2