ISTRIKU MBAK-MBAK

ISTRIKU MBAK-MBAK
IMM 06


__ADS_3

Dafa menarik koper miliknya memasuki kediaman Nirmala yang tak kalah luasnya dari kediaman ayahnya, Lukman. Pemuda yang sudah berstatus suami itu melirik kesana-kemari mengagumi rumah milik Nirmala. Tampak bersih dan juga harum. Beberapa penjaga juga berbaris dengan rapi di luar rumah. Sedangkan di dalam rumah besar itu terdapat 4 orang pelayan.


"Mbak kita tidur di kamar ini?" Dafa melirik Nirmala yang membuka pintu sebuah kamar. Kamar yang tampak sangat luas yang di dominasi biru putih. Dengan ranjang king size dan kemari kaca.


"Tidak!! Lo tidur di kamar ini, sedangkan gue tidur di kamar sebalah."


"Kenapa kita nggak tidur bareng saja sih Mbak? Gue itu suami lo,"


"Apa lo bilang? Suami? Jangan mimpi. Gue nikah sama lo terpakasa begitupun dengan lo yang juga terpaksa nikah sama gue. Jadi jangan terlalu banyak harap dalam pernikahan ini!" tekan Nirmala dalam setiap kata-katanya.


"Astaga Mbak, dimana-mana itu suami tidurnya bareng istri. Bukan malah pisah ranjang kek gini." Dafa melirik ke arah istrinya yang tengah berkacak pinggang.


"Hehh, kita itu bukan suami istri beneran. Jadi jangan terlalu banyak cincong lo. Sudah syukur gue kasih lo kamar dekat dengan kamar gue. Coba gue suruh lo tidur di lantai bawah di kamar pembantu, emang lo mau?"


"Ya nggak lah Mbak. Tadi kan gue cuman nanya doang Mbak."


"Nanya-nanya mbah, lo."


"Astaga Mbak, ngapain sih nanyain Mbahnya gue, emang lo mau ketemu sama Mbah gue apa? Tapi sorry ya Mbak, Mbah gue itu sudah meninggal. Jauh sebelum gue ada."


"Berisik!!" Nirmala memicingkan matanya dengan erat. Malas melihat tingkah laku Dafa yang seakan-akan sangat akrab dengan dirinya.


Nirmala meninggalkan Dafa di depan pintu kamarnya. Memasuki kamar luas milik dirinya. Kamar utama yang jelas lebih besar dari kamar yang di huni Dafa.


"Kok gue lo tinggal Mbak?!" Dafa mengejar Nirmala yang kini beranjak dari kamarnya.


"Stop!! Lo nggak usah ikutin gue. Lagian kamar lo sudah gue tunjukin." Nirmala langsung saja melenggang menuju kamarnya. Membuat pemuda itu mematung setelah mendengar ucapannya.


"Astaga, begini amat hidup gue setelah menikah." Dafa menguyar rambutnya sampai berantakan. Tak menyangka jika pernikahan ini tak sesuai dengan apa yang dia inginkan.


Sedangkan Nirmala membaringkan tubuhnya di atas ranjang king size miliknya. memejamkan mata cantik itu dengan rapat. Tubuhnya terasa lelah, belum lagi dengan pikiran gadis itu. Pekerjaan di kantor mungkin saja sudah sangat menumpuk. Apalagi dia hanya bisa mengerjakan tugas yang diberikan sekretarisnya melalui e-mail.


Dafa memasuki kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya yang terasa lengket. Membalut tubuh bagian bawahnya dengan handuk putih.


"Astaga lapar." Dafa mengusap perutnya yang terdengar berbunyi. Anak-anaknya sudah minta diisi, karena sedari tadi dia belum makan satupun. Apalagi sekarang sudah pukul tiga sore.


Dengan segera Dafa memakai bajunya, tanpa mengiris rambutnya yang masih basah. Membiarkan rambut itu berantakan sesuka hatinya.


"Mau cari apa Den?"


"Astaga, kenapa ngagetin sih Bik?" Dafa yang tengat melihat isi kulkas langsung terperanjat mendengar suara seorang wanita.

__ADS_1


"Maaf Den kalau Bibi mengagetkan. Ada yang bisa bibi bantu Den?"


"Saya lapar Bi, bisa tolong masakin sesuatu untuk saya?" pinta Dafa.


"Baik Den. Aden tunggu saja di meja makan." ujar Bibi yang biasa di panggil Keke.


"Baik Bi," Dafa mendudukkan tubuhnha di atas kursi.


"Jadi laki-laki kok nggak rapi banget?!" Nirmala yang baru saja turun melihat rambut suaminya yang berantakan. Bahkan laki-laki tampak santai dengan melipat tangah di atas meja.


"Suka-suka gue dong Mbak, ngapai lo yang repot."


"Mata gue sakit lihat rambut lo kusut kek gitu. Mendingan lo sisir dulu ke kamar." Nirmala menatap sinis suaminya yang tak menghiraukan ucapnya.


