
Dafa segera menarik tangan Nirmala saat istrinya itu hampir saja terjungkal dari sofa. Jika saja Dafa membiarkan istrinya itu tejatuh bisa jadi kepalanya sudah terhempas keras pada lantai marmer itu.
"Makanya hati-hati Mbak, kalau sampai lo tadi jatoh yang ada lo juga yang rugi." Dafa menarik tubuh istrinya merapat pada tubuhnya.
"Ini semua gara-gara lo!!" bentak Nirmala.
"Bukannya berterima kasih malah mulut lo dengan kurang ajarnya nuduh gue. Nyesel gua nolongin lo tadi." Dafa melepaskan tangannya dari tubuh Nirmala. Jengkel dengan sifat istrinya itu. Keras kepala, salah satu kata yang cocok untuk Nirmala.
"Gua juga nggak minta lo bantuin gue kan?" Nirmala menatap sinis ke arah Dafa.
"Terserah lo." Dafa mengabaikan istrinya. Mengambil gawainya yang semula di letakkan di atas menjadi. Tampak lambu putih berkedip-kedip pada bagian kiri pojok atas gawainya tanda ada pesan yang masuk. Dengan segera Dafa membukanya aplikasi hijau di gawainya.
Langsung saja Dafa membalas karena itu pesan dari kekasihnya, Lala. Dafa juga meminta maaf kepada kekasihnya karena terlalu lama membalas pesan gadis itu. Intinya ada pesan yang menyatakan jika Lala marah dengan Dafa karena terlalu lama membalas chatnya.
"Ngapain lo senyum-senyum nggak jelas gitu?" Kembali Nirmala menghampiri Dafa setelah sekian lama. Netra Nirmala menangkap Dafa yang tersenyum seperti orang gila.
"Suka-suka gue dong, ngapain lo yang sewot?" Dafa menatap sekilas ke arah Nirmala lalu kembali pada benda pipih itu. Berbalas pesan dengan kekasihnya. sesekali Dafa kembali tertawa karena membaca pesan yang di kirim Lala.
"Apaan sih yang membuat lo sampai ketawa dan tersenyum kek orang gila gitu?" Nirmala menempelkan tubuhnya merapat kearah Dafa. Menatap ke arah gawai Dafa yang sudah Dafa matikan layarnya.
"Kenapa lo matiin sih? Gue juga pengen lihat!" Nirmala menatap Dafa tajam. Sungguh dia tak mau keinginan di tolak.
"Suka-suka gue dong Mbak, ngapain lo yang marah kek gitu? Terus ngapain juga sih lo nempel-nempel gini ke gue?" Dafa sebisanya menjauh dari Nirmala. Sungguh keadaan seperti ini tidak baik bagi Dafa. Belum lagi dada istrinya itu jelas terasa di lengan kekarnya.
"Gue pengen lihat dengan siapa lo chattingan." Kembali Nirmala mendekati Dafa.
__ADS_1
"Menjauh lo dari gue! Lo aneh banget Mbak. Sumpah." usir Dafa kepada istrinya. Dafa bukannya tidak suka istrinya itu menempel kepadanya tapi malah Dafa suka banget. Hanya saja dia tak mau gejolak dalam dirinya bangkit gara-gara istrinya itu.
"Pokoknya gue pengen lihat lo chatingan dengan siapa sampai-sampai lo ketawa tadi."
"Astaga Mbak, lo kenapa sih? Ok, ok gue chatingan sama pacar gue. Jadi gue harap lo nggak lagi nempel-nempel sama gue. Jangan salahin gue jika terjadi sesuatu yang nggak lo inginkan nanti!" Tekan Dafa agar istrinya itu tak lagi melakukan hal yang sama.
Tink!!!!
Dafa kembali melirik benda pipih itu, membalas pesan Lala yang kembali masuk. Senyum mengembang kembali terbit di wajah Dafa kala Lala mengatakan rindu kepadanya. Padahal baru tadi mereka bertemu. Ada-ada saja kekasihnya itu.
Nirmala yang terlalu kepo kembali menempelkan tubuhnya pada Dafa. Bahkan peringatan yang diberikan Dafa tak di indahkan Nirmala.
"Astaga Mbak!! Lo kenapa nggak bisa dibilangin sih?!" Dafa terkejut dengan Nirmala yang tiba-tiba saja menempelkan tubuhnya pada Dafa.
"Gue pengen lihat is chat lo sama dia," Kekeh Nirmala yang berusaha melihat isi pesan suami serta kekasihnya itu. Bahkan tubuh Nirmala semakin menempel pada Dafa.
Nirmala menganggap ucapan Dafa hanya angin lalu. Mata Nirmala terus membaca isi pesan yang dikirim kekasih suaminya serta balasan pesan suaminya.
"Ehh kenapa HPnya lo letakin di meja? Gue belum selesai baca pesannya!" Protes Nirmala tak terima tapi, Dafa tak menyanggupi ucapan istrinya.
