ISTRIKU MBAK-MBAK

ISTRIKU MBAK-MBAK
IMM 43


__ADS_3

Kini Nirmala dan Dafa sudah berada di rumah sakit. Setelah mengantri cukup lama akhirnya tiba giliran Nirmala. Bukan Nirmala tidak bisa agar dirinya di dahulukan dari yang lain, hanya saja suaminya berpesan lebih baik kita mengantri agar rasanya kita tidak curang. Apalagi sebelumnya mereka juga belum membuat janji dengan dokter kandungan itu.


"Silahkan berbaring di atas sini Mbak" pinta Dokter paruh baya itu agar Nirmala berbaring diatas tempat tidur.


Dokter wanita itu menyingkap baju Nirmala untuk memperlihatkan perut rata yang tak terdapat lemak itu. Mengoleskan gel diatas perut putih tanpa cacat tersebut. Lalu dokter itu menggerakkan sebuah alat di atas perut itu dengan mata terus tertuju pada layar monitor.


"Mbak sama Masnya bisa melihat ini," Tujuk dokter Lulu pada latar monitor. "titik kecil itu merupakah calon bayi yang masih sebesar hiji kacang," lanjutnya.


Mata Dafa dan Nirmala langsung saja terfokus pada layar yang menampilkan isi didalam rahim Nirmala. Jelas terlihat jika dilayar itu memang terlihat biji kecil yang masih sebesar biji kacang tanah.


"Be-benarkah Dokter? Benarkah jika itu bayi kami?" tanya Dafa antusias juga tidak menyangka. Tidak menyangka jika sekarang dirinya sudah menjadi seorang Ayah.


"Iya benar Mas, itu bayi Mas dan Mbak yang masih berbentuk embrio," jawab dokter paruh baya itu dengan tersenyum manis.


"Sayang, kita sudah jadi orang-tua. Beberapa bulan lagi kita akan memiliki bayi mungil," Dafa memeluk erat istrinya. Mendaratkan ciuman pada setiap inci wajah sang istri tanpa menganggap jika disana masih ada dokter yang menyaksikan perbuatan mereka.


"Iya Mas, aku bahagia akhirnya apa yang kita impikan selama ini di kabulkan Allah tahun ini. Tahun ini kita akan menyandang status sebagai Ayah dan Ibu," Nirmala tak kalah antusiasnya mendengar kabar bahagia yang mereka dapatkan hari ini. Padahal tadi Nirmala sudah sangat takut jika hasilnya masih sama pada bulan lalu, negatif.


Dokter Lulu ikut bahagaia menyaksikan suami istri itu dengan haru. Dokter Lulu tahu betapa bahagianya mereka dengan kehadiran buah hati mereka.


"Sudah berapa bulan usia bayi kami ya Dok?" tanya Dafa setelah melepaskan pelukannya pada tubuh Nirmala.


"Jalan 5 minggu Mas," jawab Dokter Lulu diangguki Dafa maupun Nirmala.


Dokter Lulu membersihkan sisa gel yang menempel pada perut Nirmala sebelum baju yang dipakai wanita itu di turunkan seperti semula.

__ADS_1


"Istrinya jangan dibiarkan capek ya Mas karena, bisa berpengaruh pada kesehatan janinya. Apalagi kalau di bikin stres contohnya saja dengan pekerjaan yang menumpuk atau hal lainnya yang membuat sang ibu stres. Itu juga bisa mengakibatkan hal buruk terjadi pada sang janin." ujar Dokter Lulu sambil menuliskan ntah apa di atas kertas putih yang Dafa dan Nurmala tidak tahu.


"Baik Dokter, apa masih ada hal lain yang mungkin saja tidak bisa di lakukan istri saya, Dok?" tanya Dafa.


"Hanya itu saja." jawab dokter.


"Emm Dok, saya mau nanya apakah selama hamil saya masih bisa membuat ulat-ulat padi?" tanpa rasa malu Dafa menatap dokter itu dengan senyum merekah.


Sedangkan Nirmala yang berada di samping suaminya langsung melongo dengan wajah merah padam. Dirinya malu dengan ucapan frontal yang dilakukan suaminya. Tak tahukah suaminya itu jika pertanyaan seperti itu tidak harus ditanyakan dulu utnuk sementara.


Dokter Lulu tersenyum mendengar ucapan Dafa. Sudah sangat wajar bagi dirinya mendengar pertanyaan seperti itu, apalagi untuk pasangan yang baru saja akan menjadi orang-tua.