"Lo denger gue ngomong nggak?! Sana sisir rambut lo, sumpah mata gue sakit lihat lo berantakan gini!" usir Nirmala yang menarik tangan Dafa agar beranjak dari kursinya.


"Lo apa-apaan sih Mbak, gue nggak ada ngatur lo ya!" bentaknya melepaskan tangan Nirmala.


"Jadi sekarang lo sudah bisa melawan gue?! Sisir rambut lo atau motor lo besok pagi hancur!!" Nirmala kembali membentak serta mengancam Dafa.


"Ck..., lo ngeganggu saja Mbak. Padahal gue sudah lapar banget. Mana punya istri nggak guna lagi." decak Dafa, lalu meninggalkan dapur menuju kamarnya.


"Hehh apa lo bilang? Istri nggak guna!! Jaga ya mulut lo itu!!" Nirmala mengejar Dafa dengan emosi yang meluap-luap. Enak saja pemuda tengik itu mengatakan dirinya nggak guna. Padahal jelas-jelas dia sudah menyediakan pembantu untuk membantu kebutuhan perut pemuda itu.


Plak!!!


"Ssstttt, lo apa-apaan sih Mbak, sakit tahu bahu gue!" Dafa mendesis merasakan sakit yang teramat pada bahunya. Tangan gadis itu sangat keras menampar pundaknya. mungkin saja pundak itu kini sudah merah karena kulit Dafa yang putih.


"Makanya lo jangan ngatain gue nggak guna!" Mata Nirmala melotot menatap suaminya itu. Sungguh hatinya saat ini sangat kesal dengan ucapan pemuda itu.


"Lah apa yang salah dari ucapan gue, Mbak? Emang benar bukan? Lo saja nggak masakin gue makanan, mana perut gue sangat lapar. Dan sekarang lo malah KDRT sama gue."


Plak!!!


Lagi-lagi Nirmala menampar bahu Dafa yang baru saja di tampar Nirmala. Ucapan pemuda itu menambah emosi Nirmala semakin menjadi.


"ASTAGA Mbak!!" teriak Dafa mengaduh kesakitan pada bahunya. "Kok bisa gue punya istri macam lo sih Mbak. Suka KDRT." Dafa menekan kata KDRT kepada Nirmala.


"Makanya lo kalau ngomong jangan asal dong. Lagian ada Bibi yang akan masakin lo makanan. Apa gunanya gue gaji ART jika bukan untuk kerja." Nirmala sungguh kesal dengan suaminya itu. Belum lagi mulutnya tidak bisa di filter sedikitpun.


"Ya seharusnya lo nyenengin gue dikit lah Mbak. Contohnya lo masakin gue makanan kek,"

__ADS_1


"Nyenengin lo? Enak banget lo ngomong gitu. Ingat pernikahan kita tidak untuk selamanya. Ingat ucapan gue jangan sampai lo lupa." Setelah mengatakan itu Nirmala langsung saja beranjak dari dekat Dafa.


"Gue nggak akan pernah nyerain lo Mbak. Gue nggak akan nikah dua kali seumur hidup gue!!"


"Terserah lo, yang jelas pernikahan kita sementara!" teriak Nirmala saat mendengar ucapan suaminya.


Dafa kembali menguyar rambutnya. gadis itu seenak jidatnya saja mempermainkan sebuah ikatan pernikahan. Emang pernikahan ini sebuah ajang kompetisi apa?




"Sudah masak Bi?" Dafa sudah kembali ke dapur. Melihat Bibi Keke tengah menyusun makanan di atas meja.



"Sudah Den, silahkan makan. Bibi undur diri dulu." Bibi Keke meninggalkan dapur untuk mengerjakan tugasnya yang lain.



"Iya Bi,"



Dafa menyantap makannya dengan sedikit terburu-buru. Perutnya sudah sangat keroncongan sedari tadi. Cacing-cacing di dalam perutnya sudah berdisko sedemikian rupa menghasilkan irama lagu yang membuat malu.



"Astaga!! Baru kali ini gue lihat laki-laki makan kek orang kelaparan." Nirmala mengejutkan Dafa yang tengah memakan nasinya.



"Uhuk...," Dafa tersedak karena nasi di dalam mulutnya saat mendengar suara istrinya yang datang bak hantu. Datang tak di undang pergi pun tak diantar. "Lo kalau mau ngomong kasih tahu dulu dong Mbak, bukan malah ngagetin gue kek gini. Gue jadi tersedak gara-gara lo." ucap Dafa setelah meminum segelas air putih. Bahkan mata laki-laki itu berair dan merah karena tersedak.



"Suka-suka gue dong, lagian yang ngomong pake mulut gue kok bukan pake mulut lo." ujar Nirmala sinis.



Dafa tak menanggapi ucapan Nirmala. Laki-laki itu kembali melanjutkan makannya dengan tenang. Membiarkan istrinya duduk di sebrangnya dengan segelas jus jeruk yang baru saja dia ambil di dalam kulkas.

__ADS_1



TBC


__ADS_2