ISTRIKU MBAK-MBAK

ISTRIKU MBAK-MBAK
IMM 14


__ADS_3

Nirmala mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali saat mendengar ucapan Dafa. Bahkan mulut Nirmala tertutup dengan rapatnya tanpa mau membuka barang sedikitpun. Pikirannya saat ini belum kembali dengan sempurna.


"Kurang ajar!!!" Nirmala langsung menendang tubuh Dafa dengan kakinya. Bahkan Nirmala menendang Dafa dengan sekuat tenaga.


"Mama!!!!!" Pekik Dafa saat merasakan pingangmya terasa ngilu. Seakan tulang-tulang itu mau patah dari tempatnya.


Dafa turun dari sofa berguling-guling dilantai karena rasa sakit yang teramat sangat. Bahkan air mata Dafa tampak keluar tanpa dapat di cegah dari mata tegasnya. Rasanya sangat sakit bahkan untuk berbicara saja rasanya Dafa sungguh tidak sanggup.


Dafa memegang bagian pingangnga yang di hantam Nirmala dengan kakinya. Untuk berdiri saja Dafa tidak sanggup lagi.


"L-lo tidak apa-apa Dafa?" Nirmala panik melihat suaminya yang terlihat kejang-kejang di lantai. Jangan lupakan Nirmala melihat tetesan air mata yang keluar dari mata suaminya.


"Lo jangan bikin gue takut Dafa," Nirmala mendekati Dafa yang masih meringis kesakitan. Bahkan tak ada yang keluar dari mulut Dafa barang sekatapun.


"Non Mala ada apa? Kenapa Den Dafa guling-guling seperti itu?" Bibi Keke langsung saja menghampiri Dafa. Karena tadi Bibi Keke mendengar suara teriakan Dafa.


"Apa yang Non lakukan pada Den Dafa? Kenapa bisa seperti ini?" Bibi Keke tampak sangat khawatir dengan majikan laki-lakinya.


"A-aku menendangnya Bi,"


"Astaga Non, kenapa Non harus melakukan itu pada suami Non sendiri? Lihat apa yang terjadi padanya saat ini?" Bibi Keke berlari ke luar rumah untuk meminta tolong kepada penjaga untuk membawa Dafa ke kamarnya.


"Maafin gue, Dafa. Gue nggak sengaja," Saat ini Nirmala duduk di samping ranjang Dafa. Memegang tangan suaminya itu dengan erat. Rasa bersalahnya membuat Nirmala tidak tega berbuat kasar lagi pada suaminya.


"Sudahlah Mbak. Bisa lo keluar dari kamar gue? Gue pengen sendiri." Bukannya mengusir tapi Dafa memang malas bersama Nirmala saya ini. Dia kesal dengan sifat kasar istrinya itu. Pinggangnya saja masih terasa sakit meski sudah di periksa oleh dokter keluarga Nirmala.


"Tapi lo ba--"


"Pliss Mbak, gue pengen sendiri." Dafa mengalihkan penglihatannya ke arah lain. Sunggu dia sangat malas menatap wajah cantik istrinya itu.


"Baiklah gue akan keluar, semoga lo cepat sembuh dan maafkan gue," Nirmala meninggalkan kamar Dafa. Dia sungguh menyesal telah melakukan kekerasan terhadap suaminya sampai-sampai untuk berdiri saja Dafa amat susah.


****


"Mau ngapain lo kesini?" Saat ini Nirmala berada di depan pintu rumahnya. Melihat pacar suaminya berkunjung ke rumahnya. Tak terlihat raut ramah dari wajah Nirmala sedikitpun. Menatap sinis ke arah Lala.


"Maaf Mbak, saya mau ketemu Dafa. Katanya dia sedang sakit makanya saya ke sini untuk menjenguknya," Dengan takut-takut Lala menjawab ucapan Nirmala. Sungguh tak ada ramah-ramahnya Nirmala saat berbicara.


Nirmala langsung menggeser tubuhnya, memberi jalan untuk kekasih suaminya.

__ADS_1


"Kamu sakit apa Yang?" Lala duduk di samping Dafa yang tengah menyender di kepala ranjang.


"Pinggang aku sakit Yang," jawab Dafa.


"Sakit kenapa? Apa terjadi sesuatu sama kamu, Yang. Aku khawatir loh tadi saat di kampus. Makanya aku langsung kesini,"


"Kemaren aku jatuh di kamar mandi, tak sengaja pinggang aku kebentur bathtub." Bohong Dafa. Tidak akan mungkin Dafa akan mengatakan jika pinggangnya sakit gara-gara KDRT istrinya.


"Apa sudah di obat Yang? Terus sekarang gimana keadaan pinggang kamu?" tanya Lala dengan nada khawatir.