"Boleh Mas, kandungan istri anda juga kuat jadi tidak ada masalah jika anda melakukan hubungan suami-istri. Tapi melakukannya juga jangan seperti biasa ya Mas, harus pelan-pelan karana sekarang di dalam sana sudah ada mahkluk kecil yang menghuninya. Takutnya karena guncangan yang keras membuat dia tidak akan baik-baik saja nantinya." jawab dokter Lulu membuat senyum Dafa semakin mengembang sempurna. Jadi dirinya tak perlu berpuasa berbulan-bulan seperti yang dia pikirkan.


"Sama-sama Mas. Obatnya jangan lupa di tebus di apotek ya Mas," Dokter Lulu menyerahkan kertas yang tadi di coretnya dengan tinta hitam kepada Dafa.


"Baik Dok, terima kasih. Kami permisi." Nirmala dan Dafa meninggalkan ruangan dokter Lulu menuju apotek untuk menebus obat Nirmala.


****


Dalam perjalanan pulang tak henti-hentinya Dafa memegang erat tangan istrinya. Beberapa kali Dafa mencium gemas punggung tangan mulus istrinya.


"Terima kasih Sayang, terima kasih sudah memberikan Mas kabar bahagia yang bahkan tak ternilai harganya. Terima kasih sudah memberikan Mas seorang keturunan dalam rumah tangga kita," Dafa menatap sekilas pada Nirmala karena, tak mungkin Dafa akan terus menatap istrinya yang bisa mengakibatkan kecelakaan pada meraka.


Nirmala tersenyum dan menganggukkan kepalanya sambil mengelus perut rata yang di dalamnya sudah terdapat calon anak mereka.

__ADS_1


Mobil yang dikendarai Dafa akhirnya sampai di kediaman mereka. Dengan berpegang tangan Dafa dan Nirmala berjalan memasuki kediaman mereka. Senyum merekah terbit dengan indahnya pada bibir sepasang suami istri itu.


"Yang buat ulat-ulat padi yuk?" ajak Dafa saat mereka sudah berada di dalam kamar.


Nirmala mendelik ke arah suaminya. Baru tadi dokter mengatakan agar dirinya jangan terlalu lelah tapi, lihatlah sekarang malah suaminya mengajak olahraga siang-siang gini. Ditambah lagi dengan cuaca yang sangat panas.


"Aku capek Mas, lagian tadi kata dokter aku juga nggak boleh capek karena bisa berakibat pada bayi kita," Bukan Nirmala mau menolak ajakan suaminya. Nirmala tahu jika itu dosa, tapi Nirmala tidak bohong jika dirinya benar-benar lelah. Ingin segera untuk tidur dan mengistirahatkan tubuhnya.


"Baiklah Sayang, Mas tidak bisa memaksakan kehendak Mas. Apalagi ini demi calon bayi kita," Dafa jongkok di depan istrinya yang duduk diatas ranjang. Mengusap perut rata itu dengan tangannya yang besar.


"Nak baik-baik ya di dalam perut Ibu. Jangan bikin Ibu kesusahan ya? Ayah sayang kamu, Nak," Dafa mencium perut Nirmala berulang kali. Mencurahkan rasa sayangnya pada janin yang masih berusia satu bulak lebih itu.


Nirmala terharu melihat perlakuan suaminya terhadap janin yang ada di dalam perutnya. Sungguh sangat jelas terlihat betapa rindunya Dafa kepada bayi yang belum berbentuk itu.


"Iya Ayah, aku tidak akan membuat Ibu kerepotan kok. Aku maunya Ayah yang susah!" Nirmala menirukan suara anak kecil sambil terkekeh.


"Tidak apa Nak, Ayah rela jika kamu bikin susah asalkan jangan Ibu. Kasihan Ibu, Nak," balas Dafa.


Setelahnya meraka tertawa bersamaan. Sungguh kesederhanaan yang membuat hidup penuh bahagia.


Nirmala memilih untuk tidur siang ditemani Dafa yang setia mengusap perut istrinya dengan lembut. Dafa juga ikut memejamkan matanya membuat laki-laki itu juga ikut tertidur bersama istrinya.


Setengah jam setelah bangun tidur Nirmala maupun Dafa menghubungi orang-tua mereka untuk memberikan kabar bahagia, jika saat ini Nirmala tengah hamil. Tentu saja respon kedua orang-tua mereka sangat bahagia. Bahagi akan menjadi seorang Kakek dan Nenek.


TBC

__ADS_1


__ADS_2