ISTRIKU MBAK-MBAK

ISTRIKU MBAK-MBAK
IMM 35


__ADS_3

Setelah pergulatan yang dilakukan Nirmala dan Dafa, akhirnya kedua insan itu terlentang dengan nafas yang masih tersendat-sendat. Kegiatan yang membuat senyum mengembang di bibir Dafa karena puas melakukan imajinasi liar yang ada di kepalanya.


"Mbak," panggil Dafa memiringkan tubuhnya menghadap sang istri yang tengah terlentang. Mengatur nafasnya yang masih tersengal-sengal.


"Hmmm, apa?" tanya Nirmala menatap suaminya dengan wajah penuh keringat serta pipi yang merah.


"Terima kasih, terima kasih sudah memberikan harta beharga lo buat gue. Terima kasih sudah menjadikan gue orang pertama yang meneguk manisnya surga dunia yang lo berikan," ucap Dafa menyentuh pipi istrinya dengan lembut. Mengusap keringat yang berada di dahi istrinya.


Nirmala menganggukkan kepalanya. "Sama-sama," jawab Nirmala memejamkan matanya. Rasa kantuk sudah menyerang dirinya lantaran kini waktu sudah menunjukkan pukul tiga dini hari. Kegiatan yang amat sangat melekahkan tubuh Nirmala.


"Sekali lagi Mbak," ujar Dafa mengerakkan tangannya ke tempat lain.


"Gue lelah banget Daf. Sumpah!"


"Lo diam aja biar gue yang kerja sendiri ya. Sekali ini lagi setelahnya nggak lagi deh Mbak," tanpa menunggu jawaban Nirmala kembali Dafa menerjang istrinya yang sudah memejamkan matanya dengan damai.


*****


"Sssttttt," Nirmala mendesis saat mengerakkan tubuhnya yang hendak turun dari ranjang.


"Mau gue bantu Mbak?" Dafa yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung menghampiri istrinya yang tampak kesulitan.


Nirmala menatap suaminya sengit. Sungguh perbuatan suaminya semalam nyatanya membua tubuhnya remuk redam. "Ini semua gara-gara lo!!" bentak Nirmala membuat Dafa terjinkat kaget mendengar suara cempreng itu.


"Astaga Mbak! kenapa sih lo nyalahin gue? Lagian kita kerjanya juga berdua yang artinya tidak ada yang salah di antara kita. Lagian lo nggak ingat apa semalam Lo minta nambah terus? Jadi jangan salahin gue jika sekarang lo kek gini," jawab Dafa tak terima atas tuduhan istrinya.


Wajah Nirmala bersemu mendengar ucapan suaminya. Sungguh semalam dirinya kehilangan akal sehingga minta tambah terus tiada henti. seperti seseorang yang tengah kerasukan setan mesum.


"Ya ngapain juga lo malah nurutin keinginan gue? Lo masih bisa nggak nurutin keingan gue, bukan?"


Dafa melenggos menatap istrinya. Menolak? Yang benar saja dirinya mau menolak. Kucing di kasih ikan nggak bakalan pernah nolak kali. "Ye mana bisa gitu Mbak, sapi di kasih rumput saja langsung di makan. Apalagi Lo yang dengan suka rela ngasih ke gue, ya nggak bakalan gue tolak lah Mbak. Apalagi itu rasanya enak banget, bikin gue nggak akan ngerasa puas. Bahkan jika sekarang Lo mau lagi ya ayok, gue mah siap selalu Mbak. Jika orang semangat 45 beda lagi sama gue yang semangat 84."


"Isi otak Lo nggak jauh-jauh dari hal mesum ya? Gue nggak mau mana tubuh gue masih sakit banget. Mendingan Lo bantuin gue ke kamar mandi. Gue nggak kuat jalan." pinta Nirmala.


"Ya kan gue cuman nawarin Lo aja Mbak, mana tahu Lo masih mau kan?" Tanpa membantah, Dafa langsung mengendong istrinya menuju kamar mandi. Mendudukkan tubuh istrinya diatas bhat-thup.


Nirmala tak perlu lagi mengisi air karena Dafa sudah menyiapkan untuk istrinya itu. Lagian mana tega Dafa membiarkan istrinya yang tengah kelelahan serta kesakitan melakukannya sendirian. Apalagi itu ulah dirinya sendiri meski tak menutup kemungkinan ulah mereka berdua.


"Mau gue mandiin atau lo mandi sendiri Mbak?" tawar Dafa mengerligkan matanya nakal.


"Gue bisa mandi sendiri, kalau bareng Lo bukan mandi lagi namanya. Yang ada lo malah minta lebih dari itu. Mandi gue yang hanya 15 menit malah jadi satu jam gara-gara lo! Sana Lo keluar!!" usir Nirmala menunjuk pintu kamar mandi.


