
"Astaga Mbak! Pakaian apa yang lo pakai?!" kejut Dafa saat setelah membuka matanya dan menatap ke arah sang istri yang hendak menarik selimut yang berada pada bagian bawah ranjang.
Dafa menatap istrinya tanpa berkedip, baju yang di pakai istrinya itu tidak bisa dikatakan pakaian melainkan jaring penangkap lalat.
"Ya baju lah, emang lo kira gue pakai apa? Karung beras?" Nirmala melenggos melihat reaksi suaminya.
"Baju apaan kek gitu Mbak? Kek jaring lalat tau nggak lo?!" Mata dafa tak dapat berkedip melihat pakaian yang kini tengah membungkus tubuh sang istri. Meski mulutnya berkata tajam namun tidak dengan hatinya yang sangat menyukai pakaian itu. Amat sangat membuat Dafa tidak nyaman. Bukan tidak nyaman karena tidak terbiasa tapi, tidak nyaman untuk tubuhnya yang bisa kapan saja bereaksi.
"Astaga mulut lo kok jahat banget sih Daf? Baju gue bagus tahu, enak banget lo samain dengan jaring lalat. Lagian kalau di beli mahalan baju ini nggak sama dengan jaring lalat yang murah meriah." Nirmala menatap tak suka kepada suaminya itu. Enak saja mengatakan bajunya jaring lalat.
"Emang nggak ada baju lo yang lain ya Mbak? Yang lebih baik dari baju yang lo pakai? Bikin mata gue risih tau nggak lo?" ucap Dafa yang tak mengalihkan matanya dari tubuh sang istri. Ngomongnya risih namun menikmati setiap lekukan tubuh istrinya yang tampak putih bersih. Bahkan jakun Dafa sudah naik turun melihat penampilan istrinya yang terbilang sangat-sangat seksi.
"Ada, tapi gue lebih suka pakai baju seperti ini tiap malam. Bikin adem," jawab Nirmala jujur.
"Tapi gue yang nggak nyaman lo pakai baju kek gitu Mbak. Apa ngak bisa lo nukar baju lo itu Mbak? Sumpah bikin gue nggak nyaman banget," jujur Dafa menatap istrinya yang sibuk dengan selimut ditangannya.
"Nggak bisa! Lagian gue sudah nyaman pakai pakaian seperti ini. Mendingan lo langsung tidur saja, gue juga sudah sangat ngantuk," Nirmala menutup tubuhnya hingga batas dada. Memejamkan mata cantik itu untuk memasuki akan mimpi.
Sedangkan Dafa menatap sang istri yang dengan tidak tahun dirinya langsung menutup matanya. Ingin rasanya Dafa menarik istrinya itu untuk menganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih baik dari itu. Namun dia juga tidak mau jika istrinya itu akan marah dan mengusir dirinya dari kamar yang sialnya baru malam ini dia huni.
Semakin larut mata Dafa tidak bisa terpejam, bahkan selimut yang membungkus tubuh Nirmala sudah turun hingga batas pahanya. Memperlihatkan bagian atas Nirmala yang terlihat samar karena pakaian jaring lalat Nirmala yang tampak menjelaskan bagaimana lekukan tubuh gadis itu. Baju biru langit sesuai dengan kerusakan Nirmala memperlihatkan bagian dalamnya dengan warna yang senada.
__ADS_1
Mata Dafa tak bisa lepas dari tubuh istrinya yang sangat seksi. Jakun Dafa terus naik-turun seirama dengan tarikan nafasnya. Ingin sekali Dafa menyentuh bagian-bagian yang amat sangat dia rasakan. Namun itu semua urung, takut jika istrinya tiba-tiba saja terbangun dan menendang dirinya dari atas ranjang sama seperti saat di malam pertama pernikahan mereka. Apalagi ranjang yang sekarang mereka tiduri cukup tinggi dari ranjang yang berada di kediaman Lukman. Bisa-bisa Dafa sudah tidak bisa lagi untuk sekedar berdiri karena tubuhnya yang encok ulah istrinya.
****
Pagi ini Dafa sudah sampai di kampusnya, diantara sang istri menggunakan mobilnya karena motor milik Dafa di bawa anak buah Nirmala ke kediaman Lukman. Alhasil Dafa harus pergi bareng Nirmala ke kampus.
"Lo hutang penjelasan sama kita, Daf," Kedua sahabat Dafa tengah berdiri menunggu dirinya di gerbang kampus. Layaknya satpam yang tengah menjaga gerbang menunggu seluruh mahasiswa yang datang.
