
"Mbak,"
"Astaga Dafa! Apa lagi sih?? Lo ngg---"
"Itu belum," Dafa langsung meninggalkan istrinya setelah mendaratkan bibirnya sekilas di atas bibir sang istri.
Nirmala mematung mendapatakan ciuman tiba-tiba dari suaminya. Rasa kesal yang tadi dia rasakan berubah jadi bunga-bunga yang bertebaran di sekitar dengkulnya karena rasa bahagia yang dia rasakan. Bahkan pipi Nirmala berubah merah karena kepergok beberapa pekerja rumahnya yang kebetulan berdiri pada tempatnya masing-masing.
"Ahhh, lo bikin gue deg-deg saja Daf," monolog Nirmala dengan pipi bersemu.
Nurmala langsung bergegas ke mobilnya saat mengingat pagi ini dia ada meeting yang tidak bisa di tunda. Apa lagi kliennya hari ini bukan dari Indonesia melainkan dari luar negeri tepatnya cina.
Nirmala melajukan mobilnya dengan kencang. Membelah jalan yang tampak ramai dengan pengemudi lainnya. Untung saja pagi ini tidak ada macet jadi, Nirmala tepat waktu sampai di kantor.
Langsung saja Nirmala memasuki kantornya dengan langkah terburu-buru. Apalagi waktu meeting tidak berapa lama lagi. Beberapa telpon dari sekretarisnya di abaikan Nirmala.
"Apa klien kita sudah sampai Si?" tanya Nirmala saat sudah sampai di depan meja sekretarisnya.
"Maaf Bu, klien kita minta undur waktu sampai minggu depan karena, ada kendala yang emang tidak bisa mereka tinggalkan." jawab Sisi takut-takut. Bahkan jantung Sisi sudah berlomba-lomba untuk melompat keluar. Takut jika bosnya itu akan memarahinya seperti waktu itu.
Senyum manis terbit di wajah Nirmala. "Baiklah tidak apa-apa," Nirmala langsung masuk ke dalam ruangannya. Sisi yang melihat bosnya hanya bisa membolakan matanya. Tak seperti biasa yang akan langsung marah tapi, lihatlah bosnya itu bahkan sempat tersenyum dengan lebarnya.
"Bos kenapa sih? Ahhh, tapi syukurlah dia tak marah seperti waktu itu," Sisi mengusap dadanya lalu kembali duduk di kursi untuk melanjutkan pekerjaannya.
Nirmala duduk di kursi kebesarannya dengan senyum mengembang dengan indahnya. Pikiran Nirmala kembali lagi dengan adegan yang dilakukan suaminya sebelum berangkat ke kampus. Belum lagi apa yang sudah mereka lakukan semalam. Bagaikan kaset rusak yang terus berputar-putar di kepala Nirmala.
"Ahhh Dafa, gue rindu sama lo!!" Nirmala memejamkan mantanya. Membayangkan wajah tampan suami bocahnya yang sangat mengemaskan.
"Apa gue telpon saja ya dia? Tapi nanti dia malah besar kepala." Nirmala membolak-balikkan benda pilih yang berada di tangannya. "Ahhh telpon saja, persetan dengan apa yang dia pikirkan." ujar Nirmala langsung menekan icon hijau pada aplikasi wassap.
("Hallo Mbak? Ada apa?")
("Lo dimana?")
("Kampus, ada apa lo nelpon gue pagi-pagi gini sih Mbak? Gue sedang ujian. Nanti saja nelponnya ya,") Dafa langsung saja mematikan sambungan telponnya, membuat Nirmala yang masih duduk di kursi kebesarannya kesal.
"Awas saja lo, Daf. Berani-beraninya lo matiin telpon gue!!" ujar Nirmala dengan wajah marah bersungut-sungur kesal.
[Pulang nanti jangan langsung ke rumah. Datang ke kantor gue, awas kalau lo nggak sampai datang. Siap-siap lintah lo gue bakar sekalian sama tubuh lo yang lain!!!] Nirmala mengirim pesan itu untuk suaminya yang langsung centang dua abu-abu yang artinya data seluler suaminya tidak mati.
Nirmala melepar benda pilih itu ke sofa di ruangannya yang terletak lumayan jauh dari kursi kebesarannya.
Sedangkan di kampus Dafa masih asik mengisi kertas putih itu dengan tinta hitam yang berada di tangannya. Getar notif gawainya mengelitik paha Dafa namun, Dafa membiarkan saja tanpa mau mengecek sedikit pun. Dafa tahu itu pesan dari istrinya yang mungkin tengah kesal lantaran telponnya dimatikan secara sepihak olehnya.
"Daf, lo mau ikut kita?" tanya Kenan saat mereka sudah sampai di halaman kampus tepat dimana motor mereka terparkir.
