
Nirmala sibuk dengan berkas-berkas yang tersusun rapi diatas mejanya. Menanda-tangani berkas-berkas yang sudah menumpuk itu dengan tenang. Cukup melelahkan namun, tetap dia kerjakan lantaran dirinya yang sorang CEO di perusahaan itu. Tak mungkin dia akan lalai dengan pekerjaannya, banyak pegawai yang menggantungkan hidupnya pada perushaan.
Tok!!
Tok!!
"Masuk!!"
"Ini berkas yang Ibu minta kemaren," Sisi, sekretaris Nirmala menyerahkan berkas yang diminta bosnya itu kemaren siang.
"Sudah lengkap 'kan Si? Tidak ada yang kurang satupun?" Nirmala menatap sekretarisnya itu dengan intens. Nirmala tidak mau jika ada yang kurang di dalam berkas itu.
"Sudah Bu,"
"Baiklah, kamu boleh keluar." usir Nirmala kepada wanita itu.
Sisi meninggalkan ruangan Nirmala sedikit kesal. Pasalnya bosnya itu seenak jidat menyuruh dirinya ini dan itu. Padahal pekerjaan dirinya sangat banyak.
Berkas-berkas yang bertumpuk di meja Nirmala akhirnya selesai di tandatangani gadis itu. Mengambil tas serta berkas yang tadi di berikan Sisi kepadanya.
"Huhhh, akhirnya sampai juga." Nirmala menuruni mobilnya saat sudah sampai di kediaman. Tak terlihat di sana motor yang biasa di gunakan Dafa, suaminya.
"Bi, Dafa di mana?" Nirmala menghampiri Bibi Keke yang berada di dapur.
"Belum pulang Non, mungkin masih di kampus." balas Bibi yang di angguki Nirmala. Setelah itu Nirmala meninggalkan dapur menuju kamarnya.
"Baru pulang lo?" Nirmala menghampiri Dafa yang kini tengah berada di dalam kamarnya dengan membawa berkas ditangannya.
"Astaga Mbak, lo ngagetin gue saja." ucap Dafa kaget dengan kehadiran Nirmala yang tiba-tiba. "Kenapa sih lo nggak ngetuk pintu dulu Mbak, gimana kalau gue sedang naked? Emang lo mau lihat punya gue lagi?" Dafa menggoda Nirmala dengan menampilkan senyum jahilnya.
"Nggak usah banyak bacot lo!" bentak Nirmala melemparkan berkas yang berada di tangannya tepat mengenai wajah Dafa.
"Lo apa-apaan sih Mbak, bisa nggak ngasihnya secara baik-baik. Bukan malah kasar seperti ini?!" Dafa emosi dengan apa yang dilakukan Nirmala kepada dirinya. Kesal, dirinya memang kesal dengan istrinya yang terasa bukan istri. Jika istri pasti dia tak akan berpisah ranjang dengan wanita itu. Mungkin saja bulan depan dirinya akan menerima kabar hamilnya Nirmala.
"Suka-suka gue. Baca dan tandatangani surat itu!" titah Nirmala mendudukan tubuhnya diatas ranjang Dafa.
SURAT PERJANJIAN PERNIKAHAN
Pihak kedua tidak boleh menuntut nafkah batin begitupun pihak pertama selama perjanjian pernikahan.
__ADS_1
Pihak kedua tidak boleh ikut campur dengan urusan pribadi pihak pertama begitupun sebaliknya.
Pihak ke-dua tidak boleh memasuki area pribadi pihak pertama tanpa izin.
Pihak pertama boleh membatalkan perjanjian tertulis ini.
Pernikahan ini hanya berlaku selama 1 tahun.
"Cepat tanda tangani, gue tidak punya banyak waktu untuk meladeni omongan lo." tekan Nirmala memberikan pulpen pada Dafa.
"Nggak!! Gue nggak setuju dengan ini!" Dafa melemparkan berkas itu ke atas ranjangnya. Menahan rasa marah serta kesal kepada istrinya.
Dia yang memaksa dirinya untuk menikah, dia pula yang memaksa dirinya untuk menandatangani pernikahan satu tahun sesuai dengan apa yang di tulis wanita itu.
"Lo tandatangani atau motor lo hancur?!" Nirmala memberikan ancaman kepada Dafa. Sungguh dia sangat malas untuk berlama-lama berasa di kamar pemuda itu.
"Ehh lo jangan main ancam-ancaman dong Mbak. Pernikahan itu bukanlah ajang permainan yang bisa lo buat seenak jidat lo!"
"Gue tidak butuh omongan lo, yang gue butuhin lo tandatangani surat itu maka semuanya berjalan lancar." Kembali Nirmala memberikan berkas itu kepada Dafa untuk ditandatanganinya. Jujur saja tangan gadis itu sudah sangat gatal untuk tak memukul wajah pemuda itu yang sialnya lagi sababu tampan.
"Gue tidak akan mau!" tolak Dafa dengan keras.