"Ya nggak apa-apa lah Mbak, lagian gue yakin Lo bakal minta nambah kok," jawab Dafa sambil melangkah keluar dari akamr mandi.

__ADS_1


"Heh mulut lo dijaga ya kalau ngomong!!!" bentak Nirmala tak suka.


Diluar kamar mandi Dafa cekikikan mendengar bentakan istrinya. Padahal apa yang dia katakan itu memang benar adanya. Ego istrinya sampai sekarang masih melekat erat pada diri istrinya.




Nirmala kini berada di depan cermin meja riasnya hanya dengan menggunakan handuk selutut. Mata wanita itu melotot saat melihat banyaknya tanda merah keunguan di sekitaran lehernya. Bahkan tak terlihat kulit putihnya disana.



Ceklek!!!



Dafa masuk dengan membawa satu nampan makanan untuk dirinya dan juga sang istri. Dafa yakin jika istrinya itu kesulitan untuk menuruni anak tangga makanya Dafa memilih makan di dalam kamar bareng istrinya.



"Lo apain leher gue? Kanapa banyak cap gajah disini?" Tunjuk Nirmala pada lehernya serta bagian atas dadanya yang juga terdapat cap gajah.




"Gue nggak suka, jadi hapus tanda yang lo kasih ini?" pinta Nirmala mendekat kearah Suaminya yang masih berdiri di bibir ranjang.



"Mana bisa di hapus Mbak, lagian dia juga akan hilang sendiri kok." balas Dafa membuat Nirmala yang sudah berada tepat didepan Dafa menatap horor suaminya.



"Kalau nggak bisa di hapus ngapain Lo bikin sebanyak ini di tubuh gue? Lihat!!!" Nirmala membuka handuk di tubuhnya. Memperlihatkan mahakarya yang di buat Dafa pada tubuhnya semalam.



Dafa meneguk liurnya kasar karena tergoda akan tubuh sang istri yang tampak sangat cantik dengan tato naga sakti buatannya. "Mbak bisa Lo tutup lagi nggak?" tanya Dafa berusaha menahan keras gejolak yang kembali bangkit.



"Kenapa? Lo nggak mau tanggung jawab sama tato jelek ini, hmm?" bukannya mengikuti ucapkan suaminya, Nirmala malah melemparkan handuknya ke atas ranjang membuat tubuh lebih tato naga itu terekspos dengan cantiknya.

__ADS_1



Sekuat tenaga Dafa menekan gejolak pada tubuhnya. Dirinya tidak mau sampai kelepasan kendali apalagi sekarang tubuh istrinya itu masih lelah dan juga masih sakit pada bagian inti. Namun, kelakuan istrinya saat ini membuat Dafa merutuki dirinya yang begitu mudah tergoda dengan tubuh istrinya itu.



"Mbak mendingan Lo tutup lagi tubuh Lo, sebelum hal semalam akan terjadi lagi. Gue nggak mau tubuh Lo semakin sakit." ucap Dafa dengan lembut.



"Bilang saja Lo itu nggak mau tanggung jawab sama tato jelek ini kan?" tuding Nirmala membuat Dafa mengeram keras.



"Gue sudah peringati Lo Mbak, jadi jangan salahin gue kalau hal lain akan terjadi sama lo," ucap Dafa tak diindahkan Nirmala.



Nirmala hanya melenggos mendengar ucapan suaminya. Nirmala yakin jika Dafa hanya menakuti dirinya saja. Dan tidak mau bertanggung jawab dengan apa yang sudah dilakukan laki-laki itu pada tubuhnya.



"Alahh, Lo nggak usah nakutin gue kek gitu. Ngaku saja Lo nggak mau tanggung jawab sama cap gajah ini kan?" Nirmala mendekat kearah Dafa membuat laki-laki itu mengeram keras.



"Sudah gue peringati jadi, jangan lagi Lo salahin gue, Mbak," Dengan spontan Dafa langsung mendorong tubuh istrinya sampai terlentang di atas ranjang.



"Aaaaaa!!!!" Nirmala yang terkejut dengan tindakan suaminya langsung saja berteriak. "Lo mau apa?" ujar Nirmala saat Dafa mendekatkan wajahnya pada wajah Nirmala.



"Sesuai dengan apa yang gue katakan tadi." Dafa langsung meraup bibir pink istrinya tanpa memberi kesempatan bagi istrinya untuk berbicara.



Sekali lagi kegiatan yang semalam mereka lakukan terulang lagi pagi ini. Meneguk manisnya surga dunia di pagi hari yang lumayan dingin. Namun, dapat menghangatkan tubuh hingga keringat sebesar biji jangung keluar dengan suka rela.



TBC

__ADS_1


__ADS_2