"Maaf gue nggak bisa ikut kalian sekarang. Gue harus berangkat ke kantor istri gue, gue malas berdebat sama dia." tolak Dafa yang diangguki kenan dan Reza.
Motor yang membawa Dafa akhrinya sampai di halaman luas kantor istrinya. Gedung bertingkat milik istrinya membuat Dafa berdecak kagum.
__ADS_1
"Mbak, gue mau nanya ruangan Mbak Mala di lantai berapa?" tanya Dafa saat dirinya sudah berdiri di depan meja receptionis.
"Maaf Dek, apa sudah membuat janji dengan bos kami?" Receptionist itu menatap Dafa bingung.
"Belum Mbak, tapi saya di suruh Mbak Mala kesini," Jujur Dafa membuat kening wanita itu berkerut.
"Maaf Dek, kalau belum membuat janji dengan bos kami, Adek tidak bisa betemu dengan beliau. Mendingan Adek pulang saja," usir wanita itu dengan lembut.
"Saya harus bertemu Mbak Mala, Mbak. Tolong jangan persulit saya,"
"Sekali lagi maaf Dek, Adek tidak bisa bertemu dengan bos, kami sebelum membuat janji dengan beliau."
"Apa harus seorang suami membuat janji untuk bertemu dengan istrinya? Jadi saya minta tolong tunjukkan di mana ruangan istri saya." pinta Dafa yang sudah mulai kesal dengan wanita menor di depannya itu.
Dafa menatap wanita itu kesal karena tidak percaya dengan ucapannya. "Kenakan susah banget lo kasih tahu dimana letak ruangan istilah gue sih Mbak?" kesal Dafa menatap sinjs wanita menor itu.
"Hehh, mendingan kamu pergi dari sini sebelum saya panggil satpam untuk nyeret kamu dengan karakter keluar dari perusahaan ini." ancamnya membuat Dafa semakin jengkel dengan wanita itu.
Dafa mengambil gawai dari saku celananya lalu mencari kontak istrinya galaknya. Bisa saja dia langsung pulang, hanya saja Dafa malas untuk berdebat dengan istrinya jika di rumah.
"Hehh ko ngapain? Mendingan lo pergi dari sini sebelum gue panggilkan satpam!!" Wanita menor itu menatap Dafa dengan sinis.
"Hallo Mbak, gue sudah di bawah,"
("Langsung ke ruangan gue sekarang!! Suruh antar sama receptionist,")
__ADS_1
"Masalahnya dia tidak percaya sama gue. Mendingan lo saja deh yang jemput gue ke bawah." Dafa kembali mematikan teleponnya secara sepihak.
"Ehhh, lo ng---" ucapan Wanita itu terputus karena bunyi telepon yang terletak di mejanya.
"Baik Bu, akan saya laksanakan." jawab wanita menor itu yang ntah berbicara dengan siapa. Yang jelas Dafa tidak tahu.
"Mari saya antar ke ruangan Bos Nirmala, Mas," ujarnya membuat Dafa menaikkan sebelah alis matanya karena, wanita itu tampak ramah bahkan dengan tubuh yang bergetar. Tapi Dafa tidak mempermasalahkan itu melainkan mengekor di belakang wanita menor yang bersama Sina yang terlihat jelas di nametagnya.
"Sekarang Mas sudah sampai di lantai dimana ruangan Bu Nirmala berada. Silahkan Mas lurus nanti akan bertemu dengan sekretaris Bu Nirmala." ujar receptionis itu diangguki Dafa.
Dafa mengikuti instruksi yang di sampaikan Sina. Hingga kini kaki panjang itu sudah berdiri di depan seorang wanita cantik yang tengah fokus dengan layar lebar didepannya.
"Ahh Mas, silahkan masuk ke dalam. Bu Nirmala susah menunggu kedatangan anda dari tadi." Sisi terperanjat saat melihat seorang laki-laki berdiri di depan mejanya. Laki-laki yang merupakan suami dari bosnya.
Dafa meninggalkan meja Sisi tanpa mengatakan sepatah katapun. Bukan tidak mau berterima kasih tapi, Dafa sangat malas untuk sekedar membuka mulutnya.
Ceklek...!!!
Dafa langsung saja masuk ke dalam ruangan Nirmala tanpa mengetuk pintu kaca itu terlebih dahulu. Untung saja pintu itu tidak di kunci Nirmala dari dalam.
"Ngapain lo nyusun gue datang ke sini Mbak?" Tanpa dipersilahkan Dafa mendudukkan tubuhnya di sofa yang berada disana. Menatap istrinya yang duduk di kursi kebesarannya.
Nirmala tidak menjawab ucapan Dafa melainkan turun dan melangkah mendekati suaminya yang tengah duduk menyender di sandaran sofa.
"ASTAGA MBAK!!" pekik Dafa.
__ADS_1
TBC