
"Mbak, bikin ulat-ulat sawah yang banyak yuk?" ajak Dafa mendekatkan mulutnya pada leher jenjang istrinya yang terdapat tanda kepemilikan sebanyak dua buah disana. Jika saja istrinya itu tak memperingati dirinya saat di kantor, mungkin cap gagak di leher istrinya itu sudah seperti kain batik yang di ukir oleh bibir tebal Dafa.
"Nggak!!! Gue sudah ngomong sama lo kalau gue nggak mau. Mana badan gue lelah semua gara-gara lo!! "
"Ya elah Mbak lo nyalain gue mulu. Padahal itu semua juga salah lo sendiri yang minta terus. Mana mungkin gue mau bikin lo kecewa Mbak. Mana stok ulat-ulat liar gue masih banyak." Bangga Dafa sambil mengedipkan sebelah matanya.
Nirmala menatap jengah suaminya. Malas berdebat Nirmala memilih berjalan cepat menuju kamar mereka. Nirmala ingin segera berendam dan menidurkan tubuhnya untuk beberapa saat agar rasa lelah di tubuhnya sedikit berkurang.
"Mbak!! Kok Lo ninggalin gue sih?" ujar Daf tak terima. Lekas Dafa mengikuti langkah istrinya yang sudah berada di tangga paling tengah.
Nirmala tak menghiraukan ucapan suaminya melainkan terus berjalan menuju kamar mereka.
"Mbak, gue juga mau ikut?!!" Dafa menahan pintu dengan kakinya agar tidak bisa tertutup. Jika menahan dengan tangan sudah pasti tangannya akan terasa sakit akibat dorongan Nirmala yang kuat.
"Gue nggak mau, mendingan lo mandi di kamar lain." tolak Nirmala yang berusaha menggeser kaki Dafa dari pintu.
"Nolak suami itu dosa loh Mbak, ingat Malaikat akan mengutuk Lo nanti sampai pagi Mbak," Ancaman yang sangat membuat Dafa senang bukan main. Tangan Nirmala yang berusaha menutupi pintu kini lepas tanpa tenaga mendengar ucapan suaminya
"Nah gitu dong, kan gue senang Mbak," Gegas Dafa masuk ke dalam kamar mandi. Mengikuti langkah istrinya yang terasa berat dengan kehadirannya. Namun, Dafa masa bodoh dengan istrinya itu.
Mandi yang harusnya 15 menit nyatanya berubah menjadi 1 jam. Nirmala dan Dafa pastinya melakukan pembibitan ulat-ulat sawah yang masih beku. Berharap bulan depan kabar bahagia itu muncul dalam keluarga kecil mereka.
*****
Hari ini Dafa kembali mengunjungi kantor istrinya. Ntah kenapa perasaan Dafa menjadi tidak enak semenjak dia berada di kampus. Takut terjadi sesuatu yang buruk kepada istrinya. Apalagi sekarang mantan kekasih istrinya itu tiba-tiba saja muncul tanpa dapat di cegah. Laki-laki yang masih menginginkan istrinya didalam kehidupannya. Dafa merasa tidak nyaman membiarkan istrinya di kantor seorang diri. Makanya Dafa berusaha keras dalam menanamkan bibit-bibit ulat sawah di pekarangan istrinya agar bulan depan mendapatkan hasil yang baik. Buatlah dirinya yang akan bolak-balik kantor dan kampus, asalkan istrinya itu bisa menikmati masa kehamilannya di rumah tanpa bertemu lagi dengan si biang kerok.
Dafa memarkirkan motornya di tempat biasa. Segera melangkah menuju lantai dimana ruangan istrinya berasa.
__ADS_1
Tanpa bertanya kepada Sina, Dafa langsung saja memasuki ruangan istrinya. Membuka pintu itu setengah dan jelas terlihat di dalam ruangan itu istrinya tidak berada seorang diri. Melainkan seorang laki-laki yang duduk di depannya dan berusaha meraih tangan mulus istrinya.
Urat-urat tangan Dafa langsung saja mengeras karena, dia tahu siapa pemilik tubuh tegas itu jika bukan Hadi si biang keladi.
"Hehhh, singkirkan tangan Lo dari istri gue!!!" bentak Dafa mengejutkan kedua orang itu.
Nirmala yang melihat suaminya hanya bisa mematung. Pasalnya suaminya itu berpesan jika hari ini dia tidak akan singgah ke kantor. Namun, apa yang di lihat Nirmala saat ini bukanlah suatu mimpi melainkan kenyataan.
Dapat Nirmala lihat urat-urat leher suaminya yang terlihat jelas. Ingin menghampiri suaminya namun, tubuhnya seakan menempel seperti lem di kursi kebesarannya.
