
Hadi menyaksikan perbuatan Dafa terhadap wanita yang di cintanya langsung saja mengepalkan tangannya dengan kuat. Dadanya bergemuruh menahan amarah karena, harusnya dirinyalah yang melakukan itu kepada Nirmala, bukanlah bocah tengil itu.
Dafa tak menganggap jika disana ada Hadi yang menyaksikan perbuatannya. Laki-laki itu terus saja menyesapi bibir istrinya yang terasa sangat manis. Bahkan bagian inti tubuhnya sudah mulai bereaksi. Pikiran kotor kini sudah menghantui pikirannya. Tanpa dapat di cegah, tangan nakal Dafa sudah bergerak mencari benda kesukaannya.
"Jangan! " Nirmala menahan tangan suaminya agar tidak melakukan hal yang lebih. Apalagi di depan mereka ada Hadi yang menyaksikan perbuatan mereka yang tak seharusnya di lihat orang lain.
"Kenapa? Pengen Mbak?" ujar Dafa parau, seakan lupa jika di sana juga ada Hadi sebagai saksi dari kelakuan mereka.
"Nanti di rumah ya, sekarang bukan waktu yang tepat. Kita tidak hanya berdua disini tapi ada orang lain," bisik Nirmala.
"Leno sudah hidup Mbak," ucap Dafa melihat ke arah bawah yang mana jika lebih sudah mau hidup diikuti Nirmala yang menagga melihat Leno yang sudah mulai gagah di balik bajunya.
"Nanti di rumah, tahan dulu kita di sini tidak berdua tapi ada Hadi," Kembali Nirmala mengingatkan suaminya.
Dafa kembali melihat ke arah Hadi, bahkan tak lupa mata Dafa menatap kepalan tangan Hadi yang menguat. Mantan kekasih istrinya itu kini tengah marah. Senyum sinis terukir indah di bibir Dafa.
"Apa lo bisa keluar dari ruangan istri gue? Gue masih ada urusan sama istri gue yang gue tahu lo pasti ngerti apa yang gue maksud," ujar Dafa mengusir Hadi dengan halus.
__ADS_1
"Nggak bisa, saya masih ada perlu sama Nirmala tentang pembatalan kerja sama. Dan saya tidak setuju!" Hadi menatap Dafa tajam. Dia muak dengan bocah tengil itu. Ingin rasanya Hadi melayangkan tendangan maut pada bibir tebal itu sekuat tenaga. Bibir yang sudah tega mencium bibir yang bahkan saat berpacaran dulu dengan Nirmala tak pernah dia cicipi.
"Intinya gue mau lo keluar dari ruangan istri gue. Tentang masalah pembatalan itu sudah tidak bisa lagi di ganggu gugat. Istri gue akan membayar dendanya. Jadi keluar lo dari sini sekarang!" usir Dafa sengit.
"Tidak bisa!! Saya masih ada urusan pribadi yang harus di urus bersama Nirmala," Lagi-lagi Hadi menolak keluar dari ruangan Nirmala. Enak saja bocah itu mengusir dirinya yang lebih dulu datang di bandingkan bocah itu.
Dafa geram dengan Hadi yang tidak mau mengikuti ucapannya. Jika tak di halangi istrinya sudah pasti Ada kembali menghajar Hadi biar tambah babak belur dari yang sekarang. Muak rasanya melihat wajah pongah mantan pacar istrinya. Kenapa bisa Nirmala dulu jatuh cinta pada laki-laki seperti itu. Ahhh, tapi untung saja dirinya yang menjadi suami Nirmala dan menjadi ayah dari anak-anak mereka nantinya.
"Lo bisa keluar baik-baik atau dengan cara kasar?!" bentak Dafa membuat Nirmala langsung mengelus lengan suaminya lembut. Nirmala tidak mau suaminya kembali baku hantam yang mengakibatkan wajah suaminya menjadi tambah lebam.