Dafa semakin mendekatkan tubuhnya pada Nirmala yang sempat menjauh sedikit darinya.
"Ngapain lo! Gu---"
Ucapan Nirmala tertelan saat bibur kenyal Dafa sudah mendarat dengan sempurn di bibir Nirmala. M*l*m* bibir itu dengan lembut.
__ADS_1
'Astaga!!! Manis banget!!! Lebih manis dari milik Lala, pacar gue!!' Dafa berteriak di dalam hatinya. Sunguh bibir istrinya ini sangat manis bahkan sangat kenyal.
Sedangkan Nirmala mematung mendapatkan perlakuan sepeti ini dari Dafa. First kissnya sudah di renggut Dafa, suaminya.
Seketika Nirmala tersadar dari rasa terlena yang baru kali pertama dia dapatkan. Bahkan dulu saat berpacaran dia tak pernah sekalipun melakukan ini meski pacarnya menginginkan hanya sebatas ciuman.
"First kiss gue!!" Teriak Nirmala saat tautan bibir mereka telepas. "Kurang ajar lo!! Lo sudah nyuri ciuman pertama gue!!" Nirmala menatap nyalang suaminya. Bahkan tangan Nirmala memukul dada Dafa cukup keras. Dia tak terima ciuman pertamanya diambil bocah tengil itu.
"Manis banget Mbak, gue mau lagi dong. Sumpah Mbak bibir lo manis banget. Bikin gue candu, pengen nagih!" Dafa tampak antusias. Sungguh bibir Nirmala sangat enak. Rasanya sungguh nyata dirasakan Dafa. Jika sebelumnya dia hanya membayangkan bagaimana rasa bibir itu namun, kini dia sudah mengecapi manisnya benda kenyal merah jambu itu.
"Gara-gara lo keperawanan bibir gue sudah hilang!!" Nirmala berteriak dengan cukil keras. Bahana sekali lagi Nirmala memukul dada Dafa membuat Dafa kesakitan.
"Pukulan lo sakit banget Mbak." Dafa meraba dadanya yang sakit.
"Itu tidak sebanding dengan apa yang sudah lo perbuat kepada gue. Keperawanan bibir gue sangat berharga!!" bentak Nirmala. Dada Nirmala sudah sambat mengebut ingin membunuh suaminya itu. Enak saja melakukan ciuman pada bibirnya. Bahkan tanpa izin pula.
"Yaelah Mbak, lagian gue itu suami lo. Jadi wajar dong gue cium lo. Bahkan lebih pun gue lakuin nggak akan berdosa kita Mbak, malah dapat pahala."
"Enak banget lo ngomong ya,"
"Ngapain lo salahin gue, Mbak? Bukankah gue sudah peringatin lo tadi? Tapi apa? Lo malah ngeyel terus memepetkan tubuh lo ke gue. Emang lo pikir gue masih anak kecil yang terlihat biasa saja di perlakukan seperti itu? Tidak Mbak!gue itu sudah dewasa, gue juga punya h*s*r*t kepada lawan jenis." Dafa tak mau kalah adu mulut dengan Nirmala. lagian disini yang salah istrinya itu. Ngapain tidak mau di peringatin. Dan sekarang dengan seenak jidatnya Nirmala malah menyalahkan dirinya.
"Tapi nggak harus lo ambil juga ciuman pertama gue, Dafa. Lagian gue sudah mati-matian mempertahankan keperawanan bibir gue. Tapi sekarang seenak jidatnya lo ambil."
"Untung itu hanya ciuman lo yang gue ambil, kalau yang lain tadi gue ambil gimana? Lagian ini salah lo sendiri Mbak. Lo yang sudah mancing gue untuk melakukannya. Jadi gue harap jangan salahin gue atas apa yang lo lakuin ke gue," Dafa menjauhkan tubuhnya dari Nirmala. "dan ingat Mbak, gue itu suami lo. Berhak atas diri lo sepenuhnya. Ah ya, terima kasih sudah menjaga bibir lo untuk gue. Gue salut sama lo yang mana banyak diluaran sama gadis-gadis yang bibirnya tak lagi perawan. Tapi lo, lo gadis langka yang pernah gue temuin. Maaf jika bibir gue bukan yang pertama merasakan yang namanya ciuman. Tenang saja bagian lain dari gue masih gue jaga untuk lo, istri gue. Hanya saja bibir dan tangan yang sudah nakal." sesal Dafa yang tak dapat menjaga dirinya. Pergaulan yang membuat Dafa melakukan itu semua.
__ADS_1
Jujur saja Dafa sangat senang saat mengetahui jika Nirmala tak pernah merasakan ciuman dari laki-laki lain. Sangat jelas terasa bagi Dafa lantaran ciuman itu terasa sangat kaku. Bahkan Nirmala tidak membuka bibirnya barang sedikitpun. Pantas saja rasanya begitu manis. Ahhh, rasanya Dafa ingin mengulang sekali lagi. Bibir itu bagaikan candu bagi dirinya.
TBC