Dafa menghela nafasnya, menatap bergantian kedua sahabatnya yang tengah menatap dirinya dengan tajam. Inilah yang sedari tadi dipikirkan Dafa saat masih di dalam perjalanan menuju kampus.
"Gue akan jelasin sama kalian, tapi nggak di sini. Kalian maunya dimana?" Dafa menatap kedua sahabatnya itu.
Akhirnya ketiga orang itu memasuki kelas mereka. Pagi ini mereka akan mengadakan ulangan seperti apa yang dikatakn dosen minggu lalu.
"Dafa, aku mau ngomong serius sama kamu," Lala menarik tangan Dafa yang hendak pergi ke kantin bersama kedua sahabatnya.
"Lo selesain dulu hubungan lo sama pacar lo, Dafa. Kita ke kekantin dulu," Reza dan Kenan meninggalkan Dafa yang pasrah di seret Lala menuju taman belakang kampus.
Dafa memang harus menyelesaikan hubungannya dengan Lala agar rumah tangganya bisa berjanji dengan baik tanpa keberadaan Lala yang selalu hadir.
"Kenapa kamu hianati hubungan kita, Dafa? Kenapa kamu rela menikah dengan Mbak itu saat kita masih menjalani hubunga? Apa kamu nggak mikir gimana perasaan aku, Daf?" Lala menatap Dafa dengan mata berkaca-kaca. Ingin sekali Lala menampar wajah tampan itu dengan tangannya. Namun pikiran warasnya masih bekerja dengan sempurna.
__ADS_1
"Maafin aku, La, ini terjadi juga bukan karna kehendak aku. Aku terpaksa menikah dengan Mbak Mala," jujur Dafa tampan menutupi apa pun.
"Jika kamu terpaksa kenapa kamu nggak nolak saja Dafa? Kenapa kamu malah menerima begitu saja pernikahan itu? Bukankah kamu seorang kaki-kaki yang berhak bahagia atas pilihan kamu sendiri?"
"Maafkan aku, La. Aku nggak punya pilihan untuk menolak pernikahan itu,"
"Ok aku akan terima alasan kamu. Jadi bisakah kamu ceraikan istri kamu dan kembali pada hubungan kita?" pinta Lala dengan sendu.
Dafa langsung menatap tajam kearah Lala. Dia tidak suka dengan apa yang di ucapkan Lala. Mudah sekali gadis itu meminta dirinya untuk menceraikan istrinya saat istrinya itu sudah menerima pernikahan mereka. "Maaf aku tidak bisa La, akan mempertahankan pernikahan aku sama Mbak Mala karena, aku hanya akan menikah satu kali seumur hidupku," jawab Dafa.
"Kenapa? Bukankah kamu tidak mencinta Mbak itu Dafa? Kenapa kamu harus repot-repot mempertahankan rumah tangga yang bahkan tidak ada cinta di dalamnya," Lala menatap wajah Dafa semakin sendu. Dia sedih mendengar ucapan Dafa yang seakan hubungan meraka tidak ada artinya. "apa hubungan yang kita jalani selama ini nggak ada artinya buat kamu, Daf?" Lanjut Lala yang kini air matanya sudah merembes menjalari pipinya.
"Maafkan aku, aku tidak akan pernah menceraikan istri ku, hubungan aku dengan Mbak Mala tidak bisa di permainkan. Hubungan itu halal di mana agama dan mata hukum. Jadi yang harus di akhiri itu hubungan kita, aku ingin mulai detik ini hubungan kita putus." dengan mantap Dafa memutuskan hubungannya dengan Lala. Dafa tidak mau Lala akan semakin sakit dari ini, lebih baik gadis itu kecewa sekarang dari pada nanti yang pastinya akan lebih menyakitkan dari ini.
"Nggak!!! Aku nggak mau hubungan kita putus Dafa, akun mencintai kamu. Kamu jangan seenaknya memutuskan aku hanya karena kamu sudah punya istri. Hubungan kita terjalin sebelum kamu menikah jadi yang harus kamu putuskan itu hubungan kamu dengan istri paksa kamun Dafa. Aku nggak terima kata putus dari kamu," Beberapa kali Lala menggelengkan kepalanya tidak setuju.
"Maafkan aku, La. Hubungan kita cukup sampai di sini. Aku sudah tidak bisa lagi untuk melanjutkan hubungan ini," Dafa meninggalkan Lala denagn derai air mata yang tiada hentinya.
"Ngak!!! Aku nggak mau putus dari kamu Dafa!!! Aku mencintai kamu, dan juga mencintai kamu Dafa!!!" Teriak Lala, namun tak dihiraukan Dafa yang terus berjalan meninggalkan dirinya semakin jauh.
TBC
__ADS_1