"Ya sudah kalau lo tidak mau. Gue akan nyuruh anak buah gue untuk hancurin motor kesayangan lo." Nirmala meninggalkan kamar Dafa dengan membawa berkas yang tadi dibawanya. Nirmala sungguh kesal dengan sifat keras kepala Dafa. Apa susahnya hanya menandatangani surat itu.
Nirmala saat ini tengah berada di depan rumahnya dengan tiga orang anak buahnya. Disana juga terdapat motor kesayangan Dafa berdiri kokoh.
"Hancurin motor itu!!" titah Nirmala kepada anak buahnya.
__ADS_1
"Baik Bos."
"Mbak!!!!" Degan nafas ngos-ngosan Dafa menuju Nirmala yang melipat kedua tangannya. Tampak wanita itu menatap sinis ke arah Dafa yang memanggil namanya.
"Apa?!"
"Jangan hancurin motor gue, itu motor kesayangan gue, Mbak. Masa lo tega sih ngehancurin harta satu-satunya gue," ujarnya memelas.
"Tanda tangani surat ini, maka motor lo selamat." Kembali Nirmala menyodorkan berkas yang dia bawa.
"Gua nggak mau cerai dari lo, Mbak. Gue hanya nikah sekali seumur hidup gue." Dafa menatap Nirmala tidak suka. Wanita itu terlihat sangat keras kepala. Menganggap sesuatu yang sakral menjadi sebuah permainan.
"Ya sudah kalau lo nggak mau. Cepat kerjakan perintah saya!" Nirmala menatap anak buahnya yang mengangguk mendengar ucapannya.
"Baik Bos."
"Ehh-ehh jangan hancurin dong. Baiklah gue akan tandatangani surat itu." Akhirnya kata itu meluncur dengan mulus dari mulut Dafa. Namun hantinya dengan keras menolak untuk menikah kontrak dengan wanita keras kepala di depannya itu.
"Bagus!" Kembali Nirmala menyerahkan berkas itu kepada Dafa. Tak lupa dengan Pulpen yang masih setia dia bawa.
"Sudah!!" Dafa membubuhkan tanda tangannya pada kertas putih itu. Jangan lupakan terdapat materai diatas kertas itu sebagai bukti jika Dafa tidak akan bisa mengelak di kemudain hari.
"Sejak tadi lo tandatangani apa susahnya. Jadi gue nggak susah-susah manggil anak buah gue." Nirmala meninggalkan Dafa di halaman depan. Pemuda itu tampak mematung setalah apa yang dia lakukan.
Pernikahan yang hanya bertahan satu tahun? Benarkah dia akan menjalani pernikahan sesingkat itu. Tak bisakah Nirmala menghapus Perjanjian pernikahan mereka? Tak bisakah Nirmala membuat pernikahan sebagaimana mestinya.
"Baiklah kalau itu mau lo, Mbak. Gue akan ngikutin apa yang lo mau." Dafa meninggalkan halaman rumah.
Pemuda itu kini sudah duduk di meja makan. Menunggu Bibi Keke memasakkan makan siang untuk dirinya. Sedari tadi dia belum mengisi perutnya sedikitpun. Membuat cacing-cacing di perutnya sudah pada berjoget ria.
"Makasih Bi,"
"Sama-sama Den,"
"Saya boleh nanya sesuatu Bi?" Dafa menatap Bibi Keke yang kini menghentikan langkahnya yang hendak pergi.
"Boleh, Aden mau nanya apa?"
"Bibi sudah lama kerja sama Mbak Mala?"
"Sudah Den, sejak Non Mala berumur 10 tahun. Dulu Bibi kerja di kediaman Tuan Lukman. Namun, semenjak Non Nirmala membeli rumah ini jadi Bibi kerja ikut Non Mala," jujur Bibi Keke.
Dafa mengangguk. "Sudah lama banget ya Bi. Menurut Bibi Mbak Nirmala itu gimana?" Kini mata Dafa menatap Bibi Keke dengan intens. Sungguh pemuda itu ingin tahu tentang Nirmala.
"Non Mala itu baik Den, juga ceria banget. Semenjak diputuskan sama pacarnya Non Mala malah berubah jadi dingin gitu. Jarang terlihat senyum yang menghiasi wajahnya Den." Bibi Keke tampak sedih saat menceritakan itu. Jujur jika dirinya merindukan anak majikannya tersebut tersenyum dan ceria seperti dulu lagi, sudah lama rasanya Nirmala tak lagi tersenyum.
__ADS_1
Dafa mengangguk mendengar ucapan Bibi Keke. Tak menyangka jika sifat Nirmala yang sekarang karena diputuskan pacarnya. Memang benar jika cinta membuat seseorang bisa berubah drastis. Mungkin saja Nirmala sangat mencintai pacarnya, namun tidak terima di putuskan. Malah berakhir seperti saat ini. Sedikit tak punya hati.
TBC