"Ngapain lagi Lo kesini? Bukankah istri gue sudah ngebatalin kerja sama dengan perusahaan Lo?" Dafa menatap tajam Hadi yang juga menatapnya persis.
Tampak Hadi beberapa kali berdecih melihat Dafa yang menurutnya kekanakan dan lebay.
"Cih!!! Dasar nakal dan kekanakan!"
"Lo kekanakan!!" ujarnya lantang.
"Kekanakan? Baiklah gue akan buktiiin seperti apa yang kekanakan itu. Biar Lo tahu apa itu kekanakan!!!" Dafa maju mendekati Hadi dan melayangkan bogeman mentah tepat mengenai batang hidung Hadi. Hidung itu tampak mengeluarkan darah.
Bisa Dafa lihat mata Hadi tampak berkaca-kaca karena pukulannya yang keras.
"Apa masih mau lagi cap dari tangan kekanakan ini?" Dafa kembali maju membuat Hadi segera bangun dan melap darah yang keluar dari hidungnya.
Menampilkan senyum mengejek di bibirnya. Seakan pukulan Dafa tidak ada apa-apanya.
Akhirnya baku hantam dari kedua orang itu terjadi di dalam ruangan Nirmala. Nirmala hanya bisa berteriak histeris saat melihat keadaan suaminya yang sudah tak berbentuk. Beberapa kali Dafa mendapatkan pukulan dari Hadi. Namun tentu saja Hadi yang mendapatkan bogeman terlalu banyak.
__ADS_1
Pak satpam membantu melerai Dafa dan Hadi. Kedua laki-laki berbeda generasi itu kini duduk di sofa dengan jarak satu meja bundar di tengah-tengah mereka. Menatap sengit satu sama lain meski luka lebam pada wajah mereka sudah terlihat jelas.
"Besok jika lo datang lagi ke sini jangan salahkan gue jika tangan Lo patah. Gue nggak akan ingkar dengan ucapan gue. Bisa lo pastikan apa yang gue katakan sekarang jika itu terjadi," Dafa menatap Hadi dengan tajam. Sungguh Dafa muak dengan laki-laki di depannya itu.
"Gue nggak bakalan takut. Apa yang pernah menjadi milik gue akan tetap selalu begitu!!" tekannya membuat Dafa kembali emosi.
Nirmala memegang lembut tangan suaminya. Memberikan tatapan lembut agar suaminya tidak emosi dengan ucapan Hadi. Lagian dirinya hanya milik Dafa sekarang dalam selamanya. Kenapa harus emosi jika sekarang sudah mustahil Hadi akan memilikinya.
"Cihhh!!! Dasar pebinor!!" ucap Dafa sengit. Hadi yang mendengar itu langsung mengepalkan tangannya tidak setuju dengan kata-kata Dafa.
"Kenapa? Marah? Atau tidak suka? Ingat jika bukan pebinor apa nama yang cocok untuk laki-laki yang ingin merebut istri orang? Pelakor? Itu sungguh tidak akan pernah cocok secara lo kan laki-laki. Ya pebinor jelas yang bagus untuk gelas baru Lo!" ejek Dafa menatap Hadi dengan seringai di bibirnya.
Laki-laki itu tidak akan bisa memukul dirinya karena istrinya tepat berada di sampingnya dan tengah mengobati luka-luka yang ada di pipinya. Sedangkan luka lebam yang ada di pipi Hadi tidak ada yang mengobati.
Dafa tidak takut dengan Hadi bahkan jika Hadi masih mau adu tinju dengan dirinya Dafa pasti akan meladeninya sampai puas. Bahkan jika masuk rumah sakit pun Dafa tidak masalah asalnya rasa marah serta cemburunya tercapai dengan cantik.
Lebam yang ada di wajah Dafa akhirnya selesai di obati Nirmala. Nirmala menutup kotak obat itu dengan rapi.
"Mala, aku kok nggak kamu obatin? Aku juga kena pukul loh ini?" ucap Hadi kepada Nirmala.
"Enak saja Lo minta obatin sama istri gue. Gue nggak bakal pernah ngizinin tangan mulus istri gue nyentuh lo meski hanya seujung kuku!"
"Gue nggak ngomong sama lo. Gue hanya ngomong sama Mala," ujar Hadi yang kembali menatap Nirmala.
"Sudahkah Daf, ngapain juga sih lo marah. Lagian gue juga nggak bakalan ngobatin dia kok," Nirmala mengelus lengan suaminya lembut membuat Hadi yang berada di depan mereka langsung meradang tidak suka. Menatap Dafa dengan sorot mata bak pisang molen.
"Terima kasih Mbak, Lo memang istri gue yang terbaik," tanpa rasa malu Dafa mendaratkan bibirnya tepat di bibir istrinya. Tak lupa bibir itu bermain sekilas di atas roti kasur nan empuk itu.
__ADS_1
TBC