"Maaf ya Di, bisa lo keluar dari ruangan geu? Gue masih banyak pekerjaan yang harus gue kejakan. Lagian tidak ada yang perlu dibahas masalah hubungan masa lalu yang sudah kandas. Sekarang gue sudah memiliki suami yang artinya pintu untuk lo kembali masuk sudah tidak ada lagi. Jadi gue minta lo keluar dari ruangan gue segera!" usir Nirmala halus.
"Lo tuli apa gimana haa?! Lo nggak dengar apa yang dikatakan istri gue?!" bentak Dafa emosi. Laki-laki itu nyatanya tidak mau di lunakin tapi malah sukanya yang kasar.
"Gue nggak ngomong sama lo!" bentak Hadi.
"Keluar lo Sarin ruangan gue!" Kini suara Nirmala memenuhi ruangan itu.
__ADS_1
Dafa dan Hadi cukup terkejut dengan ucapan Nirmala yang terdengar keras dan lantang. "Keluar dari ruangan gue! Jangan pernah lagi lo injakin kaki lo ke kantor gue. Ingat hubungan kita sudah kandas dua tahun lalu karena ulah lo sendiri. Jadi jangan pernah lagi berharap sama gue. Gue sudah punya suami!" usir Nirmala yang membuat Hadi langsung berdiri dari duduknya dengan lesu.
Harapannya untuk kembali bersama Nirmala memang sudah tidak ada lagi. Kini dirinya hanya bisa menyesali perbuatannya di masa lalu yang sudah tega meninggalkan pujaan hatinya, hanya karena mencapai sebuah impian.
Keegoisannya di masa lalu membuat dia menyesal seperti saat ini. Penyesalan yang sudah tidak da gunanya lagi. Hadir pun dirinya kembali dihadapan pujaan hatinya sudah tidak ada gunanya. Merebut istri orang memang tidak ada di dalam pikirannya. Hanya saja jika Nirmala mau kembali kepadanya kenapa tidak? Bukankah itu kesempatan emas bagi dirinya. Merajut kisah cinta yang sempat kandas. Tapi? Semuanya hanya angan belaka yang memang tidak akan Hadi dapatkan.
"Baiklah, semoga kamu bahagia dengan pernikahan kamu, Mala. Semoga kamu tidak pernah merasakan penyesalan karena menikah dengan laki-laki urakan seperti dia, Mala," Hadi keluar dari ruangan Nirmala menyisakan Dafa dan Nirmala yang menatap kepergian Hadi dengan pandangan berbeda.
"Hehhh!!! Lo pikir gue nggak bisa bahagiain istri gue?!!! Kalau ngomong itu di jaga, mana tahu itu berbalik sama diri lo sendiri!!" teriak Dafa keras tidak terima dengan ucapan Hadi seakan mendo'akan kejelekan di dalam rumah tangganya.
"Sudahlah Dafa, lagian yang menjalani rumah tangga itu kita. Yang terpenting itu kita harus melengkapi satu sama lain. Kalau kamu mendengarkan ucapan Hadi bisa saja kamu akan terpengaruh dan selalu memikirkan ucapannya yang bikin kamu malah berfikiran negatif. Toh kita menikah juga sudah takdir yang di gariskan Allah sama kita," Nirmala mengusap lengan suaminya. Menenangkan suaminya yang tampak emosi mendengar ucapan Hadi.
"Hmm Iya Mbak, makasih sudah hadir di dalam kehidupan gue. Terima kasih sudah mau menjadikan gue suami lo, meski awalnya gue maupun lo terpaksa. Tapi yakinlah Mbak, gue sekarang benar-benar sudah mencintai lo sepenuh hati gue, Mbak," ungkap Dafa jujur.
Nirmalamencium pipi suaminya sekilas. "Gue juga cinta sama lo Dafa, gue cinta banget malah sama lo. Terima kasih sudah nerima gue jadi istri lo, dan maaf kalau awal dari pernikahan kita terkesan sangat buruk," sesal Nirmala mengingat awal dari kisah pernikahan mereka.
Dafa tersenyum dan mendaratkan bibirnya pada bibir istri. Kembali menyesap bibir merah muda itu dengan bibirnya. Menikmati manisnya bibir istrinya hingga suara lengguhan terdengar merdu dari mulut istrinya.
__ADS_1
TBC