"Sudah Yang, kemaren di periksa dokter. Sakitnya juga sekarang sudah mendingan kok," Dengan tulus Dafa menampilkan senyum mansinya kepada kekasihnya.


"Syukurlah Yang, aku nggak mau kamu kenapa-napa Yang. Besok apa kamu sudah bisa kembali kuliah Yang? Kamu tahu tadi di kampus aku sudah sangat merindukan kamu, Yang," Lala merapatlan tubuhnya pada Dafa. Memeluk tubuh kekar kekasihnya dan menghirup bau maskulin yang keluar dari tubuh Dafa.


Dafa memeluk tubuh kekasihnya dengan erat. Mendaratkan beberapa kecupan pada dahi kekasihnya serta pada pipi Lala.


Mata Dafa menangkap keberadaan Nirmala yang berada di depan pintu kamarnya. Kebetulan kamar Dafa tidak tertutup dengan rapat.


Dafa menarik tengkuk Lala dengan cepat, menyatukan kedua benda kenyal itu untuk saling merenggut manisnya rasa benda kenyal itu. Dafa semakin memperdalam ciumannya pada bibir Lala membuat bibir itu sedikit membengkak karena ulahnya.


"Huhhh kamu kenapa jadi ganas gini sih Yang?" Nafas Lala sudah tersegal-segal karena ciuman Dafa yang seperti menuntut lebih.


"Hehe aku rindu Yang," Alasan Dafa. Sejujurnya dia hanya ingin melihat reaksi istrinya yang berada di balik pintu kamarnya. Tampak wajah Nirmala memerah menyaksikan apa yang tengah dia lakukan dengan Lala. Bahkan tangan Nirmala tampak terkepal dengan kuat di bagian samping celananya.


"Hehe maaf Yang, aku kelepasan," Dafa meggaruk kepalanga yang tidak terasa gatal.


"Iya tidak apa-apa Yang, lain kali jangan kek gitu lagi. Aku takut jika sampai terjadi hal lebih dari itu,"


"Iya Yang, aku janji!!"


"Baiklah Yang. Apa kamu sudah minum obat Yang?" Mata Lala melirik pada obat yang berada di atas nakas yang sudah terbuka 3 buah.


"Sudah kok Yang, nanti lagi setelah makan malam," jawab Dafa.


"Baiklah Yang. Oh ya ini sudah sore aku harus pulang. Kamu cepat sembuh Yang, aku nggak mau nahan rindu terlalu lama sama kamu Yang,"


"Iya Sayang akan aku usahakan untuk segera sembuh agar kita biasa ketemu di kampus,"


"Ok Yang, aku pulang dulu,"

__ADS_1


"Hati-hati di jalan Yang, maaf aku nggak bisa nganter kamu ke bawah,"


"Iya Yang tidak apa-apa," Lala meninggalkan kamar Dafa setelah memberikan ciuman pada pipi kekasihnya.




"Ngapain lo ke sini Mbak?" Dafa menatap istrinya malas.



"Gue cuma mastiin keadaan lo doang. Gue takut pacar lo ngelakuin hal yang tidak-tidak sama lo," Alibi Nirmala.



"Lo nggak lihat gue baik-baik saja? Lagian buat apa pacar gue macam-macam sama gue, yang ada gue yang macam-macam ke dia," jawab Dafa enteng. "nggak kek lo, Mbak. Kasar!!" Lanjut Dafa membuat Nirmala terdiam.



Nirmala sadar jika apa yang dia lakukan kepada suaminya bukanlah hal yang dibenarkan.


Dia sudah melakukan KDRT kepada suaminya sendiri. Jika saja Dafa melaporkan dirinya ke kantor polisi sudah pasti Nirmala akan ditahan di sana untuk waktu yang cukup lama.



"Maafin gue, gue tahu gue salah sama lo." Nirmala mendekati Dafa. Duduk di samping suaminya.



"Sudahlah Mbak, gue malas ngomong sama lo. Gue minta lo keluar ya dari kamar gue, sumpah gue eneg lihat wajah lo Mbak," Usir Dafa. Jujur saja Dafa tidak enak mengusir istrinya itu. Hanya saja Dafa memastikan apakah istrinya itu sudah jatuh cinta kepadanya atau belum. Saat dirinya berciuman dengan Lala tadi jelas terlihat raut cemburu diwajah istrinya. Ego Nirmala yang terlalu besar membuat gadis itu menekan perasaanya kepada Dafa.



"Baiklah, sekali lagi gue minta maaf sama lo," Kembali Nirmala meninggalkan kamar Dafa dengan menghentak-gentakkan kakinya dengan kesal.



Dafa yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya. Menampilkan senyum manis di bibirnya melihat tingkah sang istri.

__ADS_1



TBC


__ADS_2